cerita kehidupan sehari-hari (slice of life) yang menyentuh hati, tentang bagaimana tiga sahabat dengan karakter berbeda saling mendukung satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
genit
Tanpa memberi tahu Rohita dan Dewi tentang rencananya, Devi langsung berlari menjauh dari tempat mereka berdiri, menuju jalan raya yang cukup ramai di depan kost. Rohita terkejut dan segera mengejarnya. “Devi, kamu mau kemana?! Jangan pergi sembarangan!” serunya dengan suara khawatir. Namun Devi tidak memperdulikan nya dan terus berlari hingga sampai di pinggir jalan.
Saat melihat sebuah mobil berwarna merah yang sedang melaju dengan kecepatan sedang mendekatinya, Devi dengan cepat berlari ke tengah jalan dan kemudian menjatuhkan diri dengan sengaja di dekat bagian depan mobil. Mobil tersebut langsung mengerem dengan keras, membuat suara yang cukup keras dan menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Rohita dan Dewi yang baru saja sampai di dekatnya langsung terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa, wajah mereka memucat karena ketakutan.
Pengemudi mobil, seorang pria muda dengan rambut pendek dan mengenakan kemeja putih, segera turun dari mobilnya dengan wajah penuh kemarahan dan khawatir. Dia mendekati Devi yang masih terlentang di jalan, lalu menekuk badan dan bertanya dengan nada cemas, “Permisi, kamu tidak apa-apa kan? Saya tidak sengaja ya, saya sudah mengerem sebisa mungkin!” Namun saat dia hendak membantu Devi bangun, Devi langsung berdiri dengan cepat dan menatapnya dengan wajah yang cukup menyuruh dan tangan yang mengepal erat.
“Kamu mengendarai mobilnya dengan sembarangan kan?! Kamu hampir menabrak saya lho!” seru Devi dengan suara yang cukup tinggi, membuat pria itu sedikit terkejut dan mundur satu langkah. Rohita segera mendekati mereka dan ingin menjelaskan bahwa itu hanya kesalahpahaman, namun Devi menepuk tangannya dengan keras dan menoleh ke arahnya dengan tatapan yang menyuruh dia diam.
Pria itu segera menggeleng-geleng kepala dan mengangkat kedua tangan sebagai tanda tidak bersalah. “Maaf sekali ya, mbak. Saya benar-benar tidak sengaja. Mungkin saya terlalu tergesa-gesa. Mau saya antar ke rumah sakit tidak? Biarkan saya tanggung biayanya jika ada yang tidak enak dengan badan kamu,” ucapnya dengan nada sungguh-sungguh, wajahnya masih penuh dengan khawatir.
Namun Devi tidak menerima tawarannya dan malah semakin mengancam. “Rumah sakit tidak usah! Tapi kamu harus bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan! Kalau tidak, saya akan melapor ke polisi dan bilang kamu menabrak saya lalu ingin kabur!” ucapnya dengan nada yang cukup menakutkan, bahkan dia mulai mengoceh hal-hal yang tidak benar tentang bagaimana pria itu mengendarai mobilnya dengan sembarangan.
Rohita yang tidak tahan lagi akhirnya menarik lengan Devi dan membisikkan suara, “Devi, kamu apa sih?! Berhenti dong! Ini bukan cara yang benar!” Namun Devi hanya mengangkat bahu dan terus menghadapi pria itu. Dewi yang berdiri di belakang mereka hanya bisa menunduk dan menggenggam tangan Rohita dengan kuat, wajahnya masih penuh dengan ketakutan dan rasa malu.
Pria itu menghela napas dalam-dalam dan melihat ke sekeliling, merasa bahwa banyak orang sudah mulai melihat mereka. Dia tidak ingin masalah ini menjadi lebih besar dari yang seharusnya. “Baiklah mbak, mau saya lakukan apa saja agar kamu tidak melapor? Saya sungguh tidak sengaja,” ucapnya dengan nada yang sudah mulai lelah. Saat itu juga Devi menunjukkan senyum kecil di sudut bibirnya, karena dia tahu bahwa rencananya sudah mulai berhasil.
Setelah melihat ekspresi pria itu yang sudah mulai menyerah, Devi langsung mengubah wajahnya dari ekspresi marah menjadi ceria seperti biasanya. Dia bahkan mulai berjalan dengan gaya yang sedikit genit mendekati pria itu, lalu menepuk bahunya dengan lembut. “Tenang aja mas, saya tidak akan melapor kok… asal kamu mau membantu kami sedikit,” ucapnya dengan suara yang manis dan penuh dengan senyum lebar.
Pria itu sedikit terkejut dengan perubahan sikap Devi yang tiba-tiba, namun dia tetap mengangguk dengan cepat. “Tentu saja mbak, apa yang bisa saya bantu?” tanyanya dengan nada yang lebih lega. Devi lalu menunjuk ke arah Rohita dan Dewi yang masih berdiri dengan wajah bingung di kejauhan, kemudian kembali menghadap pria itu.
“Kita mau pergi ke pantai tapi motor kita mogok dan kita tidak punya uang untuk membeli bensin. Jadi, bisa tidak sih kita minta tumpangan sama mas ke pantai? Saya, Kak Rohita, dan Kak Dewi juga mau ikut lho,” ucapnya dengan nada yang penuh harapan, bahkan dia mulai menarik lengan pria itu dengan lembut dan menunjukkan wajah yang manis.
Pria itu melihat ke arah Rohita dan Dewi yang sedang mengangguk perlahan sebagai tanda persetujuan, meskipun wajah Rohita masih menunjukkan ekspresi tidak senang dengan cara Devi mendapatkan tumpangan ini. Setelah berpikir sebentar, pria itu mengangguk dan tersenyum lembut. “Tentu saja bisa mbak. Silakan saja masuk ke dalam mobil. Pantai kan tempat yang menyenangkan, saya juga sedang ingin pergi ke sana untuk bersantai,” ucapnya dengan nada ramah.
Devi langsung berteriak kegembiraan dan berlari ke arah Rohita dan Dewi untuk memberitahu kabar baiknya. “Kak Rohita, Kak Dewi! Dia mau kasih tumpangan kita ke pantai lho!” serunya dengan suara tinggi, membuat beberapa orang di sekitarnya melihat ke arah mereka. Rohita hanya menghela napas dan mengangguk, meskipun dia masih merasa tidak nyaman dengan cara Devi mendapatkan bantuan tersebut. “Baiklah, tapi nanti kamu harus minta maaf yang benar-benar ya Devi,” katanya dengan nada tegas.
Dewi hanya mengangguk dan mulai berjalan menuju mobil dengan langkah yang pelan, wajahnya masih sedikit merah karena rasa malu. Mereka masuk ke dalam mobil, Devi duduk di depan bersama pria itu, sedangkan Rohita dan Dewi duduk di belakang. Devi langsung mulai bertanya nama pria itu dan berbagai hal tentang dia. “Nama saya devan bak, dan saya bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan kecil di sekitar sini,” ucap pria itu dengan senyum lembut sambil memulai mesin mobilnya.
Setelah mobil mulai melaju menuju arah pantai, Devi tidak berhenti sejenak untuk menggoda devan. Dia seringkali menoleh ke arahnya dengan tatapan yang penuh makna, bahkan terkadang menyentuh lengan devan dengan lembut saat dia sedang mengemudi. “Mas devan benar-benar baik hati ya, bisa mau menolong kami yang tidak dikenal,” ucapnya dengan suara yang lembut dan manis, membuat devan sedikit tersipu dan menggeleng-geleng kepala.
“Hehe, tidak apa-apa mbak Devi. Bantu orang lain itu baik saja,” jawab devan dengan sedikit terkesima, fokus tetap pada jalan di depannya. Namun Devi tidak berhenti di situ. Dia mulai bercerita tentang hal-hal sepele dengan nada yang penuh ekspresi, terkadang tertawa dengan suara yang ceria dan mengocok bahu devan secara tidak sengaja.
“Mas devan pacaran belum ya? Kalau belum, saya tahu dong ada banyak cewek yang suka sama mas,” ucap Devi dengan senyum licik, membuat devan semakin tidak nyaman dan wajahnya menjadi kemerahan. Rohita yang duduk di belakang melihatnya dan langsung menarik lengan Devi dengan kuat. “Devi, cukup aja ya! Jangan menggoda mas devan seperti itu,” serunya dengan nada tegas. Namun Devi hanya mengangkat bahu dan melanjutkan tingkahnya.
Saat mobil berhenti di lampu merah, Devi bahkan mengambil botol air minum di dasbor mobil dan menawarkan kepada devan dengan cara yang cukup menggoda. “Minum dulu mas devan, kan capek mengemudi,” ucapnya sambil menghadapkan botol ke arah bibir devan. devan terpaksa menerima dengan tergesa-gesa dan meneguk sedikit airnya. “Terima kasih mbak,” katanya dengan suara pelan.
Dewi yang duduk di sebelah Rohita hanya menunduk dan mengerucutkan bibir, merasa sedikit tidak nyaman dengan tingkah Devi. Kadang dia akan melihat ke luar jendela atau menarik selimut yang dibawanya dengan kuat. Rohita juga merasa tidak nyaman dan mulai mencoba mengubah pembicaraan ke topik lain. “Mas devan sering pergi ke pantai ya?” tanyanya dengan nada ramah.
devan mengangguk dan mulai bercerita tentang pantai yang akan mereka tuju, seperti bagaimana keindahan pasir dan ombaknya yang tenang. Namun sebelum dia bisa menyelesaikan ceritanya, Devi kembali menyela dan mulai bercerita tentang pengalaman dirinya yang pernah bermain di pantai, bahkan menambahkan cerita-cerita yang dibuat-buat hanya untuk menarik perhatian devan. “Saya tidak bisa berenang dengan sangat baik lho mas, nanti ajarin mas ya!” ucapnya dengan senyum lebar.
Selama perjalanan yang tidak terlalu lama itu, Devi terus menggoda devan dengan berbagai cara. Dia terkadang menyanyi lagu cinta dengan suara yang lembut sambil menatap devan, atau bertanya tentang jenis cewek yang dia sukai dengan nada yang penuh rasa ingin tahu. devan hanya bisa menjawab dengan singkat dan tetap fokus mengemudi, meskipun jelas terlihat bahwa dia sedikit terganggu namun tidak keberatan. Saat akhirnya mereka melihat hamparan pasir pantai di kejauhan, Devi langsung berteriak kegembiraan dan mengganggu devan dengan menarik lengannya. “Wah, sudah sampai juga ya mas! Cepat dong kita turun!” serunya dengan penuh semangat.