Sekolah SMA Pelita Bangsa terancam tidak bisa mengadakan Pensi tahunan karena masalah dana. Kepala Sekolah memberikan syarat: Pensi boleh jalan kalau rata-rata nilai ujian satu angkatan naik. Julian (Ketua OSIS) terpaksa menjadi tutor privat bagi siswa dengan nilai terendah di angkatan, yang ternyata adalah Alea. Di antara rumus fisika dan lirik lagu rock, mereka menemukan bahwa mereka memiliki luka yang sama tentang ekspektasi orang tua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Kabar Buruk
Kantin SMA Pelita Bangsa saat jam istirahat kedua adalah definisi harfiah dari hukum rimba. Siapa cepat, dia dapat gorengan hangat. Siapa lambat, dia dapat sisa remah-remah tepung.
Alea sedang dalam misi penting: menyelamatkan mangkuk bakso terakhir dari serbuan anak-anak kelas X yang kelaparan. Dengan gerakan gesit, ia berhasil menyelinap di antara antrean, menyodorkan uang lima belas ribu rupiah ke Pak Maman, dan mengamankan mangkuk keramat itu.
"Menang banyak, Le," komentar Raka saat Alea menghempaskan pantatnya di bangku kantin, meletakkan mangkuk bakso dengan penuh kemenangan.
"Perjuangan, Ka. Hidup itu keras, kalau lo lembek, lo nggak makan bakso," sahut Alea filosofis sambil menuangkan sambal gila-gilaan. Kuah baksonya seketika berubah warna menjadi merah darah.
Raka geleng-geleng kepala. Cowok berambut ikal itu sedang sibuk dengan ponselnya, jempolnya menari lincah di atas layar. Wajahnya yang biasanya santai, tiba-tiba mengerut.
"Le," panggil Raka, nadanya berubah serius.
"Apaan? Minta bakso? Nggak boleh. Beli sendiri."
"Bukan soal bakso. Lo udah buka grup angkatan belum?"
Alea mengunyah pentol bakso dengan pipi menggembung. "Hape gue mati. Powerbank ketinggalan. Kenapa emang? Ada gosip siapa jadian sama siapa lagi?"
Raka tidak menjawab. Ia justru menyodorkan ponselnya ke depan wajah Alea. "Baca."
Alea menyipitkan mata. Di layar ponsel Raka, terpampang screenshot pesan broadcast dari akun resmi OSIS, ditambah foto sebuah surat keputusan yang baru saja ditempel di mading utama.
Mata Alea membelalak. Pentol bakso yang sedang dikunyahnya nyaris meluncur masuk ke tenggorokan tanpa dikunyah.
PENGUMUMAN PENTING
Nomor: 045/OSIS-PB/XI/2025
Perihal: PEMBATALAN PENTAS SENI (PENSI) TAHUNAN "STARLIGHT 2025"
Sehubungan dengan evaluasi akademik tengah semester yang menunjukkan penurunan rata-rata nilai siswa secara signifikan, serta adanya realokasi dana sekolah untuk perbaikan fasilitas laboratorium, maka dengan berat hati kami sampaikan bahwa kegiatan Pentas Seni (PENSI) tahun ini DITIADAKAN.
Demikian pengumuman ini disampaikan. Harap maklum.
Tertanda,
Ketua OSIS,
Julian Pradana
Mengetahui,
Kepala Sekolah.
Dunia Alea serasa berhenti berputar. Suara riuh kantin—dentig sendok, tawa siswa, teriakan ibu kantin—mendadak terdengar jauh, seperti suara televisi yang volumenya dikecilkan sampai nol.
"Ditiadakan?" bisik Alea. Suaranya bergetar. "Pensi... batal?"
"Kayaknya beneran, Le. Anak-anak di grup udah pada ngamuk," kata Raka pelan. Ia tahu seberapa besar arti Pensi ini buat Alea.
Bagi sebagian siswa, Pensi mungkin cuma ajang hura-hura, tempat nampang, atau kesempatan bolos legal. Tapi bagi Alea, Pensi adalah segalanya. Itu adalah panggung impiannya. Selama setahun ini, ia dan Raka sudah latihan mati-matian. Mereka sudah menulis tiga lagu orisinal. Alea sudah menabung uang jajannya berbulan-bulan untuk membeli efek gitar baru. Pensi adalah satu-satunya momen di mana Alea merasa dilihat. Bukan sebagai "murid pemalas" atau "tukang bikin onar", tapi sebagai Aleandra sang musisi.
Dan sekarang, mimpi itu diremukkan hanya dengan selembar kertas?
Darah Alea mendidih. Rasa kagetnya berubah menjadi amarah yang membakar dada. Ia membanting sendoknya ke mangkuk bakso dengan keras. Clang! Kuah merah muncrat ke meja.
"Si Robot sialan," desis Alea. Matanya berkilat marah.
"Le, tenang dulu. Itu ada tanda tangan Kepala Sekolah juga, bukan cuma Julian—" Raka mencoba menenangkan, tapi terlambat.
Alea sudah berdiri. Kursi kantin berderit nyaring saat terdorong ke belakang. "Nggak bisa dibiarin. Enak aja main batalin sepihak! Mereka pikir kita robot yang cuma butuh buku pelajaran?!"
Tanpa mempedulikan teriakan Raka, Alea melangkah lebar keluar dari kantin. Langkahnya panjang dan penuh emosi. Beberapa siswa yang berpapasan dengannya langsung minggir, ngeri melihat aura gelap yang memancar dari tubuh gadis itu.
Tujuan Alea cuma satu: Ruang OSIS.
Ruang OSIS SMA Pelita Bangsa terletak di sayap kiri gedung utama, bersebelahan dengan ruang guru. Ruangan itu terkenal sebagai "Menara Gading", tempat para siswa elit berkumpul merencanakan aturan-aturan yang menyebalkan.
Biasanya, Alea enggan menginjakkan kaki di sana. Udaranya terlalu "pintar" dan berbau pewangi ruangan lavender yang bikin pusing. Tapi hari ini pengecualian.
Alea sampai di depan pintu kayu jati berukir itu. Tanpa mengetuk, tanpa permisi, ia memutar gagang pintu dan mendorongnya kasar.
BRAK!
Pintu terbuka lebar, menabrak tembok di belakangnya.
Suasana di dalam ruangan seketika hening. Beberapa pengurus OSIS yang sedang rapat kecil menoleh kaget. Sarah, yang sedang memegang stapler, nyaris menjatuhkan benda itu. Dan di ujung meja panjang, duduklah sang raja kecil. Julian Pradana.
Julian sedang memegang gelas kopi. Ia tidak terlonjak kaget seperti yang lain. Ia hanya menoleh perlahan ke arah pintu, meletakkan gelasnya dengan tenang, lalu menatap Alea dengan ekspresi datar yang sudah sangat familiar.
"Ada yang namanya tata krama mengetuk pintu, Aleandra," kata Julian dingin.
"Persetan sama tata krama!" teriak Alea. Ia melangkah masuk, mengabaikan tatapan ngeri dari Sarah dan anggota OSIS lain. Alea berjalan lurus ke arah Julian dan menggebrak meja kerjanya dengan kedua tangan.
Brak!
"Maksud lo apa bikin pengumuman sampah kayak gitu, hah?!" Alea menunjuk wajah Julian. Jarak mereka begitu dekat sampai Alea bisa mencium aroma mint dan kopi dari cowok itu.
Julian membetulkan letak kacamatanya, tidak mundur sedikit pun. "Pengumuman yang mana? Saya membuat banyak pengumuman hari ini."
"Jangan pura-pura bego! Pensi! Kenapa lo batalin Pensi?!"
Julian menghela napas panjang, seolah sedang menghadapi anak balita yang tantrum minta permen. Ia memberi isyarat tangan pada anggota OSIS lainnya. "Kalian keluar dulu. Lanjutkan rekap proposal di ruang sebelah."
Sarah tampak ragu. "Tapi, Jul..."
"Keluar, Sar. Biar saya yang urus ini," perintah Julian tegas tapi tetap tenang.
Dengan ragu-ragu, Sarah dan yang lain membereskan barang mereka dan keluar ruangan, meninggalkan Julian dan Alea berhadapan di ruangan yang kini terasa sangat sunyi dan dingin karena AC.
Setelah pintu tertutup, Julian menatap Alea lurus-lurus.
"Saya tidak membatalkan Pensi, Alea. Sekolah yang membatalkannya," jawab Julian.
"Lo Ketua OSIS! Lo punya kuasa buat nolak! Lo perwakilan siswa, harusnya lo belain kita, bukan malah jadi kacung Kepala Sekolah!" sembur Alea. Napasnya memburu.
Julian berdiri. Tinggi badannya yang mencapai 178 cm membuat Alea harus sedikit mendongak.
"Kamu pikir saya diam saja?" Suara Julian sedikit meninggi, retakan pertama pada topeng ketenangannya. "Saya sudah mengajukan tiga proposal revisi anggaran. Saya sudah berdebat satu jam dengan Pak Kepala Sekolah pagi ini. Tapi faktanya, dana sekolah defisit karena renovasi lab bahasa yang kebakaran bulan lalu. Dan faktanya, nilai rata-rata angkatan kelas sebelas dan dua belas turun drastis di Try Out kemarin."
Julian mengambil lembaran grafik dari tumpukan berkas di mejanya dan menyodorkannya ke dada Alea.
"Lihat ini. Grafik nilai angkatan kita. Terjun bebas. Kepala Sekolah beranggapan Pensi cuma buang-buang waktu dan bikin siswa makin malas belajar."
Alea menepis kertas itu hingga jatuh ke lantai. "Nilai, nilai, nilai! Emangnya hidup cuma soal angka di atas kertas?! Lo mungkin bisa hidup dengan meluk rumus fisika tiap malam, Jul. Tapi nggak semua orang kayak lo!"
"Justru itu masalahnya," potong Julian tajam. "Dunia nggak peduli apa passion kamu kalau kamu gagal memenuhi standar dasar. Kamu mau main musik? Silakan. Tapi kalau sekolah bangkrut dan rata-rata nilai hancur, izin operasional sekolah ini yang terancam. Pensi butuh uang, Alea. Dan uangnya nggak ada."
Kata-kata Julian menohok, rasional, dan menyakitkan karena mengandung kebenaran. Tapi Alea tidak mau kalah. Ia merasa impiannya sedang diinjak-injak oleh logika birokrasi.
"Lo seneng kan?" tanya Alea lirih, matanya mulai terasa panas. "Lo seneng Pensi batal. Karena lo benci keramaian. Lo benci liat orang seneng-seneng. Lo benci musik."
Mata Julian sedikit melebar mendengar kalimat terakhir itu. Ada kilatan emosi yang tidak bisa dibaca Alea—sesuatu yang mirip kesedihan—tapi hilang dalam sekejap mata.
"Jangan sok tahu tentang apa yang saya benci atau saya suka," kata Julian dingin. Ia kembali duduk, menarik berkas lain. "Keputusan sudah final. Pensi batal. Sekarang keluar. Saya banyak pekerjaan."
Alea mengepalkan tangannya begitu erat hingga kukunya menancap ke telapak tangan. Rasa kecewa itu begitu besar hingga menyesakkan dada. Ia merasa tidak berdaya.
"Gue benci sama lo, Julian," bisik Alea penuh penekanan. "Gue benci sama lo dan semua aturan kaku lo."
Julian tidak menatapnya. Ia mulai menulis sesuatu, mengabaikan keberadaan Alea. "Tutup pintunya saat keluar."
Alea berbalik, menendang pintu—yang untungnya tidak rusak—dan keluar dari ruangan itu dengan perasaan hancur lebur.
Di dalam ruangan, setelah suara langkah kaki Alea menjauh, Julian berhenti menulis.
Pena di tangannya bergetar.
Ia melepaskan kacamatanya dan meletakkannya di meja, lalu menyugar rambutnya dengan frustrasi. Topeng "Ketua OSIS Sempurna" itu runtuh saat ia sendirian.
Julian membuka laci mejanya yang paling bawah. Di sana, tersembunyi di balik tumpukan map laporan bulanan, ada sebuah benda yang tidak seharusnya ada di ruang OSIS. Sebuah majalah musik edisi lama yang sudah lecek. Cover-nya menampilkan gitaris legendaris, Slash.
Julian menatap majalah itu dengan tatapan nanar.
Lo benci musik, kata Alea tadi.
"Kamu salah, Alea," gumam Julian pada ruangan kosong itu. "Saya nggak benci musik. Saya cuma... nggak berani menyukainya lagi."
Julian mengambil ponselnya, membuka galeri. Di folder yang dikunci dengan password, ada satu video lama. Video seorang anak laki-laki berusia 10 tahun sedang bermain gitar dengan riang gembira, diiringi tawa ibunya. Itu adalah Julian, sebelum ibunya meninggal, dan sebelum ayahnya berubah menjadi diktator yang terobsesi pada prestasi akademik.
Julian menutup ponselnya kasar.
Ia memang mengajukan argumen ke Kepala Sekolah, tapi mungkin Alea benar. Mungkin di alam bawah sadarnya, ia tidak berjuang cukup keras. Mungkin ia membiarkan Pensi itu batal karena iri. Iri pada mereka yang bebas bermain musik di atas panggung, sementara ia harus terkubur di balik tumpukan proposal dan ekspektasi ayahnya.
Tiba-tiba, pintu ruangan diketuk pelan. Kepala Pak Hadi, guru BK, muncul.
"Julian? Pak Kepala Sekolah memanggil kamu lagi."
Julian buru-buru memakai kacamatanya kembali, memasang wajah datar andalannya. "Ada apa lagi, Pak?"
"Beliau berubah pikiran sedikit," kata Pak Hadi sambil tersenyum misterius. "Gara-gara kamu tadi pagi bilang kalau pembatalan Pensi akan menurunkan moral siswa secara drastis, beliau mau kasih negosiasi."
Jantung Julian berdegup kencang. "Negosiasi?"
"Ya. Tapi syaratnya berat. Beliau mau kamu yang bertanggung jawab penuh."
Julian terdiam. Bertanggung jawab penuh? Itu artinya lehernya yang jadi taruhan. Kalau gagal, bukan cuma Pensi yang batal, tapi posisinya sebagai Ketua OSIS dan kepercayaan ayahnya juga akan hancur.
Tapi kemudian bayangan wajah Alea yang merah padam menahan tangis tadi melintas di benaknya. Gue benci sama lo.
Julian berdiri, merapikan jas almamaternya.
"Baik, Pak. Saya ke sana sekarang."
Sore harinya, di atap sekolah.
Tempat ini adalah markas rahasia Alea. Biasanya dikunci, tapi Alea punya kunci duplikat (warisan dari kakak kelas alumni yang sama badungnya).
Alea duduk di pinggir rooftop, kakinya menggantung ke bawah. Angin sore menerbangkan rambutnya yang berantakan. Gitar akustik tua—bukan elektrik yang biasa ia pakai manggung—ada di pangkuannya.
Ia memetik senar asal-asalan, menghasilkan nada minor yang sumbang.
"Batal," gumamnya. "Semua latihan gue... batal."
Ia menatap langit Jakarta yang mulai jingga. Pensi itu bukan cuma soal musik. Itu soal pembuktian ke orang tuanya. Ayahnya selalu bilang, "Musik nggak ada masa depannya, Alea. Liat kakakmu, kuliah Kedokteran. Itu baru masa depan." Alea ingin membuktikan di Pensi, di depan semua orang, bahwa ia punya bakat. Bahwa ia layak dihargai.
Suara pintu besi rooftop berdecit.
Alea menoleh cepat, siap mengusir siapa pun yang berani mengganggu momen galaunya. Mungkin Raka. Atau Pak Ujang.
Tapi yang muncul adalah sosok jangkung dengan seragam rapi yang sangat ia benci hari ini.
Julian.
Cowok itu tampak sedikit ngos-ngosan, sepertinya habis menaiki tangga dengan cepat. Ia melihat sekeliling, lalu tatapannya terkunci pada Alea.
"Ngapain lo ke sini?" tanya Alea tajam. "Mau nyatet gue lagi karena ada di area terlarang? Nih, catet! Gue nggak peduli."
Julian mengatur napasnya, lalu berjalan mendekat. Ia tidak membawa buku catatan pelanggaran kali ini. Ia membawa selembar kertas yang berbeda.
"Berdiri," kata Julian.
"Ogah."
"Saya bilang berdiri, Aleandra. Saya punya penawaran."
Alea mengerutkan kening. Nada bicara Julian berbeda. Tidak sedingin tadi pagi. Ada urgensi di sana. Dengan malas, Alea berdiri sambil tetap memeluk gitarnya.
"Apa? Mau nawarin jasa hapus dosa?"
Julian menyodorkan kertas di tangannya. Itu adalah notulen rapat terbaru dengan tanda tangan basah Kepala Sekolah. Tinta stempelnya masih segar.
"Pensi bisa diadakan kembali," kata Julian.
Mata Alea membulat sempurna. "Hah? Lo... lo serius?"
"Dengan satu syarat," potong Julian cepat sebelum Alea sempat bersorak.
"Apa syaratnya? Kita harus jualan tiket lebih banyak? Cari sponsor lebih gede? Gue sanggup! Gue bakal ngamen di lampu merah kalau perlu!" seru Alea berapi-api.
"Bukan uang," Julian menggeleng. Ia menatap mata Alea lekat-lekat. "Kepala Sekolah memberikan target akademik. Rata-rata nilai angkatan harus naik dalam Ujian Tengah Semester bulan depan. Dan secara spesifik..." Julian menunjuk Alea dengan telunjuknya. "...beliau menunjuk satu siswa dengan nilai terendah di angkatan sebagai tolak ukur."
Perasaan Alea mulai tidak enak. "Siapa?"
"Kamu," jawab Julian tanpa ampun. "Kamu peringkat terakhir pararel angkatan kelas 11. Kamu 'tumbal'-nya."
Alea menganga. "Gila! Nggak mungkin!"
"Mungkin. Kepala Sekolah bilang, kalau siswa dengan nilai terendah saja bisa naik nilainya, berarti metode belajar efektif. Syaratnya: Nilai rata-rata semua mata pelajaranmu harus di atas 75. Tidak boleh ada nilai merah."
"Tujuh lima?!" pekik Alea histeris. "Matematika gue dapet 40 aja udah sujud syukur! Fisika? Gue cuma nulis 'Diketahui' dan 'Ditanya' doang!"
"Itulah kenapa ada bagian kedua dari kesepakatan ini," lanjut Julian. Wajahnya terlihat sangat tertekan saat mengucapkan kalimat berikutnya. "Saya ditunjuk sebagai tutor pribadi kamu. Setiap hari sepulang sekolah, sampai UTS."
Hening.
Angin berhembus membawa daun kering. Alea menatap Julian horor. Julian menatap Alea pasrah.
"Gue... diajarin sama lo?" Alea menunjuk Julian dengan jijik. "Tiap hari?"
"Kamu pikir saya mau?" balas Julian ketus. "Waktu belajar saya terbuang sia-sia buat ngajarin seseorang yang membedakan sin dan cos saja tidak bisa. Tapi ini satu-satunya cara menyelamatkan Pensi."
Julian melangkah maju satu langkah, mengulurkan tangannya.
"Jadi gimana, Aleandra? Deal or No Deal? Masa depan Pensi ada di tangan kamu. Atau lebih tepatnya... di otak kamu yang jarang dipakai itu."
Alea menatap tangan Julian, lalu menatap gitarnya. Ini adalah kesepakatan dengan iblis. Belajar mati-matian dengan cowok paling menyebalkan di sekolah demi sebuah panggung.
Tapi demi musik... demi band-nya...
Alea menghela napas kasar, lalu dengan enggan menjabat tangan Julian. Cengkeramannya keras, seolah ingin meremukkan tulang tangan cowok itu.
"Deal," geram Alea. "Tapi kalau lo macem-macem, gue jadiin lo stand mic."
"Dan kalau kamu malas-malasan," balas Julian dingin, "saya pastikan Pensi batal selamanya."
Di atap sekolah itu, di bawah langit senja, sebuah aliansi paling mustahil dalam sejarah SMA Pelita Bangsa baru saja terbentuk.
...****************...
BERSAMBUNG...
Terima kasih telah membaca💞
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️