NovelToon NovelToon
Mari Kita Bercerai,. Tuan Stone!

Mari Kita Bercerai,. Tuan Stone!

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dijodohkan Orang Tua / Penyesalan Suami
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Minaaida

Setelah lima tahun menikah, miliarder Axel Stone yakin bahwa istrinya, Olivia Stone, tidak mencintainya. Olivia juga yakin bahwa suaminya masih mencintai mantannya dan pernikahan mereka hanyalah pernikahan demi kepentingan semata. Axel menyerahkan surat gugatan cerai kepadanya, tetapi segera menyesali keputusan impulsifnya itu. Dalam upaya putus asa untuk memenangkan hatinya kembali, Axel menunda proses perceraian tersebut. Olivia, yang sudah muak dengan pertemuan-pertemuan suaminya dengan mantannya, memutuskan untuk tetap melanjutkan proses perceraian.

Apa yang akan dilakukan Axel ketika ia menyadari bahwa ia telah membuat kesalahan terbesar dalam hidupnya? Akankah Olivia membuatnya membayar atas pengkhianatannya atau justru jatuh cinta padanya lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Minaaida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jangan Tanda Tangan Dulu

Olivia POV:

Aku berkedip dalam kebingungan. "Mengapa kamu ingin kita bercerai?" Aku bertanya padanya namun dia tidak menjawab. Mataku memindai lembaran kertas-kertas di tanganku dan pupil mataku membesar dalam keterkejutan setelah aku selesai membaca isinya.

Tanda tangan Alex telah tertera di sana. Dan akhir dari proses perceraian itu adalah tanda tanganku. Aku sangat bingung karena sebenarnya aku tidak menyangka bahwa perceraian kami akan terjadi secepat ini. Meskipun sebenarnya, pernikahan kami bukanlah pernikahan yang dimimpikan oleh semua pasangan, tetapi sejauh ini pernikahan kami baik-baik saja. Kami bisa mengerti satu sama lain. Kami bahkan bisa tidur bersama dalam satu ranjang setiap malamnya.

"Apa artinya semua ini, Alex?" sergahku bertanya dengan nada marah , namun Alex tak bergeming, dia tetap diam. "Kenapa kita harus bercerai? Kapan kamu membuat berkas perceraian ini?"

"Hari ini," ucapnya singkat.

Kedua alisku berkerut, aku semakin bingung. "Ini pasti karena dia, bukan?" aku menghela nafas, mencoba menahan air mata yang hendak jatuh karena luka yang diciptakan Alex. "Kamu menginginkan perceraian ini karena dia, bukan?" tambahku, suaraku terdengar serak karena menahan tangis.

Dia akhirnya memperjelas semua kecurigaanku selama ini. Kalung berlian yang dia beli pada saat lelang itu tentu saja untuk mantannya, Claudia. Jadi selama ini, dia sudah mempersiapkan segalanya mengenai perceraian kami.

Dia tidak membicarakannya denganku terlebih dahulu. Dia bahkan berpikir aku tidak layak untuk mengetahui bagaimana perceraian itu di buat. Apakah itu artinya dia tidak memandang aku sebagai seseorang yang penting dalam hidupnya?

"Bukankah kamu pikir sudah waktunya kita berhenti untuk saling membuang waktu masing-masing?" Dia terlihat sangat tenang ketika dia mengucapkan setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya sementara hatiku sudah tercabik-cabik dan berdarah setiap detiknya.

Pandanganku mengabur saat mendengar dia mengucapkan "Bukankah kamu pikir sudah waktunya kita berhenti untuk saling membuang waktu masing-masing?" Aku mengulang setiap kata itu dalam hati sambil mencerna artinya.

Aku mencoba memproses setiap detail dari semua yang terjadi karena aku masih merasa semua ini amat mengejutkan bagiku.

Saat aku menatap wajahnya dalam ekspresi bingung yang tercetak jelas di wajahku, dia melanjutkan. "Olivia, bukankah sangat jelas kamu tidak mencintaiku, bukankah demikian?" Dia menelan ludah dan aku menatapnya dengan mulut ternganga, tak percaya..!

"Hah, apa?" aku tergagap saat mencerna kata-katanya yang terakhir. "Maksud kamu apa?" tanyaku. Aku mencintai Alex. Aku selama ini mencintai dia. Namun, ada beberapa hal yang mengganggu yang menjadi duri dalam pernikahan kami. Aku selalu merasa dia sepertinya tak bisa move on dari mantan kekasihnya.

"Aku hanya ingin membuat segala sesuatunya lebih mudah bagi kita, bagi kamu."

"Tentu saja, kenapa aku nggak pernah berpikir akan seperti ini?" tanyaku retoris sambil mendengus. "Kamu sebenarnya hanya mencari-cari alasan biar bisa balikan lagi sama dia, kan? Kamu udah lama menunggu kesempatan ini dan kamu pikir hari ini adalah hari yang tepat. Begitu kan, Tuan Alexander Stone?!" teriakku padanya, sementara dia duduk dengan tenang.

"Olivia, semua ini tak ada hubungannya dengan Claudia." ujarnya. "Aku bahkan tidak pernah bertemu dengannya selama bertahun-tahun."

Aku tertawa tetapi bukan karena merasa lucu. "Jadi, apa lagi alasannya? Kenapa kamu ingin kita bercerai?" Aku tidak bisa pergi dengan alasan bullshit seperti yang dia lakukan padaku. Jika alasan perceraian ini karena demi kebaikanku, lalu mengapa aku merasa

Hancur oleh setiap kata yang dia ucapkan?

"Kamu lupa hari jadi kita, kamu memberiku hadiah yang biasa-biasa saja. Itu bukti bahwa kamu tidak menghargai pernikahan ini. Kamu memang tidak pernah menghargainya." Dia tampak tenang; terlalu tenang untuk percakapan seperti yang sedang kami lakukan. Hal itu membuatku sedikit bingung.

Tunggu dulu! Apa tadi yang dia bilang? Aku melupakan hari jadi kami? Bukankah dia juga melupakannya? Tapi mengapa hanya aku saja yang disalahkan? Aku tahu, hadiah itu juga tak berharga baginya. Tapi setidaknya, dia bisa sedikit menghargai semua usahaku untuknya. Aku sungguh tidak tahu apa yang dia inginkan karena dia nyaris memiliki segalanya.

"Aku mohon maaf tentang hari jadi itu dan juga mengenai hadiah yang aku berikan. Tapi semua itu tidak cukup untuk kamu jadikan alasan untuk menceraikanku." ucapku, berharap Alex akan berubah pikiran dan membatalkan perceraian ini.

"Olivia, tanda tangani saja berkas perceraian itu. Aku sudah memikirkan hal itu sejak lama dan aku sudah membuat keputusan."

Aku membasahi tenggorokanku yang terasa seperti tercekik. Lima tahun dalam hidupku, aku menyerahkan diri dan mengabdi padanya sebagai istri dan menantu dalam keluarga Stone.Tapi apa balasan yang kudapatkan? Aku tidak tahu harus berkata dan berbuat apa lagi. Aku sudah berusaha dan berjuang mati-matian mempertahankan pernikahan toksid ini. Dan yang kudapatkan selama ini hanyalah sikap dingin Alex dan penghinaan ini. Rasanya ini sudah cukup!

Rasanya aku tak sanggup lagi untuk berdiri lama-lama di depan Alex. Aku tak sanggup melihatnya lagi. Dunia tempat ku berpijak seakan runtuh dan aku ternyata tidak sanggup untuk menahannya.

Meskipun kami tidak memiliki pernikahan yang sempurna, tapi aku juga tidak ingin bercerai. Aku tidak pernah berpikir tentang perceraian. Itu semua menghancurkan hatiku dan aku merasa benar-benar dikhianati dan terluka.

Aku masih memegang berkas perceraian itu di tanganku, saat aku bergegas bergerak keluar kamar. Aku melirik sekilas Alex, dia tampaknya sudah mantap dengan keputusannya. Jadi, tak ada lagi yang bisa aku ucapkan untuk merubah segala keputusannya.

Sambil menyeka ujung mataku dengan punggung tangan agar air mataku tidak jatuh menetes membasahi pipi, aku berjalan menuruni tangga.

Ketika aku sudah sampai di ruang tamu, aku mengambil handphone ku yang tergeletak di atas meja. Tadi aku meninggalkannya di sana saat menyusul Alex ke atas. Saat ini, aku ingin menghubungi sahabatku untuk memberitahunya semua yang terjadi.

"Hai, babe, maaf, aku lupa tentang pesta itu. Tapi jangan khawatir, aku akan kesana nanti." kata Sonya sesaat setelah dia menerima teleponku. Dia pikir aku meneleponnya untuk mengingatkan dia tentang pesta di Perusahaan Alexander yang akan dilaksanakan besok.

"Aku meneleponmu bukan karena itu, Sonya." jawabku, suaraku sedikit bergetar.

"Hei, ada apa? Kenapa suaramu terdengar seperti itu? Apakah semua baik-baik saja?" Suara Sonya terdengar cemas, dan sedikit penasaran.

Sejenak aku ragu untuk menjawab.. Aku mengatur nafas dan mencoba menenangkan diri sebelum menjawab pertanyaan Sonya. Aku tak ingin rapuh dan menangis saat menceritakan tentang perceraian aku dane Alex. " Malam ini..." aku menelan ludah dan mulai berbicara. "M-malam ini ......"

Sonya memotong, "Iya, malam ini, apa yang terjadi?"

"Alex memberiku surat cerai..." Jawabku, lalu dengan menahan mulutku, aku tidak ingin Sonya mengetahui bahwa aku setengah mati menahan tangis.

Sonya terdiam sejenak. Sepi. Dia mencoba mencerna apa yang baru saja aku ucapkan. "Surat cerai apa? Kenapa dia melakukannya?"

"Aku tidak tahu, Sonya," jawabku seraya menghela nafas. "Dia bilang aku tidak mencintainya dan kami harusnya berhenti untuk saling membuang waktu." jawabku, airmata yang tadi kutahan, akhirnya keluar juga, meleleh pelan-pelan di pipiku. Aku mengusap air mataku dan memejamkan mata.

"Olivia, aku sungguh menyesal mendengarnya," ucap Sonya menyampaikan simpatinya. "Apa yang akan kamu lakukan? Bukankah kamu sudah memberinya hadiah anniversary? Lalu kenapa dia marah?"

Sonya yang menemani aku memilih hadiah anniversary untuk Alex ketika kami pergi berbelanja di mall tadi pagi.

Aku tidak langsung menjawab pertanyaan Sonya, hanya terdiam beberapa saat. "Dia tidak menyukai hadiah itu. Dia sama sekali tidak terkesan dengan hadiah yang kuberikan." jawabku, hatiku kembali sakit saat kembali mengingat percakapan kami tadi.

"Aku sudah menduganya saat kamu membeli hadiah itu,"

Sonya memang benar. Sebelum, dia telah mengatakan bahwa mungkin aku bisa mempertimbangkan yang lain sebagai hadiah. Namun, aku menolak saran Sonya karena sedang terburu-buru, dan tidak punya waktu untuk memilih.

"Lima tahun, Sonya. Aku mengorbankan lima tahun hidupku dengan sia-sia." Aku tertawa miris, pahit sekali. "Baiklah, jika memang perceraian yang dia inginkan, aku akan menandatangani surat cerai ini dan move on dari hidupku." ucapku lagi.

"Olivia, aku ikut sedih kamu harus mengalami semua ini." ucap Sonya penuh simpati. "Tapi apa kamu yakin kamu akan menandatangani surat cerai itu? Apa kamu ingin menyerah dengan pernikahan kalian?"

"Yah, mau bagaimana lagi?" jawabku terdengar pasti, meskipun sebenarnya aku berbohong. Aku terluka parah, dan aku tidak ingin pernikahan ini berakhir. "Pernikahan ini seperti pura-pura saja. Aku seperti tidak pernah menikah saja. Lalu untuk apa aku harus bertahan." tambahku lagi, aku menggigit bibir bawahku, menahan sakit yang menusuk hatiku.

Aku dan Sonya masih bercakap-cakap beberapa saat setelah itu sebelum akhirnya aku mengakhiri panggilan.

Berkas perceraian masih berada di tanganku. Aku tidak ingin menandatangani berkas perceraian itu, tapi apa gunanya menahan seseorang yang bahkan sudah mencampakkanku.

Aku baru saja beranjak akan meraih pulpen yang ada di atas meja, saat kudengar langkah kaki setengah berlari menuruni tangga. Aku langsung menoleh dan mendapati Alex yang datang dengan terburu-buru. "Apakah kamu sudah menandatangani berkas perceraian itu?" tanya Alex.

Aku memutar bola mataku dan menunjukkan padanya pulpen di tanganku. "Aku baru mau tanda tangan," jawabku sambil meletakkan berkas perceraian itu di atas meja.

"Olivia, jangan tanda tangan dulu," Dia buru-buru bergerak mendekatiku dan merampas pulpen yang ada di tanganku.

Hah???

1
Mariani Ajja
ini lakinya yg goblok nih
Mariani Ajja
lanjut Thor...
olyv
lanjut
Nessa
lanjut thor 💪🏻💪🏻💪🏻💪🏻
Nessa
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!