NovelToon NovelToon
KOK HOROR??? Series.

KOK HOROR??? Series.

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Misteri
Popularitas:82
Nilai: 5
Nama Author: Nacha Adhi

Sejak malam itu, hidup Raka berubah drastis. Setelah tak sengaja melewati rumah tua terbengkalai di ujung gang dan merasakan gangguan gaib, ia terus dihantui penglihatan aneh, suara bisikan, dan kejadian tak wajar. Perlahan ia mengungkap rahasia kelam rumah itu—tempat menyimpan kutukan dan korban hilang puluhan tahun silam—sambil berjuang melepaskan diri dari jeratan makhluk yang sudah menandainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPS 2: JALAN BERLUBANG DI BELAKANG HUTAN BAB 5 – Catatan yang Terlupakan

Siang itu langit terlihat lebih cerah dibandingkan hari‑hari sebelumnya, meski sisa kelembapan masih terasa menempel di daun‑daun dan tanah. Arga sedang duduk di beranda sambil membalut luka kecil di pergelangan kakinya—tergores duri saat melewati semak berduri di jalan pulang kemarin. Di sampingnya, Kakek Wito sedang mengaduk teh hangat, wajahnya terlihat berkerut seolah sedang memikirkan sesuatu yang belum selesai.

“Kau bertanya‑tanya, bukan? Mengapa tanda batas itu tiba‑tiba melemah padahal sudah puluhan tahun aman?” tanya Kakek Wito tiba‑tiba, seolah bisa membaca isi pikiran Arga.

Arga mengangkat wajah. “Ya, Kek. Saya juga berpikir: hujan saja tidak cukup untuk meruntuhkan perlindungan yang dibuat oleh dukun hebat dulu. Pasti ada hal lain.”

Kakek Wito mengangguk pelan, lalu berdiri masuk ke dalam rumah. Ia kembali membawa sebuah kotak kayu kecil berukuran sedang, permukaannya diukir motif daun jati dan tertutup lapisan debu tipis. Kotak itu terlihat tua, kuncinya sudah berkarat namun masih rapat.

“Ini peninggalan Kakekku sendiri, orang yang ikut membantu menutup kembali tempat itu tahun 1960‑an,” katanya sambil membuka tutupnya dengan hati‑hati. Di dalamnya tersusun rapi buku‑buku catatan bersampul kulit, selembar peta usang, dan sebuah benda kecil berupa keris pendek yang sarungnya sudah lapuk.

Kakek Wito mengambil salah satu buku paling tebal, halaman kertasnya sudah menguning dan rapuh. “Di sini tertulis semua hal yang jarang diceritakan ke warga biasa. Bukan hanya soal wabah, tapi juga soal syarat penjaganya: batas itu harus dijaga dari dua sisi—dari luar tidak boleh sembarangan masuk, dan dari dalam tidak boleh ada yang sengaja dibawa keluar. Jika salah satu terlanggar, ikatannya akan retak.”

Arga memiringkan kepala. “Dibawa keluar?”

“Ya. Benda apa pun yang sudah tertanam di sana—kayu, batu, tulang, atau barang pusaka—tetap menjadi bagian dari perjanjian. Jika ada yang mengambilnya, seolah mencabut pasak yang menahan pintu agar tidak terbuka.” Kakek Wito membalik beberapa halaman hingga berhenti di catatan yang berwarna tinta merah samar. “Dan… baru setahun terakhir ini ada cerita aneh. Ada pemuda dari desa sebelah yang sering melintas di pinggir hutan itu, konon mencari tanaman langka untuk dijual ke kota. Orang melihatnya membawa sekop, masuk agak jauh, lalu keluar dengan kantong berat di punggungnya.”

Arga teringat jejak‑jejak bekas galian dangkal yang sempat ia lihat di beberapa sudut kuburan lama, tidak terlihat seperti bekas alam atau lubang binatang. “Jadi dia mengambil sesuatu dari sana?”

“Kemungkinan besar. Dan setelah itu, hujan panjang turun berturut‑turut, kabut mulai turun lebih awal, dan gangguan pertama muncul di dekat kebun warga,” jawab Kakek Wito dengan nada serius. “Namun ada yang lebih aneh lagi. Di catatan ini tertulis: Batu Penjaga tidak hanya satu, tapi ada tiga yang membentuk segitiga pelindung. Kau hanya memperkuat satu di tengah. Dua lainnya ada di sisi timur dan barat, tersembunyi lebih dalam, dan kalau salah satu sudah diganggu, kekuatan pusat pun tak bisa bertahan sendirian.”

Jantung Arga berdegup lebih kencang. “Jadi pekerjaan ini belum selesai sepenuhnya?”

“Belum. Kalau yang diambil berhubungan dengan salah satu batu itu, maka celah masih ada. Dan orang yang mengambilnya… dia tidak akan selamat lama, karena benda itu tidak hanya membawa keuntungan, tapi juga ikatan yang melekat. Makhluk di sana tidak akan membiarkan ‘pencuri’ pergi begitu saja.”

Sore itu, Arga memutuskan untuk melihat kembali ke arah pinggir hutan, setidaknya sampai batas luar saja tanpa masuk lagi. Ia berjalan menyusuri jalan setapak yang sama, membawa catatan singkat yang disalin dari buku Kakek Wito berisi tanda‑tanda lokasi batu kedua dan ketiga. Di sepanjang jalan, ia memperhatikan tanda‑tanda yang terabaikan: ada tempat di mana tanaman terlihat terpotong tidak wajar, ada jejak sepatu yang sempat tergerus hujan tapi masih terlihat cukup jelas mengarah masuk.

Saat ia sedang mengamati tumpukan ranting yang terlihat tersusun paksa di balik semak, ia menemukan sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana: sebuah saku jaket robek berwarna cokelat, tergantung di dahan berduri. Di dalam lipatan kain itu, terselip selembar kertas kecil berisi catatan alamat dan nama kota di luar daerah.

“Jadi dia benar‑benar datang ke sini,” gumam Arga pelan.

Namun saat ia hendak memungutnya, ia merasakan lagi hawa dingin yang sama seperti dulu, meski tidak sekuat di dalam kuburan. Angin berhembus memutar di tempat itu, dan dari balik pohon besar di dekatnya, terdengar suara gesekan kain yang panjang. Kali ini bukan suara anak kecil atau panggilan yang memikat, melainkan suara langkah kaki yang berat, tertatih‑tatih, seolah ada orang yang berjalan sambil menyeret kakinya.

Arga segera berdiri tegak, tangan menyentuh saku tempat ia menyimpan sisa garam dan sebilah pisau biasa. Dari balik batang pohon itu, muncul sosok yang membuatnya menahan napas.

Itu manusia—setidaknya bentuk dasarnya manusia. Pakaiannya kotor penuh tanah dan lumut, kulitnya pucat keabu‑abuan, matanya sayu namun menatap tajam ke arah Arga. Kakinya kaku, salah satu telapak kakinya tidak menyentuh tanah sepenuhnya, seolah ada sesuatu yang masih menariknya ke belakang, ke arah dalam hutan. Wajahnya terlihat bingung, takut, namun di saat yang sama ada kilatan yang bukan milik kesadaran penuh.

“Kau… siapa?” tanya Arga pelan, tidak ingin mengejutkan sosok itu.

Pemuda itu membuka mulut, tapi suara yang keluar tercekik, hanya desahan kasar. Di lehernya, terlihat jejak berwarna keunguan berbentuk seperti akar atau tali yang melilit samar. Dan di tangan kanannya yang tergantung lemah, tergenggam erat sebuah benda berwarna kelabu berbentuk piringan batu kasar dengan ukiran yang sama persis seperti yang ada di batu penjaga tengah—batu yang seharusnya tidak boleh dibawa keluar.

Arga menyadari: ini dia. Orang yang membuka jalan itu. Dan sekarang, ia sedang dikejar oleh apa yang telah ia bangunkan.

1
anggita
mulai horor👻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!