seorang pemuda berusia 25 tahun tampak sedang rebahan dengan posisi super tidak estetis di atas bangku kayu panjang.
Dia adalah Kevin Wahyu Wijaya. Lulusan sarjana manajemen dari salah satu universitas swasta di Depok yang gelarnya saat ini hanya berguna sebagai alas tikar saat piknik keluarga.
"Kevin! Lu kagak ada niat nyari kerja apa? Itu si Doni anak RT sebelah udah keterima kerja di SCBD, tiap hari pake kemeja rapi. Lah lu? Dari pagi sampai ketemu pagi lagi kerjaan lu cuma mabar Mobile Legends sambil ngetek di warkop gua!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27
Atmosfer di dalam kamar utama rumah mewah baru Kevin di cluster elite Depok sebenarnya masih sewangi kelopak mawar.
Baru tiga hari yang lalu Kevin Wijaya resmi menjabat sebagai seorang suami setelah menuntun Nabila gadis warkop yang kini berstatus sebagai ratu di hatinya melewati akad nikah yang sakral.
Di ruang tengah, ibunya, Bu Rahma, sedang asyik memilah hiasan dinding bersama Cak Umar yang kini resmi jadi mertua Kevin. Semuanya damai. Semuanya tampak sempurna.
Sampai jarum jam dinding bergeser tepat ke angka 00:00.
Ding!
Sebuah kilatan cahaya hologram berwarna merah muda menyala, memotong kegelapan kamar dengan intensitas yang membuat mata Kevin mendelik seketika.
[Misi Khusus Pasca-Pernikahan Diaktifkan!]
[Target Utama: Bu Amanda (32 janda, Rektor Universitas Indonesia & Pemilik Gurita Bisnis 'Pratama Group').]
[Perintah Misi: Dekati kembali Target yang sudah mengenal Anda, taklukkan hatinya dalam waktu 14 hari, dan nikahi Bu Amanda sebagai Istri Kedua Pengguna untuk mengunci 'Gelar Kaisar Harem Depok'.]
[Hukuman Kegagalan: Seluruh aset ruko Margonda disita, Rumah Sakit Pusat Medika bangkrut, dan kemampuan 'Kecepatan Tangan Pengocok Wajan' akan diubah permanen menjadi 'Tangan Gemetar Gemetar Permanen'.]
Kevin yang sedang meluruskan kakinya di atas kasur king size langsung terlonjak tegak.
Kepalanya mendadak pening seperti dihantam tabung gas melon dua belas kilo.
"Heh! Sistem keparat!"
"Sini lu keluar!"
bentak Kevin setengah berbisik, takut suaranya membangunkan Nabila yang sedang tidur pulas di kamar sebelah.
"Lu waras gak?! Gue baru nikah tiga hari yang lalu! T-I-G-A H-A-R-I!
"Lu udah nyuruh gue nyari bini kedua?! Mana sasarannya Bu Amanda lagi!"
Ding!
[Merespons Pengguna. Sistem selalu bekerja berdasarkan kalkulasi efisiensi takdir. Bu Amanda yang dulunya dosen Anda di UI kini memegang kunci jaringan birokrasi dan sengketa tanah sisa milik faksi bawah tanah Depok Utara lewat perusahaan propertinya. Tanpa mengamankan Bu Amanda lewat jalur pernikahan sah, keselamatan keluarga Wijaya yang baru Anda rintis akan terancam.]
"Alasan lu klise banget!"
amuk Kevin dalam hati, tangannya mengepal mencengkeram bantal.
"Gue tahu Bu Amanda itu cantik, mandiri, dan dulu emang hobi bimbing gue pas di UI."
"Tapi dia itu dosen gue, Sistem!"
"Dan sekarang dia Rektor! Masa gue dateng lagi ke dia cuma buat bilang 'Bu, saya mau ngelamar jadi suami kedua'?"
"Lu mau bikin gue digosipin satu kampus?!"
Ding!
[Kekuatan fisik tidak bisa menyelesaikan sertifikat tanah ganda yang ditandatangani oleh pejabat negara, Pengguna. Selain itu, Sistem mendeteksi bahwa Bu Amanda sejak dulu memang sudah menyimpan rasa kagum rahasia pada Anda. Jangan menyangkal takdir.]
"Kagum mbahmu?!"
Kevin hampir saja melempar bantalnya ke arah layar hologram.
"Gue ini suami setia! Nabila itu ikatan jiwa abadi gue."
"Kalau dia tahu gue mepet-mepet mantan dosen gue yang sekarang jadi rektor kaya raya itu, gerobak stainless-steel yang gue kasih ke bapaknya bakal melayang ke muka gue!"
Ding!
[Fasilitas Pendukung Misi Minggu Ini Telah Dikirim:
1.Aura Karisma 'Alumni Premium' (Membuat wanita matang yang sudah mengenal Anda merindukan proteksi Anda).
2.Status Baru: Dosen Tamu Spesial Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
3.Silakan memulai pendekatan besok pagi pukul 08:00 WIB. Selamat berjuang, calon Kaisar Harem.]
Layan hologram itu menghilang dengan suara tring yang sangat menjengkelkan, meninggalkan Kevin yang terduduk lemas di tepi kasur sambil memegangi pelipisnya.
Keesokan paginya, suasana meja makan rumah mewah itu terasa agak canggung bagi Kevin.
Nabila dengan telaten menyendokkan nasi goreng buatan rumah ke piring Kevin, lengkap dengan senyuman manis seorang istri baru.
"Mas Kevin kok bengong terus dari tadi? Masakannya gak enak ya?"
tanya Nabila lembut, menatap suaminya dengan dahi berkerut.
"Eh? Enggak kok, sayang."
"Enak banget malah,"
jawab Kevin buru-buru menyuap nasi.
"Oh ya, sayang... Mas mulai hari ini dapet panggilan kerja baru."
"Jadi dosen tamu spesial di kampus UI. Kebetulan Bu Amanda dosen Mas yang dulu pernah Mas ceritain yang minta langsung."
Bu Sri yang sedang mengunyah kerupuk langsung berbinar.
"Wah, mulia banget itu, Vin! Kemarin ojol, sekarang dosen di UI."
"Ibu bangga banget sama kamu."
Cak Umar ikut mengangguk setuju.
"Iya, Nak Kevin. Jaga amanah ya."
Kevin hanya bisa tersenyum kecut di balik sendoknya. Kerjanya sih halal, Cak.
Tapi misinya ini yang bikin saya bisa didepak dari kartu keluarga, batin Kevin menangis darah.
Tepat pukul 08:00, Kevin mengendarai mobil mewah pemberian sistem menuju kawasan kampus legendaris Universitas Indonesia di Depok.
Dengan kemeja slim-fit biru muda yang lengannya digulung hingga siku, jam tangan stainless-steel yang berkilat, dan rambut yang ditata rapi, efek dari Aura Karisma Alumni Premium langsung bekerja tanpa ampun begitu dia turun di lobi gedung rektorat.
Kevin mengabaikan bisikan-bisikan mahasiswi di koridor.
Tujuannya hanya satu: Ruang Rektor. Tempat di mana Bu Amanda berada.
Ketika Kevin mengetuk pintu jati besar bertuliskan 'Rektorat', sebuah suara wanita yang sangat tegas, berwibawa, namun memiliki kelembutan yang sangat dia kenali terdengar dari dalam.
"Masuk."
Kevin membuka pintu.
Di balik meja kerja besar berbahan kaca hitam, duduk Bu Amanda.
Dia mengenakan setelan blazer formal berwarna merah marun.
Rambutnya disanggul modern dengan rapi. Begitu pintu terbuka dan matanya melihat sosok Kevin, penanya langsung terjatuh ke atas meja.
"Kevin...?"
gumam Bu Amanda, wajah tegasnya seketika mencair, digantikan oleh binar mata kegembiraan yang luar biasa. Dia langsung berdiri dari kursinya.
"Kamu beneran dateng?"
"Saya pikir surat undangan dosen tamu itu bakal kamu cuekin setelah kamu sukses dengan bisnismu!"
"Gak mungkin saya cuekin undangan dari dosen favorit saya sendiri, Bu... eh, maksud saya, Bu Rektor,"
jawab Kevin dengan senyuman tipis yang memikat.
Efek Aura Karisma Alumni Premium milik sistem mendadak memperkuat memori masa lalu di antara mereka.
Jantung Bu Amanda mendadak berdegup dengan ritme yang sangat cepat, kerinduan terpendam yang dia rasakan sejak Kevin lulus kini meledak kembali dengan kekuatan penuh.
"Silakan duduk, Kevin."
"Kamu... kamu terlihat jauh lebih dewasa dan matang sekarang,"
ujar Bu Amanda, matanya tidak bisa lepas menatap postur tegap Kevin hasil dari Tubuh Baja Dewa.
Ding!
[Analisis Target Dimulai: Karena Target sudah mengenal Pengguna sejak lama, tingkat ketertarikan awal berada di angka 65%! Sistem menyarankan Pengguna untuk langsung melemparkan pujian pada perubahan penampilannya yang semakin seksi sebagai Rektor baru.]
"Gak usah ngasih saran gila, Sistem sialan!" umpat Kevin dalam hati.
"Gue ini mantan mahasiswanya, sopan santun gue masih ada ya!"
"Kenapa, Kevin? Kok kamu malah melamun menatap saya?"
tanya Bu Amanda tiba-tiba, menyadari Kevin sempat terdiam selama beberapa detik sambil menatapnya.
"Eh, tidak, Bu," Kevin langsung memutar otaknya.
Mau tidak mau, dia harus menaikkan poin misi demi keselamatan ruko dan rumah sakitnya.
"Saya hanya... sedikit takjub."
"Waktu berlalu cepat, tapi kecantikan dan keanggunan Bu Amanda sama sekali gak berubah sejak pertama kali membimbing saya di kelas dulu."
"Malah sekarang kelihatan semakin berwibawa."
Mendengar pujian yang begitu berani dari mantan mahasiswa kesayangannya, pipi Bu Amanda yang biasanya pucat karena bedak mahal mendadak merona merah tipis.
Dia berdeham pelan, mencoba menyembunyikan rasa salah tingkahnya yang luar biasa.
"K-Kamu ini... sudah pintar sukses di luar, sekarang pintar gombal ya."
Setelah menyelesaikan urusan administrasi silabus, Kevin melangkah keluar dari ruangan rektorat.
Begitu pintu tertutup, Kevin bersandar di dinding koridor dan langsung memprotes Sistemnya habis-habisan.
"Gila ya lu, Sistem! Bu Amanda itu udah kayak mentor hidup gue dulu di UI! Kenapa jalurnya harus romantis begini sih?!
"Lu tahu kan gue baru nikah!"
amuk Kevin lewat jalur pikiran.
Ding!
[Pengguna harus memahami bahwa ini adalah bagian dari pengorbanan agung. Bu Amanda bukan hanya mantan dosen Anda, dia adalah pemilik Pratama Group yang saat ini sedang memegang hak paten atas tanah di kawasan Depok Utara tempat faksi Naga Hitam bersembunyi.
Jika Pengguna tidak menjadikannya istri kedua, faksi tersebut akan menghancurkan ruko Margonda milik Anda minggu depan melalui jalur hukum. Ini adalah taktik penyatuan aset tercepat!]
Kevin mendengus.
"Penyatuan aset sih penyatuan aset, tapi mental gue yang mau pecah!"
Ding!
[Pengguna Sangat Bodoh]