Xu Natalia, wanita yang diam-diam mengangkat keluarga Li dari rakyat biasa menjadi bangsawan, justru dihina saat suaminya, Li Adrian, pulang dari perang membawa istri lain. Tanpa banyak kata, ia memilih bercerai dan pergi hanya dengan harga dirinya.
Tak ada yang tahu wanita yang mereka remehkan adalah putri kaisar dari negeri seberang sekaligus ahli pengobatan yang mampu mengubah takdir.
Bagaimanakah saat keluarga Li tahu identitas Natalia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diusir Lagi
Andrian melangkah keluar dari gerbang Istana Kekaisaran Pedang Langit dengan wajah sedikit muram. Pikirannya masih dipenuhi oleh bayangan lukisan wanita bercadar yang entah mengapa terasa begitu familiar. Ia mengerutkan kening, mencoba mengusir pikiran yang terus mengganggunya.
Ia menggelengkan kepala kuat-kuat, lalu menghela napas panjang. “Astaga, Andrian! Kau benar-benar bodoh,” gumamnya kesal pada diri sendiri. “Dia tidak mungkin Natalia, Natalia bisa apa? Dia hanya tahu diam di rumah.”
Langkahnya terus berlanjut menuju penginapan mewah tempat keluarganya menginap beberapa hari terakhir. Wajahnya perlahan kembali datar, mencoba melupakan hal-hal yang menurutnya tidak masuk akal. Namun begitu ia tiba di depan gerbang penginapan, langkahnya langsung terhenti.
Mata Andrian terbelalak melihat pemandangan di depannya. Beberapa pengawal penginapan sedang menyeret keluarganya keluar tanpa ampun. Teriakan histeris langsung terdengar di udara.
“Lepaskan aku! Kalian berani sekali memperlakukan kami seperti ini!” teriak Li Anna dengan wajah merah padam. Karina di sampingnya juga meronta-ronta, wajahnya penuh amarah dan rasa malu.
“Ini tidak sopan! Kami tamu terhormat kalian!” bentak Karina dengan suara tinggi.
Sementara itu, Lusi dan suaminya, Andra, juga tak kalah kacau, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman para pengawal.
Di belakang mereka, Lilith dan Li Bao berjalan keluar dengan wajah memerah. Keduanya tampak menahan rasa malu, meski jelas situasinya sudah tak bisa diselamatkan.
Andrian yang melihat itu langsung berlari mendekat. “Apa yang terjadi di sini?” tanyanya tegas, berusaha menahan emosi. Tatapannya berpindah dari keluarganya ke para pengawal.
Seorang wanita paruh baya bertubuh tambun dengan hanfu mewah berdiri tak jauh dari situ. Ia melirik Andrian sekilas, lalu memberi isyarat pada para pengawal untuk berhenti. Para pengawal pun segera melepaskan orang-orang yang mereka pegang.
Wanita itu melangkah maju dengan dagu terangkat tinggi. “Oh, jadi kau kepala keluarga mereka?” katanya dengan nada sinis. “Keluargamu ini benar-benar tidak tahu malu.”
Andrian mengerutkan kening, mencoba tetap tenang. “Apa maksud Anda?” tanyanya. “Pasti ada kesalahpahaman di sini.”
Wanita itu mendengus pelan, jelas tidak terkesan. “Kesalahpahaman?” ulangnya dengan nada mengejek. “Mereka sudah kehabisan uang, tapi masih ingin tinggal di penginapan mewah ini dan makan makanan terbaik kami secara gratis.”
Ia melipat tangan di depan dada, menatap mereka satu per satu. “Enak saja!” tambahnya tajam. “Kami bukan tempat amal.”
Wajah Andrian langsung memerah karena malu. Namun sebelum ia sempat berbicara, Li Anna justru maju ke depan dengan marah. “Beraninya kau menghina kami!” bentaknya.
“Kami adalah keluarga bangsawan terpandang!” tambah Karina dengan nada tinggi. “Putraku adalah jenderal tingkat dua! Kau harusnya memperlakukan kami dengan hormat!”
Wanita tambun itu tertawa pendek, jelas mengejek. “Bangsawan?” katanya sambil menyipitkan mata. “Kalian bahkan tidak bisa membayar penginapan, tapi berani mengaku bangsawan?”
Beberapa orang di sekitar mulai berbisik-bisik, menatap keluarga Li dengan pandangan meremehkan.
Andrian merasa wajahnya semakin panas menahan malu. Ia segera melangkah maju dan memotong pertengkaran itu.
Li Anna semakin tidak terima, matanya melotot tajam. “Apa kau bilang?! Coba ulangi—”
“Cukup!” katanya tegas. Ia menoleh ke arah keluarganya dengan tatapan dingin. “Kita pergi dari sini sekarang.”
“Tapi Andrian! Bagaimana dengan—”
Li Anna masih ingin membalas, tetapi Andrian sudah lebih dulu menariknya. Tanpa pilihan lain, mereka akhirnya keluar dari gerbang penginapan diiringi tatapan orang-orang yang menyaksikan kejadian itu.
Begitu sampai di luar, suasana menjadi semakin tegang.
Li Anna langsung menoleh pada Andrian dengan wajah kesal. “Lalu sekarang bagaimana?” tanyanya. “Apa kau sudah menemukan kediaman mewah untuk kita?”
Andrian langsung menghela napas berat, jelas kesal. “Tentu saja belum ada!” jawabnya dengan nada tinggi. “Uang kita tidak cukup, dan aku juga sibuk dengan urusan istana, Bu!”
Karina langsung memprotes, wajahnya tidak puas. “Lalu kita harus tinggal di mana? Masa kita hidup seperti rakyat biasa?” katanya.
Lilith di sampingnya juga ikut berbicara dengan nada manja. “Suamiku, aku tidak bisa tinggal di tempat buruk,” ujarnya. “Aku terbiasa hidup nyaman.”
Suara-suara protes itu membuat kepala Andrian semakin pusing. Ia memijat pelipisnya, mencoba menahan emosi yang hampir meledak. Dalam benaknya, ia tiba-tiba teringat seseorang.
Dulu, setiap kali ia berada dalam situasi sulit, Natalia selalu ada di sampingnya. Wanita itu tidak pernah mengeluh, justru selalu memberinya semangat. Namun kini, sosok itu sudah tidak ada lagi.
Andrian menutup matanya sejenak, lalu membuka kembali dengan ekspresi dingin. “Kalau kalian ingin tetap hidup mewah,” katanya tegas. “Berikan perhiasan kalian padaku. Aku akan menjualnya.”
Semua wanita di sana langsung terdiam, lalu menggeleng cepat. “Tidak!” jawab mereka hampir bersamaan.
Li Anna memeluk kotak perhiasannya dengan erat. “Ini milikku! Tidak mungkin aku memberikannya!” katanya keras.
Karina juga menggeleng, wajahnya penuh penolakan. “Lebih baik kita cari cara lain!” ujarnya.
Lilith menatap Andrian dengan ekspresi tidak percaya. “Suamiku, bagaimana bisa kau meminta hal seperti itu?” katanya dengan nada kecewa.
Andrian menatap mereka satu per satu, rahangnya mengeras. Ia benar-benar berada di ambang kesabarannya. Namun melihat sikap mereka yang keras kepala, ia hanya bisa tertawa getir dalam hati.
“Kalau begitu,” katanya dingin. “Jangan berharap hidup nyaman.”
Keempat wanita dengan usia berbeda itu langsung terdiam setelah mendengar ucapan Andrian. Wajah mereka dipenuhi keraguan, tetapi jelas tidak ada satu pun yang rela melepaskan perhiasan mewah yang selama ini menjadi kebanggaan mereka.
Suasana menjadi canggung, hanya suara napas kesal yang terdengar di antara mereka.
Lusi yang sejak tadi diam tiba-tiba menoleh ke arah Lilith. Matanya menyipit seolah mendapatkan ide. “Bagaimana kalau kita tinggal sementara di kediaman keluarga Gu?” usulnya pelan namun jelas. “Bukankah itu rumah orang tuamu, Lilith?”
Lilith langsung menegang, matanya membesar sesaat. Ia tidak langsung menjawab, seolah terkejut dengan usulan itu. Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa, Li Anna langsung menyela dengan wajah berbinar.
“Itu ide yang bagus!” serunya penuh semangat. Ia menepuk tangannya pelan, jelas menyukai gagasan tersebut. “Kita bisa tinggal di sana untuk sementara waktu.”
Karina juga ikut mengangguk cepat, wajahnya kembali cerah. “Benar, Kak Lilith,” katanya mendesak. “Keluargamu pasti tidak akan menolak kita.”
Li Anna kemudian melanjutkan dengan nada penuh percaya diri. “Lagipula, kita juga bisa meminta bantuan Kaisar Zhao,” ujarnya. “Untuk keponakannya sendiri, tentu beliau akan memberikan kediaman mewah.”
Mendengar itu, wajah Lilith langsung pucat. Tangannya sedikit gemetar, dan ia terlihat gelagapan mencari alasan. “I–Itu … tidak semudah itu,” katanya terbata-bata.
Semua orang langsung menatapnya heran.
Lilith menelan ludah, lalu memaksakan senyum. “Perjalanan ke Kekaisaran Panah Dewa membutuhkan waktu beberapa hari,” lanjutnya cepat. “Biayanya juga tidak sedikit.”
Suasana kembali hening seketika. Li Anna dan yang lain saling pandang, jelas mulai mempertimbangkan ucapan itu. Bahkan semangat mereka yang tadi menggebu perlahan meredup.
Karina mengerutkan kening, tampak tidak puas. “Tapi … itu tetap pilihan terbaik, bukan?” katanya pelan. Namun kali ini, suaranya tidak lagi sekuat sebelumnya.
Andrian yang sejak tadi memperhatikan akhirnya menghela napas panjang. Ia sudah cukup lelah dengan semua perdebatan yang tidak ada ujungnya. Tatapannya menjadi dingin saat ia melangkah maju.
“Sudah cukup,” katanya tegas, memotong pembicaraan mereka. “Kita tidak punya waktu untuk berandai-andai. Nanti setelah aku menerima gaji, kita bisa ke sana.”
Semua orang langsung diam, menoleh ke arahnya.
Andrian menatap mereka satu per satu dengan ekspresi serius. “Kalau begitu, kita cari kediaman yang sesuai dengan uang yang kita miliki,” lanjutnya. “Dan jangan ada yang membantah.”
itu siapa punya hak
hadeh dasar ya kko manusia serakah