Zona dewasa ‼️ Harap bijak dalam memilih bacaan!
Valerie seorang mahasiswa fresh graduate, cantik ,pintar, berkelas, sebenarnya hidupnya normal layaknya mahasiswi biasa, namun semuanya berubah saat sebuah kejadian yang membuatnya harus terikat dengan seorang gangster bernama Damian Callister.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31
Pagi itu, atmosfer di penthouse Damian terasa sangat berbeda. Sinar matahari yang menembus jendela kaca besar seolah menandai awal dari babak baru dalam hidup Valerie.
Ia berdiri di depan cermin besar, merapikan kemeja putih dengan lengan 1/3 yang dipadukan dengan rok selutut berwarna gelap.
Potongan busana itu mengikuti siluet tubuhnya dengan sempurna, memberikan kesan profesional namun tetap elegan, ditambah dengan sepatu heels pendek yang membuatnya tampak lebih jenjang.
Setelah menarik napas panjang untuk mengumpulkan keberanian, Valerie melangkah keluar dari kamar tamu. Tujuannya adalah kamar utama, tempat bos barunya—Damian—berada.
Ia mengetuk pintu dua kali sebelum perlahan masuk ke dalam ruangan luas itu. Di sana, Damian sudah berdiri tegak. Pria itu tampak sangat gagah mengenakan kemeja berwarna navy yang melekat pas di tubuh atletisnya, dipadukan dengan celana bahan yang disetrika sempurna.
Aura kepemimpinannya terpancar kuat, bahkan hanya dengan berdiri diam di tengah ruangan.
Melihat kedatangan Valerie, Damian tidak langsung menyapa. Ia hanya melirik sekilas, lalu tangannya membuka laci di meja rias mewahnya.
Ia mengambil sebuah dasi sutra bernada senada dengan kemejanya, lalu menyodorkannya tepat di depan wajah Valerie.
Valerie menatap benda di tangan Damian dengan kening berkerut.
"Kenapa dasimu kau berikan padaku?" tanyanya dengan nada bingung yang jujur.
Damian menatapnya santai, sudut bibirnya sedikit terangkat.
"Bukankah sekarang kau sudah menjadi asisten pribadiku,?" ucapnya dengan suara bariton yang masih serak khas bangun tidur.
"Mulai hari ini, memasangkan dasi untukku akan menjadi tugas awalmu di setiap pagi."
Valerie sempat terdiam, menatap dasi itu dan wajah Damian bergantian. Biasanya, ia akan melontarkan protes pedas atau sindiran tajam. Namun kali ini, ia hanya bisa menghela napas pasrah.
Ia mulai memahami satu hal: Damian adalah pria yang susah ditebak dan selalu punya seribu satu cara untuk memaksa Valerie melakukan keinginan gilanya tanpa celah untuk membantah.
Dengan gerakan perlahan, Valerie menerima dasi itu. Ia melangkah mendekat ke arah Damian, masuk ke dalam ruang personal pria itu hingga aroma parfum maskulinnya kembali menyerang indra penciumannya.
Tangannya yang sedikit gemetar mulai melingkarkan dasi itu di leher sang bos, menyadari bahwa jarak mereka yang begitu dekat membuat jantungnya kembali berkhianat dengan detak yang tidak beraturan.
Damian tidak melepaskan pandangannya sedikit pun dari wajah Valerie. Ia seolah sedang menikmati pemandangan di depannya—seorang gadis yang berusaha keras terlihat tenang dan profesional, meski Damian bisa merasakan getaran halus di jemari Valerie yang sedang menyentuh kerah kemejanya.
Tiba-tiba, tanpa peringatan, tangan kekar Damian menyusup ke pinggang Valerie dan menariknya dengan satu sentakan kuat. Valerie tersentak, napasnya tertahan di tenggorokan saat tubuhnya membentur dada bidang pria itu.
"Jarakmu terlalu jauh," bisik Damian dengan suara rendah yang menggetarkan udara di antara mereka. "Sekarang baru pas."
Valerie mencelos dalam hati. Alasan Damian terasa begitu konyol. Bagaimana mungkin jarak sebelumnya dianggap jauh, sementara sekarang bahkan tidak ada ruang pun di antara tubuh mereka?
Valerie terpaksa menahan napas, aroma sandalwood dan sisa sabun mandi dari tubuh Damian menyerbu indranya, membuatnya semakin sulit untuk berkonsentrasi.
Dengan tangan yang terasa kaku dan canggung karena tatapan Damian yang mengunci pergerakannya, Valerie akhirnya berhasil menyelesaikan simpul dasi itu.
Ia baru saja hendak melangkah mundur untuk mendapatkan kembali ruang pribadinya, namun tangan Damian di pinggangnya justru mengencang, menahannya tetap di sana.
Valerie mengembuskan napas pasrah. Ia mendongak, menatap mata gelap yang selalu terlihat penuh rencana itu.
"Apa masih ada lagi yang harus kulakukan, Pak Bos?" tanyanya dengan nada yang diusahakan tetap datar.
Damian tersenyum—sebuah senyum yang jarang ia tunjukkan, namun terasa sangat intimidatif. Tangan satunya terangkat, jemarinya membelai lembut pipi Valerie yang mulai terasa hangat.
"Gadis pintar. Aku suka jika kau jadi penurut seperti ini," gumamnya. "Apa kau sudah siap untuk hari ini, Sayang?"
Jemari Damian turun, mengusap bibir bawah Valerie dengan gerakan ibu jari yang sangat pelan dan posesif. Valerie tidak mampu menjawab dengan kata-kata; ia hanya bisa mengangguk pelan.
Jantungnya berulah lagi, berdegup dengan ritme yang begitu liar hingga ia merasa dadanya sesak.
Ada perasaan aneh yang mulai menyusup ke dalam hatinya—perasaan yang seharusnya tidak ada untuk pria yang telah "menculiknya" ini.
Tanpa sadar, Valerie mengangkat tangannya sendiri dan meremas pelan bagian dadanya, seolah berusaha menenangkan detak jantungnya yang sudah tidak waras sejak tadi pagi.
Benar saja, ucapan Damian semalam bukanlah gertakan belaka. Begitu kaki mereka menginjakkan kaki di lantai teratas gedung pusat perusahaannya, ritme hidup Valerie berubah drastis menjadi badai pekerjaan yang tak henti-henti.
Dimulai dari meja kerja Damian yang sudah tertimbun tumpukan laporan tebal yang menunggu tanda tangan dingin pria itu.
Namun, bukan hanya dokumen yang menjadi pusat perhatian pagi itu.
Kehadiran Valerie yang terus mengekor di belakang Damian menjadi pemandangan paling langka dan menghebohkan bagi para staf.
Mereka berbisik-bisik, terkejut melihat bos mereka yang biasanya dingin dan penyendiri kini membawa seorang asisten muda yang cantik dengan aura yang misterius.
Valerie merasa kakinya hampir mati rasa karena terus mondar-mandir menuruti permintaan Damian yang seolah tak masuk akal.
Ia mulai curiga, apakah ini memang beban kerja seorang asisten atau Damian hanya sedang menikmati hobinya mengerjai dirinya habis-habisan?
"Valerie, kopiku kurang panas," ucap Damian tanpa menoleh dari dokumennya.
Lalu lima menit kemudian, "Valerie, tuangkan air mineral. Aku malas memegang botolnya."
Bahkan untuk urusan sepele seperti minum, Damian menuntut Valerie yang melayaninya. Belum lagi tumpukan dokumen yang harus disusun berdasarkan abjad dan warna, yang membuat kepala Valerie berdenyut.
Puncaknya terjadi saat makan siang di ruang kerja pribadi Damian.
Bukannya makan dengan tenang, Damian justru duduk bersandar dan melirik piringnya. "Potongkan steak-nya, Valerie. Tanganku pegal karena menandatangani laporan tadi," perintahnya dengan wajah tanpa dosa.
Valerie menghela napas panjang, menahan diri agar tidak melempar pisau daging itu ke arah bosnya.
Dengan telaten, ia memotong daging itu menjadi potongan-potongan kecil. Namun, saat Damian makan dan sedikit saus menempel di sudut bibirnya, pria itu hanya diam menatap Valerie.
"Lap bibirku," gumam Damian pendek.
Valerie mematung sejenak, wajahnya memanas. Dengan tangan sedikit gemetar, ia mengambil tisu dan menyeka sudut bibir Damian.
Jarak mereka kembali mengikis, dan tatapan Damian yang intens seolah sedang menelanjangi sisa-sisa kesabaran Valerie.
Begitu pintu kamar mandi tertutup dan sosok Damian menghilang di baliknya, Valerie segera menghempaskan tubuhnya ke sofa kulit yang terletak di sudut ruangan.
Ia menyandarkan kepalanya, memejamkan mata sejenak, dan membiarkan paru-parunya meraup oksigen sebanyak mungkin.
Rasanya napasnya baru tersambung kembali setelah seharian penuh berada di bawah tekanan intimidasi pria itu.
Valerie mendengus kasar, sebuah erangan frustrasi lolos dari bibirnya.
"Dasar pria gila, mesum, tiran!" makinya tertahan sambil menatap langit-langit ruang kerja yang mewah itu.
Tangannya mengepal di atas sofa. Jika saja ia tidak sedang terdesak, jika saja nyawanya tidak sedang menjadi incaran musuh-musuh lama keluarganya, ia tidak akan pernah sudi menjadi pesuruh pria mana pun—apalagi pria seperti Damian.
Harga dirinya meronta; ia tidak terlahir untuk memotongkan steak atau mengelap bibir orang lain.
Darah Blackwood yang mengalir di tubuhnya adalah darah bangsawan, darah penguasa, bukan pelayan.
Seketika, bayangan wajah sang ayah, Fedderick Blackwood, melintas di benaknya. Matanya memanas saat rasa rindu dan sesal bercampur menjadi satu.
Kalau saja ayahnya masih hidup, ia tidak akan berakhir seperti ini—hidup dalam pelarian selama bertahun-tahun, mengganti identitas, dan kini terjebak di bawah kendali seorang predator hanya demi rasa aman.
"Maafkan aku, Ayah... aku harus bertahan hidup dengan cara seperti ini," bisiknya lirih, suaranya nyaris hilang ditelan keheningan ruangan.
Rasa nyeri di kakinya kembali menariknya ke realita. Valerie merunduk, memijit lembut betisnya yang terasa berdenyut-denyut karena seharian memakai heels dan mondar-mandir menuruti perintah konyol Damian.
Ia melirik ke arah pintu kamar mandi, berdoa dalam hati agar Damian masih ingin berlama-lama di dalam sana, memberikannya waktu barang lima menit saja untuk menjadi dirinya sendiri sebelum kembali memakai topeng "asisten penurut".