Di balik kemegahan High School Los Angeles, Issabelle Reichenbach menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal klan mafia legendaris.
Demi bertahan hidup, ia menyamar sebagai murid beasiswa miskin yang patuh, sembari menahan penderitaan tinggal bersama ibu kandungnya yang lemah dan ayah tiri yang kasar.
Namun, penyamaran sempurna Issabelle terancam hancur saat ia berhadapan dengan Navarro Von-Riccardo, penguasa sekolah sekaligus pewaris tunggal terkuat di Pantai Barat.
Navarro menyimpan rahasia kelam klan Von-Riccardo: sebuah genetika yang membuatnya kehilangan indra penciuman sejak lahir.
Secara mengejutkan, aroma tubuh dingin menyerupai mawar es milik Issabelle menjadi satu-satunya wewangian yang bisa dicium oleh Navarro setelah 16 tahun hidupnya.
Terpikat oleh takdir yang tak terelakkan, Navarro mulai terobsesi untuk menguak topeng misterius gadis beasiswa tersebut, memicu perang insting yang mematikan di antara dua predator puncak.
Happy reading 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#6
Matahari Los Angeles mulai turun ke ufuk barat, memancarkan warna jingga kemerahan yang membakar deretan pohon palem di sepanjang trotoar.
Di kawasan elite yang menghadap langsung ke arah pantai, sebuah griya tawang mewah berdiri dengan angkuh. Tempat itu adalah apartemen pribadi milik Navarro Von-riccardo—sebuah wilayah terisolasi yang jarang disentuh oleh siapa pun, bahkan oleh para pengawal pribadinya sekalipun.
Pintu ganda berbahan baja hitam terbuka dengan bunyi klik mekanis yang halus.
Navarro melangkah masuk, melempar tas sekolahnya begitu saja ke atas lantai marmer tanpa menoleh.
Tubuhnya yang tegap bersandar pada dinding kaca besar yang menampilkan pemandangan distrik bisnis Los Angeles yang mulai dipenuhi lampu-lampu kota.
Ruangan itu sangat luas, namun sepi. Desain interiornya minimalis dengan dominasi warna monokrom: hitam, abu-abu, dan putih.
Sebuah cerminan sempurna dari jiwa pemiliknya yang kosong dan dingin.
Navarro berjalan menuju sofa kulit besar di tengah ruangan. Ia merebahkan tubuhnya, melonggarkan dasi seragam Oakridge miliknya dengan gerakan kasar, lalu memejamkan mata.
Hening. Namun di dalam kepalanya, badai sedang mengamuk.
Sejak melangkah keluar dari area kantin sekolah beberapa jam yang lalu, fokus Navarro benar-benar terpecah.
Untuk pertama kalinya dalam enam belas tahun hidupnya, ia tidak bisa memikirkan bisnis klan, laporan logistik pengiriman barang di pelabuhan, atau rencana perluasan wilayah ayahnya. Pikirannya tersita sepenuhnya oleh sosok seorang gadis fana.
Seorang gadis dengan seragam beasiswa kasta rendah.
"Bagaimana mungkin?" bisik Navarro pada langit-langit apartemennya yang tinggi. Suaranya terdengar serak, bergetar oleh rasa tidak percaya yang amat sangat.
Ia mengangkat tangan kanannya, menatap telapak tangannya sendiri yang beberapa jam lalu sempat berada sangat dekat dengan meja kayu ek hitam tempat gadis itu duduk.
Navarro kemudian mendekatkan tangannya ke hidung. Ia menarik napas dalam-dalam, menutup matanya dengan rapat, mencoba memanggil kembali sensasi luar biasa yang sempat membangunkan sel-sel saraf penciumannya yang selama ini mati.
Ia berusaha menghirup sisa wangi yang mungkin tertinggal di udara, di ujung bajunya, atau di dalam memorinya.
Ia ingin kembali merasakan hantaman aroma dingin sedalam es yang berpadu dengan wangi murni kelopak mawar putih yang membeku.
Aroma yang telah membuktikan bahwa legenda kelam klan Von-riccardo bukanlah sekadar dongeng pengantar tidur.
Namun sayang, tidak ada.
Hidungnya kembali hampa.
Udara di dalam apartemen mewah itu terasa kosong, tawar, dan mati—sama seperti enam belas tahun hidupnya yang lalu.
Jejak aroma mawar es itu telah menguap sepenuhnya, hilang tak berbekas seiring langkah kaki gadis itu menjauh dari wilayahnya.
Kehilangan mendadak itu menimbulkan rasa lapar yang begitu menyiksa di dalam dada Navarro. Sebuah rasa frustrasi yang perlahan berubah menjadi obsesi yang membakar.
Navarro bangkit berdiri dengan sentakan cepat, mata gelapnya berkilat tajam di bawah temaram lampu apartemen.
Kehampaan ini membuatnya muak. Ia terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan di kota ini, dan fakta bahwa satu-satunya kunci untuk indra penciumannya berada di tangan seorang murid beasiswa misterius adalah sesuatu yang tidak bisa ia toleransi begitu saja.
"Kau tidak akan bisa bersembunyi lama, siapa pun namamu," desis Navarro, berjalan menuju meja kerjanya dan membuka sebuah laptop dengan enkripsi militer.
Jemarinya mulai menari di atas papan ketik, memerintahkan jaringan intelijen pribadinya untuk menguliti setiap detail kehidupan gadis beasiswa yang terkait dengan keluarga Wadde’ tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di belahan kota yang berbeda, atmosfer yang sangat kontras sedang terjadi.
Bus sekolah kuning yang bising dan berbau asap solar bergerak lambat membelah kemacetan sore hari.
Di baris kursi paling belakang, Issabelle von Reichenbach duduk bersandar pada sandaran kursi yang keras.
Tatapan mata abu-abunya terpaku pada kaca jendela yang bergetar, memperhatikan ruko-ruko tua dan coretan di dinding gang yang menandakan mereka telah memasuki kawasan pemukiman kelas pekerja.
Di sampingnya, Claire duduk diam dengan tas sekolah yang dipeluk erat di atas pangkuannya.
Setelah insiden menegangkan di kantin tadi siang, Claire tampak jauh lebih segan untuk memulai pembicaraan.
Gadis itu sesekali melirik Issabelle dari sudut matanya dengan pandangan yang sulit diartikan—perpaduan antara rasa ingin tahu dan ketakutan setelah mendengar kalimat tajam yang dilontarkan Issabelle pada Sloane tadi pagi.
Beberapa baris di depan mereka, suara tawa melengking yang sangat akrab terdengar memekakkan telinga.
Itu adalah suara Chloe.
Gadis menor itu sedang duduk dikelilingi oleh dua orang temannya, sibuk memamerkan lipstik baru dan menceritakan bagaimana ia berhasil menarik perhatian salah satu anggota tim penyerang sepak bola Oakridge hari ini.
Dandanan Chloe sudah luntur di beberapa bagian karena keringat, membuatnya terlihat semakin berantakan dan menggelikan.
Issabelle melirik ke arah depan sejenak, lalu mendengus sangat rendah—sebuah desisan dingin yang penuh dengan penghinaan mutlak.
Jika ada satu hal yang paling dibenci Issabelle di dunia ini melebihi musuh-musuh politik ayahnya, itu adalah wanita seperti Chloe.
Bagi Issabelle, Chloe adalah kedunguan yang sempurna.
Seorang gadis yang tidak memiliki nilai diri, tidak memiliki otak untuk berpikir strategis, namun memiliki keberanian yang luar biasa untuk menjadi vokal dan sombong di depan umum.
Di mata seorang Reichenbach yang dididik untuk menghargai efisiensi dan keanggunan, keberadaan Chloe tidak lebih dari sekadar polusi visual yang menguras energinya.
"Kau membencinya?"
Sebuah suara pelan memecah keheningan di antara mereka.
Issabelle menoleh sedikit dan mendapati Claire sedang menatapnya dengan pandangan lurus, meski ada sedikit getaran di bahunya.
Issabelle tidak langsung menjawab. Ia memperbaiki posisi duduknya, melipat tangannya di dada dengan anggun, sebuah gestur alami seorang bangsawan yang tetap terlihat meski ia mengenakan seragam beasiswa yang murah.
"Aku tidak membencinya," jawab Issabelle, suaranya sedatar permukaan es.
"Benci adalah emosi yang terlalu berharga untuk dihamburkan pada makhluk seperti dia. Aku hanya merasa terganggu oleh kedunguannya."
Claire tertegun mendengar artikulasi kata-kata Issabelle yang begitu tertata dan dingin.
Sama sekali tidak terdengar seperti ucapan seorang remaja berusia enam belas tahun yang ketakutan setelah baru saja pindah negara.
Issabelle mengalihkan pandangannya kembali pada Claire, menatap lekat-lekat wajah saudari tirinya yang polos tanpa riasan itu.
"Namun, yang lebih membuatku penasaran adalah dirimu, Claire."
"Aku?" Claire berkedip bingung, menunjuk dirinya sendiri.
"Bagaimana mungkin kau bisa hidup bersama dengan sampah-sampah itu selama bertahun-tahun?" tanya Issabelle, singkat, padat, dan menusuk langsung ke inti realitas kehidupan keluarga Wadde’.
Kalimat itu membuat Claire terdiam seribu bahasa.
Wajahnya perlahan menunduk, menatap ujung sepatu sekolahnya yang kusam.
Pertanyaan Issabelle tidak sekadar menanyakan tentang Chloe, melainkan tentang seluruh dinamika rumah mereka—tentang Harrison yang kasar, tentang Sloane yang lemah dan memohon seperti anjing, dan tentang Chloe yang bertingkah seperti badut kandang kuda demi validasi semu.
"Aku tidak punya pilihan, Issabelle," bisik Claire setelah keheningan yang cukup lama.
Suaranya terdengar sangat lelah, memikul beban yang tampaknya sudah ia bawa sejak lama.
"Harrison adalah ayah kandungku. Dan ibumu... dia memilih untuk masuk ke dalam rumah ini. Kami semua hanya mencoba bertahan hidup dengan cara kami masing-masing."
"Bertahan hidup dengan cara mengemis harga diri bukanlah bertahan hidup," sahut Issabelle dingin tanpa belas kasihan.
"Itu adalah pembunuhan karakter secara perlahan. Dan ibuku... dia memilih untuk menjadi wanita memuakkan yang merangkak di kaki pria itu."
Claire mendongak, menatap mata abu-abu Issabelle dengan rasa tidak percaya. "Kau sangat membenci ibumu, bukan?"
"Dia yang memilih jalannya sendiri, Claire. Di duniaku, jika kau menunjukkan kelemahan sedikit saja, orang-orang akan menginjakmu hingga hancur. Dan ibuku menawarkan dirinya sendiri untuk diinjak," ucap Issabelle sambil berdiri saat bus sekolah akhirnya mulai melambat dan berhenti di halte dekat jalan utama perumahan mereka.
Pintu bus terbuka.
Chloe dan Toby melompat turun lebih dulu tanpa memedulikan kedua saudari mereka. Issabelle melangkah turun dengan tenang, diikuti oleh Claire di belakangnya.
Saat mereka berjalan menyusuri trotoar menuju rumah sederhana keluarga Wadde’, Issabelle bisa merasakan atmosfer kelam yang menantinya di balik pintu rumah itu.
Namun, pikirannya kembali berputar pada kejadian di kantin tadi siang. Wajah pria berambut urakan bernama Navarro Von-riccardo itu kembali terlintas di benak akademisnya.
Issabelle tahu, langkah mundurnya tadi siang di kantin telah menyelamatkan penyamarannya untuk sementara waktu.
Namun, tatapan mata gelap Navarro sebelum ia pergi meninggalkan kesan yang tidak biasa.
Pria itu menatapnya bukan dengan pandangan meremehkan yang biasa ditunjukkan oleh George Clooney, melainkan dengan pandangan intensitas berburu yang sangat berbahaya.
Navarro Von-riccardo, batin Issabelle sambil memegang gagang pintu rumahnya yang berkarat.
Kau menguasai sekolah ini, dan keluargamu menguasai pantai barat. Tapi jangan pernah berpikir untuk mengendus terlalu dalam ke duniaku, atau kau akan menemukan bahwa ada monster yang lebih besar yang sedang bersembunyi di balik status beasiswa ini.
Dengan pemikiran itu, Issabelle mendorong pintu rumah, bersiap untuk memasang kembali topeng gadis penurutnya di hadapan amukan Harrison yang mungkin sudah menantinya di dalam.
Namun, baik Issabelle maupun Navarro belum menyadari, bahwa benang takdir genetika yang telah mengikat kedua klan mereka kini mulai bergerak, menarik kedua predator puncak ini ke dalam satu arena yang sama, di mana tidak ada satu pun dari mereka yang bisa melarikan diri dari aroma takdir yang mematikan.
gak adil nih klo navaro dan isabel trz salah paham mulu😔
ayolah thor bikin mereka baikan lagi😂😂😂