Menggambarkan kemegahan hidup Doni Salman di usia 46 tahun, puncak kekuasaan Salman Group, hingga tragedi malam berdarah saat racun melumpuhkan sarafnya.
Konfrontasi kejam Amanda dan Andreas, pengakuan mengejutkan tentang anak gelap mereka, serta fakta mengerikan bahwa Zahra diperkosa dan dibunuh atas perintah Amanda.
Doni mati dalam murka, memicu keajaiban langit yang melempar jiwanya kembali ke tahun saat ia berusia 26 tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1: Penghianatan di Jamuan
Malam itu, Jakarta dari lantai 30 Menara Salman terlihat seperti hamparan permata yang berkilauan di bawah langit malam yang pekat.
Angin malam yang berembus kencang di luar sana sama sekali tidak mampu menembus dinding kaca tebal berlapis ganda yang mengelilingi ruangan mewah tersebut.
Di dalam ruangan seluas lapangan bola itu, kehangatan dan kemewahan meraja.
Lantainya terbuat dari marmer Carrara pilihan yang diimpor langsung dari Italia, memantulkan cahaya dari lampu gantung kristal yang menggantung megah di langit-langit setinggi lima meter.
Di usianya yang menginjak 46 tahun, Doni Salman adalah definisi hidup dari kesuksesan mutlak.
Pria dengan guratan wajah tegas, rahang kokoh, dan rambut yang mulai memutih secara elegan di bagian pelipis itu berdiri tegak di dekat jendela kaca raksasa.
Mengenakan setelan jas tiga lapis berwarna hitam arang yang dijahit khusus oleh penjahit terbaik di Savile Row, London, Doni memegang sebuah gelas kristal berisi anggur merah berumur puluhan tahun.
Tatapannya tajam, menembus kegelapan malam, memandangi lampu-lampu kota yang seolah tunduk di bawah kakinya.
Salman Group, imperium bisnis yang ia bangun dengan darah, keringat, dan air mata dari nol, kini telah berubah menjadi sebuah gurita korporasi yang mencengkeram urat nadi perekonomian negara.
Di bawah kepemimpinannya, Salman Group tidak hanya mendominasi satu sektor.
Perusahaan itu telah menggurita ke empat pilar utama: divisi logistik raksasa yang memiliki ribuan armada darat dan udara; divisi konstruksi yang memenangkan tender-tender infrastruktur strategis nasional; jaringan perbankan swasta yang solid; hingga lini bisnis penyewaan kontainer yang memonopoli lima pelabuhan utama di seluruh penjuru negeri.
Setiap kapal yang bersandar, setiap gedung yang menjulang, dan setiap transaksi yang berputar, hampir selalu melibatkan nama Salman Group.
Malam ini bukanlah malam biasa.
Ruangan itu telah didekorasi dengan sangat anggun menggunakan ribuan bunga mawar putih segar yang aromanya memenuhi udara, bercampur dengan wangi pelitur kayu mahoni mahal dan parfum premium.
Alunan musik klasik dari komposer Chopin mengalun lembut dari sistem suara tersembunyi, menciptakan atmosfer yang sangat tenang, intim, sekaligus prestisius.
Malam ini adalah perayaan ulang tahun pernikahan perak Doni dengan Amanda Santoso, sekaligus perayaan atas keberhasilan Salman Group membukukan laba kuartal tertinggi sepanjang sejarah berdirinya perusahaan.
"Kau selalu menatap kota ini seolah kau adalah penguasa tunggalnya, Mas,"
sebuah suara lembut, feminin, namun memiliki getaran dingin yang samar, memecah keheningan dari arah belakang.
Doni membalikkan badannya dengan anggun.
Senyum hangat langsung mengembang di wajahnya yang tegas saat melihat sosok wanita yang berjalan mendekat.
Amanda Santoso. Di usianya yang kini menginjak empat puluh dua tahun, Amanda masih mempertahankan kecantikan aristokratnya yang memikat.
Kulitnya yang putih pucat tampak kontras dengan gaun malam sutra hitam bertabur berlian mikro yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna.
Rambutnya disanggul rapi, memperlihatkan leher jenjangnya yang dihiasi kalung zamrud bernilai miliaran rupiah.
Di belakang Amanda, melangkah seorang pria lain dengan langkah yang sangat teratur dan sopan.
Pria itu adalah Andreas.
Mengenakan setelan formal yang rapi, Andreas berjalan sambil membawa sebuah botol anggur baru di tangan kirinya.
Andreas adalah Wakil CEO Salman Group, sekaligus orang yang selama sepuluh tahun terakhir ini menjabat sebagai tangan kanan kepercayaan Doni.
Bagi Doni, Andreas bukan sekadar karyawan. Sepuluh tahun yang lalu, Andreas hanyalah seorang staf administrasi rendahan di divisi logistik yang hidup luntang-lantung.
Doni lah yang melihat potensi besar di dalam diri pria muda itu, mengangkatnya dari lumpur kemiskinan, menyekolahkannya hingga ke luar negeri, dan akhirnya memberikannya posisi kedua tertinggi di dalam kekaisaran bisnisnya. Doni sudah menganggap Andreas seperti adiknya sendiri.
"Aku tidak pernah merasa menjadi penguasa, Amanda,"
ujar Doni, suaranya berat, dalam, dan penuh wibawa khas seorang pria yang telah kenyang makan asam garam kehidupan.
"Aku hanya seorang pria yang beruntung karena memiliki istri yang anggun sepertimu, dan tangan kanan secerdas Andreas untuk membantuku menjaga semua ini."
Doni melangkah mendekati meja marmer panjang di tengah ruangan.
Andreas dengan sigap maju satu langkah, membungkuk pelan dengan gestur penuh hormat yang biasa ia lakukan selama bertahun-tahun, lalu menuangkan anggur merah dari botol baru ke dalam gelas kristal milik Doni yang mulai kosong.
"Ini adalah anggur edisi khusus yang saya pesan langsung dari perkebunan terbaik di Prancis untuk merayakan malam luar biasa ini, Pak Doni,"
kata Andreas dengan nada suara yang sangat santun, wajahnya menampilkan senyuman ramah seorang bawahan yang setia.
"Terima kasih, Andreas."
"Kau memang tidak pernah mengecewakanku,"
ucap Doni penuh rasa percaya.
Doni mengangkat gelasnya, melakukan cheers kecil dengan Amanda yang juga memegang gelas berisi minuman non-alkohol.
Dengan sekali gerakan yang mantap, Doni menyesap anggur merah tersebut.
Cairan pekat itu mengalir melewati tenggorokannya.
Namun, hanya dalam hitungan detik setelah cairan itu masuk ke dalam tubuhnya, dahi Doni langsung berkerut.
Ada yang salah.
Sensasi yang ia rasakan sama sekali bukan kehangatan alkohol yang akrab di lidahnya.
Sebaliknya, Doni merasakan sensasi terbakar yang luar biasa dingin, seolah-olah ia baru saja menelan segumpal jarum es yang tajam.
Rasa sakit itu meledak di dalam lambungnya dengan kecepatan yang tidak masuk akal, menyebar seperti sengatan listrik yang merusak jaringan tubuhnya dari dalam.
Kranggg!
Gelas kristal di tangan kanan Doni terlepas dari genggaman, jatuh menghantam lantai marmer dan hancur berkeping-keping.
Anggur merah pekat berceceran di atas marmer putih bagai genangan darah segar.
Doni refleks mencengkeram dadanya yang mendadak terasa sangat sesak.
Jantungnya berdegup dengan irama yang sangat kacau dan cepat, seperti genderang perang yang ditabuh bertalu-talu.
Udara di sekitarnya mendadak terasa menipis. Ia mencoba mengambil napas dalam-dalam, namun tenggorokannya terasa seolah-olah sedang dicekik oleh tangan tak kasat mata.
"Doni? Ada apa?" Amanda bertanya.
Namun, ada sesuatu yang aneh dari nada suara istrinya itu.
Tidak ada nada panik, tidak ada jeritan ketakutan, dan tidak ada langkah kaki yang terburu-buru untuk menolongnya.
Nada suara Amanda terdengar sangat datar, dingin, dan kosong seolah-olah ia sedang melihat sebatang pohon yang tumbang, bukan suaminya yang sedang sekarat.
Doni mencoba melangkah maju, berniat untuk meraih tepi meja marmer demi menjaga keseimbangan tubuhnya.
Namun, baru satu langkah kecil diambil, kedua lututnya mendadak kehilangan seluruh kekuatan. Otot-otot kakinya seperti dicairkan paksa.
Tubuh tegap sang penguasa Salman Group itu terjerembab dengan kasar, sebelum akhirnya terhempas ke atas sofa kulit besar di tengah ruangan.
Keringat dingin berukuran besar mulai membanjiri seluruh dahi dan pelipis Doni.
Napasnya kini berbunyi mencicit, memburu di sela-sela rasa sakit luar biasa yang mulai menjalar dari lambung, naik menuju dada, dan merayap ke seluruh sistem saraf di tubuhnya.
Pandangan matanya yang tajam kini mulai sedikit berbayang, namun ia masih bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi di depannya.
Di bawah temaram lampu kristal, Doni menyaksikan sesuatu yang membuat darahnya mendadak membeku.
Andreas, tangan kanan yang selalu membungkuk hormat di hadapannya, kini berdiri tegak dengan dagu terangkat. Senyuman sopan dan ramah yang selama sepuluh tahun ini menghiasi wajah pria itu telah lenyap sepenuhnya.
Yang tersisa di wajah Andreas kini hanyalah sebuah seringai kejam, tatapan mata yang penuh dengan kebencian, dan rasa puas yang mendalam.
Andreas melangkah perlahan, melewati pecahan kaca kristal di lantai, lalu berdiri tepat di depan sofa tempat Doni terkapar tak berdaya.