Rakha dan Keenan sudah bertahun-tahun saling benci. Satu keras kepala, satu lagi dingin dan gampang naik darah. Dua-duanya sama-sama ahli bikin masalah.
Sampai pelatih baru datang dan memaksa mereka jadi duo inti. Lebih parahnya lagi... ada aturan tambahan. Mereka harus selalu bersama, mulai dari latihan bareng, ngerjain tugas bareng, bahkan pulang pergi bareng. Pokoknya 24/7.
Awalnya terjadi keributan yang cukup besar. Tapi lama-lama, mereka mulai terbiasa. Bahkan tanpa sadar… mereka selalu menempel.
Dan masalahnya cuma satu, bagaimana kalau "benci" itu pelan-pelan berubah jadi sesuatu yang jauh lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairylee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 — Keputusan Gila Dari Pelatih
Lapangan pagi itu terasa lebih panas dari biasanya, bukan karena matahari—tapi karena keputusan pelatih baru, Arwin, yang masih jadi bahan gosip seluruh tim.
Rakha berdiri di sisi kiri lapangan, memeriksa ulang tali sepatunya walau sebenarnya sudah rapat. Ia mencoba menenangkan diri, meski bayangan Keenan sebagai partnernya membuat rahangnya kembali mengeras.
Di sisi lain, Keenan duduk di atas bola, mengayun-ayunkan kakinya sambil memainkan peluit kecil yang entah dia ambil dari mana.
Beberapa pemain lain berbisik-bisik.
"Gila ya, Coach bikin mereka jadi duo inti…"
"Itu ide paling ekstrem tahun ini."
"Ini kayak eksperimen berbahaya."
Peluit pelatih Arwin terdengar keras. Semua langsung berkumpul.
"Baik!" Pelatih menatap seluruh tim. "Mulai hari ini, kita NAIK LEVEL."
Beberapa pemain menegang.
Pelatih menatap Rakha dan Keenan secara khusus.
"Kalian berdua sudah menjadi duo inti. Tapi itu belum cukup. Mulai sekarang… kalian harus mengikuti SISTEM BARU."
Keenan langsung berdiri. "Wah, sistem baru? Apa Coach mau bikin kita latihan sambil tutup mata?"
Pelatih mengabaikannya.
"Sistem baru ini saya buat supaya duo inti kita tidak cuma kuat di teknik, tapi juga kuat di fokus, hubungan, dan kepercayaan."
Rakha mengangguk serius.
Keenan cuma mengangkat alis, seolah bertanya dalam hati 'apa lagi nih?'
Pelatih mengangkat papan tulis kecil dan menuliskan besar-besar: SISTEM DUO 24/7
Satu tim langsung ribut.
"Dua puluh empat per tujuh?? Serius, Coach?!"
"Mereka tidur bareng?!"
"Jangan lebay lah!"
Pelatih mengibaskan tangan.
"Tenang. Bukan 24 jam beneran. Tapi… hampir."
Ia menatap duo itu tajam.
"Artinya mulai hari ini, Rakha dan Keenan harus..."
1. Masuk latihan bersama. Keluar latihan bersama.
"Kalau satu telat... DUA DUANYA dihukum."
Rakha terbelalak. "Coach… itu kejam, yang selalu terlambat itu dia. Kenapa saya juga harus kena hukum?"
Keenan terkekeh sinis, memotong protes Rakha. "Santai aja, Kapten. Tugas lu kan emang menata gue. Anggap aja ini latihan kesabaran buat lu."
Rakha mendecak keras. "Itu nggak adil banget!"
Pelatih melanjutkan tanpa peduli.
2. Semua latihan teknik dilakukan berpasangan.
Dribble bareng. Passing bareng. Latihan fisik bareng.
"Kalau satu jatuh,'' kata pelatih, ''yang lain bantu. Wajib.''
Keenan menunjuk Rakha dengan ujung jarinya.
''Coach, Kapten ini jatuhnya mungkin cuma sebulan sekali, tapi kalau saya—''
Rakha memotong dingin. ''Lu itu jatuh tiap lima menit.''
''Eh!'' protes Keenan, tapi dia segera menarik tangannya, tidak bisa membantah. Sial. Kapten memang kejam dan selalu benar.
3. Kalian harus menyusun strategi permainan BERDUA.
Tidak boleh terpisah. Tidak boleh beda pendapat tanpa solusi.
Pelatih menambahkan, "Jadi mulai hari ini… kalau kalian berdua ribut, saya anggap gagal."
Semua pemain bersiul menggoda.
Keenan bergumam, "Berarti kita bakalan gagal tiap detik…"
Rakha mendecak, tapi wajahnya sedikit memerah.
Pelatih Arwin menutup papan tulis.
"Saya tahu keputusan ini keliatan gila. Tapi kalau duo inti kita bisa bekerja sebagai satu tubuh… tim ini bisa tembus nasional."
Semua pemain terdiam.
Kata nasional membuat dada setiap orang terasa hangat.
Rakha menatap pelatih dengan penuh tekad.
Keenan pun, walau santai, tatapannya menjadi lebih serius.
"Coach," Keenan mengangkat tangan sedikit, "kalau sistem baru ini gagal… apa yang terjadi?"
Pelatih tersenyum tipis.
"Maka saya bubarkan duo kalian."
Keenan hampir lega.
"Tapi," lanjut pelatih cepat, "kalian berdua juga saya kunci di bangku cadangan sampai akhir musim. Atau, bisa jadi saya langsung keluarkan saja bila hubungan kalian semakin parah."
Rakha dan Keenan menegang bersamaan.
Itu ancaman yang sangat nyata.
Pelatih meniup peluit.
"Rakha dan Keenan. Hari ini kalian mulai dengan latihan sinkronisasi. Kalau kalian bertahan seminggu saja… itu sebuah keajaiban."
Keenan berbisik pelan ke Rakha. "Kayaknya Coach bener-bener mau ngebunuh gue."
Rakha menjawab datar, tanpa menoleh. "Kalau lu sering telat…" Ia membiarkan hening sebentar, suaranya tenang, tapi fatal. "... gue pastiin hari lu bakal lebih buruk dari hukuman Coach."
Keenan langsung menutup mulut, mempertimbangkan nasibnya di tangan Kapten.
Keheningan yang mencekam setelah ancaman Rakha pecah oleh suara peluit Pelatih Arwin.
"Sinkronisasi! Kita mulai dengan yang paling dasar," kata Pelatih. "Mirror Drill. Kalian berdua berdiri berhadapan. Keenan, kamu yang memimpin. Rakha, kamu cerminnya."
Keenan menyeringai puas. Ide jahilnya keluar, ini adalah kesempatan emas untuk menyiksa Rakha tanpa melanggar aturan.
"Tapi ada aturannya,'' lanjut Pelatih Arwin, menunjuk dua bola basket. "Kalian berdua melakukan dribbling secara bersamaan. Jika bola Rakha hilang karena gerakan Keenan terlalu cepat atau rumit, Keenan mengulang gerakan dari awal. Kalau bola Keenan hilang karena terlalu lambat, Rakha yang mengulang.''
Keenan yang tadinya menyeringai, kini langsung cemberut. ''Fair play macam apa ini?''
"Ini namanya keadilan, bukan fair play,'' balas Pelatih datar. ''Ambil posisi.''
Rakha tidak banyak bicara. Ia mengambil bola, berdiri tegak di depan Keenan dengan jarak hanya satu meter. Tatapannya fokus, menanti gerakan lawan, seperti predator yang menunggu mangsanya.
Keenan mendesah, tapi kemudian senyum jahilnya kembali.
''Oke, Kapten. Mari kita berdansa,'' ujarnya.
Babak Pertama.
Keenan memulai. Bola di tangannya mulai berdetak pelan, diayun ke kanan, lalu ke kiri. Rakha meniru. Tepat. Sinkron.
Keenan mulai meningkatkan tempo. Ia melakukan crossover cepat, bola melompat dari tangan kanan ke kiri. Rakha mengikutinya tanpa cela.
Tiba-tiba, Keenan melakukan gerakan cepat yang rumit, bola dibawa memutar ke belakang punggung (behind the back), berhenti di tangan kiri, lalu dipantulkan melingkari kaki kanan (in-and-out dribble). Gerakannya mulus dan provokatif.
BUM! BUM! BUM!
Tepat di gerakan in-and-out, bola di tangan Rakha sempat bergoyang, tapi berhasil ia tangkap kembali. Keenan gagal membuat Rakha kehilangan bola, tapi berhasil memaksanya bereaksi maksimal.
''Wuih, hampir Kapten,'' Keenan terkekeh.
''Lanjut,'' Rakha hanya menjawab singkat, tanpa emosi, meski napasnya sedikit memberat.
Keenan kesal. Ia tahu ia harus membuat Rakha salah, agar ego provokasinya puas.
Babak Kedua.
Keenan beralih ke gerakan kacau. Ia menggabungkan pantulan tinggi, rendah, cepat, dan lambat. Semua dilakukan tanpa ritme yang jelas.
CLAK!
Keenan sengaja membiarkan bolanya melayang terlalu jauh ke depan, mengira Rakha akan kesulitan menyesuaikan kecepatan yang anarkis itu. Namun, justru bola di tangannya sendiri yang terpantul terlalu keras dan out of control.
Bola Keenan jatuh dan menggelinding pelan ke kaki Pelatih.
Wajah Keenan langsung memerah. Ia gagal, bukan karena skill Rakha, tapi karena kesombongannya.
Pelatih Arwin mengambil bola itu dengan ujung sepatu.
''Gagal,'' ucapnya datar. ''Keenan, kamu memulai gerakan dengan terlalu emosional. Rakha, kamu gagal memperlambat respon. Ulangi lagi dari awal.''
Keenan mendengus kesal. Rakha, yang berdiri tegap tanpa cela, menatap Keenan dengan tatapan 'Sudah kubilang kan.'
Ini baru hari pertama, pikir Rakha. Apalagi seminggu ke depan, pasti akan terasa seperti neraka.
Dan mereka harus selalu melakukannya bersama, sampai mereka benar-benar sinkron. Sebuah kemungkinan yang rasanya sangat mustahil untuk saat ini.
kayanya bakal keren, aku tunggu sampai chapter 20 baru kebut baca 🤭