Nadia anak kandung yang di abaikan, keluarganya lebih memilih anak orang lain ketimbang anak kandung,,,Nadia bahkan mau di singkirkan oleh ibunya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 tuduhan tak berdasar
Bab 15 tuduhan tak berdasar
Nadia bangun pagi. Seperti biasa, dia memulai harinya dengan berolahraga. Dia berlari di tempat selama tiga puluh menit tanpa henti, dilanjutkan dengan squat jump, push-up empat ratus kali, sit-up tiga ratus kali, lalu menutup latihan paginya dengan beberapa sesi tinju. Tubuhnya sudah dipenuhi keringat, tetapi gerakannya tetap stabil seolah latihan seberat itu adalah hal yang biasa baginya.
Yulia mengintip dari balik tembok pembatas. Senyum sinis terukir di wajahnya sambil terus memperhatikan Nadia yang sedang berlatih tanpa peduli keadaan di luar sana. Dalam hati, Yulia merasa kesal melihat sikap Nadia yang tetap tenang di tengah badai masalah yang sedang menimpanya.
“Padahal 3 hari lagi olimpiade, bukannya belajar malah olahraga. Belum lagi dia menghadapi tekanan dari netizen. Kamu pasti kalah, dasar idiot.”
Nadia melirik ke arah tempat Yulia bersembunyi. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang terlihat menyeringai, seolah dia tahu sejak awal kalau ada seseorang yang sedang mengawasinya. Melihat itu, Yulia langsung buru-buru pergi. Di lorong rumah, dia berpapasan dengan Johan. Mereka saling memandang beberapa detik tanpa mengucapkan sepatah kata pun sebelum akhirnya berjalan ke arah masing-masing.
Johan membawa sarapan sederhana dan meletakkannya di atas meja usang yang berada tidak jauh dari tempat Nadia berlatih. Meja tua itu sudah terlihat kusam dan penuh goresan, tetapi masih digunakan setiap hari.
“Nona, ini sarapannya.”
Johan meletakkan piring dan gelas di atas meja dengan hati-hati. Nadia hanya melirik sekilas tanpa menghentikan latihannya sedikit pun. Dia tetap fokus melakukan gerakan demi gerakan seperti tidak mendengar apa yang dikatakan Johan.
...
Tekanan terhadap Nadia semakin tinggi dari hari ke hari. Banyak anak konglomerat ikut berpartisipasi dalam olimpiade itu. Menghilangkan satu pesaing tentu menjadi keuntungan besar bagi mereka. Apalagi selama ini panitia hanya memilih diam dan tidak memberikan tanggapan apa pun. Sikap itu justru membuat banyak orang semakin yakin bahwa Nadia memiliki bekingan yang sangat kuat.
Dan tentu saja yang paling banyak mendapatkan keuntungan adalah Leo. Dengan akun @penjantantangguh, dia membuka donasi besar-besaran untuk mendanai berbagai aksi protes. Rencana demonstrasi akan digelar di tiga lokasi berbeda, yaitu kantor panitia olimpiade, dinas pendidikan, dan rumah keluarga Wijaya.
Alur masuk dana dilaporkan secara online dan bisa dilihat semua orang. Dalam waktu satu hari saja, jumlah uang yang terkumpul sudah mencapai tiga ratus juta rupiah. Angka itu terus bertambah seiring semakin banyaknya orang yang ikut terprovokasi.
Berbagai kampus dan sekolah mulai menyatakan sikap mereka. Mereka berbicara seolah sangat peduli pada masa depan bangsa. Seakan-akan jika Nadia lolos, negara ini akan langsung berada di ambang kehancuran.
“Aku sudah kirim 100 juta pada mereka.”
Rini berkata dengan bangga. Uang sebesar itu adalah penghasilannya selama satu bulan. Jumlah yang sebenarnya tidak sedikit, tetapi demi menjatuhkan Nadia, nominal itu terasa kecil baginya.
“Ka, apa enggak keterlaluan sikap kita pada Nadia?”
Seperti biasa, Yulia selalu tampil sebagai orang yang paling peduli pada Nadia. Namun, nada bicaranya terdengar aneh, seolah ada sesuatu yang disembunyikannya.
“Biarin. Makin hari aku makin kesal lihat muka Nadia. Bukannya mikir malah terus menantang kita.”
Rini menjawab dengan suara lantang sambil menyilangkan tangan di depan dada.
“Benar. Bila perlu mamah tambahkan uang tabungan mamah, biar massa semakin banyak.”
Rina terlihat sangat bersungguh-sungguh. Wajahnya penuh tekad seolah menjatuhkan Nadia adalah tujuan terpenting dalam hidupnya saat ini.
“Kalian ini mengeluarkan uang begitu mudah. Apa sudah cek kegiatan mereka? Kalian dengan mudah memberi uang pada orang yang belum kalian kenal.”
Rangga mencoba mengingatkan. Namun seperti biasanya, setiap kali dia berbicara tentang Nadia, tidak ada seorang pun yang mau mendengarkannya.
“Pah, kami enggak pernah minta pendapat papah, ya. Kalau enggak mau membantu kami, lebih baik papah diam saja.”
Rini benar-benar kesal dengan sikap ayahnya yang terus mencoba menahan mereka.
“Papah hanya mengingatkan kalian saja. Memang uang segitu enggak akan membuat kita bangkrut, tapi tetap saja harus diperhitungkan dengan jelas.”
Namun tidak ada yang peduli pada ucapan Rangga. Karena terus diabaikan, akhirnya dia memilih pergi sambil menggelengkan kepala. Sementara itu, Rini dan Rina sibuk berkoordinasi dengan ketua Aliansi Menggugat yang akan melakukan aksi satu hari sebelum olimpiade berlangsung. Di depan mereka, Yulia hanya terlihat pasif dan diam. Padahal diam-diam dialah yang memprovokasi beberapa orang untuk melakukan demonstrasi di kediaman keluarga Wijaya. Bahkan Yulia menghabiskan seluruh tabungannya agar Nadia semakin tertekan.
Menjelang malam, jumlah donasi sudah mencapai lima ratus juta rupiah. Dana itu siap digunakan untuk menggelar aksi besar-besaran. Di berbagai kampus dan sekolah, para peserta demonstrasi mulai bersiap. Beberapa anak STM bahkan sudah berkumpul sejak malam hari di sekolah masing-masing. Melihat situasi itu, semua orang menduga besok akan terjadi aksi besar yang sulit dikendalikan.
Seluruh perkembangan itu diliput oleh televisi nasional. Namun yang membuat banyak orang bingung adalah sikap para pihak terkait. Kepolisian memilih diam, dinas pendidikan bungkam, dan panitia olimpiade juga tidak memberikan pernyataan apa pun. Semua itu semakin memperkuat keyakinan masyarakat bahwa Nadia memang memiliki bekingan orang kuat dan berkuasa.
Nadia yang merasa bosan berada di lantai atas akhirnya turun ke bawah. Dia berniat keluar rumah untuk berjalan-jalan malam dan menghirup udara segar.
“Mau ke mana kamu?”
tanya Rina sambil menatapnya tajam.
“Jalan-jalan.”
jawabnya singkat.
“Aku enggak izinkan kamu keluar malam ini sampai besok.”
“Kenapa emang?”
tanya Nadia dengan santai.
“Kamu harus tanggung jawab, Nadia. Kamu sudah membuat kekacauan. Kami enggak mau menghadapi mereka.”
jawab Rini dengan nada kesal.
“Iya, Ka. Nadia harus ada di rumah, jangan ke mana-mana. Di luar semakin kacau. Ka Nadia sebenarnya siapa bekingannya? Kok sampai orang-orang yang berkuasa enggak bersikap apa-apa sama Ka Nadia? Ka Nadia enggak jadi simpanan pejabat, kan?”
ucap Yulia dengan nada lemah lembut, tetapi jelas mengandung tuduhan.
“Nah benar. Jangan-jangan kamu jadi simpanan pejabat ya, Nad.”
Tatapan Rini dipenuhi kecurigaan.
“Mari kita ke rumah sakit, kita periksa virginitas. Tapi Yulia harus ikut juga. Kita buktikan siapa sebenarnya yang jadi simpanan lelaki hidung belang.”
“Kurang ajar kamu, Nadia!”
Suara Rina meninggi penuh kemarahan. Tangannya langsung melayang hendak menampar Nadia. Namun dengan cepat Nadia menangkap pergelangan tangan itu sebelum mengenai wajahnya.
“Kenapa kalau Yulia menuduhku jadi simpanan orang mamah enggak marah? Sedangkan kalau aku yang berkata, kenapa mamah marah? Padahal aku ini juga anak mamah.”
Nadia menatap dingin ke arah Rina. Tatapannya tajam dan sama sekali tidak menunjukkan rasa takut.
“Aku membenci kamu karena kamu....”
“Sudah, Nadia. Jangan bertengkar. Lebih baik kalian lihat berita terbaru.”
Rangga memotong ucapan itu dengan cepat, seolah sengaja menghentikan sesuatu yang hampir saja terungkap.
libas saja mereka si pecundang