NovelToon NovelToon
PERJUANGAN MENGGAPAI CITA-CITA

PERJUANGAN MENGGAPAI CITA-CITA

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Menjadi Pengusaha
Popularitas:91
Nilai: 5
Nama Author: Lilis Suryaningsih

Lilis adalah seorang gadis desa yang tingal bersama kedua orangtuanya dengan kehidupan yang sederhana.
Tekatnya sangat kuat untuk berhasil menghargai cita-cita menjadi seorang dokter gigi.
Banyak perjuangan yang dilakukan dan perlu kesabaran ekstra ketika di sekolah selalu dibully sama temannya.
Akhirnya dengan
Kedua orangtuanyalah yang selalu menghiburnya.
Lilis mencoba melupakan kejadian-kejadian yang membuat lilis trauma, seperti teman-teman sekelasnya sering membully lilis pada saat di sekolah dan lainnya. Dengan terus semangat belajar.
Akhirnya dengan kegigihannya Lilis berhasil masuk di sekolah sma Negeri ternama.
Tapi cobaan lagi-lagi menghampirinya.
Lilis sudah tidak punya siapa-siapa lagi.
Lilis hampir putus asa. Tapi hidup terus berjalan. Lilis harus tetap melangkah. Dia berangkat ke kota menuju tempat sekolahnya.
Berbekal tabungan yang dia kumpulkan ketika berjualan dan kerja paruh waktu selama sekolah SMP.
Lilis didesa tidak punya kendaraan di rumah dan rumahnya jauh dari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilis Suryaningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SUDAH SEMINGGU IBUKU SAKIT

Tok tok tok. Lilis mengetuk pintu rumahnya dengan tergesa.

"Bu dokter. Tolong ibu saya, Bu" Katanya dengan cepat, tepat saat seorang perempuan muda membukakan pintu.

"Ibu kamu kenapa? " Tanyanya dengan pelan.

"Ibu tidak bangun-bangun dan tubuhnya panas. " Kata Lilis.

"Iya, tunggu sebentar. "

Bu Dokter itu masuk lagi ke dalam rumah mengambil jilbab dan peralatan medis.

"Kata Bu dokter.

" Ayo" Mari.

Setengah berlari mereka menuju rumah Lilis. Satu orang ibu-ibu yang sedang membersihkan halaman melihat dengan kebingungan. Tapi mereka tidak sempat bertanya karena Lilis dan Bu Dokter tergesa.

Sampai di rumah Lilis, Bu Dokter lalu memeriksa ibu yati yang belum bangun juga. Tubuhnya masih mengigil. " Bagaimana Bu dokter, "Kata Lilis"

"Ibu kamu juga demam biasa. Mungkin karena kelelahan. Ini ada obat. Nanti diminum kan ya. " Kata Bu dokter tersenyum tepat saat ibu membuka mata.

"Lilis" Ibu yati memanggil.

"Iya, buk." Lilis langsung mendekat dan mengecam tangannya.  "Ibu minum obat dulu ya, ini ada bu dokter.  " Kata Lilis"

Ibu yati mengangguk lemah.

" kalau begitu, Saya permisi dulu,Lilis, kata bu Dokter "

" terima kasih bu dokter. "

Kemudian Lilis memberikan uang tebus obat.

Kemudian Lilis mengambilkan nasi dan lauk yang dari tadi sudah disiapkan.

ibu mencoba bangkit,duduk disandaran ranjang yang sudah rusak, Ibu yati makan dengan pelan sambil di suapi sama lilis, setelah selesai makan, Lilis meminumkan obat itu pada ibunya.

"Buk, Lilis izin libur sekolah dulu ya untuk menjaga ibu. Lilis takut ibu kenapa-napa kalau sendirian di rumah. "

Ibu menyelenggarakan. " Tidak Nak, kamu sekolah saja. Nanti kamu ketinggalan pelajaran "kata ibu yati"

"Bersiaplah sekolah, nanti kamu terlambat" Senyum menghiasi wajah pucatnya. Dengan ragu lilis pun berganti seragam dan mulai bersikap berangkat.

"Aku sekolah dulu, Buk" Sambil mencium punggung tangannya.

"Iya, Hati-hati di jalan ya. Belajar yang benar biar kamu jadi orang sukses" Kata Ibuk.

Lilis sampai di sekolah tepat jam setengah tujuh. Kurang lima belas menit lagi pak satpam mau menutup pintu gerbang. Untung tidak terlambat bisa-bisa kena hukuman.

Baru saja masuk kelas sudah disambut sama Lina.  "Tumben kamu tidak jualan. Kenapa? " Kata Lina".

Semua kelas pun tertawa kepada Lilis.

Tertawanya pun berhenti ketika ada Bapak guru pengajar  sudah berada di ruangan.

Semua siswa duduk rapi di kursinya masing-masing.

Guru IPA bernama pak heru itu tampak menyeramkan. Selain tebal yang menghiasinya wajahnya juga suara berat penuh ketegasan yang membuat para siswa berpikir dia kali mau bercanda saat pelajarannya berlangsung.

"Kumpulkan PR kalian kata pak heru.

" Aduh mati aku. Aku lupa mengerjakannya " Lina menepuk pelan namanya.

Pak Heru melihat Lina dari balik kacamatanya. Lina kata pak heru.

Iya Pak" Kata Lina.

Kamu belum mengumpulkan PR Kata pak heru.

Dan akhirnya Linda mendapat hukuman dari pak heru. Selain PRnya di tambah menjadi di tiga kali lipat, dia juga dikeluarkan dari kelas.

" Makanya belajar, jangan berdandan aja kerjaannya.  Lelyta sambil tersenyum. Mengejek kepada Linda yang cemberut.

Dia buru-buru keluar kelas dengan menahan malu dari kejadian yang ada di kelasnya.

Lilis hanya menepuk lengan Lina dan  Lelyta sambil menahan tawa."

Sudah dua minggu ibu yati sakit. Lilis benar-benar khawatir. Tidak pernah ibunya sakit selama ini. Obat dari bu Dokter pun sudah habis.

Bahkan Lilis menebusnya lagi dengan uang hasil jualan gorengan.

Lilis bisa membuatnya sendiri dan dijual di sekolah.  Beras memang tidak membeli karena hasil sawah cukup untuk makan 1 tahun sampai masa panen berikutnya.

Sedangkan sayur tinggal memetik di kebun belakang rumah yang ditanam ibunya.

Dan untuk lauk, Lilis tinggal mengambil yang ada dirumah juga.

"Lilis, kok ibu kamu tidak jualan kue lagi" Kata Bu RT, ketika Lilis sedang menyapu di halaman rumah.

"Ibu sakit, Bu" Kata Lilis "

Bu RT kaget dan langsung minta izin menjenguk ibu yati. Lilis mengiyakan dan mengantarkannya ke kamar ibunya.

"Mbak sakit apa? " Kata Bu RT"

Sambil menyentuh tangan ibu yati.

"Demam biasa saja, Bu. Nanti juga sembuh" Ibu tersenyum.

"Cepat sembuh mbak yati, biar bisa jualan lagi. Saya kangen kue panas-panas buatan mbak yati" Kata Bu RT.

Ibu Tersenyum dengan sedih. Matanya berbinar seperti ada yang di pikirkan. Tanpa sadar matanya berkaca-kaca. Lilis yang melihatnya jadi sedih.   "Kan ada mbah sunti yang jualan kue" Kata ibu dengan senyum.

"Tapi saya lebih suka kue buatan mbak yati

Kata Bu RT Sulastri.

" Saya takut jualan kue lagi, Bu RT " Ibu yati menghela nafas. Kata ibu yati"

"Kenapa mba tidak mau jualan lagi"

"Kata Bu RT.

" Saya takut Bu, para warga jijik dan tidak ada yang mau beli kue saya gara-gara saya di bilang penglaris. Padahal demi Allah, saya tidak pernah seperti itu. Terlintas dalam pikiranpun tidak pernah "ibu yati menangis. Air matapun berlomba-lomba membasahi pipinya.

"Kata Ibu Yati"

Bu Rt percaya. Dia pun percaya bahwa ibu yati tidak mungkin seperti itu. Tapi para warga terlanjur termakan omongan mbah sunti. Dan dia meluruskan kesalahpahaman yang terjadi.

Hati Lilis Sakit mendengar ucapan ibunya, 'kenapa kami orang miskin selalu dihina dan bahkan di fitnah. Apakah kami sebagai orang miskin tidak berhak bahagia. "Kata Lilis"

Tiba-tiba air matanya Lilis Terjatuh membasahi pipi.

Mbak Yati,yang sabar ya. Nanti saya minta mbah sunti untuk minta maaf kepada mba yati dan membersihkan nama mba yati dari fitnah itu" Kata Bu Rt Sulastri.

Ibu yati mengangguk walau dia tidak yakin kalau mbah sunti mau melakukannya. Lilis lalu memeluk ibunya. Memberinya kekuatan. Ternyata beban pikiran seperti ini yang menyakiti ibu. Sehingga berdampak pada penyakitnya yang tidak kunjung sembuh. Trauma ibu begitu mendalam

Bel sekolah berbunyi  nyaring. Dengan Langkah tergesa Lilis menuju ke parkiran. Dia ingin sekali cepat pukang. Lelyta mengejar Lilis sampai berhasil.

"Lis, ada apa? Kok tergesa banget" Kata Lelyta sambil mengambil nafas.

Tanpa berhenti Lilis menoleh. "Ibukku sakit, sudah dua minggu. Aku harus cepat sampai rumah, takut ibuku terjadi kenapa-napa. " Jelasnya singkat sambil berjalan dengan cepat.

"Sore ini aku mau main ke rumahmu ya. "

"Kata Lelyta."

Lilis lalu berhenti. " Kamu mau datang ke rumahku? "  Rumahku tidak sebagus dengan rumahmu? " Tanyanya dengan merendah. Lilis sadar, rumah papan tempat tinggalnya lebih tepat di sebut gubuk, karena jauh berbeda dengan rumah tetangga di sekitarnya yang nampak bagus dan kuat. Bahkan banyak memiliki rumah mewah seperti rumah Lina.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!