NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi

Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Kebangkitan pecundang / Kelahiran kembali menjadi kuat / Putri asli/palsu / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Dulu Salma Tanudjaja hidup dalam kebodohan bernama kepercayaan. Kini, ia kembali dengan ingatan utuh dan tekad mutlak. Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi adalah kisah kesempatan kedua, kecerdasan yang bangkit, dan balas dendam tanpa cela. Kali ini, Salma tak akan jatuh di lubang yang sama, ia yang akan menggali lubang itu untuk orang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penuh Kejutan yang Manis

Di layar video besar itu, aib Kelas X-1 terpampang nyata tanpa sensor. Sebagian besar siswa terlihat memanjangkan leher seperti jerapah, melirik kiri-kanan, bahkan melempar remasan kertas contekan.

Puncaknya, ada yang dengan santai menyalin jawaban teman sebelahnya mentah-mentah. Sementara itu, dua guru pengawas di sana seolah buta mendadak, malah asyik mengobrol di depan kelas.

Di atas panggung, wajah Pak Doni Setiawan, Kepala Sekolah, dan Farel Barata, sang Ketua OSIS, kompak menghitam. Ini bukan sekadar kenakalan remaja, ini skandal.

Hening yang mencekam itu pecah oleh suara tepuk tangan sarkastis dari Salma.

"Hebat... benar-benar pertunjukan kelas dunia," sindir Salma lantang, suaranya menggema di aula. "Nggak nyangka ya, Kelas X-1 yang katanya elit itu ternyata cuma modal nyontek massal."

Udah gitu, malah nuduh Kelas Tujuh yang curang. Kalian beneran layak dapat piala 'Lelucon Tahun Ini'."

Sindiran Salma ibarat memercikkan bensin ke api. Teman-teman sekelasnya langsung meledak.

"Parah banget! Curang sendiri, tapi lempar kotoran ke muka orang lain!"

"Minta maaf woi! Kami ogah nanggung dosa kalian!"

Amarah itu menular cepat. Siswa dari tingkat lain pun ikut menyoraki Kelas X-1. Topeng elit mereka robek seketika.

Tak ada lagi wajah angkuh, yang ada hanya kepanikan.

Aksa Abhimana mengangkat tangannya sedikit, memberi isyarat turun. Ajaib, gelombang teriakan itu langsung senyap.

Kharismanya memang beda level.

Dia berjalan tenang menghampiri Jordy Jalendra. "Tuan Muda Jordy, masih punya alibi?"

Wajah Jordy pucat pasi, tapi egonya menolak menyerah. "Minggir lo! Ini pasti jebakan! Gue bakal lapor polisi karena kalian ngerusak nama baik gue!"

"Laporin aja." Aksa menyodorkan ponselnya tepat ke depan wajah Jordy dengan tatapan menantang. "Kelas Tujuh punya tiga juara umum paralel, sedangkan kelas lo ketahuan nyontek massal."

Jadi, gimana nasib tantangan kita?"

Begitu Aksa mengungkit taruhan itu, wajah Jordy memerah padam. Mengaku kalah pada 'kelas buangan'? Jangan harap!

"Mimpi lo! Siapa yang tahu kalau kalian nggak main mata sama pihak sekolah buat ngerjain gue?" Jordy masih berusaha menyangkal, memakai taktik maling teriak maling.

"Wah, Tuan Muda Jordy ternyata punya bakat jadi preman pasar ya? Kalau omongan nggak mempan, gimana kalau video ini kita viralin aja?" sahut Salma dingin.

Jantung Jordy seakan berhenti. "Berani lo?!"

"Kenapa nggak? Lo nggak mau ngaku, malah nuduh kami ngejebak. Biar netizen yang maha benar yang menilai kelakuan anak pejabat, kan?"

Salma tersenyum tipis, tapi matanya tidak bercanda.

Ancaman itu mematikan. Jordy tahu betul, jika video ini tersebar, karir ayahnya tamat. Dia mengepalkan tangan kuat-kuat, menatap Salma dengan nyalang.

"Salma! Ini semua ide Jordy!" Tiba-tiba barisan pertahanan Kelas X-1 runtuh. Teman-temannya mulai berkhianat.

"Iya Sal, dia yang maksa kami! Jangan bawa-bawa kami, please!"

Melihat pasukannya kocar-kacir, Jordy akhirnya menyerah. Dengan suara tertahan di tenggorokan, dia berkata, "Gue ngaku. Gue curang. Gue kalah."

"Tapi lo udah nuduh kami curang dan bilang kami sampah lho," ujar Salma, memancing emosi.

"Gue minta maaf!" bentak Jordy.

"Ada ya orang minta maaf gayanya ngegas begitu?" sindir Salma lagi. "Ya udah, kalau nggak ikhlas, tombol upload tinggal diklik kok."

Dada Jordy naik turun menahan amarah. Dia menatap Salma seolah ingin menelannya hidup-hidup. "Semua salah gue. Maaf."

"Oh."

Hanya 'Oh'. Jawaban singkat Salma membuat urat di pelipis Jordy berdenyut kencang. Siswa lain menatap takjub.

Jordy yang biasanya angkuh kini mati kutu di depan Salma.

"Pihak sekolah akan memberikan sanksi tegas," suara Kepala Sekolah memutus drama itu. "Panggil semua orang tua siswa yang terlibat!"

Pemandangan siang itu benar-benar menjadi sejarah di Citra Bangsa. Siswa Kelas X-1 dan X-2 berlari mengelilingi lapangan sekolah yang luasnya minta ampun.

Sambil berteriak: "Kelas Satu Tujuh Juara! Libas Satu Satu, Gilas Satu Dua, Kami Bukan Tandingan Mereka!"

Napas mereka memburu, wajah pucat, dan kaki gemetar. Hukuman fisik dan mental yang sempurna.

Di koridor, Naya tertawa geli. "Gila lo, Sal. Sadis banget hukumannya!"

"Lho, mereka sendiri yang cari gara-gara. Gue cuma orang baik yang mengabulkan keinginan mereka," jawab Salma santai.

Berkat kejadian ini, status Salma meroket. Dia bukan cuma Juara Umum, tapi juga pahlawan sekolah yang meruntuhkan tirani Jordy dan Manda.

Sementara itu, dari balik jendela kelas, mata Manda menatap punggung Salma dengan nyalang, penuh racun. Salma ngambil semuanya. Kalau gue nggak bisa naik lagi, Salma yang harus gue tarik jatuh ke neraka.

Salma merasakan hawa dingin di punggungnya, tapi dia hanya tersenyum miring. Ayo, Manda. Hidup gue bakal ngebosenin kalau nggak ada drama dari lo.

Tiba-tiba, Rizky, sang Ketua Kelas, menghampiri Salma dengan wajah gugup.

"Salma... gue mau bilang makasih," katanya sambil menunduk. "Makasih udah bikin Kelas Tujuh ngerasain bangga kayak gini."

Gue bangga sekelas sama lo."

Salma tersenyum tulus. "Ini kerja tim, Ketua. Tanpa kalian, kita nggak bakal menang."

Melihat keberanian Rizky, teman-teman lain ikut mendekat.

"Salma, maafin gue yang dulu sering ngehina lo."

"Gue nyesel banget pernah nilai lo dari penampilan. Semoga kita bisa temenan ya, Sal."

"Maafin gue, Sal!"

Permintaan maaf berdengung di telinga Salma. Wajah mereka tampak tulus. Namun, hati Salma sudah terlanjur beku oleh pengalaman masa lalu.

Dia bisa memaafkan, tapi melupakan? Tidak semudah itu.

"Udah, yang lalu biarin berlalu aja," jawab Salma sopan. Gue nggak butuh teman munafik, tapi gue hargai usaha kalian.

Di lapangan, Jordy sudah menyelesaikan hukumannya. Dia ambruk dengan napas seperti mau putus.

"Woi Jordy! Katanya kalau kalah mau sujud?" teriak Naya dari koridor, sengaja memanaskan suasana.

"Jangan ingkar janji dong, Tuan Muda!" sahut siswa lain.

Jordy menatap tajam ke arah gedung kelas, mengacungkan jari tengah. Sujud? Pada rakyat jelata? Mimpi!

"Nggak mau sujud juga nggak apa-apa," suara Salma terdengar tenang namun mematikan. "Paling video tadi viral bentar lagi. Lumayan buat bahan berita sore."

Ancaman itu lagi. Jordy tahu Salma tidak menggertak. Naya yang berasal dari keluarga diplomat juga menatapnya tajam.

Dengan gemetar menahan amarah yang hampir meledakkan dadanya, Jordy menjatuhkan lututnya ke aspal panas. Di hadapan ratusan pasang mata, dia berlutut ke arah gedung Kelas Tujuh.

"Gue... Jordy Jalendra... minta maaf sama Kelas Satu Tujuh. Maaf!"

"Eh? Gue cuma bercanda lho tadi! Kok lo serius amat sih? Duh, bangun dong, Tuan Muda!"

Lo bikin gue nggak enak hati nih," seru Salma dengan ekspresi kaget yang dibuat-buat.

"Hahahaha!" Tawa meledak di seluruh penjuru sekolah.

Jordy memukul aspal keras-keras. Rasa malunya sudah di ubun-ubun. Dia bersumpah akan membalas ini semua.

Ponselnya bergetar, sebuah pesan masuk: Lo benci Salma, gue juga. Minat kerja sama?

Jordy menyeringai tipis dan membalas: Oke.

Saat kerumunan mulai bubar, Farel Barata menghampiri Salma.

"Salma, ada waktu? Gue mau nawarin lo posisi calon Ketua OSIS buat periode depan," kata Farel langsung ke intinya.

Dia ingin 'mengklaim' Salma sebagai temuannya.

Semua mata kembali tertuju pada Salma. Tawaran emas! Tapi Salma hanya tersenyum tipis. "Maaf Kak Farel, gue nggak tertarik sama jabatan yang nggak ada faedahnya buat gue."

Farel terkejut. Ditolak mentah-mentah? "Jangan nolak secepat itu. Pikirin lagi nanti. Oh ya, gue tetep ngundang lo ke pesta ulang tahun gue."

Salma merasakan tatapan Manda yang menguping dari dalam kelas. Ide jahil muncul di kepalanya. "Oke, gue dateng. Nanti gue ajak Kak Manda sekalian."

Farel tersenyum puas, tak peduli siapa yang diajak Salma. "Kabarin kalau mau berangkat, nanti gue jemput."

"Nggak usah, supir gue nganggur kok." Salma menolak lagi, menutup peluang gosip. Farel pergi dengan perasaan campur aduk.

Siang itu, Salma dijemput sebuah mobil mewah dan diantar ke sebuah vila modern yang berjarak tak jauh dari rumahnya.

Interiornya minimalis namun berkelas. Salma duduk di sofa, jantungnya berdegup tak karuan. Sudah dua puluh menit dia menunggu.

Pagi tadi Aksa bilang ingin menunjukkan "wujud aslinya". Bayangan sosok Aksa di kehidupan sebelumnya, pria tampan, berkuasa, dan dingin, kembali menghantui benaknya.

Terdengar langkah kaki menuruni tangga. Semakin dekat. Telapak tangan Salma berkeringat dingin.

Dia merasa konyol. Kenapa harus deg-degan begini?

"Udah nunggu lama ya?"

Suara itu. Familiar, merdu, tapi terdengar lebih percaya diri.

Salma masih mematung, tak berani menoleh.

Melihat Salma diam saja, Aksa panik. Dia setengah berlari dan berjongkok di samping sofa. "Salma? Kamu kenapa? Sakit?"

Tadi di sekolah Jordy ngapain kamu lagi?"

Salma tersentak, refleks menoleh. Dan detik itu juga, dunianya berhenti berputar.

Pria di depannya ini... tampan luar biasa. Tanpa kacamata tebal, tanpa rambut berantakan, tanpa samaran culun.

Hidung mancung, rahang tegas, dan kulit yang bahkan lebih mulus dari kebanyakan gadis.

"Salma? Ngomong dong! Apa perlu ke rumah sakit?" Aksa makin cemas, keningnya berkerut.

Salma akhirnya tersadar. Kekhawatiran tulus di wajah tampan itu membuat hatinya meleleh.

"Aku nggak apa-apa," cicit Salma, wajahnya memerah padam. "Cuma... lagi syok kena serangan visual. Kamu ganteng banget."

Aksa bengong sedetik, lalu senyum lebar merekah di bibirnya.

"Kamu ngetawain aku ya?" Salma merasa jantungnya mau copot karena malu.

Aksa menegakkan tubuhnya, tapi wajahnya kini sejajar dengan wajah Salma yang sedang duduk. Jarak mereka begitu dekat hingga Salma bisa merasakan hembusan napas hangatnya.

"Salma, kamu suka aku yang begini?" tanya Aksa pelan. Tatapannya dalam, mengunci manik mata Salma.

Ada sedikit kecemasan di sana, takut ditolak.

Salma menelan ludah. Jarak ini terlalu berbahaya bagi kesehatan jantungnya.

"Jawab dulu, Sal."

Demi menyelamatkan dirinya dari kematian akibat lupa napas, Salma memberanikan diri berbisik, "Hm. Asal itu kamu, aku suka."

Hati Aksa meledak kegirangan. Dia tiba-tiba berdiri, mengangkat tubuh Salma dan memutarnya di udara.

"Aaa! Aksa! Turunin!" Salma menjerit kaget, tapi tawanya lepas.

"Aku seneng banget, Sal!" tawa Aksa, matanya berbinar bahagia. "Nggak ada yang lebih bikin aku bahagia selain diterima sama kamu."

Salma memukul pelan bahu bidang Aksa saat kakinya kembali menapak lantai. "Turunin ih, pusing tahu!"

Aksa menatapnya lekat. "Kamu beneran bisa nerima aku?"

Salma terkekeh, menepuk pipi mulus Aksa. "Nggak ada cewek waras yang nolak cowok seganteng ini jadi pacarnya. Kalau ada yang nolak, berarti matanya siwer."

Aksa tersenyum puas. "Salma, aku udah milih kamu. Seumur hidup, cuma kamu. Di mataku selamanya cuma ada kamu."

Wajah Salma merona lagi. "Gombal!" Padahal dalam hati, dia bersorak girang.

Masa depan masih misteri, tapi saat ini, Salma merasa sangat bahagia.

"Waktu yang bakal buktiin," jawab Aksa percaya diri. Dia lalu mengganti topik, "Siang ini mau makan apa? Biar aku masakin."

Mata Salma membulat. "Tuan Muda Abhimana bisa masak? Keajaiban dunia keberapa nih?"

"Lho, Restoran Istana Rasa itu kan punya aku. Masa yang punya nggak bisa masak?" Aksa tersenyum jahil.

Salma melongo. "Istana Rasa punya kamu?" Salma akhirnya sadar, pria di depannya ini bukan hanya tampan, tapi juga penuh kejutan yang manis.

1
Erchapram
Bagus sekali
sahabat pena
aksa terlalu lambat.. sdh tau ada barang bukti bukan di serahkan ke kantor polisi atau di viral kan. jd di manfaat kan sama rival nya pak rahmat kan? untuk menjatuhkan pak rahmat
mom SRA
pagi thoor
INeeTha: Pagi kaksk🙏🙏🙏
total 1 replies
kriwil
harusnya manda yang kejebak sama laki laki lain atau sama riko sekalian biar hancur nya tambah seru
Kembae e Kucir
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Sribundanya Gifran
lanjut thor
kriwil
apa di sekolahan ini ga ada guru dan kepala sekolah ,sampai tentang soal ujian di bobol maling yang maju hanya sosok ketua osis 😄
mom SRA
pagi thor
kriwil
seno itu dapat anak pungut sezan dari mana ya😄
kriwil
awal mula seno mungut siluman ular itu knp ya
mom SRA
mpm thor
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Diah Susanti
thor, buat tanudjaja, kalo si manda cuma anak pungut, biar dia merasakan dibully 1 sekolahan.
mom SRA
malem thor
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Pawon Ana
ealah moduse kang Aksa, lancar kayak jalan tol bebas hambatan
penampilan cupu ternyata suhu 😂
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Diah Susanti
ini apa hubungannya dengan rahasia manda? apa karena cucu orang hebat makanya mudah dapat info? 🤔🤔🤔🤔
Diah Susanti
padahal bolu pisang enak lho, aq suka tak bisa bikinnya/Grin//Grin//Grin/
mom SRA
seru critanya.... semangat thoor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!