NovelToon NovelToon
PEMBERONTAK PARA DEWA LAST SEASON

PEMBERONTAK PARA DEWA LAST SEASON

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Epik Petualangan / Perperangan
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Seratus tahun telah berlalu sejak Shi Hao mengorbankan kultivasinya menggunakan Teknik Terlarang untuk menyelamatkan Alam Atas dari kehancuran Kaisar Langit. Di Alam Atas, kedamaian semu tercipta di bawah pimpinan Dewan Bersama (Raja Yan, Lei Zhen, Ao Zun).

Namun, di sebuah desa fana yang terpencil, Shi Hao hidup bahagia sebagai petani buta dan lumpuh bersama istri fananya (Gu Qing Yi yang menyembunyikan identitasnya). Kepompong fana Shi Hao perlahan-lahan menyehatkan jiwanya yang hancur, menanamkan pemahaman Dao Kemanusiaan yang belum pernah dicapai oleh Dewa mana pun.

Kedamaian itu hancur ketika Dinding Dimensi Alam Atas robek. Shen Yu, Dewa Iblis dari Semesta Sembilan Nether yang telah menaklukkan ribuan alam, akhirnya tiba bersama pasukan jenderalnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 1

Dunia Fana – Desa Angin Lembut.

Bagi para kultivator di Alam Atas, seratus tahun hanyalah waktu yang dibutuhkan untuk sekali bermeditasi tertutup. Namun bagi manusia fana, seratus tahun adalah siklus hidup dan mati, waktu di mana gunung bisa menjadi lembah, dan bayi bisa menjadi debu.

Di pinggiran Desa Angin Lembut yang damai, waktu seolah berjalan lebih lambat.

Di halaman sebuah gubuk sederhana yang dikelilingi pagar bambu, seorang pemuda duduk di atas kursi goyang kayu. Mata kirinya ditutupi kain putih bersih. Kaki kanannya diselonjorkan kaku ke depan. Dia sedang sibuk menyerut sepotong kayu pinus dengan pisau tumpul, berusaha membuat sebuah patung kelinci.

"Ah... telinganya patah lagi," keluh pemuda itu, menghela napas. Dia meraba potongan kayu yang cacat itu dengan jarinya.

Dari dalam dapur gubuk, seorang wanita melangkah keluar membawa nampan kayu. Dia mengenakan gaun kain rami biasa yang sederhana, rambutnya diikat longgar dengan jepit kayu. Namun, pakaian kasar itu tidak bisa menyembunyikan kecantikannya yang menyejukkan hati, layaknya bunga teratai yang mekar di pagi hari.

Gu Qing Yi.

"Jangan dipaksakan, Suamiku," kata Qing Yi lembut, meletakkan secangkir teh panas di meja kecil di samping pemuda itu. "Kelinci bertelinga satu juga lucu. Lagipula, anak-anak desa tidak akan peduli selama kau yang membuatnya."

Pemuda buta itu, Shi Hao atau yang di desa ini hanya dikenal sebagai "A-Hao" tersenyum hangat. Wajahnya tidak memancarkan aura membunuh seorang Kaisar Asura, melainkan ketulusan seorang suami yang bahagia. Dia sama sekali tidak ingat siapa dirinya, dari mana asalnya, atau mengapa tubuhnya cacat.

Yang dia tahu hanyalah: Ketika dia membuka mata dari kegelapan panjang bertahun-tahun lalu, Qing Yi sudah ada di sana, memegang tangannya, sambil menangis dan memanggilnya 'Suami'.

"Aku hanya ingin membuatkan mainan yang bagus untuk Gou-zi (anak tetangga)," kata Shi Hao, meletakkan pisaunya dan meraba-raba mencari cangkir teh.

Qing Yi dengan sigap menuntun tangan suaminya ke cangkir itu.

Saat tangan mereka bersentuhan, Qing Yi menatap wajah Shi Hao dengan perasaan campur aduk. Ada cinta yang sangat dalam, namun juga ketakutan yang terus membayangi.

Di Alam Atas, Qing Yi adalah Raja Dewa, penguasa suara pembunuh jiwa. Tapi di sini, dia telah menyegel 99% kultivasinya sendiri, mengikat jiwanya agar tak terlacak oleh Hukum Alam, dan hidup membaur menjadi manusia biasa. Dia memilih untuk berbohong. Dia memberi tahu Shi Hao bahwa mereka adalah pasangan pelarian dari desa seberang yang diserang bandit, dan Shi Hao terluka parah saat melindunginya.

Maafkan aku, Hao, batin Qing Yi. Dunia tidak lagi membutuhkan Kaisar Asura. Biarlah orang lain yang memikul langit. Di kehidupan ini, kau hanya milikku.

"Teh bunga persiknya enak sekali, Istriku," puji Shi Hao, menyesap teh itu dengan nikmat. "Tapi... entah kenapa, angin hari ini terasa sedikit dingin. Ada bau... seperti besi yang terbakar?"

Qing Yi tersentak. Jantungnya berdetak kencang.

Memang benar. Di luar atmosfer Dunia Fana ini, berjuta-juta mil di atas sana, sebuah meteorit kecil yang mengandung Qi Sembilan Nether baru saja bergesekan dengan batas dimensi. Manusia biasa tidak mungkin bisa merasakannya. Tapi insting Kekacauan Shi Hao yang tertidur rupanya masih memiliki sisa-sisa kewaspadaan.

"Itu... itu pasti Paman Wang si pandai besi yang sedang membakar terak besinya di ujung desa," Qing Yi berbohong dengan cepat, suaranya tetap tenang. "Angin utara membawanya kemari. Mau kuambilkan selimut tebal?"

Shi Hao tertawa pelan. "Tidak perlu. Aku belum setua itu. Selama kau ada di sini, aku merasa hangat."

Qing Yi tersenyum, wajahnya sedikit memerah. Dia menatap ke langit yang tampak biru normal bagi manusia biasa, tapi di mata spiritual Qing Yi yang tersegel, dia bisa melihat riak kecil di kejauhan.

Batu dari dimensi lain? Alam Atas pasti sedang mengalami sesuatu, pikir Qing Yi. Tapi aku tidak peduli. Jika ada bahaya yang berani turun ke desa ini, aku akan membunuhnya dalam diam sebelum suamiku mendengarnya.

Sementara itu, di Alam Atas – Ibukota Persatuan

Bertolak belakang dengan kehidupan damai di gubuk desa, Alam Atas sedang sibuk.

Lei Shan yang kini bertubuh raksasa mengenakan zirah emas resmi, sedang duduk di meja bundar raksasa, memijit pelipisnya. Di depannya, Raja Yan sedang berdebat sengit dengan Raja Naga Ao Zun tentang pembagian jalur perdagangan angkasa.

"Klan Naga tidak bisa memonopoli Jalur Meteorit Selatan!" bentak Raja Yan sambil menggebrak meja.

"Kami yang membersihkan jalur itu dari sisa-sisa monster Aliansi Langit lima puluh tahun lalu! Itu hak kami!" balas Ao Zun, matanya menyipit seperti reptil.

"Cukup!" Lei Shan menggeram, suaranya menggelegar seperti guntur, membuat gelas-gelas giok di ruangan itu retak. "Kalian berdua sudah berdebat soal ini selama tiga bulan! Jika Bos masih ada di sini, dia akan memukul kepala kalian berdua jadi satu!"

Keheningan langsung menyelimuti ruangan itu seketika nama "Bos" (Shi Hao) disebut.

Raja Yan menghela napas panjang, bersandar di kursinya. Ao Zun mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Seratus tahun telah berlalu, namun kekosongan yang ditinggalkan oleh sang Kaisar Asura tidak pernah bisa diisi.

Tiba-tiba, pintu aula terbuka dengan kasar.

Wuming (Si Pedang Gila) melangkah masuk. Rambutnya lebih panjang dan acak-acakan dari seabad yang lalu, jubahnya kusam. Pedang hitamnya berada di punggungnya, berdengung dengan nada rendah yang mengerikan.

"Wuming? Ada angin apa kau keluar dari pengasingan," sapa Raja Yan.

Wuming tidak menjawab sapaan itu. Dia menatap ketiga jenderal tertinggi itu dengan mata merah yang tajam.

"Kalian terlalu sibuk berdebat soal uang perdagangan," kata Wuming dingin. "Apakah kalian tidak merasakan apa yang baru saja terjadi di utara?"

Lei Shan mengerutkan kening. "Di utara? Di Sektor Tembok Ratapan?"

Wuming mengangguk. "Tiga jam yang lalu. Aku sedang bermeditasi di Makam Pedang. Tiba-tiba, niat pedangku patah. Bukan oleh musuh, tapi oleh tekanan dari luar dunia."

Wuming berjalan mendekati jendela besar yang menghadap langsung ke alun-alun kota, menunjuk ke arah Patung Batu Bintang Abadi milik Shi Hao yang menjulang tinggi.

"Batu Bintang Abadi itu menyerap Hukum Alam Atas untuk menjaga kekuatannya," lanjut Wuming.

Lei Shan, Raja Yan, dan Ao Zun berdiri dari kursi mereka dan melihat ke arah patung itu.

Di bagian dada patung Kaisar Asura tersebut, terdapat sebuah retakan tipis memanjang, seolah seseorang telah menebasnya dengan bilah tak terlihat. Retakan itu memancarkan aura warna ungu yang sangat busuk, aura yang tidak berasal dari semesta mereka.

"Dinding Dimensi Alam kita..." Raja Yan menelan ludah, wajah arogannya berubah pucat. "...sedang mencoba dibongkar dari luar?"

Wuming tersenyum, tapi senyum itu dipenuhi oleh kegilaan dan antisipasi akan kematian.

"Kedamaian yang membosankan ini akhirnya selesai," bisik Wuming. "Sesuatu yang jauh lebih buruk dari Kaisar Langit sedang mengetuk pintu rumah kita."

Kembali ke Dunia Fana, di sore yang tenang.

Shi Hao baru saja berhasil menyelesaikan patung kelincinya. Bentuknya jelek dan tidak proporsional, tapi dia tersenyum puas.

"Qing Yi! Lihat, sudah jadi!" seru Shi Hao bangga.

Qing Yi berbalik, tersenyum cerah, menyingkirkan semua pikirannya tentang masa lalu dan ancaman di langit. Di kehidupan ini, memuji patung kayu suaminya jauh lebih penting daripada nasib tiga ribu dunia.

"Bagus sekali, Suamiku," kata Qing Yi, mencium pipi Shi Hao. "Gou-zi pasti sangat menyukainya."

1
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🙏🙏🙏🙏
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
😍😍😍😍😍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣
saniscara patriawuha.
kasian berkali kali manggg wuuuu ini....
saniscara patriawuha.
sakit banget tuhhh rasaneee...
saniscara patriawuha.
sikattttttt lagiiii mangggg shiiiiii.....
saniscara patriawuha.
mantaffffff surataffff....
Hendra Saja
makin penasaran.....apa tidak bertemu dengan sang tiran Thor....
yos helmi
👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄
yos helmi
😍😍😍😍
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🙏🙏🙏🙏
HINATA SHOYO
mantapp jiwa kerennn cuuyyyyy
HINATA SHOYO
kerenn poolĺll lanjutttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!