NovelToon NovelToon
Belenggu Janji Sang Penguasa

Belenggu Janji Sang Penguasa

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Mafia / Tamat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Redblue Vixx

Axel Alexander adalah pemimpin perusahaan raksasa yang dingin, tegas, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang menghalangi jalannya. Hidupnya berubah saat Ayranza Geovan terpaksa datang padanya demi menyelamatkan usaha keluarga yang terancam bangkrut. Di mata Axel, Ayranza hanyalah tawaran yang mudah dikendalikan. Sampai pertemuan demi pertemuan membangkitkan perasaan yang tak ia inginkan. Di tengah tekanan bisnis dan ambisi besar, Ayranza harus menjaga adik‑adiknya, Angga dan Arshen Geovan, dari bahaya sekaligus melunakkan hati sang penguasa yang dikenal kejam itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Redblue Vixx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mendekat Lewat Jalan Terbaik

Sudah hampir dua bulan Ayranza dan adik‑adiknya menetap di Desa Bukit Jernih. Si kecil Alex Alexander makin sehat dan lincah, sering tertawa renyah di gendongan siapa saja. Di mata seluruh warga desa, mereka adalah keluarga pendatang yang sopan, rajin, dan tak banyak tanya soal masa lalu. Hanya Pak Surya, Bu Marni, dan Dr. Rendra yang tahu sedikit gambaran bahwa ada kisah sedih di balik kedatangan mereka.

Dr. Rendra sadar betul, Ayranza masih menjaga jarak halus, sering menunduk atau diam saat pembicaraan makin mendalam. Ia tak mau terkesan memaksa atau mendesak, apalagi mengingat wanita itu masih menyimpan nama mantan suaminya lewat nama anak. Maka ia memilih cara paling bijak. Mulai mendekat lewat Angga dan Arshen, dua orang yang paling dekat dengan Ayranza selain anaknya sendiri.

Pagi itu udara sangat dingin, kabut masih menggantung tebal di antara rumah‑rumah kayu. Angga baru saja selesai membantu Pak Surya mengangkut hasil kebun dan sedang duduk sendirian di balai desa sambil mengupas sekeranjang ubi. Dr. Rendra berjalan santai mendekat, membawa dua bungkus kacang rebus hangat, lalu duduk di bangku panjang di sebelah anak muda itu.

“Pagi sekali sudah sibuk, Angga,” sapanya ramah sambil menyodorkan satu bungkus. “Mau?”

Angga sedikit terkejut namun segera tersenyum sopan dan menerima pemberian itu.

“Terima kasih, Dokter. Kebetulan perut sudah mulai lapar.”

“Giat sekali kamu,” lanjut Rendra sambil ikut mengupas ubi yang ada di hadapan Angga. “Sudah lama ingin bicara berdua sama kamu, tapi selalu saja ada yang menyela. Bagaimana rasanya hidup di sini dibandingkan tempat tinggalmu dulu?”

Angga berhenti sejenak, menatap asap tipis dari mulutnya yang bertemu udara dingin.

“Jauh lebih sederhana, Pak Dokter. Dulu segala sesuatu tersedia, tinggal ambil. Di sini kalau mau makan enak harus bekerja dulu. Tapi entah kenapa rasanya hati lebih tenang.”

“Kakakmu pun terlihat makin damai,” kata Rendra hati‑hati. “Meski saya tahu sering kali matanya bicara lain saat dia kira tak ada yang melihat.”

Angga menoleh menatap wajah dokter itu lekat‑lekat.

“Dokter… boleh saya bertanya jujur?”

“Silakan saja. Tak usah sungkan.”

“Kenapa Dokter begitu perhatian pada kami? Padahal kami hanya pendatang asing.”

Dr. Rendra berhenti mengupas, menatap lurus ke arah jalan setapak yang menanjak ke atas bukit.

“Karena kalian baik hati dan kuat. Saya sudah lama bekerja di sini, jarang melihat kakak yang rela pergi sejauh ini demi ketenangan hati, apalagi membawa dua adik dan bayi yang baru mau lahir saat berangkat. Dan… Ayranza wanita luar biasa, Angga. Saya hanya ingin sedikit meringankan bebannya.”

Angga mengangguk pelan, percaya akan ketulusan nada bicaranya.

“Kakakku memang kuat. Tapi dia juga masih banyak menyimpan luka, Dokter.”

“Dan adikmu yang bungsu itu?” Rendra mengalihkan topik agar suasana tak terlalu berat. “Arshen makin hari makin lincah ya.”

Sore harinya saat matahari mulai condong ke barat, Dr. Rendra mendapati Arshen sedang duduk sendirian di tepi sungai kecil, membuat perahu‑perahuan dari kulit pohon pisang. Ia berjalan mendekat tanpa bersuara keras, lalu berjongkok di sebelah anak laki‑laki itu.

“Buat apa kapal‑kapal kecil itu, Nak?” tanyanya lembut.

Arshen sedikit tersentak, lalu segera tersenyum lebar mengenali wajah dokter itu.

“Biar kapal‑kapal ini bisa pergi jauh ke sana, Dokter,” tunjuknya ke arah aliran air yang menghilang di balik tikungan lembah. “Bawa surat‑surat kecilku.”

“Surat apa?”

“Surat cerita kami. Cerita kakakku, cerita Alex yang lucu, cerita Angga yang suka marah‑marah kalau aku telat pulang.” Arshen tertawa renyah. “Kalau beruntung, sampai juga ke orang yang dituju.”

Dr. Rendra ikut tersenyum, lalu ikut membantu melipat satu perahu lagi.

“Pasti orang yang dituju akan senang sekali menerimanya.” Ia berhenti sejenak sebelum bertanya perlahan. “Arshen… Kakakmu Ayranza sering sedih kan kalau malam sudah datang?”

Anak itu mengangguk pelan, wajahnya berubah serius.

“Iya. Kadang dia diam lama sekali menatap Alex. Kadang terdengar dia bicara sendiri pelan‑pelan. Kami tak berani tanya, takut dia makin sedih.”

“Kamu dan Angga sangat baik menjaga dia,” puji Rendra lembut. “Kalau nanti ada apa‑apa yang membuat kalian bingung, boleh datang saja cari saya. Kapan saja, tak peduli siang atau malam.”

Arshen menatap wajah dokter itu dengan mata berbinar percaya.

“Terima kasih, Dokter. Kalau begitu boleh Dokter main ke rumah kami lagi besok? Angga sedang mau membetulkan pagar, butuh orang kuat bantu dorong tiang.”

Dr. Rendra tertawa renyah.

“Tentu saja boleh. Pasti saya datang lebih pagi dari kalian.”

Benar saja keesokan paginya saat kabut baru mulai menipis, Rendra sudah sampai di rumah kayu itu membawa sekop dan palu miliknya sendiri. Angga dan Arshen pun sudah siap bekerja. Ayranza yang baru selesai menyusui Alex keluar membawa air hangat dan beberapa gelas teh jahe, sedikit terkejut melihat kedatangannya yang pagi sekali.

“Wah, Dokter sudah datang rupanya,” sapanya agak malu‑malu namun tetap ramah. “Belum sempat menyiapkan apa‑apa.”

“Tak perlu repot, Ayranza,” jawab Rendra sambil segera mengangkat satu tiang kayu berat bersama Angga. “Arshen yang mengundang kemarin sore. Sekalian saya ingin lihat Alex lagi, siapa tahu sudah bisa tertawa keras.”

Siang itu berlalu penuh kerja keras namun gembira. Mereka bekerja bergantian membetulkan pagar, meratakan tanah halaman, dan membersihkan selokan kecil di pinggir jalan. Sesekali terdengar obrolan ringan yang hangat. Angga bercerita cita‑citanya ingin belajar pertanian lebih dalam, Arshen menceritakan keinginan menggambar seluruh pemandangan desa sampai ke puncak bukit tertinggi. Dr. Rendra dengan sabar menjawab, memberi masukan, dan tak segan menceritakan pengalaman masa mudanya saat pertama kali bertugas di desa terpencil itu.

Di sela waktu istirahat saat duduk beralaskan tikar di beranda, Angga memberanikan diri bertanya lagi dengan nada lebih santai namun tetap serius.

“Dokter… menurut Dokter, apakah benar waktu bisa menyembuhkan semuanya?”

Rendra diam sejenak, meminum teh hangat perlahan sebelum menjawab.

“Tak semuanya sembuh begitu saja, Angga. Tapi waktu memberi kita kesempatan untuk berpikir jernih, mengenal diri sendiri lebih baik, dan melihat siapa saja yang tulus mendampingi di saat‑saat sulit. Luka yang dalam butuh perawatan lama dan penuh kasih sayang, sama seperti orang sakit yang butuh obat dan istirahat cukup.”

Arshen yang sedang bermain dengan jari‑jemari Alex ikut menyahut polos.

“Kalau sudah sembuh, apakah kami boleh pulang lagi?”

Dr. Rendra menatap wajah‑wajah penasaran itu satu per satu, lalu menoleh sekilas ke arah Ayranza yang sedang diam mendengarkan sambil menimang anaknya.

“Tentu saja boleh. Pulang ke mana pun hati kalian sudah siap. Saya hanya ingin kalian tahu, selagi di sini, kalian tak sendirian. Ada saya, ada Pak Surya dan Bu Marni, ada seluruh warga desa yang siap menjaga sampai hari itu tiba.”

Sore itu sebelum pulang, saat Angga dan Arshen sedang membereskan peralatan di sudut halaman, Rendra sempat bicara sebentar lagi dengan Angga di ambang pintu.

“Terima kasih sudah percaya sama saya hari ini, Angga. Mulai sekarang kalau ada hal apa saja yang kalian butuhkan, mulai dari urusan kesehatan, persediaan makanan, sampai sekadar teman bicara, pintu rumah saya selalu terbuka.”

Angga menjabat tangan dokter itu erat‑erat, matanya berbinar penuh keyakinan baru.

“Terima kasih banyak, Dokter. Saya rasa kakak saya pun perlahan mulai merasa lebih tenang dengan kehadiran Dokter.”

Di sudut ruangan, Ayranza mendengar percakapan itu samar‑samar. Ia diam memeluk Alex makin erat, merasakan ketulusan yang perlahan mulai menyelinap masuk ke sela‑sela hatinya yang masih berdebar dan terluka. Tanpa disadari, langkah Dr. Rendra mendekat lewat kedua adiknya telah membuka jalan baru: perlindungan yang tak memaksa, persahabatan yang hangat, dan benih‑benih kepercayaan yang pelan‑pelan tumbuh, meski kenangan tentang Axel dan rasa rindu yang tersimpan lewat nama anaknya belum sepenuhnya pudar.

1
KZ2
Kenapa yang Black Eagle di hapus?
KZ2: Siap beb👍🏻
total 2 replies
Fahri Purba
smangt bossqueee.
Fahri Purba
mkanya jjur kw xavier biar gk lari binimu.
Murni Caem
🌟🌟🌟🌟🌟
Murni Caem
jahat x ferguso eh salah fabrizio ini anak² pun diracuni.
Jhony
tor cpetan hlangkan sih cindy, gedek liatny.😡
Jhony
good job👍👍
ShyLvia
smbg amat.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!