Tangisan bayi merah itu membuat Kiara menyerah dan menerima keinginan kedua orang tuanya. Menikah dengan ayah kandung dari bayi merah yang baru saja di tinggal kan ibu nya. Kiara mengorbankan cinta dan masa depan nya bersama kekasih hati untuk hidup dengan Bryan dan bayi yang baru saja hadir. Bagaimana kah kisah mereka???? Akankah Kiara kembali lagi ke kekasih nya, atau malah menjalankan rumah tangga bersama Bryan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yora Yul Martika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 2
"Aaaaaaaaaaaaa sakit " pekikan dari kamar mbak Kinan membuat aku terperanjat kaget, dengan mata yang belum sempurna melek aku berlari menuruni anak tangga dengan cepat
" Cepat hubungi mas mu Ki, mbak kamu mau melahirkan" teriak mama setelah melihat aku menuruni tangga
" Baik mah " dengan cepat kilat aku berlari kembali ke kamar untuk mengambil ponsel, sungguh aku lupa jika di rumah ini juga memiliki telepon. Aku panik dan aku gugup Mendengar teriakan kesakitan mbak Kinan , kenapa malah perut ku yang ikut mules
" Kiara papa mama dan mbak mu duluan ke rumah sakit nanti kamu nyusul bersama mas mu Bryan " teriak papa dari bawah
" Iya pah" jawab ku dengan cepat mengotak Atik ponsel di tangan
Yess tersambung " halo mas Bryan itu mbak...."
[ Iya Ki, mas lagi di jalan sebentar lagi sampai rumah . Tapi jangan bilang sama mbak mu ya, karena mas mau kasih kejutan ke mbak Kinan, mas sengaja berangkat shubuh biar pagi sampai rumah ] ujar mas Bryan tidak membiarkan aku berbicara
" Oke mas , tapi mbak Kinan mau melahirkan mas sekarang udah berangkat duluan ke rumah sakit , mas sebaik nya putar ke rumah sakit saja " cittttttttttttt ucapan ku berhenti di saat mendengar decitan rem mobil di depan rumah
Mas Bryan iya itu mobil mas Bryan , aku melihat dari jendela kamar .
" Mas Bryan" dengan nafas ngos-ngosan karena berlari dari atas hingga ke teras rumah
" Kenapa mas malah bengong begitu, cepat ke rumah sakit " teriak ku kembali setelah melihat kebengongan mas Bryan di dalam mobil
" Mas ngak tahu apa yang akan mas lakukan Ki, bunga iya bunga " dengan cepat ia menoleh ke Bangku belakang mengambil buket bunga mawar putih yang segar
" CK kenapa malah sibuk dengan bunga sih mas, ayok cepat ke rumah sakit " ujar ku duduk di samping mas Bryan
" Oke baik , tapi tunggu" mas Bryan melirik ke arah ku dari bawah hingga atas
" Apa kamu ke rumah sakit hanya memakai piyama tidur begini?" Ujar nya menunjuk ke arah ku
" Ya tuhan , aku lupa mas tunggu lima menit " dengan secepat kilat aku mengganti baju apa ada nya dan tidak lupa menguncir rambut yang sedikit ikal di bawah nya
" Sudah siap?" Ujar mas Bryan memajukan mobil ke rumah sakit tempat mbak Kinan melahirkan
" Mas yakin anak mas cantik seperti mbak mu, ahhh tapi kalau mirip mas yang ganteng ini juga tidak masalah " racau mas Bryan di dalam mobil
" Hanya mbak Kinan yang menyebutkan jikalau mas ganteng hahaha " di dalam ketegangan ini tetap harus ada tawa bukan?
" CK seperti kamu menganggap tampan pacar kamu Leo yang punya bengkel itu bukan?" Mas Bryan memang mengetahui tentang Leo, sama seperti mbak Kinan , mas Bryan pun juga tidak menentang hubungan kami hanya saja mas Bryan wanti wanti untuk jangan terlalu buru-buru dalam mengambil keputusan untuk masa depan kelak
" Leo memang tampan dan jauh lebih tampan dari mas Bryan " mendengar ucapan ku mas Bryan tertawa dengan ngakak
" Tapi aku jauh lebih kaya dari dia " mas Bryan yang selalu ingin menang, dia memang seperti itu mbak Kinan saja bingung kenapa suami nya ini tingkat percaya dirinya sangat tunggi. Meskipun benar dia tampan dan kaya raya
Tidak membutuhkan waktu lama mobil memasuki parkiran rumah sakit tempat mbak Kinan melahirkan
" Sampai" dengan cepat aku turun dari mobil tidak sabar rasanya ingin melihat keponakan ku yang cantik
Namun langkah ku berhenti saat tidak ada langkah kaki yang mengekori dari belakang dengan spontan aku menengok kebelakang
" Mas Bryan " pekik ku melihat mas Bryan malah mondar mandir tidak jelas dengan buket bunga mawar putih yang di tangan
" Jangan terlalu gugup mas, ngak malu apa sama keponakan ku yang akan lahir?" Aku dan mas Bryan memang selalu suka becanda dari mbak Kinan menjalin hubungan dari masa kuliah. Mas Bryan yang tampan dan kaya raya, pengusaha terkenal dan sukses di negri ini menyukai dan mencintai mbak Kinan. Hmmm tidak bisa di pungkiri kecantikan mbak Kinan, kelembutan nya dalam berbicara serta keanggunan nya membuat pria yang sedang gugup ini sangat mencintai nya.
" Mas deg deg Ki" ujarnya dengan wajah serius
" Berdoa saja yang baik baik " jawab ku menenangkan .
Ruangan operasi Kinan " pesan dari mama sedikit membuat ku takut
" Bryan Kiara " suara Mama yang bergetar di kursi tunggu ruangan operasi. Kenapa operasi kenapa tidak normal bukan kah mbak Kinan tadi sudah kontraksi? Apa yang terjadi , aku berdoa dan berharap mbak Kinan baik baik saja
" Ma pah bagaimana Kinan " tanya mas Bryan tegang
" Kinan harus di operasi karena tensi nya yang terlalu tinggi " doorrr dari kapan Kakak ku Tersebut Memiliki riwayat tensi tinggi. Tidak kenapa perasaan takut menghantui ku tuhan , sungguh aku belum siap kehilangan nya . Dan mengapa aku merasa rapuh mendengar kan apa yang di ucapkan papa
" Apa? Tensi tinggi tapi Kinan tidak pernah memiliki riwayat tensi tinggi pah " ucap Bryan rapuh mendudukkan bokong nya dengan lesu di atas kursi. Aku tahu saat ini mas Bryan memiliki ketakutan yang besar seperti apa yang aku rasakan sekarang.
" Semua akan baik baik saja, berdoa saja " ucap ku menenangkan semua nya
" Iya Kiara benar " semua orang yang di sana mengangguk setuju bertepatan dengan di bukak nya pintu operasi
" Dokter bagaimana keadaan istri saya?" Pertanyaan pertama yang muncul dari bibir mas Bryan . Dokter perempuan tersebut terdiam dan menghela nafas panjang
" Setelah tadi mengalami tensi tinggi dan kejang namun di saat berjalan nya operasi pasien mengalami pendarahan hebat " bruakkk mas Bryan yang hampir jatuh di topang papa sedang kan mama pertahan nya roboh dan terduduk di kursi
" Operasi nya berjalan lancar, ibuk Kinan melahirkan seorang bayi mungil yang cantik namun keadaan buk Kinan untuk sekarang ini sangat lemah . Meskipun sudah di lakukan transfusi darah tetap saja tidak ......'"
" Istri saya akan baik baik saja " ucap mas Bryan dengan suara yang bergetar
" Itulah yang kita harapkan bersama " ujar dokter tersebut mengangguk
" Bisakah kami menemui mbak Kinan?" Tanya ku kepada dokter, aku berharap dengan ada nya kami di samping nya mbak Kinan kembali kuat dan kondisi nya membaik
" Belum , sekarang pasien masih di ruangan isolasi untuk dilakukan observasi dan...."
" Dokter pasien semakin lemah.." panggilan suster yang di dalam menghentikan dokter perempuan ini berbicara
Dengan cepat pintu tersebut kembali menutup
" Ya Allah aku belum siap untuk kehilangan mbak Kinan, tolong selamatkan dia "