Kemandirian Nayanika Gentari Addhitama mulai terkikis karena seorang lelaki yang 10 tahun lebih tua darinya, Erza Naradipta. Pesona lelaki yang dipanggil paman itu tak terbantahkan. Demi sebuah benih suka yang tumbuh menjadi cinta membuat Nika rela menjadi sosok lain, manja dan centil hanya untuk memikat lelaki yang bertugas menjaganya selama kuliah di luar negeri.
Akankah cinta Nayanika terbalaskan? Ataukah Erza hanya menganggapnya sebagai keponakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fieThaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Yes Or No?
Sangat berat melepas putri semata wayang ke negeri orang walaupun untuk mengenyam pendidikan. Sedari kecil Nika tak pernah jauh dari orang tua. Baik Rio maupun Aqis selalu menjaga sang putri dengan penuh Keprotektifan.
Namun, mereka juga tak ingin membuat kecewa anak yang selama ini mereka jaga. Demi masuk universitas tersebut, banyak waktu remaja yang dilewatkan demi untuk belajar dengan penuh ketekunan.
Kedua orang tua Nika saling pandang ketika senyum yang sudah seminggu hilang kini kembali datang. Mencoba menekan ego untuk masa depan anak tersayang. Walaupun keputusan itu mereka ambil harus dengan perhitungan yang sangat matang. Apalagi butuh waktu yang tak sebentar untuk menemukan orang yang akan menjaga Nika di negara orang.
Tak ada yang namanya asal-asalan. Semuanya mereka perhitungan dengan sangat matang. Bahkan jarang sekali seorang Restu Ranendra mau turun gunung. Demi sang keponakan dia rela membantu Rio mencarikan orang yang dapat diandalkan untuk menjaga sang keponakan.
Dua hari sebelum Restu mengajak Nika bertemu, dia mengundang lebih dulu Rio Addhitama ke kantornya. Dua pria yang masih tampan dan gagah di usia yang sudah tak muda sudah saling menatap dengan serius dihiasi kepulan asap yang sudah memenuhi ruangan.
Map cokelat besar Restu berikan kepada sang kakak angkat. Tanpa ada kata ataupun kalimat yang terlontar. Hanya kepulan asap yang dia buang ke udara. Beberapa lembar kertas sudah Rio ambil dari dalam map. Dia membaca dengan teliti dan jeli apa yang ada di kertas tersebut.
"Ezra Naradipta."
Di atas kertas putih itu hanya tertera sedikit info tentang lelaki yang ada di foto. Hanya ada usia yang tercantum di sana. Juga prestasi yang pernah dia raih terpampang dengan begitu jelas dan banyak sehingga membuat Rio lelah membacanya.
"Hanya segini?"
"Jangan meremehkan," sahut Restu sambil mematikan bara api pada ujung rokok yang sudah selesai dia hisap. Dia tahu Rio tidak akan puas dengan laporan itu.
"Dia juara internasional taekwondo junior. Di mana 15 tahun yang lalu gua sendiri yang latih dia untuk meraih juara pertama di kejuaraan itu."
Hembusan napas kasar keluar dari bibir Rio. Terlihat jelas jika dia belum yakin dengan orang yang direkomendasikan oleh Restu. Wajahnya tak bisa berdusta.
"Sekarang, dia bekerja di bawah perusahaan milik Axel."
Rio terkejut ketika mendengar nama Axel. Dia memang tak terlalu dekat dengan putra dari mendiang Remon yang tak lain adalah asisten pribadi sekaligus orang kepercayaan almarhum Giondra. Tapi, dia tahu jika perusahaan Axel adalah perusahaan besar yang berdiri di Singapura dengan sokongan dana langsung dari Daddy Aksa pribadi. Bukan mengatasnamakan Wiguna Grup.
Seorang Ghassan Aksara Wiguna tak akan mau menggelontorkan dana yang tak sedikit kepada perusahaan yang tak jelas. Tapi, pada perusahaan Axel lain cerita. Dia dengan begitu berani memberikan bantuan tanpa takut merugi. Padahal, perusahaan Axel adalah perusahaan kecil yang tak sebanding dengan Wiguna Grup, AdT. Corp serta Zenth Corporation. Ternyata semakin ke sini perusahaan itu semakin berkembang pesat dan bisa masuk ke jajaran sepuluh besar perusahaan terbaik di Singapura.
"Sudah lima tahun ini perusahaan Axel membangun perusahaan cabang di Beijing. Dia dipercaya untuk menjadi penanggung jawabnya."
Rio kembali terdiam ketika Restu mengungkapkan fakta lain. Lelaki yang bernama Ezra itu bisa dikatakan bukan orang sembarangan. Dia tahu bagaimana prinsip kerja Axel. Tak jauh beda dengan Restu.
"Perusahaan Axel adalah perusahaan yang sangat selektif dalam merekrut karyawan. Ada tiga syarat mutlak yang harus dimiliki. IQ Tinggi, memiliki kemampuan yang mempuni serta jago bela diri."
Pemaparan Restu mampu membuat Rio terhenyak. Sayanganya, siluet keraguan itu masih belum hilang.
"Lu bisa nilai sendiri ketika lu tatap muka langsung dengan orangnya."
Kalimat terakhir yang Restu katakan menutup pembahasan. Meninggalkan Rio sendirian untuk berpikir secara matang.
Sesuai dengan yang Restu katakan, keesokan harinya Restu mengajak Rio ke suatu tempat. Dahi sahabat sekaligus kakak angkatnya menukik ketika melihat lelaki yang sama seperti orang yang direkomendasikan oleh Restu. Anggukan begitu sopan membuat Rio semakin menatap tajam.
"Bang," sapa lelaki itu dengan begitu sopan.
Rio mulai menatap ke arah Restu yang tersenyum tipis sambil menepuk pundak sang kakak.
"Sekali-kali letakkan keformalan." Rio membeku mendengar ucapan Restu. Tak biasanya lelaki kejam itu bersikap santai kepada orang lain.
Tanpa ada kegugupan, lelaki yang berada di seberang meja Rio mulai membuka suara.
"Saya Ezra Naradipta."
Walaupun tak direspon dengan baik, Ezra tatap percaya diri. Tak sedikit pun dia goyah. Mentalnya sudah sangat teruji. Sedangkan Restu hanya sebagai penonton sambil menyesap hot americano yang baru tersaji.
Banyak pertanyaan yang Rio lontarkan kepada Ezra. Seperti sedang meng-interview pelamar kerja. Sedangkan Restu begitu asyik membuang asap rokok ke udara. Dia sangat yakin Ezra mampu menghadapi kekeraskepalaan Rio Putra Addhitama.
Berkali-kali diserang melalui perkataan membuat Ezra tak gentar. Menundukkan kepala pun tidak. Kepercayaan dirinya begitu tinggi.
"Jangan buang tenaga dan pikiran. Dia tidak punya jiwa pecundang," ucap Restu dengan senyum penuh seringai. Rio pun berdecak kesal.
Pantas saja Restu begitu yakin dengan Ezra. Dari segi wawasan pun begitu luas. Bahkan, dia begitu hafal dengan universitas yang akan menjadi tempat belajar Nika.
"Gimana? Udah cukup?" tanya Restu sambil menggerus bara rokok pada asbak.
"Kalau Bang Rio mau tahu skill yang lain, bisa kok diuji."
Restu tersenyum bangga. Ezra malah menawarkan diri untuk menunjukkan kemampuan yang lain. Pantas saja banyak guru taekwondo yang memujinya.
"Boleh. Tapi, kalau lu cedera gua tidak akan tanggung jawab."
Tantangan Ezra pun Rio wujudkan. Sepuluh orang berpengalaman melawan Ezra sendirian. Lagi, lelaki itu sangat percaya diri. Sedangkan Restu sudah tumpang kaki sambil makan kuaci.
"Enggak nyampe sepuluh menit selesai."
Apa yang dikatakan oleh Restu menjadi kenyataan. Dengan begitu mudah Ezra mengalahkan para bodyguard berpengalaman tanpa ada luka sedikit pun.
"Yes or No?" Restu sudah meminta kepastian. Rio pun menganggukkan kepala.
Kesepakatan pun sudah dibuat. Ezra kembali mengangguk penuh hormat sebelum pergi. Rio mulai menatap Restu dengan penuh tanya.
''Dia bukan orang sembarangan. Tapi, kenapa dia mau menerima pekerjaan sampingan?" Pertanyaan itu dari kemarin terus berputar di kepala.
"Kalau gua udah turun gunung, enggak akan ada yang bisa bantah," ucapnya dengan penuh keangkuhan.
"Ditambah, Axel sudah memberikan perintah," bisiknya sembari tersenyum kecil.
"LICIK!" Tawa Restu pun pecah.
Restu tetaplah manusia penuh kelicikan. Apa yang dia inginkan pasti harus dia dapatkan. Bagaimanapun caranya. Bahkan, hanya demi seorang Ezra Naradipta dia sampai rela meminta bantuan kepada sahabatnya, Axel.
"Hanya orang tertentu yang boleh jagain keponakan gua."
...**** BERSAMBUNG ****...
Boleh minta komennya???
wes angel klo udh dalam pengawasan elang kaga bakal bisa nemuin dah ntar si paman🤭
dan .... kira-kira Nika pergi ke mana ya .
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍