Zavier terpaksa harus mencari seorang wanita untuk di jadikan istri secepatnya, karena di paksa oleh sang kakek yang sedang sakit parah. Sebagai seorang pewaris tunggal dirinya di tuntut oleh sang kakek untuk memiliki istri di usianya yang ke 27 tahun, hal ini membuat Zavier hampir gila.
Sementara itu di sisi lain, Sofia yang baru saja kehilangan sang papa, kini menjadi yatim piatu hidup menderita di tangan mama dan adik tirinya. Namun sebuah teragedi tak terduga terjadi, mama tiri Sofia tiba-tiba menjual Sofia kepada seorang laki-laki tua demi uang. Namun pada akhirnya hal ini malah membuat jalan bagi Sofia bertemu dengan Zavier.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
"a-anu nona muda, tadi tuan Wiliam meminta saya untuk bertanya, apa makanan kesukaan nona, ia khawatir kalau masakan kami tak di sukai nyonya, sebantar lagi makan malam tiba," ujar bik Rua dengan senyum mengembang.
Sesungguhnya mendapatkan nona muda atau nyonya muda yang memiliki kepribadian baik dan lembut adalah impian semua pelayan di mansion Atharyan.
"Makanan kesukaan ku? Apakah aku harus mengatakan nya?" tanya Sofia kaget. Selama lima tahun dia tidak pernah mendapatkan perlakuan spesial seperti ini dari para pelayan di mansion nya kecuali Luvi.
"Tentu saja nona," jawab bik Rua kepala pelayan.
"Emm, baik lah, aku suka makan sup," ujar Sofia malu-malu.
"Hanya itu?" tanya bik Rua lagi.
"Iya," jawab Sofia sambil mengangguk.
"Baik lah nona, kalau begitu saya permisi," kata bik Rua dengan sopan.
"Iya," jawab Sofia lagi.
Betapa gugup nya Sofia setelah lima tahun dirinya tidak pernah mendoakan perilaku spesial dari para pelayan dan kali ini kepala pelayan sendiri yang datang menghampiri nya hanya karena untuk menanyakan makanan kesukaan nya saja.
Sofia pun kembali masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamar tersebut.
Namun saat ia berbalik melihat isi kamar terlihat Zavier yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah dan juga badan yang di baluti dengan handuk sepingang.
"Astaga!" kata Sofia yang kemudian refleks menutup mata nya dengan kedua tangan.
"Apa? Kenapa? Kau pikir aku telanjang?" tanya Zavier sambil mengerutkan kening karena reaksi Sofia yang aneh.
"Apa yang kau lakukan tuan muda? Kenapa kau tidak mengunakan pakaian mu?" ujar Sofia dengan tangan yang sedikit gemetar.
Zavier teridam, dia barusan mendengar Sofia memagil nya dengan sebutan tuan muda, padal tadi di kamar sang kakek Sofia memagil nya dengan sebutan kak Zavier.
"Aku tau kita belum menetapkan nama panggilan, tapi kau juga tidak boleh memangil ku secara random seperti ini," ujar Zavier yang kini berada tepat di hadapan Sofia.
Kehangatan tubuhnya mulai terasa sangat dekat dengan Sofia, aroma sabun mandi yang begitu wangi kini menyeruak ke dalam hidung Sofia.
"Aku mohon jangan mendekat, pergi lah dan pakai pakaian mu segera aku mohon, nanti bahas soal nama panggilan nya," kata Sofia dengan tangan yang masih menempel di kedua matanya.
Zavier menatap diri nya sendiri, ia mengerutkan keningnya merasa bingung, padahal ia mengunakan handuk sepingang namun kenapa Sofia begitu kaget melihat nya.
"Bukan kah kau sebelum nya pernah punya hubungan dengan laki-laki yang bernama Samuel? Kenapa sekarang kau malah kaget hanya karena aku mengunakan handuk sepingang? Seharusnya ini hal.yabg biasa bagi para laki-laki yang selesai mandi kan?" tanya Zavier yang tidak tau seperti apa Sofia saat pacaran dengan Samuel.
"Maksud mu apa? Aku memang pernah berpacaran, atau berhubungan dengan laki-laki, namun aku tidak pernah masuk ke kamar nya, apalagi melihat nya saat dia baru selesai mandi, ini pertama kalinya aku melihat laki-laki yang tidak mengenakan baju," kata Sofia berkata jujur.
"Astaga seharusnya kau mengatakan nya sejak awal," kata Zavier yang kemudian berjalan cepat menuju lemari pakaian nya dan dengan segera mengenakan pakaian.
Sementara itu Sofia masih saja tidak mau membuka mata nya.
Awalnya Zavier mengira kalau hal ini adalah hal biasa untuk Sofia namun ternyata dia salah, tetapi entah kenapa ada perasaan lega di dalam benak Zavier setelah mengetahui bagaimana Sofia sebenarnya.
Tak lama kemudian Zavier pun selesai mengunakan pakaian nya.
"Segera buka mata mu dan pergi lah ke kamar mandi, sebentar lagi waktu malam tiba jangan membuat kakek menunggu," ujar Zavier kepada Sofia.
Sofia pun membuka mata nya dan kemudian melihat sekeliling, dia melihat Zavier yang sudah mengunakan pakaian nya, seketika Sofia merasa lega.
Ia pun berjalan pergi ke kamar mandi karena perintah dari Zavier barusan, lagipula dia juga sudah merasa seluruh tubuh nya lengket karena belum mandi.
"Apakah dia benar-benar polos?" tanya Zavier kepada dirinya sendiri.
"Tuan muda," pangil Glen yang entah sejak kapan berdiri di depan pintu kamar Zavier.
"Ada apa?" jawab Zavier yang orang nya sama sekali tidak mudah kaget akan kedatangan asisten nya yang sering secara tiba-tiba itu.
"Bukan kah anda memanggil saya?" jawab Glen.
"Aku memagil mu? Kapan?" tanya Zavier kelupaan.
"Astaga, bukan kah anda meminta pelayan untuk memanggil saya? Katanya ada yang ingin anda tanyakan," ujar Glen sambil mengerutkan keningnya.
"Oh iya, aku ingin kau mengurus soal perayaan yang di minta kakek, adakan dalam tiga hari lagi," kata Zavier dengan mudah nya.
"Apa? Aku sendiri? Bukan kah tuan Wiliam juga punya asisten?" tanya Glen lagi.
"Tentu saja kau bersama nya," jawab Zavier lagi.
"Baik lah tuan muda, oh ya di mana nona muda? Aku tidak melihat nya di kamar?" ujar Glen sambil celingak-celinguk.
"Hey, dia istri ku, kenapa kau mencari-cari istri atasan mu? Apakah kau sudah gila?" ujar Zavier yang kesal dengan tingkah Glen.
"Ah, tidak aku tidak bermaksud seperti itu, kalau begitu aku permisi dulu tuan muda," setelah mengatakan itu Glen pun segera pergi dari hadapan Zavier.
Sementara Zavier hanya menatap nya dengan tatapan tajam.
Entah kenapa rasanya tidak nyaman saat Glen mencari-cari Sofia, rasanya sungguh menyebalkan untuk seorang Zavier yang cuek dan dingin namun tidak ada yang bisa menebak hati nya.
Singkat cerita makan malam pun telah tiba, Zavier dan Sofia turun bersama ke lantai bawah untuk makan malam bersama dengan kakek Wiliam yang sudah menunggu mereka.
Sandiwara saling mencintai pun mulai kembali berlangsung.
"Maaf kakek, aku sudah membuat mu menunggu terlalu lama," kata Sofia sambil tersenyum kepada Kakek Wiliam.
"Tidak, sama sekali tidak, aku juga baru saja turun," kata sang kekek yang duduk di kursi roda.
Makan malam pun dimulai, betapa gugup dan cangung nya Sofia, ini adalah hal pertama di hidup nya setelah Lima tahun, melihat makanan yang begitu banyak dan berbagai jenis lauk pauk yang sangat lezat. Biasanya di mansion Sofia selalu sangat takut untuk makan karena tatapan tajam mama tirinya.
Sebelum nya Sofia tidak pernah menduga kalau dirinya akan berhasil keluar dari keadaan sebelum nya.
Satu jam pun berlalu, kini jam makan malam telah usai, setelah mengantarkan kakek Wiliam ke kamar nya, Maudy dan Zavier pun kembali ke kamar mereka.
"Kenapa kakek sampai tiga bisa berjalan?" tanya Sofia mulai membuka obrolan dengan Zavier.
"Kakek bukan tidak bisa berjalan, dia hanya lemah dan tidak kuat untuk berdiri terlalu lama, atau berjalan," kata Zavier lagi.
Sofia teridam mendengar ucapan Zavier, sejak kecil Kakek dan nenek Sofia sudah meninggal ia tidak sempat merasakan kasih sayang seorang kakek maupun nenek, melihat Kakek Wiliam yang sangat baik rasanya ia cukup senang dan ingin tau banyak soal orang tua itu.
Bersambung ....