NovelToon NovelToon
PEMBERONTAK PARA DEWA LAST SEASON

PEMBERONTAK PARA DEWA LAST SEASON

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Epik Petualangan / Perperangan
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Seratus tahun telah berlalu sejak Shi Hao mengorbankan kultivasinya menggunakan Teknik Terlarang untuk menyelamatkan Alam Atas dari kehancuran Kaisar Langit. Di Alam Atas, kedamaian semu tercipta di bawah pimpinan Dewan Bersama (Raja Yan, Lei Zhen, Ao Zun).

Namun, di sebuah desa fana yang terpencil, Shi Hao hidup bahagia sebagai petani buta dan lumpuh bersama istri fananya (Gu Qing Yi yang menyembunyikan identitasnya). Kepompong fana Shi Hao perlahan-lahan menyehatkan jiwanya yang hancur, menanamkan pemahaman Dao Kemanusiaan yang belum pernah dicapai oleh Dewa mana pun.

Kedamaian itu hancur ketika Dinding Dimensi Alam Atas robek. Shen Yu, Dewa Iblis dari Semesta Sembilan Nether yang telah menaklukkan ribuan alam, akhirnya tiba bersama pasukan jenderalnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 24

Alam Atas – Sektor Tembok Ratapan (Pusat Kehancuran Dimensi).

Retakan dimensi di hadapan Shi Hao tidak lagi berbentuk celah spasial biasa, melainkan telah menjelma menjadi sebuah jurang kosmik yang membelah fondasi alam semesta menjadi dua.

Di balik jurang tersebut, sepasang mata tunggal yang ukurannya melampaui gabungan ribuan tata surya perlahan-lahan terbuka. Mata itu tidak memiliki iris maupun pupil; yang ada di dalamnya hanyalah pusaran badai kelabu tempat triliunan bintang mati dan waktu yang membusuk berputar tanpa henti.

Itu adalah Leluhur Kehancuran Purba entitas parasit dari luar Tiga Ribu Dunia yang telah tertidur sejak zaman kekacauan sebelum cahaya pertama diciptakan.

Hanya dengan terbukanya mata itu, Hukum Kaidah di Sektor Utara hancur berkeping-keping. Waktu berhenti mengalir secara logis; tetesan darah yang mengambang di ruang hampa bergerak mundur, lalu melesat maju lagi dalam siklus yang memusingkan.

Para prajurit Alam Atas yang tersisa langsung jatuh pingsan, Inti Dao mereka retak hanya karena merasakan hawa eksistensi makhluk tersebut. Bahkan Lei Shan, Ao Zun, dan Wuming harus menancapkan senjata mereka ke ruang hampa, memuntahkan darah emas sambil berlutut karena jiwa mereka seolah dihimpit oleh beban sembilan langit.

"I-Ini... ini bukan makhluk dari batas dimensi kita..." Wuming menggertakkan giginya hingga retak, darah mengalir dari ketujuh lubang di wajahnya. "Ini adalah awal dari segalanya. Ketiadaan Absolut!"

Di tengah badai kiamat itu, tubuh Dewa Iblis Shen Yu melayang dengan dada berlubang. Tubuhnya mulai mencair, menyatu dengan ruang hampa sebagai wadah perantara bagi kehendak entitas purba tersebut. Wajahnya yang tampan kini terdistorsi menjadi separuh tengkorak yang menyeringai gila.

"Lihatlah, Shi Hao!" Suara Shen Yu kini bergema dengan dua lapis nada suaranya sendiri, dan gema purba yang mengikis kewarasan siapa pun yang mendengarnya.

"Jalan Kemanusiaan (Mortal Dao) milikmu memang kuat melawan dewa dan iblis! Tapi apa gunanya kemanusiaan di hadapan Kekosongan yang telah ada bahkan sebelum konsep kehidupan itu sendiri diciptakan?!"

Shen Yu merentangkan tangannya yang mulai meleleh menjadi lumpur karma hitam.

"Mati dan kembalilah menjadi debu kosmik bersama desa fanamu! Sorot Pemusnah Ketiadaan!"

Mata raksasa di balik jurang dimensi itu berkedip lambat.

Seberkas cahaya kelabu yang lebarnya menutupi separuh tata surya melesat keluar. Cahaya itu tidak membakar atau meledakkan; cahaya itu menghapus. Segala sesuatu yang tersentuh oleh cahaya kelabu itu meteor, bangkai kapal, ruang, waktu, hingga hukum karma hilang tanpa sisa, kembali pada kehampaan absolut.

Sorot kematian itu melesat lurus menelan Shi Hao, berniat menghapus keberadaan sang Kaisar Asura dari catatan masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Namun, di tengah kiamat yang membungkam alam semesta itu...

Shi Hao tetap berdiri setenang telaga di pagi musim semi. Angin kehancuran meniup rambut hitamnya dan kain putih di matanya, tetapi tidak ada satu pun serat di pakaian raminya yang terurai.

Mata Ketiga Emas di dahinya menatap cahaya kelabu itu dengan pandangan yang sangat jernih dan polos.

"Sesuatu yang tua bukan berarti tak terkalahkan, Shen Yu," kata Shi Hao, suaranya menembus gemuruh kiamat layaknya suara gemericik mata air pegunungan.

Shi Hao melonggarkan cengkeramannya pada Tombak Asura Kemanusiaan. Ia menurunkan ujung tombaknya hingga menunjuk ke bawah.

"Terkadang, sesuatu yang terlalu tua dan terus mengurung diri di dalam kegelapan... hanyalah kain lapuk yang jahitannya sudah lepas. Kau hanya butuh seutas benang untuk merapikannya."

Shi Hao mengangkat tombaknya kembali.

Cahaya Emas Kehidupan yang sangat murni memusat di ujung mata tombak yang hitam legam. Saat cahaya pemusnah kelabu itu tinggal berjarak sejengkal dari wajahnya, Shi Hao menusukkan tombaknya ke depan, bukan untuk menangkis, melainkan untuk melilitkan energi Mortal Dao miliknya.

Sebuah benang emas yang sangat halus memanjang dari ujung tombaknya.

"Di desaku, jika jala ikan mulai robek karena dimakan usia..."

Shi Hao melangkah maju. Tubuh fananya menembus masuk ke dalam pusaran cahaya pemusnah kelabu itu bagaikan ikan koi emas yang berenang menentang arus air terjun. Cahaya ketiadaan yang mampu menghapus galaksi itu terbelah menjadi dua saat menyentuh bahu Shi Hao, sepenuhnya dinetralkan oleh Kesederhanaan Mutlak dari Jalan Kemanusiaan.

Shi Hao mengayunkan tombaknya ke arah tepi jurang dimensi yang terkoyak. Benang emas itu mengikuti arah tombaknya, menancap kuat pada batas realitas ruang angkasa Alam Atas.

"...Seorang nelayan yang baik tidak akan membuangnya begitu saja."

Shi Hao menarik tombaknya, menarik benang emas itu menyeberangi jurang dimensi, lalu menancapkannya ke sisi tepi realitas yang berlawanan.

Tangan Shi Hao bergerak dengan kecepatan yang terlihat lambat namun tidak bisa dihindari oleh batas ruang mana pun. Tombaknya menari-nari melintasi jurang dimensi, secara harfiah menjahit retakan ruang dan waktu dengan benang emas karma!

Jleb. Tarik. Jleb. Tarik.

Setiap kali benang emas itu dijahitkan menyilang menutupi jurang dimensi, Mata Leluhur Kehancuran di seberang sana bergetar hebat. Entitas purba itu melepaskan jeritan psikis yang mengerikan, merasakan hukum keberadaannya dikurung dan ditikam secara paksa oleh konsep fana yang sangat rapuh ini!

"T-Tidak... APA YANG KAU LAKUKAN?!" Shen Yu memekik histeris. Kesadarannya yang menyatu dengan entitas itu merasakan rasa sakit dari jarum kosmik yang menembus kelopak matanya. "KAU MENJAHIT DIMENSINYA?! BAGAIMANA BISA KEKUATAN FANA MENGIKAT KEKOSONGAN?!"

"Kekosongan tidak memiliki akar untuk berpijak," jawab Shi Hao tenang, tangannya terus menari membentuk formasi jahitan silang raksasa berwarna emas yang kini mulai menutup celah dimensi. "Sedangkan kemanusiaan berakar pada kehidupan. Kehidupan selalu menemukan cara untuk menambal apa yang rusak."

Dengan satu tarikan napas terakhir...

SREEEK!

Shi Hao menarik ujung benang emas itu dan mengikat simpul mati yang sangat kencang.

Retakan dimensi yang menutupi separuh langit Sektor Utara itu ditarik paksa hingga merapat dan tertutup seutuhnya!

Mata Primordial yang berada di baliknya terjepit oleh dinding dimensi. Jeritan entitas purba itu terputus seketika saat benang emas Shi Hao benar-benar menyegel pintu dimensi tersebut secara permanen. Kelopak mata raksasa entitas itu secara harfiah telah dijahit tertutup oleh Jala Emas Sang Nelayan, mengurungnya kembali ke dalam tidur panjang di ujung ketiadaan.

Hukum alam semesta tiba-tiba kembali stabil. Cahaya kelabu lenyap seketika. Gravitasi kembali membumi. Bintang-bintang yang tersisa kembali memancarkan cahayanya yang perak dan damai.

Di tengah ruang hampa yang kembali sunyi, koneksi Shen Yu dengan entitas purba itu terputus dengan sangat brutal. Kutukan umpan baliknya menghancurkan Inti Dewa milik Shen Yu menjadi debu. Tubuh Dewa Iblis yang tadinya arogan dan tak terkalahkan itu kini kehilangan seluruh pijakan keilahiannya.

Brukk!

Shen Yu jatuh berdebum di atas bongkahan meteorit datar tak jauh dari kaki Shi Hao. Rambut hitamnya berubah memutih dalam sekejap. Kulitnya keriput seperti orang tua yang berusia ribuan tahun. Kultivasinya telah terkuras habis tanpa sisa; sang Dewa Iblis kini benar-benar jatuh menjadi manusia fana yang cacat dan lemah.

Shen Yu terbatuk-batuk, memuntahkan darah kotor yang encer. Ia menatap Shi Hao dengan mata yang bergetar hebat. Keputusasaan memakan habis sisa kewarasannya.

Di depannya, Shi Hao perlahan menyusutkan Tombak Asura Kemanusiaannya hingga kembali berwujud sebatang tongkat bambu lapuk. Mata Ketiga nya kembali tertutup sempurna, menyisakan wujud pemuda berpakaian rami bersandal jerami yang lelah setelah bekerja seharian.

Shi Hao berjalan, lalu duduk di atas sebuah batu meteor kecil di dekat Shen Yu yang sedang meregang nyawa.

Sang Kaisar Asura merogoh saku jubah raminya, mengeluarkan sebuah labu air kecil, dan meneguk air putih biasa dari dalamnya.

"Kau tahu, Shen Yu," kata Shi Hao dengan nada bercengkerama yang sangat bersahabat, mengusap sisa air di dagunya. "Jika kau datang ke desaku sebagai tamu biasa dan mengetuk pintu dengan sopan, istriku mungkin akan menghidangkan secangkir teh bunga persik untukmu."

Shen Yu menggertakkan giginya yang mulai rontok satu per satu. "B-Bunuh aku... Bunuh aku sekarang, Asura... Jangan menghinaku dengan belas kasihan fanamu yang munafik ini..."

Shi Hao menghela napas pelan, menatap lautan mayat kapal tulang yang berserakan di angkasa.

"Membunuhmu tidak akan mengubah fakta bahwa Sembilan Nether telah hancur karena keserakahanmu sendiri," Shi Hao menopang dagunya dengan tongkat bambu, menatap Shen Yu yang menggigil kedinginan (yang anehnya masih bisa bernapas di luar angkasa karena sisa perlindungan udara dari Dao Shi Hao).

Tiba-tiba, dari arah belakang, Lei Shan, Wuming, dan Ao Zun—yang telah memulihkan wujud manusia mereka—melayang mendekat. Tiga jenderal besar itu langsung berlutut serentak di belakang Shi Hao, dahi mereka menyentuh kehampaan dalam-dalam.

"Tuan Besar!" seru Lei Shan dengan suara serak namun dipenuhi pemujaan mutlak. "Dewa Iblis telah runtuh! Langit terselamatkan! Mohon berikan perintah eksekusi agar kami bisa memotong kepalanya sebagai persembahan ke Ibukota!"

Shi Hao tidak memalingkan pandangannya dari Shen Yu. Ia perlahan mengangkat tangannya, menghentikan niat membunuh para jenderalnya. Lalu, tangan kasarnya itu terjulur ke depan, ke arah mantan Dewa Iblis tersebut.

Shen Yu tersentak mundur, mengira itu adalah serangan pemusnah jiwa. Namun, saat melihat tangan yang terjulur itu terbuka dan menawarkan bantuan untuk berdiri, kebingungan melanda sisa kewarasan sang iblis.

"Kau selalu bertanya mengapa aku memilih menjadi manusia fana," ucap Shi Hao, suaranya sangat pelan namun menyentuh dasar roh terdalam. "Di duniaku sekarang, jika ada tetangga yang sawahnya kekeringan dan hewannya mati kelaparan, kami tidak merampok ladang desa lain. Kami berbagi benih dan menanamnya kembali bersama-sama."

Mata keriput Shen Yu terbelalak lebar. "K-Kau... apa maksudmu...?"

"Aku bisa menghancurkan jiwamu, atau..." Shi Hao memiringkan kepalanya, kain putih di matanya berkibar lembut. "...kau bisa ikut denganku. Musim dingin fana hampir tiba, dan istriku membutuhkan seseorang untuk membelah kayu bakar di belakang gubuk kami. Di sana, di atas tanah lumpur yang kau hina, mungkin kau akan menemukan cara untuk membangun kembali Inti Dao-mu dari awal."

Angin kosmik berhembus sunyi. Di tengah lautan pembantaian kosmik, sang Kaisar Asura justru menawarkan pekerjaan buruh harian kepada musuh terbesarnya. Sebuah belas kasihan absolut yang memutarbalikkan logika seluruh hukum rimba alam semesta!

Bibir Shen Yu bergetar. Untuk pertama kalinya dalam jutaan tahun, setetes air mata penyesalan dan kebingungan jatuh dari mata sang mantan Dewa Iblis. Tangannya yang keriput perlahan terangkat, berniat meraih uluran tangan Shi Hao yang hangat.

Namun...

Tepat sebelum jari mereka bersentuhan...

ZREEEENG!

Sebuah suara dengungan bernada sangat purba meledak, bukan dari musuh, melainkan dari langit tertinggi (The Highest Heaven) yang belum pernah dijangkau oleh dewa mana pun.

Shi Hao terdiam. Senyum di wajahnya lenyap seketika.

Ia mendongak, dan melihat seberkas cahaya emas transparan yang turun dengan kecepatan melampaui cahaya. Bukan energi spiritual, melainkan wujud fisik dari Dao Surgawi (Heavenly Dao)—Tatanan Mutlak yang mengatur roda Samsara.

Cahaya itu bermanifestasi menjadi sebuah Rantai Penghakiman raksasa, melesat turun dan langsung melilit leher dan tubuh ringkih Shen Yu!

"U-Urghk!" Shen Yu tercekik, tubuh tuanya ditarik paksa ke udara.

Di saat bersamaan, suara tanpa emosi yang terdengar seperti gabungan triliunan roda gigi semesta bergemuruh di dalam pikiran Shi Hao dan para jenderalnya.

"SHI HAO... ENTITAS ANOMALI... JALAN KEMANUSIAANMU TELAH MENYIMPANG TERLALU JAUH."

Suara Tatanan Surgawi itu membuat bintang-bintang di sekitarnya redup dalam ketakutan.

"IBLIS INI DITAKDIRKAN UNTUK MATI OLEH HUKUM KARMA. MENGAMPUNINYA ADALAH SEBUAH PELANGGARAN TERHADAP KESEIMBANGAN SAMSARA. KARENA KAU MENOLAK MENJADI PEMUSNAH SURGA, MAKA SURGA SENDIRI YANG AKAN MENGAMBIL NYAWANYA... DAN MENGHAPUS KEBERADAANMU SEBAGAI GANTINYA."

Ujung rantai surgawi yang lain melesat turun, kali ini menargetkan lurus ke arah pusaran Dantian milik Shi Hao!

1
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🙏🙏🙏🙏
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
😍😍😍😍😍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣
saniscara patriawuha.
kasian berkali kali manggg wuuuu ini....
saniscara patriawuha.
sakit banget tuhhh rasaneee...
saniscara patriawuha.
sikattttttt lagiiii mangggg shiiiiii.....
saniscara patriawuha.
mantaffffff surataffff....
Hendra Saja
makin penasaran.....apa tidak bertemu dengan sang tiran Thor....
yos helmi
👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄
yos helmi
😍😍😍😍
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🙏🙏🙏🙏
HINATA SHOYO
mantapp jiwa kerennn cuuyyyyy
HINATA SHOYO
kerenn poolĺll lanjutttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!