NovelToon NovelToon
Gerhana Sembilan Langit 3

Gerhana Sembilan Langit 3

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi ke Dalam Novel / Menjadi NPC / Fantasi Timur
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kokop Gann

(GERHANA SEMBILAN LANGIT SEASON 3)

Setelah menaklukkan Benua Kuno, Han Luo dan Long Tian bertujuan menginjakkan kaki di Cakrawala Suci—pusat dunia kultivasi yang sesungguhnya.

Di benua super-masif ini, kekuatan Jiwa Baru Lahir hanyalah prajurit biasa, dan para dewa Pemutus Roh menguasai langit. Menjadi buronan faksi raksasa akibat kematian Jian Wuji, Han Luo terpaksa menyembunyikan taringnya.

Dan saat rahasia sebenarnya di balik 'Dao Langit' dan Penjara Benua Kuno mulai terkuak, Han Luo bersiap menyalakan api pemberontakan terbesarnya. Di negeri para dewa, gerhana akan membuktikan bahwa ia mampu menelan matahari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sang Monster Purba

BOOOOOOM!

Permukaan laut meledak. Air ungu menyembur ke angkasa layaknya geyser raksasa, melemparkan Leviathan Emas tinggi ke udara.

Dari dalam pusaran air raksasa, sebuah kepala mengerikan menyembul keluar. Makhluk itu menyerupai ikan paus purba, namun seluruh tubuhnya dilapisi sisik batu meteorit berduri. Di kepalanya, terdapat tiga mata vertikal berwarna merah darah yang masing-masing seukuran alun-alun kota.

[Paus Penelan Bintang] Tingkat Ancaman: Setara Pemutus Roh Awal!

Makhluk ini adalah predator puncak Lautan Tak Berujung. Ia berenang di sekitar Arus Bintang untuk memangsa kapal-kapal kultivator bodoh yang mencoba menyeberang ke Cakrawala Suci.

"GRAAAAWWWRRR!"

Paus purba itu meraung, suaranya menciptakan gelombang sonik yang langsung meretakkan formasi pelindung tertinggi kapal Leviathan Emas.

Long Tian terlempar, menghantam tiang kapal hingga batuk darah. "K-Kuat sekali! Hanya raungannya saja sudah meremukkan tulang rusukku!"

Paus raksasa itu membuka rahangnya yang dipenuhi gigi bergerigi setajam pedang, berniat menelan kapal itu bulat-bulat saat kapal itu jatuh kembali ke laut. Mulutnya membentuk sebuah lubang hitam hisapan gravitasi yang mustahil untuk dihindari.

"Senior! Kita akan ditelan!" Long Tian memaksakan diri berdiri, Qi petir dan darah dewanya meledak seketika, menahan hisapan gravitasi makhluk itu.

Han Luo, yang masih melayang di udara di atas geladak kapal yang jatuh, hanya memiringkan kepalanya.

"Menelan kapalku?" Han Luo mendengus dingin. "Aku adalah satu-satunya entitas di lautan ini yang diizinkan untuk menelan sesuatu."

Di udara, Han Luo tidak mencoba mengangkat kapal atau melarikan diri. Dia mencabut Pedang Teratai Darah-nya.

Bilah pedang merah transparan itu berdengung riang, seolah kelaparan melihat darah makhluk purba yang sebegitu besar.

Han Luo menutup mata kanannya, membiarkan Mata Dewa Gerhana di mata kirinya mengambil alih seluruh persepsi ruangnya.

Seketika, di mata kiri Han Luo, tubuh raksasa Paus Penelan Bintang itu dipenuhi oleh garis-garis tipis berwarna biru yang saling bersilangan. Itu adalah garis kelemahan struktural spasial dari makhluk tersebut.

Domain Gerhana: Gravitasi Bintang Mati!

Han Luo menukik ke bawah, lurus menuju rahang raksasa yang terbuka lebar itu. Sosoknya bagaikan jarum hitam yang jatuh ke dalam mulut gunung berapi.

"Mati," bisik Sang Dalang.

Sutra Hati Es Abadi: Tebasan Nol Mutlak Pemecah Bintang!

Pedang merah itu menebas di udara. Bukan energi pedang raksasa yang keluar, melainkan sebuah garis hitam legam yang sangat tipis dan senyap.

Garis ketiadaan itu melesat dan menabrak salah satu garis biru struktural di kepala monster tersebut.

ZING.

Hanya suara pelan yang terdengar, layaknya kertas yang dipotong dengan silet tajam.

Paus Penelan Bintang itu tiba-tiba membeku. Mulut raksasanya masih terbuka lebar, tapi hisapan gravitasinya langsung mati.

Kapal Leviathan Emas mendarat kembali ke air dengan keras, menciptakan gelombang kejut yang mengombang-ambingkan kapal.

Long Tian berpegangan erat pada pagar, terengah-engah. Dia mendongak, menatap monster raksasa itu.

Tiga mata merah Leviathan itu kini meredup, kehilangan cahaya kehidupannya.

KRAAAK!

Satu garis merah lurus tiba-tiba muncul di tengah-tengah wajah monster itu, membelah tiga matanya secara vertikal.

Detik berikutnya, seluruh tubuh raksasa seukuran gunung itu terbelah menjadi dua bagian yang sangat rapi. Darah ungu kehitaman dan isi perut yang berbau busuk tumpah ke lautan, menodai air yang jernih. Monster setara Pemutus Roh Awal itu telah dipotong secara presisi hanya dengan satu tebasan.

Di atas salah satu potongan tubuh monster yang mengambang, Han Luo berdiri dengan tenang. Pedang Teratai Darahnya tidak meneteskan darah sedikit pun; pedang itu telah menghisap esensi murni Leviathan itu di detik yang sama saat ia memotongnya.

"Terlalu mudah," Han Luo menyarungkan pedangnya, sedikit kecewa. "Hewan liar, seberapapun besar ukurannya, hanyalah setumpuk daging jika tidak memiliki akal."

Long Tian menelan ludah melihat pemandangan epik itu. Seniornya baru saja membelah monster seukuran benua kecil!

Namun, kekecewaan Han Luo tidak berlangsung lama.

Tiba-tiba, kompas bintang di saku jubahnya terasa panas seperti besi membara.

Han Luo mengerutkan kening. Dia mengeluarkan kompas itu. Jarumnya tidak lagi menunjuk ke depan mengikuti arus bintang. Jarum itu berputar liar, lalu berhenti dengan paksa, menunjuk ke arah langit di belakang mereka. Arah dari mana mereka berasal.

Han Luo mendongak, menatap ke arah ufuk kegelapan di atas Lautan Tak Berujung.

Sesuatu mendekat. Sesuatu yang auranya tidak buas seperti monster barusan, melainkan dingin, tajam, dan penuh perhitungan. Aura yang mengunci langsung ke arah esensi jiwa Han Luo.

"Anak Baru," Han Luo melompat dari bangkai paus itu dan mendarat kembali di geladak kapal.

Wajah Han Luo yang biasanya santai kini sedikit menegang. Mata merahnya memancarkan niat bertarung yang nyata.

"Aktifkan seluruh formasi pertahanan kapal. Naikkan perisai hingga batas maksimal," perintah Han Luo cepat.

"Ada monster lain yang datang?!" panik Long Tian.

"Bukan monster. Ini pemburu," Han Luo memutar lehernya, mencabut pedangnya kembali.

Di ufuk yang jauh, sebuah kapal layar yang terbuat seluruhnya dari emas putih melesat menembus kegelapan laut dengan kecepatan cahaya. Kapal itu tidak berlayar di atas air, melainkan melayang sedikit di atas permukaan laut, seolah meremehkan hukum alam di tempat ini.

Di layar utama kapal itu, terpampang lambang pedang perak yang menembus matahari keemasan.

Lambang faksi utama dari Cakrawala Suci.

"Utusan dari Daratan Utama," bisik Han Luo, menyeringai dengan campuran antisipasi dan bahaya absolut. "Mereka datang lebih cepat dari yang kuduga."

1
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Jlebz 🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Clink 🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yup yup yup 🔥🌽
Mamat Stone
/Smirk/💥
Mamat Stone
/Joyful/💥
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
👻🤣
Mamat Stone
🤣👻
Mamat Stone
🤣
Mamat Stone
👻
Mamat Stone
/Smirk/
Mamat Stone
/Joyful/
Mamat Stone
👻
Mamat Stone
🤣
Mamat Stone
senggol tabok 👊💥
Mamat Stone
senggol bacok /Cleaver/💥
Mamat Stone
😍
Mamat Stone
🤩
Mamat Stone
Jagoan Neon /Casual/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!