Kensington Valerio (22th) adalah seorang "Raja Pesta" yang sinis terhadap cinta, namun terobsesi mengoleksi ribuan novel romansa.
Baginya, cinta hanyalah delusi dengan alur membosankan yang selalu bisa ia tebak ending-nya.
Di tengah kejenuhannya akan kepalsuan dunia, hadir Audrey Hepburn (19th)—mahasiswi hukum tingkat satu yang kaku, ambisius, dan membawa prinsip kesucian yang keras kepala.
Audrey bukan sekadar junior di fakultasnya, ia adalah variabel acak yang mengacaukan prediksi Kensington.
Saat rahasia pengkhianatan mulai mengikis pertahanan Audrey, Kensington justru merasa tertantang untuk menuliskan naskah hidupnya sendiri.
Apakah Audrey akan berakhir menjadi sekadar koleksi di rak bukunya, ataukah ia adalah satu-satunya wanita yang mampu memberikan Kensington sebuah akhir yang tak terduga?
Di arena balap liar dan koridor kampus yang dingin, Kensington mulai mempertanyakan: apakah cintanya juga akan menjadi klise, atau sebuah tragedi yang tak terlukiskan ?
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#23
Hening yang menyusul setelah kepergian Sander yang memalukan terasa lebih menyesakkan daripada ledakan emosi sebelumnya. Vivian, yang masih terguncang di ambang pintu, hanya bisa menatap punggung Kensington yang tegap namun tampak kaku.
Dengan satu isyarat tangan yang dingin, Kensington menyuruh Vivian keluar dan menutup pintu yang sudah rusak itu sebisa mungkin.
Kensington tidak mengamuk. Ia tidak memaki. Ia justru melakukan sesuatu yang di luar dugaan: pria itu duduk bersila di lantai kayu yang dingin, membelakangi ranjang yang masih berantakan. Ia menatap lurus ke arah dinding, matanya yang perak tampak kosong, seolah jiwanya baru saja dicabut paksa dari raganya.
Di atas ranjang, Audrey mulai mengenakan pakaiannya dengan gerakan mekanis. Tangannya bergetar saat mengancingkan kemejanya, namun wajahnya tetap keras seperti batu. Setelah selesai, ia duduk di tepi ranjang, menatap punggung pria yang tiga minggu ini menghantui mimpi buruknya.
"Buat apa kau kemari?" suara Audrey memecah kesunyian, tajam dan penuh permusuhan.
Kensington tidak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang, menghirup sisa-sisa aroma gairah yang bukan miliknya di ruangan,, itu. "Sudah selesai?" tanyanya datar, tanpa menoleh.
Audrey mengangguk keras kepala, meski Kensington tidak bisa melihatnya. "Ya. Sudah selesai. Kau sudah melihat apa yang kau ingin lihat, bukan?"
Kensington terkekeh pelan—sebuah tawa yang terdengar sangat menyakitkan. Ia kemudian mendongak, menatap langit-langit kamar sebelum akhirnya menolehkan sedikit kepalanya untuk menatap Audrey.
Posisi mereka tidak dekat, namun tidak juga jauh; ada jurang tak kasat mata yang kini memisahkan mereka selamanya.
"Aku melepaskan tanggung jawabku padamu, Audrey," ucap Kensington. Suaranya rendah, bergetar oleh sesuatu yang ia coba tekan sekuat tenaga. "Selama tiga minggu ini, aku tidak tenang sama sekali. Aku memikirkan segalanya. Aku khawatir kau tidak akan baik-baik saja setelah malam itu. Aku mengkhawatirkan mentalmu, keadaanmu, bahkan keselamatanmu."
Ia berhenti sejenak, matanya menatap Audrey dengan tatapan yang sulit diartikan. "Namun melihatmu tadi... aku lega. Ternyata aku tidak menyakitimu secara verbal maupun mental sehebat yang kukira. Kau tampak sangat... menikmati waktumu. Aku lega, Audrey. Aku sungguh lega karena beban di pundakku baru saja kau angkat dengan cara yang paling brutal."
Audrey terdiam, jantungnya berdenyut nyeri mendengar nada lega yang diucapkan Kensington. Itu bukan lega karena bahagia, itu lega karena harapan yang mati.
"Malam itu," lanjut Kensington, suaranya kini setajam silet, "aku bersumpah kau adalah wanita pertama yang tidur denganku. Ya, kau adalah yang pertama bagiku, Kensington Valerio. Dan aku juga tahu, akulah orang pertama yang tidur denganmu. Aku sempat merasa terhormat... aku sempat ingin berterima kasih padamu karena denganmu yang murni, aku merasa memiliki sesuatu yang nyata."
Kensington bangkit berdiri, membersihkan debu khayalan di celana mahalnya. Ia menatap Audrey dari ketinggian, tatapan yang kini dipenuhi dengan penghinaan yang dingin.
"Ternyata benar, cinta memang pembodohan yang luar biasa. Aku hampir menjadi bodoh karena sempat berpikir untuk mencintaimu. Tidak, bukan cinta—mungkin hanya obsesi konyol yang hampir membuatku menyerahkan segalanya." Kensington tersenyum miring, sebuah senyuman yang merobek harga diri Audrey.
"Dan Audrey... kau juga perempuan murahan pertama yang kuakui sangat berani. Tidur dengan pria lain tepat setelah kau memberikan kemurnianmu padaku? Itu rekor yang luar biasa."
"Aku hamil," ucap Audrey tiba-tiba.
Dunia seolah berhenti berputar. Kensington yang hendak berbalik menuju pintu, tertegun. Ia menoleh perlahan, menatap perut Audrey dengan tatapan tidak percaya.
"Kau menyebutku perempuan murahan?" Audrey berdiri, matanya berkilat penuh air mata yang ia tahan. "Aku hamil anakmu, Kensington."
Kensington terdiam selama beberapa detik, sebelum akhirnya ledakan tawa kering keluar dari mulutnya. "Hah? Hamil? Kau pikir aku akan percaya begitu saja?"
"Ini kenyataannya!" teriak Audrey histeris.
"Siapa yang tahu, Audrey?" Kensington melangkah mendekat, mengintimidasi dengan auranya yang gelap. "Tiga minggu kau menghilang. Dan malam ini aku menemukanmu sedang bergumul dengan pria itu di ranjang ini. Bisa saja selama tiga minggu ini kau tidur dengan Sander setiap malam, dan hasil yang kau sebut anakku itu sebenarnya adalah benihnya. Jangan gila. Jangan mencoba menjebakku dengan trik murahan seperti ini."
Audrey merasa seolah ditampar oleh kenyataan yang lebih keras dari tangannya sendiri. "Jika kau tidak percaya... maka biarkan aku menggunakan caraku sendiri untuk menyelesaikannya. Aku akan membuangnya!"
Kensington menatap Audrey dengan mata yang kini benar-benar dingin, tanpa ada sisa kehangatan sedikit pun. Kata-kata "mencintai" yang sempat ia janjikan pada Vivian tadi sore kini terasa seperti lelucon paling menjijikkan di dunia.
"Silahkan," sahut Kensington dingin sambil berjalan menuju pintu yang hancur.
"Lakukan apa pun yang kau mau. Aku bahkan tidak ingin ada makhluk apa pun yang lahir dari rahim wanita sepertimu. Bagiku, kau dan apa pun yang ada di dalam sana sudah mati sejak aku menginjakkan kaki di ruangan ini."
Kensington melangkah keluar tanpa menoleh lagi. Di lorong, ia melewati Vivian yang menatapnya dengan ngeri, namun ia terus berjalan menuju mobilnya.
Di dalam kamar, Audrey luruh ke lantai, meremas perutnya yang masih terasa mual. Ia menangis tanpa suara, menyadari bahwa kemenangannya atas keangkuhan Kensington adalah kemenangan yang paling menghancurkan dirinya sendiri.
Tragedi itu lengkap sudah. Kebencian telah menang, dan di antara dua ego yang terluka, ada satu nyawa yang kehadirannya bahkan sudah ditolak sebelum ia sempat menyapa dunia.
terimakasih berkali² double up.
besuk lagi up nya kak,,,
kesehatannya di jaga
semangat 💪
nunggu kejutan dari kakak cantik 💪
dari pemilihan kata kata bagus, mudah di pahami. Alur kata tidak melibet.
Padahal novel e bagus banget tapii kenapa peminat bacanya sedikit ya
Aku doain ya kak,, semoga novel e bisa banyak yang baca, bisa masuk rank
insha Allah setiap baca, aku kasih kopii. biar nulisnya tambah semangat, dan nggak ngantuk 🤭