NovelToon NovelToon
Kontrak Sandiwara Sang Pewaris Tunggal

Kontrak Sandiwara Sang Pewaris Tunggal

Status: sedang berlangsung
Popularitas:137
Nilai: 5
Nama Author: Ruang_Magenta

Menikahi pria paling berkuasa di kota ini adalah mimpi buruk bagi semua orang, tapi bagi Nara, ini adalah tambang emas untuk novelnya."

​Nara adalah seorang penulis berbakat yang sedang terjebak dalam krisis kreatif. Demi mendapatkan riset nyata untuk novel terbarunya, ia nekat masuk ke dalam kehidupan Aris, sang pewaris tunggal kerajaan bisnis yang dikenal dingin dan tak tersentuh.

​Sebuah tawaran pernikahan kontrak selama satu tahun menjadi pintu masuk yang sempurna bagi Nara. Di mata dunia, Nara adalah istri yang patuh dan penuh cinta. Namun di balik pintu kamar, Nara diam-diam mencatat setiap detail perilaku Aris—mulai dari cara pria itu menatapnya dengan tajam hingga sisi rapuh yang tak pernah diperlihatkan kepada siapa pun—lalu menerbitkannya sebagai bab baru di aplikasi novel yang viral.

​Keadaan menjadi rumit ketika novel fiksi Nara meledak di pasaran dan para pembaca mulai menyadari kemiripan karakter utamanya dengan sang CEO legendaris. Di sisi lain, Aris mulai merasa ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Labirin Cermin

Mobil sedan hitam itu melaju dengan kecepatan konstan menembus kabut pagi yang mulai menipis. Di dalamnya, keheningan terasa begitu berat, hanya dipecahkan oleh suara mesin yang halus dan deru ban di atas aspal basah. Aku duduk di kursi belakang, mendekap map titipan Ayah seolah itu adalah bagian dari jantungku sendiri. Di sampingku, wanita yang mengaku sebagai ibu Bimo—Ratih Wijaya—duduk dengan tegak, menatap lurus ke depan dengan keanggunan yang terasa dingin.

"Kamu punya mata yang persis seperti Hendra," ucapnya tiba-tiba tanpa menoleh. "Tajam, penuh selidik, tapi juga menyimpan kerapuhan yang dalam."

Aku menoleh padanya, mencoba mencari kemiripan wajah Bimo di sana. Garis rahangnya tegas, dan sorot matanya memiliki intensitas yang sama dengan pria yang baru saja kutinggalkan di dermaga itu. "Bagaimana Anda bisa masih hidup? Bimo... dia bilang orang tuanya meninggal dalam kecelakaan."

Ratih menghela napas pendek. "Kecelakaan itu nyata, Nara. Tapi aku tidak mati. Kakek Wijaya memastikan dunia menganggapku sudah tiada agar dia bisa membentuk Bimo menjadi 'senjata' yang sempurna tanpa campur tangan 'kelemahan' seorang ibu. Aku diasingkan, dikurung dalam sangkar emas di luar negeri selama hampir dua puluh tahun."

Aku mengerutkan kening. "Lalu kenapa sekarang? Kenapa muncul saat semuanya sudah hancur?"

"Karena Bimo mulai lepas kendali," jawabnya tenang. "Dia jatuh cinta padamu, dan itu adalah variabel yang tidak pernah diperhitungkan oleh Kakek. Bimo mencoba bermain api dengan membawa Ayahmu kembali. Dia pikir dia bisa mengendalikan ledakannya, tapi lihat apa yang terjadi. Dermaga itu menjadi makam, bukan tempat reuni."

Kalimatnya seperti sembilu yang menyayat luka baru. Aku teringat kobaran api di kapal tadi. Ayah. Bayangan wajahnya yang tersenyum sebelum ledakan itu menghantui setiap kedipan mataku.

"Anda bilang Bimo tidak menceritakan semuanya padaku. Apa maksudnya?" tanyaku, mencoba mengalihkan rasa sakit itu menjadi rasa ingin tahu yang tajam.

Ratih akhirnya menoleh padaku. "Bimo tidak hanya ingin menjatuhkan Kakek untuk membebaskanmu, Nara. Dia ingin melakukannya untuk menguasai seluruh aset Wijaya tanpa cela. Dokumen di tanganmu itu? Itu bukan sekadar bukti korupsi. Itu adalah 'kunci' untuk mencairkan dana abadi keluarga yang hanya bisa diakses jika Kakek dinyatakan bersalah secara hukum dan ada ahli waris yang menyerahkan bukti itu. Bimo butuh kamu bukan cuma sebagai kekasih, tapi sebagai instrumen legalnya."

Aku tertegun. Dunia di sekitarku rasanya mendadak berputar. Jadi, pelukan di taman, air mata di dermaga, dan semua tatapan intens itu... apakah semuanya hanya bagian dari perhitungan bisnis yang sangat rapi? Apakah aku benar-benar hanya sebuah 'instrumen'?

"Aku tidak percaya," bisikku, meski di dalam hati, keraguan mulai tumbuh seperti jamur di musim hujan. "Dia mempertaruhkan nyawanya di dermaga tadi."

"Dia mempertaruhkan nyawanya untuk aset yang nilainya triliunan, Nara. Di dunia Wijaya, itu adalah investasi yang masuk akal," sahut Ratih dingin. "Tapi aku di sini bukan untuk menghancurkan hatimu. Aku di sini untuk menawarkan kesepakatan yang lebih adil. Berikan dokumen itu padaku, dan aku akan memastikan kamu menghilang dari radar keluarga ini selamanya. Kamu bisa memulai hidup baru, dengan identitas baru, dan uang yang cukup untuk menulis seribu novel tanpa perlu khawatir soal tagihan."

Aku menatap map di pangkuanku. Penebusan atau pelarian?

Mobil berhenti di sebuah vila tersembunyi di lereng perbukitan yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Suasananya sepi, hanya ada suara kicauan burung dan gemericik air mancur. Ratih mengajakku masuk ke dalam perpustakaan pribadi yang dipenuhi buku-buku tua.

"Pikirkan tawaranku, Nara. Aku akan memberimu waktu satu jam," katanya sebelum meninggalkan aku sendirian.

Aku duduk di kursi kulit besar, merasa sangat lelah. Aku merogoh tasku, mencari sesuatu untuk mengalihkan pikiran, dan tanganku menyentuh tablet kecil yang biasa kugunakan untuk menulis. Aku menyalakannya. Baterainya tinggal lima persen.

Ada satu draf yang belum sempat kukirim ke editor. Judulnya: Sang Penulis dan Sang Pangeran Palsu. Aku membacanya kembali, dan betapa ironisnya, plot yang kubuat hampir mirip dengan apa yang kualami sekarang. Bedanya, di novelku, sang pangeran benar-benar tulus. Di dunia nyata? Aku tidak tahu lagi mana yang cermin, mana yang bayangan.

Tiba-tiba, sebuah pesan masuk di aplikasi pesanku. Layarnya retak, tapi aku masih bisa membacanya. Dari nomor yang tidak kukenal, tapi pesannya singkat:

"Jangan percaya pada wanita itu. Dia adalah alasan kenapa ayahmu dipenjara dua puluh tahun lalu. Periksa halaman 42 di mapmu—bagian catatan kaki yang disamarkan."

Jantungku berdegup kencang. Aku segera membuka map itu, mencari halaman 42. Di sana ada salinan rekening koran yang sangat rumit. Aku mencari catatan kaki yang dimaksud. Dengan menggunakan senter dari tablet, aku melihat ada bekas tip-ex tipis yang menutupi sebuah nama. Aku menggosoknya pelan dengan kuku.

Nama yang muncul bukan Kakek Wijaya. Bukan juga Ayah Bimo.

Tapi Ratih Wijaya.

Wanita itu bukan korban pengasingan. Dia adalah otak di balik penggelapan dana itu dua puluh tahun lalu, dan dia mengorbankan ayahku untuk menutupi jejaknya. Kakek Wijaya menangkapnya, tapi demi menjaga nama baik keluarga, dia tidak memenjarakan menantunya, melainkan membuangnya dan memalsukan kematiannya. Sekarang, dia kembali untuk mengambil kembali "hasil karyanya".

Aku merinding. Aku berada di dalam rumah bersama seorang sosiopat yang jauh lebih berbahaya daripada Kakek Wijaya.

Aku harus keluar dari sini. Sekarang.

Aku berjalan menuju jendela, mencoba membukanya, tapi terkunci dari luar. Aku mencoba pintu, juga terkunci. Aku terjebak. Di tengah kepanikan itu, aku mendengar langkah kaki mendekat. Bukan langkah kaki anggun Ratih, tapi langkah kaki yang cepat dan berat.

BRAKK!

Pintu perpustakaan didobrak. Aku refleks mengangkat kursi kecil untuk membela diri. Tapi yang muncul di ambang pintu adalah Bimo.

Bajunya masih berlumuran abu, napasnya tersengal-sengal, dan di tangannya ada sebuah pistol kecil—sesuatu yang belum pernah kulihat dia bawa sebelumnya.

"Nara! Kamu nggak apa-apa?" dia berlari mendekat, mencoba memelukku, tapi aku mundur menjauh.

"Jangan mendekat, Bimo! Kamu dan ibumu... kalian sama saja!" teriakku sambil menodongkan kursi itu.

Bimo terpaku. "Ibu? Kamu bertemu dia? Dia ada di sini?"

"Jangan akting lagi! Dia bilang kamu cuma memanfaatkanku buat cairkan dana abadi itu! Dan aku tahu sekarang, dia yang menjebak ayahku!"

Wajah Bimo berubah pucat pasi. "Nara, dengarkan aku. Aku tahu ibu masih hidup, itu sebabnya aku mencarimu. Aku ingin menjauhkanmu dari dia sama banyaknya dengan aku menjauhkanmu dari Kakek. Ibu itu... dia sakit. Dia terobsesi dengan uang itu sejak ayahku meninggal. Aku mengejar mobilnya sejak dari dermaga, tapi aku kehilangan jejak sampai Panji melacak sinyal tabletmu."

"Gimana aku bisa percaya kamu?" suaraku serak karena tangis yang tertahan.

"Kamu nggak harus percaya padaku sekarang," Bimo menurunkan senjatanya, meletakkannya di lantai, dan mendorongnya ke arahku. "Tapi kamu harus keluar dari sini. Ibu tidak sendirian. Dia membawa orang-orang dari masa lalunya."

Tiba-tiba, lampu di perpustakaan padam. Suara tawa dingin terdengar dari pengeras suara di sudut ruangan.

"Bimo, Bimo... anakku yang malang. Kamu selalu terlalu lembek kalau soal wanita," suara Ratih bergema. "Kamu pikir kamu bisa menyelamatkannya lagi? Kali ini, tidak ada polisi yang akan datang tepat waktu."

Bimo menarik tanganku, kali ini aku tidak menolak. Rasa takut pada Ratih mengalahkan keraguanku pada Bimo. Kami berlari menembus kegelapan lorong vila. Suara tembakan terdengar dari luar—sepertinya Panji dan tim keamanan Bimo sedang terlibat baku tembak dengan pengawal Ratih.

"Lewat sini!" Bimo membimbingku ke arah dapur, menuju pintu belakang.

Saat kami hampir sampai di pintu, sosok Ratih muncul di bawah cahaya bulan yang masuk dari jendela besar. Dia memegang senjata, mengarahkannya tepat ke arah kami.

"Berikan map itu, Nara. Atau Bimo yang akan membayar dosa-dosaku hari ini," ucapnya tanpa ragu.

Bimo melangkah di depanku, menutupi tubuhku sepenuhnya dengan tubuhnya sendiri. "Tembak aku, Bu. Kalau itu bisa membuat Ibu berhenti menghancurkan hidup orang lain."

"Bimo, minggir!" teriakku.

Ratih menarik pelatuknya.

DOR!

Aku memejamkan mata, menunggu rasa sakit atau suara tubuh yang jatuh. Tapi yang kudengar justru suara kaca pecah dan teriakan kesakitan. Aku membuka mata dan melihat Ratih terjatuh, tangannya memegang bahunya yang berdarah. Di belakangnya, Panji berdiri dengan senjata yang masih berasap.

"Maaf telat, Bos," kata Panji datar.

Bimo tidak membuang waktu. Dia menarikku keluar menuju mobil yang sudah menunggu. Kami melesat meninggalkan vila itu tepat saat sirine polisi—kali ini benar-benar polisi—terdengar mendekat.

Kami berakhir di sebuah hotel kecil yang tenang di pinggiran kota. Bimo menyewa seluruh lantai untuk memastikan keamanan. Aku duduk di tepi tempat tidur, masih memegang map itu. Bimo duduk di kursi di seberangku, menatap tangannya yang gemetar.

"Ayahmu..." Bimo memulai bicara setelah keheningan yang lama. "Dia tidak mati, Nara."

Aku tersentak, menatapnya dengan mata terbelalak. "Apa? Aku lihat kapalnya meledak!"

"Itu kapal umpan. Ayahmu sudah dipindahkan ke kapal polisi air sesaat sebelum ledakan kedua terjadi. Panji dan ayahmu merencanakan itu untuk memalsukan kematiannya lagi agar Kakek dan Ibuku mengira bukti itu ikut musnah atau berada di tanganmu yang sendirian. Ayahmu sekarang ada di lokasi aman di bawah perlindungan saksi."

Aku jatuh terduduk di lantai, menangis sejadi-jadinya. Rasa lega, marah, dan lelah bercampur menjadi satu. Bimo mendekat, kali ini dia berlutut di depanku dan memelukku. Aku tidak lagi menolak. Aku menyembunyikan wajahku di bahunya, membiarkan semua beban itu tumpah.

"Kenapa kamu nggak kasih tahu aku?" bisikku di sela tangis.

"Karena kalau kamu nggak kelihatan sedih dan hancur di dermaga tadi, Kakek nggak akan percaya kalau rencananya berhasil. Aku minta maaf, Nara. Aku benci harus membuatmu menderita, tapi itu satu-satunya cara supaya mereka berhenti mengejarmu."

Aku melepaskan pelukannya, menatap matanya dalam-dalam. "Dan soal dana abadi itu? Apa yang ibumu katakan benar?"

Bimo menghela napas. "Uang itu ada. Dan memang benar dokumen itu adalah kuncinya. Tapi aku tidak menginginkannya untuk diriku sendiri. Aku sudah mendaftarkan yayasan atas namamu dan panti asuhanmu. Begitu Kakek dan Ibu diproses secara hukum, semua aset itu akan dialihkan untuk mendanai panti-panti asuhan di seluruh negeri. Itu adalah kompensasi yang seharusnya dilakukan keluarga Wijaya sejak dulu."

Aku terdiam, mencoba mencerna kejujuran di matanya. Pria ini... dia menghancurkan keluarganya sendiri untuk membangun sesuatu yang lebih baik. Dia menggunakan kegelapan untuk membawa cahaya, meski dia harus terlihat seperti penjahat di mataku.

Aku mengambil tabletku, membuka draf novelku, dan mengetik satu baris kalimat terakhir untuk bab ini:

Ternyata, pangeran itu tidak palsu. Dia hanya memakai topeng monster agar bisa bertarung dengan monster yang sebenarnya.

Aku menatap Bimo dan tersenyum tipis untuk pertama kalinya. "Jadi, apa langkah kita selanjutnya?"

Bimo membalas senyumku, sebuah senyuman yang kali ini sampai ke matanya. "Selanjutnya? Aku rasa kita harus memesan makanan yang sangat banyak. Dan mungkin, kamu bisa membantuku menulis surat pengunduran diri sebagai CEO."

Aku tertawa, sebuah suara yang sudah lama tidak kudengar dari diriku sendiri. "Oke. Tapi aku yang edit bahasanya, ya? Biar lebih dramatis."

Malam itu, di kamar hotel yang sederhana, kami bukan lagi CEO dan penulis kontrak. Kami hanya dua manusia yang sedang mencoba merakit kembali puing-puing hidup kami di atas reruntuhan sebuah dinasti yang baru saja runtuh. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa cerita ini akhirnya menjadi milikku sepenuhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!