NovelToon NovelToon
Hidayat Bersaudara

Hidayat Bersaudara

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:680
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Guntur Hidayat dan Ali Hidayat awalnya bersekolah di SMA yang mayoritas dihuni anak orang kaya. Karena keterbatasan biaya, keduanya terpaksa putus sekolah. Mereka lalu membantu kakak tertua mereka, Faris Hidayat — sosok yang disegani, ahli memperbaiki dan memodifikasi motor, serta diam-diam pandai mengembangkan uang lewat saham terindeks. Bersama orang tua mereka, Bapak Wijaya Hidayat dan Simbok Arum Sari, ketiga bersaudara ini berjuang membangun masa depan lewat bengkel kecil mereka. Membuktikan: keberhasilan tidak harus selalu lewat bangku sekolah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Berhenti Sekolah Bukan Berhenti Berjuang

Siang itu matahari bersinar terik sekali, menyinari halaman rumah sederhana yang terletak di pinggiran kota. Di teras rumah yang lantainya terbuat dari semen, dua orang pemuda duduk bersila dengan wajah tampak murung. Mereka adalah Guntur dan Ali, dua bersaudara yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Di tangan mereka tergenggam selembar surat pemberitahuan resmi dari sekolah.

“Sudah tiga bulan kita nunggak uang SPP, Gun. Isi surat ini bilang kalau sampai lusa belum lunas, kita terpaksa dikeluarkan dari sekolah,” ucap Ali dengan suara pelan, hampir tergesek tenggorokannya. Ia memandang surat itu dengan pandangan sayu.

Guntur menghela napas panjang, lalu mengusap keringat di dahinya. Ia tahu persis kondisi keuangan keluarga mereka belakangan ini. Sejak setahun lalu, ayahnya jatuh sakit dan tidak bisa bekerja seperti dulu. Sebagai kepala keluarga yang biasanya menjadi tulang punggung, kini ia hanya bisa berbaring di kamar dan sesekali berusaha bangun meski tubuhnya terasa lemah. Ibu mereka pun hanya bisa membantu tetangga mencuci pakaian atau menjajakan kue di depan rumah untuk menambah sedikit uang belanja.

“Kita sudah tahu risikonya sejak awal, Li. Sekolah ini kan memang kebanyakan diisi anak-anak orang berada. Kita cuma beruntung bisa diterima dulu lewat beasiswa, tapi untuk biaya lain-lainnya tetap saja berat,” jawab Guntur, berusaha terlihat tegar meski di dalam hatinya terasa perih dan kecewa. Ia sebenarnya juga ingin sekolah setinggi mungkin, tapi kenyataan berbicara lain.

Belum sempat mereka berdua melanjutkan pembicaraan, terdengar suara langkah kaki berat dari arah jalan setapak di depan rumah. Tak lama kemudian, muncul sosok pemuda berperawakan tegap, kulitnya agak gelap terbakar matahari, mengenakan kaos oblong yang sudah agak pudar dan celana panjang kain yang sedikit lusuh. Di pundaknya tergantung tas kain berisi peralatan bengkel yang terlihat sudah sering dipakai. Itu adalah Faris, kakak tertua mereka yang baru saja pulang dari mencari pekerjaan tambahan.

“Kenapa mukanya pada suram begitu? Ada masalah apa?” tanya Faris sambil meletakkan tasnya di sudut teras, lalu duduk di bangku kayu tua di hadapan kedua adiknya.

Ali tanpa banyak bicara langsung menyodorkan surat pemberitahuan itu. Faris menerimanya, membaca isinya dengan tenang, lalu mengangguk pelan seolah sudah menduga hal ini akan terjadi.

“Sudah, jangan dipikirin sampai bikin pusing. Sekolah itu penting, tapi bukan satu-satunya jalan buat meraih masa depan. Masih banyak jalan lain yang bisa kita lalui,” kata Faris dengan nada bicara yang tenang dan meyakinkan. Ia memang tidak banyak bicara, tapi setiap kata yang keluar dari mulutnya selalu ada bobotnya.

Malam harinya, suasana di ruang tengah rumah terasa hening. Lampu temaram menerangi ruangan yang sederhana itu. Bapak mereka duduk bersandar di kursi kayu, wajahnya tampak lelah namun tetap berusaha tersenyum agar tidak membebani hati anak-anaknya. Ibu mereka sibuk menyajikan teh hangat dan beberapa potong kue sederhana di meja.

“Kalau memang kita tidak sanggup lagi membayar, tidak apa-apa. Jangan dipaksakan sampai bikin semuanya sengsara. Yang penting kalian tetap mau belajar, mau bekerja keras, dan punya akhlak yang baik,” ucap Bapak dengan suara lemah namun tegas.

“Betul kata Bapak,” sambung Faris. “Mulai besok, Guntur dan Ali bantu saya di bengkel kecil yang saya siapkan di belakang rumah. Saya ajari kalian cara memperbaiki motor, memahami cara kerja mesin, dan hal-hal yang bisa jadi bekal hidup. Kalau soal pelajaran sekolah, saya bisa ajari kalian di rumah. Bahkan saya sudah mulai pelajari cara mengelola uang dan berinvestasi lewat saham, pelan-pelan saja asal konsisten.”

Mata Guntur dan Ali berbinar mendengar penjelasan kakaknya. Mereka tahu Faris bukan orang yang bicara sembarangan. Di balik sikapnya yang terlihat biasa saja, ia memiliki pikiran yang jauh ke depan dan selalu berusaha mencari solusi terbaik untuk keluarga.

Sejak hari itu, kehidupan mereka berubah total. Setiap pagi hingga siang, mereka berada di bengkel kecil yang berukuran tidak terlalu besar. Tangan mereka yang tadinya halus dan bersih kini mulai sering terkena oli, menjadi kasar, dan kadang tergores besi tajam. Awalnya mereka merasa kesulitan, bau oli yang menyengat terasa mengganggu, dan otot tubuh sering terasa pegal setelah mengangkat bagian motor yang berat. Namun lambat laun mereka mulai terbiasa.

Setiap kali berhasil memperbaiki satu motor yang rusak, ada rasa bangga yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Setiap rupiah yang mereka dapatkan dari hasil kerja keras mereka terasa jauh lebih berharga daripada uang yang mungkin hanya diberikan begitu saja.

Sore harinya, setelah bengkel ditutup dan peralatan dibersihkan, Faris selalu menyempatkan waktu untuk mengajari kedua adiknya. Mulai dari pelajaran hitungan dasar, cara berkomunikasi dengan pelanggan, bagaimana melihat peluang usaha, hingga cara membaca perkembangan ekonomi dan pasar saham lewat ponsel sederhana yang mereka miliki.

“Ingat, ilmu itu tidak cuma ada di dalam buku tebal di sekolah. Ilmu yang paling berharga adalah ilmu yang bisa dipakai untuk hidup dan memecahkan masalah. Sama seperti memperbaiki motor, kita harus teliti, sabar, dan tidak mudah menyerah kalau belum berhasil,” ucap Faris suatu sore sambil menunjuk layar ponsel yang menampilkan grafik pergerakan harga saham.

Bulan demi bulan berlalu. Perlahan tapi pasti, bengkel kecil mereka mulai dikenal oleh orang-orang di sekitar. Pelanggan datang silih berganti, baik untuk servis ringan maupun perbaikan yang lebih berat. Uang yang terkumpul pun makin bertambah sedikit demi sedikit. Tidak hanya itu, usaha investasi yang dilakukan Faris juga mulai menunjukkan hasil, meski nilainya masih kecil, tapi cukup membantu menambah keuangan keluarga.

Suatu sore, saat mereka sedang beristirahat sejenak sambil minum teh, Ali menatap sekeliling bengkel yang kini terlihat lebih rapi dan tertata. “Siapa sangka ya, kita berhenti sekolah malah bisa punya usaha sendiri dan bisa bantu keluarga,” gumamnya pelan.

Guntur tersenyum mengangguk setuju. “Memang benar kata Faris. Keberhasilan itu tidak melulu soal punya ijazah sekolah tinggi. Selama kita mau berusaha keras, mau belajar hal baru, dan tidak mudah putus asa, pasti ada jalan yang terbuka.”

Di sudut bengkel, Faris hanya tersenyum tipis mendengar obrolan kedua adiknya. Ia tahu perjuangan mereka masih sangat panjang, dan mungkin masih banyak tantangan yang akan datang menghadang. Namun selama mereka bersatu, saling mendukung, dan tetap berpegang teguh pada niat baik, ia yakin tidak ada hal yang mustahil untuk dicapai.

1
falea sezi
semangat nanti q kirim hadiah
falea sezi
author orang mana
FARIZARJUNANURHIDAYAT: Sidoarjo
total 1 replies
falea sezi
bima kn otaknya kosong🤣 cm ngandalin harta orang tua nya aja😒
Ilham
BG jangan gantung gtu cerita nya npa bg
FARIZARJUNANURHIDAYAT: Siap Kak Ilham
😌 Jangan khawatir… cerita ini nggak bakal jadi ,gantungan kunci doang, bakal lurus sampai garis finis persis di lintasan balap Nanti bab-babnya menyusul cepat kok 😂
total 1 replies
Ilham
lanjut bg
Ilham
lanjut bg👍
Ilham
lanjut BG jangan gantung bg
Ilham
lanjut bg
Ilham
lanjut BG cerita dari awal mantap bg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!