NovelToon NovelToon
Aku Dan Dia Yang Suka Ngehalu

Aku Dan Dia Yang Suka Ngehalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:397
Nilai: 5
Nama Author: Di Persingkat Saja DPS

Mengisahkan tentang kisah kehidupan dari seorang pemuda biasa yang hidupnya lurus-lurus saja yang secara tidak sengaja bertemu dengan seorang perempuan cantik yang sekonyong-konyong mengigit lehernya kemudian mengaku sebagai vampir.
Sejak pertemuan pertama itu si pemuda menjadi terlibat dalam kehidupan si perempuan yang mana si perempuan ini memiliki penyakit yang membuat nya suka ngehalu.
Dapatkah si pemuda bertahan dari omong kosong di Perempuan yang tidak masuk akal itu?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Di Persingkat Saja DPS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Halu tingkat tinggi

Akhirnya setelah berjalan cukup lama aku menemukan sebuah toko yang masih buka tapi hampir saja tutup.

 Aku membeli beberapa mie instan, beras dan beberapa hal lainnya yang ada di sana.

 Singkat cerita setelah belanja aku pun pulang dan... Si Ketua Kelas masih saja mengikutiku bahkan hingga sampai ke rumah.

 Karena ini sudah keterlaluan aku pun bicara. "Nona, apa yang anda mau sebenarnya hingga mengikutiku ke rumah seperti ini?!".

 Dengan penuh kelembutan aku bertanya meksipun di dalam hati aku sangat kesal dan jengkel karena di ikuti sedari tadi.

 "Itu... Aku cuma mau bilang...!" Ia terlihat malu dan ragu-ragu mengatakannya.

 "Biasanya aku selalu minum darah dalam kemasan jadi tidak ada yang tahu kalau aku vampir kecuali orang tuaku!" Aku makin bingung di sini.

 "Darah dalam kemasan?... Seumur-umur aku hidup belum pernah denger ada darah dalam kemasan, itu terdengar seperti kamu minum minuman dalam kemasan saja!".

 "Ya, mana aku tahu. Semua itu selalu di siapkan oleh orangtuaku selama ini jadi bahkan rasanya darah segar aku tidak pernah tahu!".

 Aku pun bertanya. "Lalu darah dalam kemasan yang kamu sebutkan itu bagaimana rasanya!?".

 "Itu... Sepertinya agak asam seperti strawberry!" Yah, fiks ini orang sakit jiwa.

 'So soan jadi vampir padahal rasa darah saja tidak tahu... Bahkan aku ragu cewek ini pernah lihat darah.'

 'Mungkin di matanya selama bentuknya cair dan merah maka itu darah.'

 "Haahh... Jadi apa yang ingin kamu katakan dengan mengatakan semua ini?".

 Ia pun menjawab dengan jawaban yang tidak pernah aku sangka-sangka.

 "Sebenarnya aku tadi merasa kalau darah kamu tidak enak jadi... Jadi aku menduga kalau kamu punya penyakit yang membuat darah kamu tidak enak, rasanya amis dan berbau seperti besi!" Aku makin tak habis pikir dengan orang ini.

 Dan itu semua terlihat jelas di wajahku.

 Aku ingin mengumpat tapi aku tidak bisa berkata-kata pada saat ini.

 "Tapi meksipun tidak enak tapi kamu tadi telah menolong aku, jadi aku akan membantu kamu sebagai balas budi dariku!" Lagi dan lagi aku di buat terdiam olehnya.

 "Jadi ayo kita pergi ke dokter dan lakukan tes kesehatan darah dan kalau ada masalah biar aku yang akan tanggung biayanya...!" Muak dengan omong kosong yang tidak masuk akal ini aku langsung baik badan dan masuk.

 Pintu aku tutup rapat-rapat dengan si Ketua Kelas yang masih diam di sana.

 "Eh!?..." Ia tampak terkejut karena aku abaikan tadi.

 Entah apa yang dia lakukan setelah itu tapi aku langsung pergi memasak untuk mengisi kembali tenaga.

 Tapi kemudian tiba-tiba saja hujan turun dengan sangat derasnya.

 "... Apa si Ketua Kelas sudah pulang ya?..." Sebenarnya aku tidak mau peduli tapi kalau di pikir-pikir kasihan juga kalau dia pulang hujan-hujanan.

 Aku pun melihat keluar mana tahu dia masih di sana... "Dia beneran masih diam di sana dong!" Si Ketua Kelas benar-benar tak bergerak dari tempatnya berdiri.

 Aku langsung keluar dan menariknya masuk ke dalam rumah kemudian berkata. 'Kamu ini adalah masalah apa sebenarnya? Kenapa malah berdiri diam di sana dan tidak pulang?!".

 "Yah... Sebenarnya aku agak lupa jalan pulang karena baru kali ini aku blusukan ke tempat-tempat seperti ini!" Ia bicara sambil tertawa kering.

 Haahh... Sudah terbiasa sekali aku kehabisan kata-kata untuk orang sakit jiwa ini.

 Pada akhirnya aku terpaksa menggeledah lemari nenekku untuk mencari apa ada baju yang bisa dia pakai untuk malam ini.

 Untungnya aku menemukan satu set pakaian yang terbilang sangat cocok untuk anak muda meksipun sudah agak tua.

 Segera aku memberikannya pada si Ketua Kelas. "Ambil baju ini dan pergi mandi... !" Namun ia hanya diam di tempat.

 Ketika itu aku berpikir... 'Jangan bilang anak orang kaya ini gak pernah mandi sendiri jadi gak bisa mandi.'

 "Um... Makasih, aku akan membalas budi ini berkali-kali lipat nanti!" Setelah itu dia pun pergi untuk mandi.

 Aku sendiri langsung pergi ke dapur untuk lanjut masak dan kali ini porsi makannya tentu saja bertambah untuk satu orang.

 Waktu itu aku sempat berpikir. "Eh... Apa anak orang kaya ini terbiasa makan mie instan enggak ya?...".

 Tak mau banyak mikir aku masak saja dua-duanya dan masa bodo dia mau makan atau tidak.

 Beberapa saat kemudian kami pun makan di meja yang mana seperti yang aku pikirkan tentang si Ketua Kelas yang tidak terbiasa dengan mie instan.

 Ia terlihat kebingungan pada saat ini.

 "... Ini apa? Kok mirip spaghetti tapi kayak beda sekali!" Dia malah mengangkat mie itu untuk di amati dan bukanya di makan.

 "Itu namanya Mie instan dan itu adalah makanan murahan jadi jangan samakan dengan spaghetti atau apalah yang sering kamu makan itu!" Aku pun makan duluan.

 Si Ketua Kelas terlihat memperhatikan aku makan baru kemudian ia mengikuti aku makan.

 Singkat cerita setelah makan aku membereskan lagi kamar nenekku untuk di tempati si Ketua Kelas malam ini.

 Untungnya ia tidak protes tentang kamarnya yang sederhana jadi itu sangat membantu.

 Kami pun tidur dan karena semalam aku tidur terlalu larut dan kecapean menghadapi omong kosong gak masuk akal si Ketua Kelas aku hampir saja kesiangan.

 "Hah!? Aku kesiangan!" Buru-buru aku mengambil wudhu mumpung masih ada cukup waktu bagiku menunaikan shalat subuh.

 Beberapa menit kemudian matahari terbit yang mana pada waktu itu aku sempat berolahraga pagi karena ini hari Minggu juga jadi tidak perlu ke sekolah.

 Jam tujuh pagi aku selesai dan balik lagi ke rumah yang mana ketika itu aku melihat si Ketua Kelas sedang berdiri di depan pintu menungguku.

 "Kamu sudah pulang!" Ia berbicara padaku sambil tersenyum...

 Jujur senyumannya itu memang sangat manis hingga bisa membuat banyak laki-laki terpana olehnya.

 "Ayo segera siap-siap, aku akan mengantarkan kamu untuk pulang!" Aku mendekat padanya dan kemudian masuk ke dalam.

 Si Ketua Kelas pun bertanya padaku. "Apa kamu tahu dimana rumahku?" Aku menjawab sambil menoleh.

 "Tidak. Tapi aku tahu dimana tempat usaha orang tua kamu jadi aku akan bawa kamu ke sana agar orang-orang di sana yang mengantar kamu!" Lanjut aku masuk ke dalam untuk ganti baju.

 Beberapa saat kemudian aku dan si Ketua Kelas jalan berdua menuju kantor tempat aku bekerja sebagai tukang bersih-bersih.

 'Kemarin aku lihat dia ada di kantor itu dengan si pak bos jadi aku rasa dia ada hubungannya dengan si pak bos.'

 Itulah yang aku pikirkan pada saat itu.

 Namun tiba-tiba suara langkah kaki yang ada di sampingku hilang dan itu langsung membuatku berhenti sejenak dan menoleh ke samping. "Hm?...".

 Orang yang jalan di sampingku tidak ada dan ketika aku menoleh ke belakang si Ketua Kelas malah berdiri diam di bawah bayang-bayang sebuah gedung dengan wajah yang takut.

 "Kamu kenapa lagi?" Sambil menghela nafas aku bertanya kemudian melangkah mendekatinya.

 "Aku... Aku takut sinar matahari, kalau aku terkena sinar matahari dalam waktu lama aku bisa celaka!" Wajahnya pucat seakan dia benar-benar takut.

 Sungguh aku sudah tidak bisa berkata-kata lagi menghadapi kelakuan tidak masuk akal orang ini.

 "Dengar. Kamu itu manusia jadi jangan katakan kamu akan celaka kalau terkena sinar matahari!" Aku hanya bisa mengelus-elus keningku di sini dengan wajah masam.

 "Aku tidak bohong, aku hampir saja celaka dulu ketika terlalu lama ada di bawah sinar matahari!" Sepertinya ia jujur tapi aku tetap tidak percaya.

 "Oh ya? Coba ceritakan!".

 "Dulu ketika aku masih SD aku ikut upacara dan berdiri di tempat yang tersorot matahari. Beberapa saat kemudian aku tiba-tiba pusing dan mual hingga kakiku tidak bisa lagi berdiri!".

 "Aku pingsan pada saat itu tapi untungnya aku di tolong oleh seseorang jadi aku selamat!" Kala itu aku menatapnya dengan tatapan heran.

 Apa yang aku pikirkan pada saat itu langsung aku katakan. "Dengar... Kalau begitu ceritanya ada dua kemungkinan. Pertama kamu masuk angin dan yang kedua kamu dehidrasi!".

 "Dan dia hal ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan yang namanya vampir jadi berhentilah mengatakan hal-hal tidak masuk akal!" Ketika itu si Ketua Kelas cemberut dengan pipi yang menggembung.

 "Kenapa sih kamu gak percaya ketika aku bilang kalau aku ini adalah vampir!?" Suaranya terdengar begitu kesal.

 Meskipun marah tapi sejujurnya si Ketua Kelas ini sangat lucu.

 "Ya gimana mau percaya kalau semua yang kamu katakan saja tidak masuk di akal?!".

 "Sudahlah, ikut jalan di bawah sinar matahari. Sekali-kali kamu harus terkena sinar matahari karena itu baik untuk tubuh kamu apalagi ini masih pagi!" Aku meraih tangannya kemudian menarik ke tempat yang tersorot sinar matahari.

 "Tidak!!" Ia memberontak dan panik ketika aku menariknya ke bawah sinar matahari.

 Tapi kemudian ia tiba-tiba saja jadi tenang setelah tidak merasakan apa-apa. "Eh?... Aku tidak terbakar!?..."

 "Ya jelas tidak lah. Malahan sinar matahari pagi itu bagus untuk tubuh!".

 "Sekarang berhenti mengatakan hal-hal tidak masuk akal dan kita akan pergi ke tujuan agar kamu bisa pulang!" Lanjut aku membawanya jalan yang ramai.

 Untungnya kali ini si Ketua Kelas tidak bertingkah lagi dan terus mengikuti aku dari belakang.

 Hingga ketika pertengahan jalan kemudian si Ketua Kelas kambuh lagi.

 "Tolong... Sepertinya hanya sampai di sini saja, aku sudah mulai merasa panas seakan terbakar sinar matahari dan tenagaku juga melemah!" Ia terlihat pucat penuh keringat.

 Aku yang melihat itu pun berkata. "Kamu ini benar-benar tidak pernah terkena sinar matahari ataupun berolahraga ya?!".

 "Itu hal yang normal kalau merasa penas ketika beraktivitas di bawah sinar matahari... Apalagi mungkin kamu ini punya stamina yang sangat lemah hingga jalan beberapa meter saja langsung kecapean!..."

 Ketika itu aku melihatnya begitu sengsara dan terengah-engah.

1
Naruto Uzumaki
Terima kasih telah menulis cerita yang menghibur, author.
Di Persingkat Saja DPS
Sabar ya, masih di periksa ulang
PetrolBomb – Họ sẽ tiễn bạn dưới ngọn lửa.
Loh kok belom update? Lanjutin dong thor, gak sabar nungguin kelanjutannya 😫
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!