Ivan hanyalah seorang remaja dari desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk stadion besar dan sorotan kamera. Namun, impiannya menjulang tinggi—ia ingin bermain di Eropa dan dikenal sebagai legenda sepak bola dunia.
Sayangnya, jalan itu tidak mulus. Ibunya, satu-satunya keluarga yang ia miliki, menentang keras keinginannya. Bagi sang ibu, sepak bola hanyalah mimpi kosong yang tak bisa menjamin masa depan.
Namun Ivan tak menyerah.
Diam-diam ia berlatih siang dan malam, di lapangan berdebu, di bawah hujan deras, bahkan saat dunia terlelap. Hanya rumput, bola, dan keyakinan yang menemaninya.
Sampai akhirnya, takdir mulai berpihak. Sebuah klub kecil datang menawarkan kesempatan, dan ibunya pun perlahan luluh melihat kegigihan sang anak. Dari sinilah, langkah pertama Ivan menuju mimpi besarnya dimulai...
Namun, bisakah Ivan bertahan di dunia sepak bola yang kejam, penuh tekanan dan kompetisi? Akankah mimpinya tetap menyala ketika badai cobaan datang silih berganti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR. IRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Permainan Pertama Bersama Teman
Pagi sudah tiba, cahaya matahari mulai masuk ke kamar Ivan. Dari luar kamar, terdengar suara ibu Ivan memanggilnya.
"Ivan... Bangun!!" teriak ibu dari dalam dapur.
Ivan lalu bangun secara perlahan. Dari wajahnya, sudah terlihat jelas jika dia masih mengantuk.
"Huahh" suaraku sambil mengusap mata yang masih terasa berat.
"Ivan!!" panggil ibu.
"Iya!!" sahutku dari dalam kamarku.
Aku lalu berdiri dan bergegas menghampiri ibu di dapur, aku berjalan pelan karena masih mengantuk.
"Tap... Tap... Tap..." suara langkah kakiku.
Setibanya di dapur, aku lalu duduk.
"Ada apa, bu?!" tanyaku yang masih agak mengantuk.
"Makan, terus mandi" ujar ibuku sembari mengambil piring dan nasi.
"Iya," jawabku.
Aku lalu membuka tudung saji. Makanannya seperti kemarin, hanya tempe dan telur.
"Ayam atau ikannya mana, Bu?!" tanyaku ke ibu.
"Maaf ya, Ivan. Ibu belum dapat uang, soalnya belum seminggu kerja di tempat Bu Lastri" jawab ibuku.
"Iya" jawabku pelan sembari mengambil lauk.
Aku lalu makan.
Setelah makan, aku bergegas mandi. Sehabis mandi aku lalu membereskan kamarku yang berantakan.
"Udah makan, tinggal mandi!" batinku.
Setelah itu aku lalu berjalan ke kamar mandi untuk mandi. Usai mandi aku bergegas merapikan tempat tidurku agar tidak dimarahi ibuku.
"Byur!!" suara air.
Setelah mandi, aku lalu ke kamarku untuk merapikan tempat tidur.
"Bersih-bersih kamar," gumamku sambil membersihkan kamar.
Setelah selesai membersihkan kamar, aku disuruh ibuku untuk membersihkan rumah.
"Ivan, nanti bersih-bersih rumah ya!!" ujar ibu sebelum pergi bekerja.
"Iya, Bu!!" sahutku dari dalam kamar.
Setelah itu, ibu lalu pergi bekerja sementara aku melanjutkan bersih-bersih.
"Sapu dulu aja," gumamku pelan sembari mengambil penyapu.
Aku lalu menyapu rumah, setelah selesai menyapu aku langsung mencuci piring.
"Ah... Akhirnya selesai, sekarang tinggal cuci piring," ucapku pelan sambil meletakkan sapu.
"Tap... Tap... Tap..." suara langkah kakiku berjalan ke dapur untuk mencuci piring.
Hampir satu jam bersih-bersih akhirnya aku selesai juga, aku bergegas ke kamar untuk mengambil bola.
"Selesai juga, karena nggak ada ibu aku bisa main bola dulu," batinku sambil mengambil bola dikamar.
Setelah mengambil bola, aku bergegas pergi kelapangan.
"Tap... Tap... Tap..." suara langkah kakiku.
Ivan terus berjalan, melewati pagi yang masih berkabut. Sesampainya di sana dia langsung bermain sendirian di bawah mentari pagi.
"Masih agak dingin disini," ujarku.
Aku lalu meletakkan bola, dan berlarian di sana sambil menggiring bola.
"Ah..." suaraku.
Aku menggiring bola dibawah rumput yang masih tertutup embun pagi...
"Dan... Shot!!" suaraku sambil menendang bola.
"Masih melenceng dari sasaran," ujarku.
Aku terus berlari menggiring bola, tembakan demi tembakan terus diluncurkan.
"Ting" suara bola membentur tiang gawang.
"Ah... Ah... Ah..." napasku yang terengah-engah.
Keringat mulai membasahi bajuku. Setelah hampir satu jam, tiba-tiba teman-temanku datang untuk ikut bermain.
"Tap... Tap... Tap..." suara langkah teman-temanku.
"Ivan!" panggil Azzam.
"Ivan... Kenapa nggak ngajak kita main bola?!" tanya Andika.
"Aku kira kalian masih tidur?!" ujarku sembari menggaruk kepalaku.
"Yaudah, mau main?!" tanyaku ke teman-teman.
"Mau dong" jawab mereka.
Mereka langsung berlari ke arahku dengan cepat, Azzam mengambil bolaku lalu menendangnya ke arahku.
"Nih, Ivan!!" teriak Azzam.
"Oke!!" ujarku.
Aku menerima umpan dari Azzam. Lalu berlari ke arah gawang yang dijaga Andika.
"Andika, tangkap!!" teriakku.
Aku lalu menendang bola. Bola melesat dengan cepat ke arah kiri bawah gawang Andika, namun dengan refleks yang hebat Andika langsung menjatuhkan dirinya ke arah bola.
"Cuman segini?!" ejek Andika, sambil menepuk-nepuk tangannya sendiri.
"Masih pemanasan, Dik!!" teriakku.
Andika lalu melemparkan bolanya, Azzam yang mendapatkan bola. Dia berlari sekuat tenaga ke arah gawang, sementara aku mengikuti Azzam dari belakang.
"Zam, umpan!!" teriakku.
"Oke!!" sahut Azzam.
Bola dengan cepat berbelok ke arahku, saat bola datang langsung kutendang ke arah gawang dengan sekuat tenaga.
"Dan... Shoot!!" teriakku sebelum menembak bola.
Bola melesat langsung ke gawang, bola yang awalnya lurus tiba-tiba berbelok ke arah kanan gawang.
"Hah? Kok bisa?!" batin Andika.
Andika hanya mampu melihat bola, tapi tidak bisa menangkapnya.
"Yes... Gol!!" ujarku.
Waktu terus berlalu saat aku bermain bola, matahari sudah mulai naik ke atas. Dan saat aku sedang seru bermain tiba-tiba ibu datang.
"Ah... Ah... Ah.... Zam, tembak!!" teriak Andika.
"Ivan... Pulang!!" teriak ibu dari jalan.
Aku menoleh ke sumber suara.
"Huh, Ibu?!" batinku.
"Cepet pulang!!" teriak ibu.
"Iya, Bu!!" sahutku.
"Yaudah, Van. Udah dulu mainnya," ujar Azzam sebelum pergi.
"Iya, Van. Kita pergi dulu," ujar Andika.
"Ivan... Cepet!!" teriak ibu.
Aku lalu bergegas mengambil bolaku, lalu berjalan ke ibu.
"Kenapa, Bu?!" tanyaku pelan.
"Udah dibilang, Ibu. Masih aja ngeyel main bola," ujar ibu yang marah.
Aku hanya mendengarkan omelan ibu tanpa berani menjawab, maupun menyela. Aku dan Ibu terus berjalan pulang sambil aku terus dimarahi ibu karena bermain bola.
"Gak usah main bola, Ivan!!" ujar ibu.
Aku hanya diam saat ibu memarahiku.
"Tap... Tap... Tap..." langkah kakiku dan ibu.
Setelah lama berjalan akhirnya aku dan ibu sampai di rumah. Sesampainya di rumah aku langsung disuruh ibu untuk makan siang.
"Sana makan dulu," ucap ibu.
Aku lalu menyimpan bolaku dan pergi makan siang.
Sesampainya di dapur, aku lalu duduk dan makan lauk yang sudah tersedia. Ada sayur bayam dan tempe.
"Wah, enak nih!" batinku sambil mengambil nasi.
"Ivan, setelah makan kamu pergi ke rumah ibunya Nadia ya!!" ujar ibu.
"Buat apa, Bu?!" tanyaku.
"Nanti kamu kasih uang ini ke ibunya Nadia, ini uang untuk bayar hutang ibu kemarin!" ujar ibu sambil meletakkan uang di atas meja.
"Iya," jawabku.
Aku bergegas menghabiskan makananku, setelah selesai makan aku lalu pergi ke rumah ibunya Nadia.
"Aku berangkat, Bu!!" ujarku sebelum berangkat.
"Iya," sahut ibu.
"Hmm... Cepet banget siangnya," batinku sambil terus berjalan.
"Eh, Van. Mau kemana?!" tanya Rafael yang berpapasan denganku di jalan.
"Mau ke rumahnya Nadia," jawabku.
"Yaudah," sahut Rafael.
Aku lalu lanjut berjalan ke rumah Nadia, sesampainya di sana aku langsung melihat Nadia yang sedang menyirami bunga di depan rumah.
"Nah, itu Nadia!!" ujarku.
"Nadia!!" sapaku.
"Eh, Ivan. Tumben kesini, ada apa nih?!" tanya Nadia.
Aku berjalan mendekat ke Nadia.
"Gini, Nad. Aku disuruh ibu buat bayar hutang ke ibu kamu," ujarku.
"Em... Kalau boleh tahu, hutang apa ya?!" tanya Nadia yang agak malu-malu.
"Boleh, tapi aku nggak tahu," ucapku.
"Oh, yaudah!!" ujar Nadia.
"Tunggu ya, aku panggil ibu dulu" ujar Nadia.
"Eh, nggak usah!!" ucapku ke Nadia.
"Kenapa?!" tanya Nadia.
"Kamu kan anaknya jadi aku kasih ke kamu aja, terus kamu kasih ke ibu kamu!!" ujarku sambil mengambil uang.
"Oh iya, Hehehehehehe" Nadia tertawa.
Aku lalu memberikan uangnya ke Nadia, dan langsung pulang.
"Eh... Kok langsung pulang?!" tanya Nadia.
"Udah sore, Nad!!" jawabku ke Nadia.
"Yaudah!!" ujar Nadia dengan nada kecewa.
"Dia marah nih," batinku sambil terus berjalan.
Dan singkatnya, sesampainya dirumah aku langsung mandi.
"Ibu, udah aku bayar hutangnya," ujarku.
"Iya, yaudah sana mandi!!" ujar ibu.
Aku lalu mandi, setelah mandi aku bergegas belajar di kamar.
"Udah sore aja," batinku sebelum mandi.
Seusai mandi aku lalu belajar.
Aku belajar dari sore sampai malam hari. Setelah selesai belajar aku lalu tidur.
"Huah..." Aku yang menguap.
"Tidur dulu," gumamku.
Aku lalu berbaring di kasur untuk tidur.
"Semoga aku bisa menjadi pemain sepak bola profesional!!" batinku sebelum tertidur.
Ivan lalu tertidur pulas, Ivan tidur untuk melewati malam. Ivan besok akan pergi sekolah karena besok sudah hari senin, jadi bagaimana Ivan di sekolahnya?!
Bersambung...