NovelToon NovelToon
Cadar Sang Pendosa

Cadar Sang Pendosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Romantis / Cintamanis / Balas Dendam / PSK / Konflik etika
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nadiaa Azarine

Dalam semalam, video scandal yang tersebar membuat kehidupan sempurna Adara hancur. Karirnya, nama baiknya, bahkan tunangannya—semuanya dihancurkan dalam sekejap.

“Gila! Dia bercadar tapi pelacur?”

“Dia juga pelakor, tuh. Gundik suami orang.”

“Jangan lupa… dia juga tidur sama cowok lain meskipun sudah punya tunangan se-perfect Gus Rafka.”

“Murahan banget, ya! Sana sini mau!”

“Namanya juga pelacur!”

Cacian dan makian terus dilontarkan kepada Adara. Dalam sekejap citranya sebagai influencer muslimah bercadar, dengan karya-karya tulisnya yang menginspirasi itu menghilang.

Nama panggilannya berubah menjadi “Pelacur Bercadar”. Publik mengecamnya habis-habisan bahkan beberapa orang ingin memukulinya.

Namun di tengah semua kekacauan yang terjadi, seorang pria mengulurkan tangannya kepada Adara.

“Menikahlah denganku, Adara. Aku akan membantumu untuk memperbaiki nama baikmu. Setelah semuanya membaik—kamu bisa pergi meninggalkanku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadiaa Azarine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu

Malam itu Jakarta terasa lebih lengang dari biasanya. Lampu-lampu jalan memantul di kap mobilnya saat ia menyusuri jalan menuju minimarket terdekat. Musik pelan mengalun dari dashboard, menemaninya dalam sunyi. Ia hanya sekadar ingin membeli camilan dan kembali ke apartemen.

Adara menatap deretan makanan ringan di rak Alfamart. Ia mengambil beberapa bungkus keripik, cokelat, dan minuman ringan lainnya. Ia sempat menambahkan tisu dan air mineral ke keranjang, kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan. Setelah membayar, ia kembali ke mobil dan menyalakan mesin lalu melajukan mobilnya perlahan. Ia ingin segera sampai dan memulai menulis sebelum rasa malas menyerangnya.

Baru beberapa ratus meter dari minimarket, sesuatu melintas tiba-tiba di hadapan mobilnya.

“Ya Allah—!” Adara menginjak rem sekuat tenaga.

Mobil berhenti mendadak. Detak jantungnya berpacu. Di depan kap, seorang perempuan terhuyung—lalu jatuh ke aspal. Adara terpaku sesaat. Jaraknya jelas masih aman. Mobilnya tidak menyentuh apa pun, ia berhasil berhenti sebelum menabrak perempuan itu.

“Nggak kena, sama sekali nggak kena… aku yakin nggak kena, kok…” gumam Adara panik.

Ia membuka pintu mobil dan berlari menghampiri perempuan yang sudah terkapar di aspal. “Dia pake cadar?” batin Adara.

Ia berjongkok lalu mengguncang pelan tubuh gadis itu. “Mbak… Mb—” Napas Adara tercekat saat melihat darah mengalir di pelipis gadis itu.

Gadis itu tergeletak tak bergerak, cadarnya berantakan, dan gamisnya yang tersingkap itu memperlihatkan darah yang berlumuran di sana. Kaki putihnya yang tanpa alas kaki dan kaos kaki itu penuh dengan cairan merah. Beberapa orang yang kebetulan melintas mulai berkumpul, suara-suara berbisik terdengar.

“I-itu darahnya banyak banget!”

“Dia ditabrak, ya?”

“Kasihan banget…”

Beberapa orang menatap sinis ke arah Adara lalu menghampirinya. “Mbak yang nabrak dia, kan? Tanggung jawab dong!”

“Tidak! Saya tidak menabraknya,” Adara mencoba menjelaskan, suaranya bergetar. “Saya berhenti duluan sebelum sempat menabraknya. Tapi—saya tidak menyentuh dia sama sekali.”

Seorang wanita mendekat, memperhatikan posisi tubuh gadis itu dan jarak mobil Adara.

“Bukan ketabrak,” ucap wanita itu tegas setelah melihat sekeliling. “Tadi saya lihat, dia oleng setelah mobil ini berhenti. Dan lihat—jarak mobil dan jarak dia jatuh jauh banget. Kalau ada yang nggak percaya boleh liat dari cctv toko saya.”

“Terus dia kenapa berdarah gitu kalau nggak ketabrak?” tanya wanita lainnya.

“Kita bawa dulu dia ke puskesmas depan. Setelah sadar baru kita tanya ke dia. Kayaknya ini kekerasan rumah tangga atau kejahatan lain.” Seorang pria mengangkat tubuh gadis itu dan membawanya ke puskesmas yang berjarak dua rumah dari lokasi mereka.

Satu jam berlalu. Adara masih duduk di ruang tunggu puskesmas dengan perasaan gelisah. Sebenarnya ia ingin pulang saja karena gadis itu sudah dalam perawatan. Toh bukan dia yang menyebabkan gadis itu terluka. Tapi—Adara merasa khawatir dengan gadis itu. Bagaimana jika dia sedang diincar orang jahat dan tidak mempunyai tempat yang akan dituju?

Seorang dokter keluar dari ruang rawat. Adara berdiri dari duduknya saat melihat dokter itu menghampirinya.

“Mbak… Pasiennya udah sadar…” Dokter itu tersenyum lembut.

“Udah boleh ditemuin, Dok?” tanya Adara.

“Boleh, Mbak. Masuk aja…” jawabnya.

“Terima kasih, Dok.”

“Baik. Saya permisi dulu, Mbak.” pamit Dokter itu.

Adara mengangguk. Usai kepergian dokter itu—Adara bergegas masuk ke dalam ruang rawat. Ia penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Dan kenapa gadis itu terluka parah?

“Assalamualaikum…” lirih Adara ragu.

Gadis yang sedang duduk di atas ranjang itu menoleh saat melihat kedatangan Adara. Ia menatap Adara dengan tatapan datar.

“Kamu yang nolongin saya?” tanyanya.

“Iya… saya lihat kamu luk—”

“Kenapa dibawa ke dokter? Saya nggak punya duit buat bayar dokter,” ujarnya. Tatapan matanya tampak sangat kosong.

“Udah aku bayarin kok, Mbak,” jawab Adara kikuk.

“Saya nggak punya barang apapun buat dijadikan jaminan,” ucapnya lagi.

“Nggak apa-apa, kok. Nggak usah mikirin soal itu,” ucap Adara. “Kamu orang mana? Biar saya anterin pulang.”

Gadis itu terdiam. “Saya diusir dari rumah saya sendiri,” jawabnya.

Adara terdiam. Rasa iba muncul di hatinya. “Kamu udah berapa lama pakai cadar?” tanya Adara.

Gadis itu terdiam sesaat. “Setahun,” jawabnya lirih.

“Kenalin… aku Adara!” Adara mengulurkan tangannya.

Gadis itu menatap Adara lalu menyambut uluran tangannya. “Saya Junia…” jawabnya.

“Kalau mau, kamu bisa tinggal sama aku untuk sementara sampai kamu punya tempat tinggal sendiri,” Adara menawarkan.

“Beneran?” tanya Junia kaget.

“Iya. Sebagai sesama muslimah bercadar, harus saling membantu, kan?” Adara tersenyum manis.

Junia mengangguk lemah. “Orangtua saya sudah meninggal dunia karena kecelakaan. Kakek saya juga meninggal dalam kecelakaan itu. Jadi dalam keluarga saya hanya tersisa Paman, istri dan anaknya,” Junia mulai bercerita. “Nenek saya pun sudah meninggal jauh sebelum kecelakaan itu.”

“Setelah nenek saya meninggal—kakek saya membagikan warisannya. Separuh untuk Ayah saya dan separuh untuk Paman saya. Mereka hanya dua bersaudara. Rumah milik kakek saya diberikan kepada paman saya. Sementara ayah saya diberi aset lain—sebuah tanah yang cukup luas. Beberapa usaha kakek saya yang lain juga dibagi rata. Rencananya kakek akan tinggal berpindah-pindah—kadang di rumah Ayah dan kadang di rumah Paman.” Junia menarik napas kasar.

Adara tak menyela. Ia hanya mendengarkan cerita Junia dengan seksama.

“Tapi lama kelamaan Paman keberatan mengurus kakek dan menolak mengurusnya. Alhasil kakek menetap di rumah kami. Rumah kami bukan bagian dari harta warisan, rumah itu hasil kerja Ayah dan Bunda. Ayah juga memiliki bisnis yang cukup besar, dan bisnis itu hasil kerja kerasnya sendiri. Sementara harta warisan sama sekali belum diurus oleh Ayah. Sampai akhirnya bisnis Ayah semakin besar dan paman bangkrut. Paman kecanduan judi dan minuman keras. Istrinya juga sama saja, hanya bisa menghabiskan uang. Begitupun dengan sikembar, sepupuku. Sampai akhirnya Paman terjerat hutang yang sangat besar.” Junia tersenyum hambar.

“Paman meminta ayah membantunya, tapi ayah menolak. Karena ayah sendiri sudah terlalu sering membantu paman. Si brengsek itu bahkan memiliki hutang ratusan juta kepada ayah. Ayah pun memutuskan menganggap lunas hutang paman tapi kedepannya dia tidak akan membantu paman lagi. Saat itu paman marah tapi dia tidak bisa berbuat apapun.”

“Paman tidak pernah datang ke rumah lagi—seolah memutus hubungan dengan kami. Ayah pun tidak peduli dan menganggap semua itu yang terbaik baginya. Namun suatu hari hal buruk datang dan menghancurkan kehidupan bahagia kami. Saat sedang liburan—mobil yang ayah kendarai kecelakaan dan menewaskan Ayah, Bunda dan Kakek. Dan hanya aku yang selamat…” Air mata luruh di pipi Junia.

Adara meraih tangan Junia, menggenggamnya erat untuk menguatkan gadis itu.

“Waktu itu usiaku masih 17 tahun, Dar… yang aku tau—aku kehilangan seluruh keluargaku. Tapi musibah itu justru dimanfaatkan oleh pamanku. Ia mencuri surat-surat aset milik ayah dan menjualnya, tanpa sisa. Dan seminggu setelah ayah meninggal, aku diusir dari rumahku.” Junia mengusap air matanya.

“Lalu kamu pergi ke mana?” tanya Adara.

“Awalnya paman mengajakku tinggal bersamanya, di rumah yang baru dibeli olehnya. Saat itu aku mengira memang ayah yang menjual seluruh asetnya. Sampai akhirnya aku tau bahwa pamanku yang menjual seluruh aset ayahku yang seharusnya itu milikku.” Junia menatap Adara.

“Lama-lama istri paman dan anak-anaknya semakin terlihat tidak menyukai keberadaanku dan mencoba mengusirku. Lalu suatu hari, paman memanggilku dan mengatakan akan memberikan sebuah tempat tinggal untukku dengan syarat—aku harus mau menjadi pemuas nafsunya.” Junia tertawa. “Bajingan!” lirihnya.

Adara membekap mulutnya mendengar cerita Junia. “Bagaimana mungkin ada manusia yang sejahat itu dengan keluarganya sendiri?” batin Adara.

***

Bersambung…

1
Suratmi
sepertinya ada musuh dalam selimut,, seperti nya rasa iri si Jun bakal buat Dara kena Fitnah,,semangat ya kak author..di tunggu upnya💪💪
@Resh@: sepertinya dia yg fitnah dara dia nyamar klo pake cadar dan jadi pelakor tapi dara yg dituduh awal mula kehancuran dara ini
total 1 replies
Suratmi
karya Author sangat bagus.. menginspirasi kita perempuan agar lebih berhati-hati dalam kehidupan
Lovita BM
ayok up lagi kakak ✊🏼
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Meliandriyani Sumardi
salam kenal kak
Sweet Girl
Bisa jadi ... mesti diselidiki.
Khan sudah ada clue, Tattoo Mawar.
Sweet Girl
Ijin baca Tor...
episode pertama bagus, bikin penasaran.
semoga selanjutnya makin bagus.
Sweet Girl
Kamu salah... Makai Cadar kok karena Adara...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!