“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.
Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.
Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.
Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.
Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.
Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Dua Orang
Kertas itu bergetar di tangan Ayza. Napasnya tercekat saat matanya mulai membaca.
Satu baris. Dua baris. Lalu berhenti. Tubuhnya membeku.
Kuitansi hotel.
Nama tamu: Kaisyaf Al-Fath.
Tanggal: semalam.
Ayza menggeleng pelan.
“Tidak…” bisiknya lirih.
Tangannya semakin gemetar saat membaca baris berikutnya.
Jumlah tamu: dua orang.
Seolah ada sesuatu yang menghantam dadanya dengan keras.
Ayza mundur selangkah.
Kertas itu hampir terlepas dari genggamannya.
“Gak mungkin…” suaranya pecah.
Semalam…
Bukankah semalam Kaisyaf pulang?
Bukankah semalam ia tidur bersamanya?
Bukankah semalam—
Ayza terdiam. Ingatan itu datang tiba-tiba. Kaisyaf datang larut. Wajahnya sedikit pucat. Sikapnya dingin.
Dan… Ia tidak menyentuh Ayza sama sekali.
Jantung Ayza berdetak semakin cepat. Pikirannya mulai menghubungkan satu per satu potongan yang selama ini ia abaikan.
Pulang malam. Sering menghilang. Bersikap dingin.
Dan sekarang…
Hotel. Dengan orang lain.
"Tak mungkin masuk kamar hotel dengan seorang pria 'kan? Gak mungkin urusan bisnis dibicarakan di kamar hotel."
Pikiran itu membuatnya sulit bernapas seolah udara menipis.
Tangan Ayza mengepal, meremas kertas itu tanpa sadar. Air matanya mulai jatuh. Satu. Dua. Lalu tak terbendung.
“Jadi… ini alasannya?” suaranya bergetar. “Ini alasan Abi ingin bercerai?”
Dadanya terasa sesak. Lebih sakit daripada saat mendengar kata cerai semalam.
Kalau hanya benci… ia masih bisa bertahan. Tapi kalau ada orang lain…
Ayza menutup mulutnya, menahan isak yang hampir pecah. Tubuhnya perlahan jatuh terduduk di lantai.
Sepuluh tahun.
Sepuluh tahun ia menjaga pernikahan itu.
Sepuluh tahun ia mencintai pria itu tanpa ragu.
Dan semua itu…
Hancur hanya dalam satu malam.
***
Ayza menyiapkan sarapan seperti biasa. Namun pikirannya masih dipenuhi oleh suaminya.
Ia masih tidak percaya Kaisyaf berselingkuh.
Dua belas tahun mengenal satu sama lain… sepuluh tahun berbagi hidup sebagai suami istri. Dua belas tahun bukan waktu yang singkat untuk mengenal seseorang. Terlebih pria yang telah sepuluh tahun berbagi ranjang dengannya.
"Pasti ada sesuatu yang Abi sembunyikan, 'kan?" batinnya.
Entah karena ia tidak ingin mengakui kenyataan pahit itu, atau memang karena keyakinannya begitu kuat.
Entahlah.
Tangannya meletakkan dua gelas susu dan dua piring di atas meja.
Biasanya ada tiga. Kini hanya dua.
"Apa Abi sudah bosan dengan masakanku?" pikirnya, mengingat Kaisyaf semakin jarang makan di rumah.
“Umi…”
Suara kecil itu membuat Ayza menoleh.
Alvian, putranya, berjalan menghampirinya. Rambut bocah itu masih lembap, tetapi pakaiannya sudah rapi.
Ayza tersenyum. Sejenak, kegelisahan di hatinya mereda.
“Anak Umi sudah besar,” ucapnya sambil mengusap lembut rambut tebal Alvian.
“Tentu saja. Tiap hari Umi masak makanan bergizi, jadi Al cepat besar,” jawab Alvian dengan nada bangga.
Ayza tersenyum lagi, mencubit gemas hidung putranya. “Ayo sarapan.”
Alvian mengangguk, lalu duduk rapi di kursinya. Saat Ayza mengambilkan makanan, Alvian menatapnya.
“Umi…”
Ayza menoleh.
Alvian melirik sekilas ke arah kamar orang tuanya. “Abi nggak pulang lagi?” tanyanya pelan. Sorot matanya memancarkan kerinduan.
Gerakan tangan Ayza terhenti di udara. Hanya sesaat. Lalu ia kembali tersenyum.
“Semalam pulang. Tapi pagi-pagi sekali sudah pergi. Abi sepertinya sedang sangat sibuk.”
Alvian mengangguk pelan, berusaha mengerti.
Senyum di wajah Ayza perlahan berubah pahit. Ia tahu betul betapa dekatnya Alvian dengan ayahnya.
Sejak kecil, Kaisyaf selalu meluangkan waktu untuk mereka. Bermain, bercanda, pergi liburan… di tengah kesibukannya, ia selalu berusaha hadir untuk keluarga.
Namun akhir-akhir ini…
Tidak lagi.
Pria itu bahkan terasa seperti orang asing di rumahnya sendiri.
***
Usai sarapan, Ayza mengantar Alvian ke sekolah.
Mobil melaju dengan kecepatan standar. Di kursi sebelah, Alvian membuka bukunya, matanya serius membaca.
“Umi… kalau air dipanasin terus sampai hilang jadi asap gitu, kenapa?”
Ayza tersenyum kecil.
“Itu bukan hilang, Sayang. Airnya berubah jadi uap.”
“Oh…” Alvian mengangguk. “Kalau uapnya jadi air lagi?”
“Itu bisa terjadi kalau uapnya kena udara dingin.”
Alvian tersenyum puas.
“Berarti air bisa berubah-ubah ya, Umi.”
“Iya. Tapi tetap air,” jawab Ayza lembut.
Ayza terdiam sejenak setelah mengucapkannya. Seolah tanpa sadar… ia sedang meyakinkan dirinya sendiri.
Alvian kembali menatap bukunya, lalu menutupnya saat mobil berhenti di depan gerbang sekolah.
Ia melepas sabuk pengaman, lalu mengecup punggung tangan Ayza.
“Al berangkat, Umi. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam. Hati-hati ya,” ujar Ayza lembut.
“Iya, Umi.”
Alvian tersenyum, lalu turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam sekolah.
Ayza menatap punggung kecil itu hingga menghilang di balik gerbang.
Baru setelah itu ia mengalihkan pandangan, lalu melajukan mobil kembali ke rumah.
—
Setibanya di rumah, Ayza melangkah masuk ke ruang kerja.
Ruangan itu sunyi. Terlalu sunyi.
Ia duduk di kursinya, meraih buku sketsa, lalu memegang pensil. Namun ujung pensil itu tak juga menyentuh kertas.
Kosong. Seperti pikirannya.
Akhir-akhir ini ia bahkan tak punya ide untuk menggambar. Perubahan sikap Kaisyaf begitu memengaruhinya.
Tak biasanya ia seperti ini. Namun jika menyangkut Kaisyaf… Pria itu memang satu-satunya yang mampu mengusik seluruh hatinya.
Ayza menghela napas pelan.
“Ya Allah… hamba tahu, tak seharusnya mencintai seseorang terlalu dalam…
Suaranya lirih.
"...karena saat ia pergi… hamba seperti kehilangan segalanya.”
Matanya perlahan menatap sekeliling ruangan itu.
Dan ingatan itu kembali datang.
—
“Ini desain baru kamu?” Suara itu terdengar hangat di telinganya.
Ayza menoleh. Kaisyaf berdiri di belakangnya, menatap sketsa di tangannya.
“Iya. Gimana?” tanya Ayza sambil tersenyum.
Kaisyaf tidak langsung menjawab. Ia menarik kursi, lalu duduk di samping Ayza. “Bagus,” ujarnya singkat.
Ayza menyipitkan mata. “Bagus doang? Abi biasanya cerewet kalau ngomentarin desainku.”
Kaisyaf tersenyum tipis. “Kalau bagus ya aku bilang bagus.”
“Bohong. Pasti ada yang mau dikritik.”
Kaisyaf terkekeh pelan, lalu menunjuk bagian sketsa itu. “Di sini… coba kamu buat lebih tegas. Biar karakternya lebih kuat.”
Ayza memerhatikan, lalu mengangguk. “Hmm… iya juga.”
Kaisyaf menatap Ayza beberapa detik. “Tapi satu yang nggak pernah berubah.”
Ayza menoleh. “Apa?”
“Desain kamu… selalu punya ‘rasa’.”
Ayza tersenyum kecil. “Karena aku bikin pakai hati.”
Kaisyaf ikut tersenyum. “Makanya aku suka.”
—
Ayza tersentak. Ia kembali ke kenyataan.
Tangannya masih memegang pensil. Namun kertas di depannya tetap kosong. Senyumnya perlahan memudar.
“Sekarang…” bisiknya pelan, “bahkan aku nggak tahu harus menggambar apa.”
Dulu, ruangan ini penuh suara mereka. Sekarang… hanya tersisa kenangan yang tak bisa ia sentuh lagi.
Ayza menatap kertas itu sekali lagi.
Lalu perlahan berdiri.
“Aku harus tahu kebenarannya.”
...🔸🔸🔸...
..."Tidak semua kebenaran datang dengan suara keras....
...Kadang, ia hanya berupa selembar kertas… yang cukup untuk menghancurkan segalanya."...
..."Yang paling menyakitkan bukanlah kehilangan, tapi menyadari bahwa yang selama ini kita percaya…...
...ternyata bukan lagi milik kita."...
..."Beberapa perubahan tidak langsung terasa....
...Sampai suatu hari, kita sadar…...
...semuanya sudah tidak lagi sama."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Ridho berharap kamu jujur sama Ayza tentang penyakit Kaisyaf,kasihan Ayza dan Al....
Nara jadi mengerti pilihan Kaisyaf.
Reza ini mencari kesempatan lagi. Sekarang yang didekati Alvian. Benar-benar muka tembok ini orang 😄. Urat malunya sudah putus.
Pinternya Alvian - menolak ajakan Reza.
Dikasih mainan saja bilang "Gak usah" - Alvian ingat larangan dari Umi-nya, gak boleh terima apa-apa dari orang.
Jelas orang lain. Sudah menjadi orang lain.
Alvian perasaannya peka - Om di depannya orang yang kurang baik - Alvian sampai mundur walaupun cuma setengah langkah. Itu tanda penolakan.
Nara menangis. Sebagai sahabat yang pernah ditolong Kaisyaf - ia tidak ingin Kaisyaf menyerah, ngga bakal diam melihat Kaisyaf nyerah.
Nara penyemangat Kaisyaf. Nara tidak ingin Kaisyaf menyerah.
Bagi Kaisyaf ini bukan menyerah, tapi menyelesaikan.