"I think I'm addicted to your body"-Jeffranz Altair-
Sherra menyesali keputusannya malam itu. Malam dimana ia menyerahkan tubuhnya pada cinta pertamanya---Jeffranz Altair si Perisai PASBARA yang terkenal dingin dan kasar.
Sherra menyesal. Karena setelah hari itu sikap Jeff berubah. Yang awalnya benci menjadi terobsesi.
Jeff menghancurkan masa depan Sherra dengan mengurung gadis itu dalam hubungan rahasia.
Sherra terpaksa menjadi selingkuhan.
Diperlakukan layaknya binatang.
Hingga dianggap wanita murahan.
Hidupnya hancur berantakan. Namun Jeff sama sekali tak peduli.
Karena bagi Jeff apa yang ia lakukan pada Sherra, adalah hukuman karena gadis itu berani mengusiknya.
-----
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andara prina Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Kai itu semesta Sherra
Semesta Kai itu Sherra.
Baik dulu 10 tahun yang lalu hingga kini. Semua orang juga tau bila perasaan Kai bukan main-main, bahkan tak ada satupun anak PASDELA yang menentang keduanya. Padahal sudah jelas
Peraturan pertama PASUKAN 08 adalah.
Dilarang menjalin hubungan dengan sekolah musuh.
Tapi Kai pengecualian.
Karena Kai akan menentang peraturan yang telah dibuat jika itu berkaitan dengan Sherra. Seperti saat ini, Kai dengan berani membawa Sherra kedepan anak anak PASDELA yang tengah latihan untuk pertandingan basket antar sekolah 2 bulan lagi.
"Nyampe juga lo bro"Kai dan Jevan saling bertos layaknya lelaki. Tatapan lelaki tinggi itu lalu beralih pada Sherra disamping Kai.
"Cewe lo?"
"Sahabat kecil gue"
Jevan terkekeh kemudian mengulurkan tangannya pada Sherra.
"Jevano "
"Sherra Adara" Jawabnya membalas uluran tangan Gio.
"Oh, jadi ini yang katanya Cewe paling cantik di Smabara?" Celetuk Senopati Adriejati yang berjalan kearah mereka.
"Pasti nama lo Angel?"
"Budek lo? Gak denger nama dia Sherra?"
"Oh Sherra, kirain Angel. Soalnya lo itu kaya malaikat yang jatuh dari surga. Cantik banget sih, " Ujar Seno gemas. "Boleh panggil sayang aja gak?"
Celetukan Seno mendapat jitakan ganas dari Kai Yang langsung merengkuh punggung Sherra posesif.
"Gak! Jangan modus lo sama sahabat gue" Tegas Kai galak. Seno dan Jevan tertawa.
"Sahabat kok ngatur"
"Sahabat apa sahabat?"
"Bacot lo berdua!" Sherra terkekeh melihat wajah memerah Kai dan kedua temannya yang berlalu. Namun sebelum itu Jevan menepuk pundak Kai sambil membisikkan sesuatu.
"Udah cakep bodynya juga bagus. Buruan embat sebelum gue rebut"
"ANAK ANJING!"
"HAHAHA"
Sherra mengusap pundak Kai sabar. Lalu menggandeng lengan sahabatnya itu seraya tertawa.
"Kai, temen-temen kamu lucu ya?"
"Najis! Lucuan kamu kemana-mana" Kedua pipi Sherra menggembung.
"Ishh modus!"
"Serius! Apalagi pas pake topi baret ini"ujar Kai membenarkan letak topi baret Sherra yang bertuliskan "NYC".
"Aku beliin lagi mau gak?"
"Satu aja belum rusak Kai"
"Gapapa, biar kamu lucu terus"
"Jadi selama ini aku gak lucu?" Kai terkekeh mencubit ujung hidung Sherra.
"Lucu, kaya babi"
"Ikh kamu tuh yang babi!" Kai semakin tertawa saat Sherra menggeplak lengannya berkali kali. Bukannya kesakitan ia malah semakin merasa senang karena berhasil menggoda Sherra.
"Ngapain sih manyun gitu? Minta dicium?"seletuk Kai melihat Sherra yang memanyunkan bibirnya sambil berkacak pinggang.
"Mau dong kiss dari ayang!"Balas Sherra mengedipkan sebelah matanya menggoda.
"Gausah mancing. Dicium beneran nangis"
Sherra tertawa. "Tadi katanya mau nyium" Kai juga ikut terkekeh malu, kemudian merapihkan poni coklat Sherra kemudian mengusap dahi gadis itu sebelum melayangkan kecupan di area tersebut.
"Disini dulu. Nanti kalo udah halal baru disini"tunjuknya pada bibir merona sahabatnya
"Mesum banget kek om om!" Pukul Sherra keras pada perut Kai.
Tanpa mereka ketahui seseorang memperhatikan mereka dari sebrang lapangan dengan tatapan yang tak terbaca.
______
"Mau ngomongin apa?"Suara Jeff membuka pembicaraan diantara keduanya. Caca terdiam sebentar, menatap kedua kakinya sendiri
Pulang sekolah tadi Caca menyuruh lelaki itu untuk datang ke rumahnya. Katanya untuk mengatakan sesuatu dan dengan tanpa pikir dua kali jelas Jeff mengiyakan. Walaupun sebenarnya ia ada latihan basket sore ini.
Tapi untuk Caca, apa sih yang enggak?
"Ini tentang pertunangan kita" Jeff menoleh bersamaan dengan langkah kakinya yang terhenti.
"Kenapa dengan pertunangan kira?" tanya Jeff berdiri di depan Caca yang duduk di tepi kasur.
"Mama ingin pesta pertunangan kita dilakukan secepatnya" Jeff terdiam sebentar
"Terus apa masalahnya?" Caca menghela nafas pelan sambil mengusap usap telapak tangannya sendiri.
"Jeff kamu tau sendiri kan? Aku gak serius sama pertunangan ini?"
"Terus, kamu pikir aku serius?" Tukas Jeff.
"Kalau bukan karena orang tua. Aku juga gamau melanjutkan hubungan ini"
Benar Sedari awal hubungan mereka hanya sebuah tameng dari ikatan persahabatan antar kolega bisnis. Baik Jeff maupun Caca keduanya sama dama tak memiliki rasa. Tapi dipaksa bersama untuk menjalin kerjasama bisnis membatu orang tua.
"Kamu tau kan? Kalau aku masih mencintai cinta pertama aku?" Jeff menatap netra Caca lekat.
"Ya"
"Dan sekarang aku bertemu dia lagi" Jeff membeku. Lelaki itu lalu mengusap rambutnya kebelakang.
"lalu? Kamu mau membatalkan pertunangan ini?" Caca menggeleng kecil.
"Bukan aku, tapi kita" balasnya.
Caca memandang Jeff dengan tatapan yang tak terbaca.
"Jeff, mari kita bekerja sama"Gumam Caca. Jeff menaikkan sebelah alisnya.
"Saling bekerja sama untuk terlepas dari hubungan sialan ini!"
Jeff menyentuh dagunya sendiri. Sepertinya ia memang harus menyetujui langkah ini. Karena jujur saja ia sudah muak berpura pura menjadi pasangan sempurna.
Begitupun Caca, niatnya kemari hanya untuk mengikuti orang terkasih bukan untuk bersama tunangan yang tidak ia cintai.
______
"Kita mulai pemanasan! Lari 5 kali keliling lapangan!"
Sherra duduk di pinggir lapangan sembari menggoyang goyangkan kakinya. Menyemangati Kai yang tengah pemanasan. Tadi ia sudah berkenalan dengan teman- teman Kai yang lain.
Bahkan ia juga dibawa menemui Ketua dan wakil ketua Pasukan 08.
Zayn sama Gio namanya.
Dua-duanya memiliki tatapan tajam dan wajah datar. Jelas berbeda jauh dengan anak Pasbara disekolahnya. Yang tingkahnya kocak tak lupa minus akhlak.
"SEMANGAT KAI-NYA SHERRA YANG PALING GANTENG"
Katakan berlebihan. Tapi sedari kecil Sherra dan Kai selalu berinteraksi dengan romantis. Sampai banyak orang keliru dengan hubungan mereka.
Kai yang memang cuek dan mageran disatukan dengan Sherra yang cerewet dan hyperaktif adalah perpaduan yang cocok.
Kai selalu memperlakukan Sherra layaknya tuan putri. Menggendong tubuhnya jikalau Sherra lelah berjalan, menggenggam tangannya setiap kali berjalan bersampingan, menyuapi ia makan jika keadaannya sedang lemah.
Kai itu segalanya.
Lelaki itu selalu menjadikan Sherra dewi. Sekalipun dalam status sahabat masa kecil yang tak pernah berubah.
"SHER AKU CETAK POINT!"
"WAH KAMU HEBAT KAI!!"
"HALAH GITU JUGA GUE BISA KALEE"
"IRI BILANG BOSQUE~"
Gadis itu terkekeh lalu kembali memperhatikan Kai yang berlari kesana kemari seraya mendribbling bola basket. Mengoper pada teman temannya lalu memasukkan bola itu kedalam ring.
Bunyi gemrincing ring juga pekikan pekikan heboh terdengar menghibur. Sherra jadi ingin main basket juga, tapi sayangnya ia pasti takkan mendapat izin dari sang Mama.
Kondisi fisiknya lemah. Jadi Sherra harus banyak berhati-hati agar tak menghawatirkan banyak orang.
"Gimana main aku tadi?"
"Bagus! Kamu hebat banget"
"Biasa aja. Itu baru pemanasan"
"Sombong!"
Setelah kurang lebih 25 menit berlatih Kai kembali menghampiri Sherra. Meraih botol air mineral dari gadis itu kemudian meminumnya. Sherra tersenyum kecil kembali bersenandung menatap teman teman Kai yang masih setiap memantulkan bola tanpa mau menepi.
"Pasti capek banget ya?" Kai menutup kembali botolnya.
"Ini belum ke inti. Masih main-main doang" Sherra mangut-mangut mengerti.
"Pingin main basket juga" Celetuk Sherra lirih. Kai menoleh.
"Jangan aneh-aneh. Kamu gampang sakit" Sherra mendengus.
"Tapi bukan berarti aku lemah Kai"cetus Sherra kesal. Dari dulu semua orang selalu saja mengkhawatirkan dirinya.
Sherra ini memang sedari kecil gampang terkena penyakit. Cape sedikit ia bisa demam sampai 3 hari. Itulah mengapa Mama Dinda selalu memperingatkan Sherra untuk tidak mengerjakan pekerjaan yang berat dan melelahkan. Karena metabolismenya yang lemah.
"Huh aku capek. Aku juga pingin kaya kamu, kaya orang lain. Yang bisa lari-lari kesana kemari. Ikut pelajaran olah raga terus tanding sama tim lawan. Kayanya bakal keren" Angan Sherra berterbangan kesana kemari.
"Sher... "
"Dari kecil badan aku susah banget buat diajak kompromi, lari dikit langsung pegel. Padahal aku pingin bisa main basket kaya kamu" Kai menggenggam telapak tangan Sherra, sesekali mengusapnya lembut.
"Nanti aku ajarin kamu main basket"Bujuk Kai lembut.
"Serius??" Sherra mendadak antusias.
"Iya"
"Ajarin aku main sepeda juga ya! Aku bosen diboceng kamu terus"
"Iya Sherra apapun buat kamu"
"Asyikk!!! Makasih Kai" Gadis itu memeluk leher Kai erat seraya tersenyum riang. Kai hanya bisa mengulas senyum tipis, sangat tipis namun penuh kesenduan.
"Tapi janji satu hal sama aku"
Sherra melepas pelukannya kemudian memandang Kai dengan netra berbinar.
"Janji apa?"
"Jangan pernah sebut diri kamu lemah" Sherra terdiam. Tatapannya berubah teduh begitupun Kai yang mengelus surainya.
"Kamu itu kuat"
"Cewe terkuat yang pernah aku kenal. Jadi, Jangan sedih lagi ya?"
Sherra mengangguk, kembali memeluk Kai erat. Suasana yang semula riang penuh kegembiraan seketika berubah sendu dan penuh luka.
Anggota Pasdela dilapangan yang sedari tadi menjadi penonton tanpa suara memandang keduanya kasihan. Bukan terbawa perasaan atau bahkan ikut senang.
Karena justru interaksi sepasang sahabat itu mengisyaratkan sebuah luka yang menganga tanpa bisa dilihat mata.
______
"Kai"
"Hm?"
"Kira-kira dimasa depan nanti aku bakal bahagia gak?" Kai membuka helm gadis itu lalu memperbaiki surai gadis itu yang berantakan. Mereka sudah sampai dirumah Sherra
"Kamu pasti bahagia"
"Tapi kapan? Akhir akhir ini hidup aku bener bener di uji"Gadis itu memberenggut saat Kai membantu Sherra melepas jaket tebal yang membalut tubuhnya . Kemudian menatap sendu kearahnya.
"Sher pernah denger gak? Kalau tuhan gak semata mata ngasih ujian ke umatnya, kalau gak mampu" tutur Kai bijak.
"Ya tapi sampai kapan cobaannya Kai? Sampai aku mati?" Terdengar nada tinggi penuh emosi diujung kalimatnya yang langsung membuat Kai mematung dengan wajah datar.
"Jangan aneh-aneh. Aku tau kamu capek tapi jangan sampai lontarin kata kata yang bikin tuhan marah. Mending sekarang kamu masuk terus tidur" Titah Kai agar Sherra menurut. Sambil mendengus Sherra pun berjalan kearah pintunya kemudian membalikkan tubuh saat hendak masyk kedalam.
"Aku pulang dulu ya! Besok aku jemput kamu kaya biasa" Kai melambaikan tangannya, Sherra pun membalasnya dengan sukarela. Memperhatikan sahabatnya utu dari mulai menaiki mototnya sampai pergi meninggalkan rumahnya.
Sebelum akhirnya membalikkan tubuhnya.
Bersamaan dengan itu ponselnya tiba tiba bersuara, jemari Sherra yang masih tergantung di kenop pintu langsung berubah posisi meraih ponselnya dan menempelkannya pada telinga.
"Hallo Jeff tumben kamu nelpon ak-"
"Gue butuh lo"Ujar Jeff langsung to the point.
"J-jeff kamu ngomong apas-"
"Dateng ke apartemen gue sekarang!" Bibir Sherra kelu, belum sempat membalas. Jeff sudah mematikkan ponselnya di sebrang sana.
Sherra menghela nafas pasrah. Ingin rasanya menolak tapi jiwanya terlalu lemah. Karena takut pada ancaman yang Jeff berikan.
...------...