Aruna selalu memilih duduk di barisan paling belakang.
Di sana, dia merasa aman, terlindung dari keramaian, dari tatapan, dari hal-hal yang membuat dadanya sesak.
Hujan adalah teman terbaiknya, satu-satunya suara yang mengerti diamnya.
Sampai suatu pagi, di tengah gerimis dan jendela berkabut, Bu Maita menyebut dua nama yang tak pernah Aruna bayangkan akan berdampingan.
“Aruna Pratama dan Dhira Aksana.”
Dhira, cowok yang selalu jadi pusat perhatian, yang langkahnya tenang tapi meninggalkan riak kecil di mana pun dia lewat.
Sejak saat itu, barisan belakang bukan lagi tempat untuk bersembunyi.
Perlahan, tanpa sadar, Aruna mulai membuka ruang yang sudah lama dia kunci rapat-rapat.
Di antara rintik hujan, catatan pelajaran, dan detik-detik canggung yang tak terduga, Aruna belajar bahwa beberapa pertemuan datang seperti gerimis.
pelan, jujur, dan sulit dilupakan.
Karena kadang, seseorang masuk ke dalan hidupmu setenang hujan, tanpa suara, tapi kamu ingat selalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Partner yang Tak Diingankan
Pagi ini Aruna bangun kesiangan.
Alarm di ponselnya bunyi dari jam setengah enam tadi, tapi dia pencet snooze terus, berulang kali, sampai akhirnya sadar—astafirullah—udah jam tujuh kurang seperempat dan dia belum mandi.
"Aruna! Kamu belum siap?!" suara Arya dari luar kamar, mengetok pintu. "Aku mau berangkat kerja, kamu gimana?"
"Sebentar, Kak!" Aruna loncat dari kasur, kakinya kesandung selimut, nyaris jatuh tapi untung tangannya nangkep pinggiran meja belajar. Jantung berdebar—bukan karena hampir jatuh, tapi karena... hari ini. Hari di mana dia harus ketemu Dhira lagi.
Astafirullah. Kenapa dia gugup banget sih.
Dia mandi kilat, lima menit doang, rambutnya masih setengah basah waktu dia keluar kamar pake seragam yang dikancingnya sambil lari-lari kecil ke ruang makan. Arya udah berdiri di pintu, kunci motor di tangan, jaket kantor udah dipake, tapi matanya melotot liat adiknya.
"Rambut kamu basah, Na. Nanti masuk angin."
"Nggak sempet, Kak. Udah telat."
"Sarapan?"
"Nggak usah—"
"Makan ini." Arya nyodorin roti isi cokelat yang udah dibungkus plastik. "Di jalan juga boleh. Jangan sampe kamu sakit."
Aruna ngambil rotinya, senyum kecil. "Makasih, Kak."
Arya ngusap kepala Aruna sekilas—kebiasaan dari kecil—terus mereka berdua keluar rumah bareng. Langit masih agak mendung, udara pagi dingin dikit, dan Aruna naik motor bebek tua di belakang Arya sambil gigit roti isi itu. Manis. Tapi entah kenapa tenggorokannya terasa kering.
Sepanjang jalan, dia cuma mikir satu hal.
Dhira.
Tugas.
Perpustakaan.
Sore nanti.
Ya Allah... gimana nanti ya?
---
Sampai sekolah, Aruna langsung turun dari motor, ngucapin assalamualaikum cepet-cepet ke Arya terus lari masuk gerbang. Bel masuk udah bunyi. Dia terlambat tiga menit—untung guru piket lagi nggak di pos—jadi dia nyelonong masuk aja sambil napasnya ngos-ngosan.
Kelas udah rame.
Kayla melambai dari bangku belakang, matanya berbinar. "Arunaaa! Sini sini!"
Aruna jalan cepet ke bangkunya, duduk sambil narik napas panjang. Dadanya masih naik turun. Kayla langsung menyodorkan botol minum.
"Minum dulu. Kamu lari ya?"
"Iya... telat bangun." Aruna minum, airnya dingin, seger, bikin tenggorokannya agak enakan.
"Eh, ngomong-ngomong..." Kayla nyenggol lengan Aruna pelan, senyumnya jadi... aneh. Senyum yang nahan-nahan gitu. "Kamu udah siap belum ketemu Dhira nanti?"
Deg.
Aruna nyaris keselek.
"Kay... jangan gitu dong..."
"Gitu gimana? Kamu yang gugup sendiri dari kemarin." Kayla ketawa kecil, terus nunduk bisik-bisik. "Tenang aja. Dhira orangnya baik kok. Nggak sombong."
"Aku tahu..." Aruna nunduk, mainan ujung jilbabnya. "Cuma... aku nggak biasa aja. Ngomong sama... cowok kayak gitu."
"Cowok kayak gimana?"
"Ya... cowok yang... yang semua orang kenal."
Kayla diam sebentar, terus senyumnya ilang. Diganti tatapan yang lebih serius. Lebih lembut. "Aruna, kamu tuh... kamu nggak perlu takut sama orang cuma gara-gara mereka terkenal. Kamu juga punya value kok. Kamu pinter, kamu baik—"
"Tapi aku nggak seperti mereka, Kay." Aruna potong pelan. Suaranya hampir berbisik. "Aku bukan siapa-siapa."
"Aruna—"
"Udah. Aku nggak mau bahas ini."
Kayla nggak ngelanjutin. Dia cuma pegang tangan Aruna sebentar, remas pelan, terus lepas lagi.
Dan Aruna... Aruna cuma bisa nunduk, natap meja, sambil dalam hati bisik: *Ya Allah, kuatkan aku.*
---
Sepanjang jam pelajaran, Aruna nggak fokus.
Matanya ke papan tulis, tangannya nulis catatan, tapi otaknya... kemana-mana. Kadang dia ngelirik ke depan—barisan kedua dari depan, tempat Dhira duduk. Dari belakang, Aruna cuma bisa liat punggung cowok itu. Tegap. Duduknya santai, tapi nggak membungkuk. Seragamnya rapi.
Sesekali Dhira noleh ke samping, ngobrol bentar sama Dimas yang duduk sebelahnya, terus balik lagi fokus ke depan.
Kayak... nggak ada beban.
Aruna iri. Iri yang aneh. Bukan iri jahat, tapi iri sedih. Kenapa orang kayak Dhira bisa setenang itu? Kenapa dia bisa jalan tanpa takut dilihat orang? Tanpa takut dibicarain? Tanpa takut... ada yang... ngejudge?
*Astafirullah.* Aruna geleng-geleng kepala pelan. *Jangan iri, Na. Jangan. Bersyukur aja sama apa yang kamu punya.*
Tapi tetep aja... dadanya sesak.
---
Jam istirahat pertama.
Aruna langsung ngacir.
Kayla manggil dari belakang—"Aruna mau kemana?"—tapi Aruna cuma melambaikan tangan, senyum dikit, terus lari ke koridor. Tujuannya cuma satu: perpustakaan.
Tempat paling aman.
Perpustakaan sekolah mereka kecil, nggak terlalu modern, rak-rak bukunya udah tua, ada yang catnya mengelupas. Tapi sepi. Sepi dan wangi kertas lama. Aruna suka banget. Dia masuk, ngucapin salam pelan ke Bu Retno—pustakawannya yang udah tua, rambutnya mulai putih—terus langsung ke pojok belakang, deket jendela.
Dia duduk di lantai. Nggak di kursi. Di lantai, sandaran punggung ke rak buku, kaki ditekuk, dagu di lutut. Jurnal coklatnya dia keluarin, tapi nggak dibuka. Cuma dipeluk aja.
Tenang.
Akhirnya tenang.
Nggak ada suara berisik. Nggak ada yang ngeliatin. Cuma suara halaman buku yang dibalik sama satu-dua orang yang lagi baca di meja depan. Cuma suara angin dari jendela yang terbuka dikit.
Aruna pejamin mata.
*Alhamdulillah.*
Dia tarik napas pelan. Dalam. Keluarin lagi.
Aman. Dia aman di sini.
Tapi...
Lima menit kemudian, pintu perpustakaan terbuka.
Aruna nggak ngeliat siapa yang masuk—dari tempatnya duduk, dia nggak keliatan dari pintu. Tapi dia denger suara langkah kaki. Pelan. Santai.
Terus suara itu... makin deket.
Aruna buka mata.
Dan jantungnya langsung dag dig dug lagi.
Bukan.
Bukan Dhira.
Cowok itu tinggi, rambutnya gondrong dikit, seragamnya nggak dimasukin—Adrian. Senior kelas dua belas yang suka bikin onar. Aruna pernah denger cerita Kayla, katanya Adrian sering bolos, sering berantem, pernah hampir dikeluarin dari sekolah.
Adrian jalan santai di antara rak buku, tangannya di saku celana, matanya... ngelirik sana sini. Kayak lagi nyari sesuatu. Atau... seseorang.
Aruna menegang.
*Ya Allah, tolong jangan kesini. Jangan kesini.*
Tapi Adrian... noleh.
Mata mereka bertemu.
Adrian berhenti.
Terus... senyum.
Senyum yang... nggak enak diliat. Senyum yang bikin Aruna pengen kabur.
"Eh, kamu..." Adrian jalan mendekat. "Kamu... temen sekelasnya Dhira kan?"
Aruna nggak jawab. Dia cuma natap cowok itu, tangannya menggenggam jurnalnya makin erat.
"Namanya... Aruna ya? Aruna Pratama?" Adrian berhenti tepat di depannya, berdiri, tangan masih di saku. "Gue denger-denger kamu sekelompok sama Dhira. Bener nggak?"
Kenapa dia nanya?
Kenapa dia... tau?
"I-iya..." suara Aruna keluar kecil banget.
Adrian ketawa. Tapi ketawanya... nggak lucu. "Wah, kasian Dhira. Dapet partner kamu."
Deg.
Aruna nunduk. Cepet. Dadanya sakit.
"Eh, gue bercanda kok." Adrian jongkok, sejajar sama Aruna sekarang. Wajahnya deket. Terlalu deket. "Santai aja. Gue cuma mau ngingetin... Dhira itu cowok yang sibuk. Jangan sampe kamu bikin dia ribet, ya?"
Aruna nggak ngerti maksudnya apa. Tapi nada suara Adrian... ngancem. Atau... peringatan?
"A-aku... aku nggak akan—"
"Bagus." Adrian berdiri lagi, mengelus-ngelus celana seragamnya yang berdebu. "Udah gitu aja. Gue permisi."
Dan dia pergi. Gitu aja.
Aruna duduk di sana, sendirian lagi, tapi sekarang... tangannya gemetaran.
*Astafirullah... astafirullah...*
Kenapa dia ketemu Adrian?
Kenapa Adrian ngingetin hal kayak gitu?
Apa... apa dia emang beban buat Dhira?
Matanya panas.
Jangan nangis. Jangan nangis di sini.
Aruna tutup muka pake kedua tangan, tarik napas, tahan, keluarin.
*Ya Allah... aku nggak kuat...*
---
Tapi dia harus kuat.
Sore itu—jam pelajaran terakhir udah selesai—Aruna nggak langsung pulang. Dia duduk di kelas, nungguin semua orang keluar dulu. Kayla udah pulang duluan, ada les ngaji katanya. Jadi Aruna sendirian.
Dia bersihin mejanya pelan-pelan. Masukin buku ke tas. Keluarin jurnal sebentar, buka halaman kosong, nulis:
*Aku takut.*
Cuma itu.
Terus ditutup lagi.
Dia berdiri, narik napas panjang, terus jalan ke perpustakaan.
Langkahnya pelan. Setiap langkah terasa berat. Jantungnya dag dig dug lagi—Ya Allah, kenapa terus-terusan deg-degan sih—dan kepalanya pusing dikit.
Sampai di perpustakaan, Aruna masuk. Bu Retno udah nggak ada—mungkin udah pulang. Perpustakaan sepi. Cuma ada...
Dhira.
Duduk di meja pojok, laptop udah terbuka di depannya, earphone di telinga sebelah, tangan kanannya ngetik sesuatu. Dia belum sadar Aruna dateng.
Aruna berdiri di ambang pintu.
Maju atau mundur?
*Ya Allah... aku nggak bisa mundur sekarang...*
Dia maju. Pelan. Setiap langkah terasa kayak jalan di atas es tipis yang bisa pecah kapan aja.
Dhira nengok.
Matanya ketemu mata Aruna.
Dan Dhira... senyum. Tipis. Terus lepas earphonenya.
"Aruna. Sini. Udah nungguin dari tadi."
Nungguin... dari tadi?
Aruna jalan pelan, duduk di kursi seberang Dhira. Jarak mereka cuma satu meja kecil. Aruna bisa liat wajah Dhira dengan jelas sekarang. Alis tebal. Mata cokelat muda yang fokus. Hidung mancung. Bibir yang... ya ampun kenapa Aruna ngeliatinnya sih—Aruna langsung nunduk, buka tas, keluarin buku catatannya dengan tangan yang masih agak gemetar.
"Jadi..." Dhira mulai, suaranya santai. "Kita bagi tugas atau kerja bareng?"
Aruna nggak jawab langsung. Otaknya... kosong. Kayak di-restart paksa.
"A-aku... terserah kamu aja..."
"Terserah aku?" Dhira ketawa kecil. "Ya udah, kita kerja bareng aja. Lebih enak diskusi."
Kerja... bareng?
Artinya... ketemu lagi? Ngobrol lagi?
"O-oke..." Aruna buka buku catatannya, liat-liat tulisan yang dia bikin semalam—rencana tugas, pembagian bab, daftar referensi. Tulisannya berantakan tapi lengkap. Dia geser bukunya ke tengah meja, biar Dhira bisa liat juga.
Dhira nunduk, baca catatan Aruna.
Diam.
Lama.
Aruna deg-degan. Apa... apa catatannya jelek? Apa dia salah nulis? Apa—
"Wah." Dhira menengadah, ngeliat Aruna dengan tatapan yang... beda. "Kamu udah siapin ini semua? Lengkap banget."
Aruna kedip-kedip. "E-emang... harusnya begitu kan?"
"Harusnya sih iya. Tapi biasanya orang males." Dhira senyum lagi, kali ini lebih lebar. "Kamu rajin ya."
Wajah Aruna panas.
Kenapa panas sih.
"A-aku cuma... cuma biasa aja kok..."
"Nggak. Ini bagus." Dhira ngetuk-ngetuk layar laptopnya. "Oke, jadi kita mulai dari ekosistem laut dulu ya? Aku udah download beberapa jurnal. Mau kubagi?"
Dan... mereka mulai kerja.
Tapi... Aruna nggak nyangka.
Dia nggak nyangka Dhira... seserius ini. Cowok itu bener-bener fokus. Membaca jurnal, nunjukin data ke Aruna, nanya pendapat Aruna—"Menurutmu pembagian bab kayak gini udah cukup belum?"—dan... ngedengerin.
Dhira ngedengerin Aruna ngomong.
Meskipun suara Aruna pelan, meskipun Aruna suka gagap, Dhira nggak pernah motong. Nggak pernah kesel. Cuma... dengerin. Angguk-angguk. Sesekali senyum kecil.
Satu jam berlalu.
Aruna... mulai agak santai. Dikit. Nggak se-tegang tadi. Tangannya nggak gemetar lagi. Suaranya masih pelan, tapi nggak sepelan awal-awal.
"Jadi besok kita lanjutin lagi?" tanya Dhira sambil nutup laptopnya.
"I-iya. Boleh."
"Oke. Sama-sama jam segini?"
"Oke."
Aruna bersihin mejanya, masukin buku ke tas, berdiri—tapi tiba-tiba kakinya kesandung tali tas sendiri dan dia nyaris jatuh—untung tangannya nangkep pinggiran meja.
"Hati-hati!" Dhira reflex berdiri, tangannya nyamber lengan Aruna.
Seketika... waktu berhenti.
Tangan Dhira... hangat. Kuat. Menggenggam lengan Aruna buat nahan dia jatuh.
Aruna menengadah.
Wajah Dhira deket. Terlalu deket.
Mata mereka ketemu.
Dan Aruna... lupa cara bernapas. Lagi.
"Kamu... nggak apa-apa?" tanya Dhira pelan.
"I-iya... maaf... aku... ceroboh..." Aruna ngomong terbata-bata, wajahnya panas banget sekarang, rasanya mau meledak.
Dhira lepas tangannya, senyum kecil. "Nggak papa. Lain kali hati-hati aja."
Aruna cuma ngangguk kecil, nunduk lagi, peluk tasnya erat-erat.
Mereka jalan keluar perpustakaan bareng. Koridor udah sepi. Matahari sore masuk dari jendela, bikin bayangan panjang di lantai keramik.
Dhira jalan di samping Aruna. Diam. Nggak ngomong apa-apa.
Tapi tiba-tiba...
"Kamu selalu bawa buku itu ke mana-mana, ya?"
Aruna berhenti.
Dhira nunjuk tas Aruna—jurnal cokelat yang nyempil di kantong samping, kelihatan ujungnya.
Aruna refleks meluk tasnya. "Itu... pribadi."
Dhira ngangguk. "Oke. Aku nggak akan ganggu rahasiamu."
Terus dia diam lagi. Beberapa detik.
"Tapi..." Dhira noleh, ngeliat Aruna. "Kalau ada apa-apa... cerita sama gue. Oke?"
Deg.
Aruna nggak ngerti.
Kenapa Dhira ngomong gitu?
Kenapa... dia peduli?
"K-kenapa...?" tanya Aruna pelan, hampir berbisik.
Dhira senyum. Senyum yang... lembut. "Ya nggak tau. Rasanya kamu kayak... butuh temen aja."
Dan cowok itu jalan duluan, keluar dari gedung sekolah, melambaikan tangan sekilas ke Aruna, terus menghilang di tikungan koridor.
Aruna berdiri di sana.
Sendirian.
Tapi dadanya... dadanya terasa aneh.
Hangat.
Deg-degan.
Sesak tapi nggak sakit.
*Ya Allah...*
*Apa ini?*
*Kenapa... kenapa rasanya kayak gini?*
---
Malamnya, Aruna duduk di kamar lagi.
Jurnal terbuka di pangkuan.
Hujan turun lagi di luar. Rintik-rintik pelan.
Dia nulis:
---
...Hari ini aku ketemu Dhira. Bukan cuma lewat. Bukan cuma sebut nama. Tapi... ngobrol. Kerja bareng....
...Dia nggak seperti yang kukira....
...Dia... serius. Dia dengerin aku ngomong. Dia nggak menganggap aku beban....
...Tapi aku takut....
...Takut kalau... kalau aku mulai berharap....
...Karena aku tau... cowok kayak dia dan cewek kayak aku itu... beda dunia....
...Ya Allah, jauhkan aku dari perasaan yang nggak-nggak....
...Tapi kenapa... kenapa susah banget?...
---
Aruna tutup jurnalnya.
Rebahan.
Mata ke langit-langit.
Dan dalam hati... dia bisik lagi.
*Astafirullah.*
*Aku mulai suka sama dia, ya?*