Di puncak tertinggi Sembilan Ranah, Yu Fan adalah legenda—seorang Master Tingkat 9 yang menyentuh ranah kedewaan. Namun, kepercayaan adalah pedang bermata dua; ia dikhianati oleh sahabat masa kecilnya dan dibuang ke Dunia Fana dalam keadaan hancur.
Setelah 50.000 tahun tersegel dalam kegelapan yang sunyi, Yu Fan terbangun di dunia yang telah berubah total. Kekuatannya sirna, ingatannya terkikis, namun api amarah di jiwanya tetap membara. Di dunia baru ini, sang pengkhianat dipuja sebagai Dewi Kebajikan, dan sekte yang membantainya telah menjadi penguasa tunggal yang paling disegani.
Mengenakan jubah hitam dan memikul kutukan energi Yin yang dingin, Yu Fan harus memulai kembali perjalanannya dari titik terendah. Di antara kepingan ingatan yang hilang dan dunia yang penuh kebohongan, Sang Ashura akan bangkit kembali—bukan untuk menjadi pahlawan, melainkan untuk menghancurkan langit yang telah memuarakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fandy syahputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Jejak Kenangan, Sumpah Rembulan, dan Gerbang Ujian Langit
Matahari sore itu memancarkan warna jingga yang hangat, menyiram jalanan batu Kota Akademi Langit Biru yang separuhnya telah pulih dari puing-puing kehancuran. Di antara hilir mudik para kultivator dan penduduk yang mulai beraktivitas normal, dua sosok berjalan berdampingan dengan langkah yang sengaja diperlambat.
Yu Fan melangkah dengan jubah hitamnya yang berkibar pelan ditiup angin sore. Di sebelah kanannya, Yan Er berjalan dengan anggun. Gaun sutra putihnya yang dihiasi ornamen perak tampak bersinar lembut di bawah pendar cahaya senja. Ini adalah hari terakhir Yan Er di Benua Timur. Besok pagi, gerbang transmisi antar-benua akan dibuka, dan dia harus segera kembali ke Akademi Saint-Aurelius di Benua Barat untuk melaporkan situasi serta menyelesaikan urusan faksinya.
"Suamiku, terima kasih karena sudah mau menemaniku berjalan-jalan sore ini," ucap Yan Er, memecah keheningan dengan suara yang teramat lembut. Sepasang matanya yang sewarna rembulan menatap wajah samping Yu Fan dengan binar kebahagiaan yang tulus. "Aku tahu kau baru saja pulih dan jadwal mu sebagai pahlawan akademi sangat padat, tapi... bagiku, ini adalah waktu yang sangat langka sebelum aku harus pulang besok."
Yu Fan menoleh pelan, menatap wajah cantik di sebelahnya. Di dalam lubuk hatinya yang terdalam, ada rasa hangat yang perlahan merayap. Dia mengingat bagaimana gadis ini datang dengan napas terengah-engah, menerobos sekat benua, dan menangis di dadanya selama dua minggu dia tidak sadarkan diri.
"Kau tidak perlu berterima kasih, Yan Er," jawab Yu Fan, suaranya yang biasanya dingin kini terdengar sedikit lebih lembut. "Kau telah menempuh perjalanan gila yang mempertaruhkan nyawamu sendiri melintasi lautan hanya untuk memastikan keadaanku. Menemanimu berjalan-jalan sore ini adalah hal terkecil yang bisa kulakukan untuk membalas ketulusanmu."
Mendengar jawaban itu, senyuman Yan Er semakin merekah indah. Sepanjang jalan, Yu Fan benar-benar memanjakannya. Setiap kali Yan Er melihat ke arah kedai makanan atau camilan tradisional kota, Yu Fan tanpa banyak bicara langsung mengeluarkan koin-koin spiritualnya untuk membelikan apa pun yang disukai gadis itu. Mulai dari manisan buah es, kue beras panggang, hingga sup teratai hangat. Yan Er menerima semua itu dengan sepasang tangan yang gemetar karena bahagia; baginya, setiap makanan yang dibelikan oleh Yu Fan terasa seribu kali lebih manis daripada hidangan mewah di istana Benua Barat.
Langkah kaki mereka terus membawa mereka menjauh dari keramaian pusat kota, hingga akhirnya mereka tiba di sebuah sudut pinggiran kota yang sunyi. Di sana, berdiri sebuah area luas yang terisolasi. Sebuah arena pertarungan tua yang papan-papan kayunya telah ambruk, tertutup oleh lumut dan tanaman liar. Tempat itu sudah sangat lama ditinggalkan, hancur dimakan waktu, dan tidak ada lagi satu pun manusia yang menghuninya.
Yan Er menghentikan langkahnya tepat di depan pembatas arena yang telah rapuh. Dia menatap tiang kayu utama yang sudah miring dengan tatapan yang sarat akan nostalgia.
"Yu Fan... kau masih ingat dengan tempat ini?" tanya Yan Er pelan, jemarinya menyentuh permukaan kayu yang lapuk.
Yu Fan ikut menghentikan langkahnya, menatap puing-puing arena kuno tersebut. Ingatannya yang tajam segera memanggil kembali peristiwa beberapa tahun silam. Tempat ini adalah saksi bisu di mana takdir mereka berdua pertama kali bertautan secara acak di dunia fana.
"Tentu saja aku ingat," jawab Yu Fan, tatapannya menerawang. "Di arena inilah kita pertama kali beradu pedang."
Yan Er membalikkan tubuhnya, menghadap Yu Fan dengan senyuman yang menyentuh mata. "Benar... beberapa tahun silam di tempat ini, kau telah menyelamatkannya, Yu Fan. Bukan hanya menyelamatkan nyawaku dari keputusasaan, tapi kau membuka sepasang mataku tentang apa yang sebenarnya harus aku lakukan di dalam hidup ini."
Yu Fan mengangguk pelan, sisa-sisa ritme pertempuran masa lalu itu seolah kembali berdenting di telinganya. "Malam itu, pertarungan yang kita rasakan bukan seperti pertarungan dua orang yang saling membunuh dengan niat darah. Kita hanya menikmati irama dari setiap bilah pedang yang beradu di udara."
"Kautahu?" Yan Er terkekeh kecil, wajahnya merona samar mengingat momen memalukan sekaligus indah itu. "Saat kau berhasil membaca seluruh pergerakanku, lalu dengan sengaja menendang pelan pinggangku hingga aku terjatuh... itu adalah pertama kalinya aku merasakan kekalahan mutlak di tangan seseorang seusiaku. Tapi anehnya, saat aku kalah di tanganmu malam itu, aku tidak merasa terhina. Sebaliknya... aku merasa seolah-olah embun segar baru saja menyiram jiwaku yang gersang. Aku merasa memiliki sebuah kehidupan yang baru sejak saat itu."
Yu Fan terdiam sejenak menikmati angin sore yang menerpa rambut hitamnya. Rasa penasarannya yang selama beberapa bulan ini terpendam mendadak muncul kembali saat menatap sepasang mata Yan Er. Dia mengingat pertempuran turnamen beberapa bulan lalu, di mana Yan Er bertarung habis-habisan melawan Lin Xueru dan sempat membangkitkan wujud spiritual yang sangat langka.
"Yan Er," panggil Yu Fan pelan. "Ada satu hal yang ingin kutanyakan kepadamu. Saat kau bertarung melawan Lin Xueru di stadion beberapa bulan lalu... kau membangkitkan wujud batin setengah ular. Aku pernah membaca sedikit catatan kuno yang sangat langka mengenai Sekte Ular Putih, namun informasinya sangat minim. Apakah kau... berasal dari sana?"
Mendengar pertanyaan Yu Fan, senyuman di wajah Yan Er perlahan-lahan memudar. Dia menundukkan kepala cantiknya, sepasang matanya menatap ujung sepatu gaunnya dengan tatapan yang mendadak dipenuhi oleh kabut kesedihan yang teramat mendalam. Suasana di sekitar arena tua itu seketika berubah menjadi sangat sunyi, hanya menyisakan suara gesekan daun-daun kering.
"Kau benar, Yu Fan... aku adalah putri dari garis darah murni Sekte Ular Putih," ucap Yan Er dengan suara yang merendah, bergetar menahan beban masa lalu yang berdarah. "Sebelum aku menjadi pedagang keliling bersama ayahku dan tiba di kota akademi ini beberapa tahun lalu... kami memiliki sebuah rumah yang sangat indah. Kami tinggal di sebuah tempat bernama Lembah Ular."
Yan Er menarik napasnya dengan berat, mencoba mengumpulkan kekuatan untuk menceritakan rahasia terdalamnya. "Sekte kami adalah sekte yang damai. Selama ribuan tahun, para leluhur kami selalu hidup dengan sangat berhati-hati. Kami mengisolasi diri di dalam lembah, sama sekali tidak ingin berinteraksi atau mencampuri urusan dari faksi-faksi di orang luar. Kami hanya ingin hidup tenang menjaga warisan suci kami."
"Namun... semua kedamaian itu berubah menjadi neraka dalam satu malam," sebut Yan Er, air mata pertamanya mulai menetes membasahi pipi mulusnya. "Dua belas tahun yang lalu, saat aku masih menjadi seorang bocah kecil yang baru berusia delapan tahun... sebuah pasukan besar yang tidak kami ketahui dari mana asal-usulnya, tiba-tiba menerobos formasi pelindung lembah kami. Mereka... mereka menyerang desa dan sekte kami dengan sangat brutal."
Kedua tangan Yan Er mengepal erat di sisi gaunnya hingga jemarinya memutih. "Mereka tidak memiliki belas kasihan sedikit pun, Yu Fan... Mereka menghabisi semua orang. Anak-anak kecil yang sedang bermain, wanita, pria, hingga para lansia yang sudah tidak bisa bertarung... semuanya dibantai, darah mereka mengalir membanjiri tanah lembah hingga berubah menjadi merah pekat."
Yu Fan tetap diam, namun sepasang matanya berkilat tajam mendengar kekejaman tersebut.
"Ibu dan ayahku bertarung bersama di garis depan malam itu untuk menahan gempuran para pemimpin pasukan berbaju hitam itu," lanjut Yan Er, air matanya kini mengalir semakin deras, menyusuri garis wajahnya yang cantik. "Tapi musuh terlalu kuat dan jumlah mereka tidak habis-habis. Di saat-saat terakhir ketika garis pertahanan kami runtuh, ibuku memilih untuk mengambil keputusan yang paling ekstrem. Dia... dia memaksakan diri untuk membakar esensi jiwanya dan berubah menjadi wujud setengah ular seutuhnya, sama seperti yang aku lakukan saat melawan Lin Xueru kemarin... hanya saja wujud ibuku jauh lebih sempurna, lengkap dengan sepasang pedang ganda perak yang persis seperti milikku saat ini."
Yan Er terisak kecil, dadanya kembang kempis menahan sesak batin. "Ibuku mengamuk sendirian di tengah lautan musuh demi membelikan waktu bagi kami. Di tengah-tengah pertempuran berdarah itu, dengan sisa-sisa kekuatan terakhirnya, ibuku merentangkan tangannya ke arah kami dan melepaskan sebuah mantra transmisi ruang kuno yang mengunci tubuhku dan ayahku. Mantra itu... memaksa kami berteleportasi keluar dari desa, membuang kami jauh ke perbatasan luar lembah."
"Saat lingkaran sihir itu membawa kami pergi, hal terakhir yang kulihat dari balik cahaya adalah tubuh ibuku yang ditusuk oleh puluhan tombak hitam musuh... Dia menatapku sambil tersenyum, Yu Fan... Di dalam pelukan ayahku di tempat asing yang jauh, aku hanya bisa menangis histeris meneriakkan nama ibuku, sementara ayahku... dia hanya bisa terdiam kaku, menahan air matanya agar tidak jatuh demi terlihat kuat di depan anak perempuannya..."
Yan Er menyeka air matanya dengan lengan bajunya, mencoba tersenyum di tengah kepedihan. "Sejak malam jahanam itu, kami kehilangan segalanya. Kami berkelana dari satu benua ke benua lain, menjadi pedagang keliling untuk menyembunyikan identitas. Makan kami tidak tentu, tidur di bawah kolong langit, dan aku... aku sama sekali tidak memiliki tujuan hidup. Aku merasa jiwaku telah mati bersama ibuku malam itu. Aku berpikir bahwa hidupku akan terus berjalan tanpa arah seperti itu selamanya... sampai hari di mana aku menapakkan kaki di arena tua ini, bertarung denganmu, dan kau muncul untuk mengubah segala hal di dalam takdirku."
Yu Fan mendengarkan seluruh kisah pilu itu dengan saksama. Meskipun ekspresi wajah kagonya tetap terlihat datar, ada sebuah getaran empati yang sangat kuat di dalam batinnya. Dia melangkah maju satu tapak, mengulurkan tangannya yang hangat untuk menepuk pundak Yan Er secara perlahan.
"Aku turut berduka atas apa yang terjadi pada sekte mu, Yan Er," ucap Yu Fan dengan suara yang sarat akan ketegasan seorang master. "Tegaskan ini di dalam hatimu. Jika suatu hari nanti, di dalam perjalananku melintasi benua fana ini, aku bertemu dengan pasukan atau dalang di balik pembantaian Sekte Ular Putih milikmu... aku bersumpah di atas namaku sendiri bahwa aku akan menggunakan seluruh kekuatanku untuk membalaskan dendam ibumu dan menghapus mereka semua dari muka bumi ini."
Mendengar sumpah yang begitu tegas dari mulut Yu Fan, Yan Er tertegun. Dia mendongak, menatap mata hitam Yu Fan yang memancarkan perlindungan mutlak. Hatinya yang sempat dirundung kesedihan mendadak dipenuhi oleh rasa hangat yang teramat sangat. Namun, Yan Er perlahan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tulus.
"Tidak, Yu Fan... aku tidak ingin kau membahayakan dirimu demi masa laluku yang kelam," ucap Yan Er lembut, tangannya bergerak menyentuh jemari Yu Fan yang ada di pundaknya. "Bagi diriku yang sekarang... yang terpenting di dalam hidup ini adalah aku sudah memilikimu di sisiku. Meskipun... meskipun saat ini dirimu mungkin belum sepenuhnya membuka hatimu untuk menerima cintaku... aku tidak akan pernah menyerah. Aku akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk menjadi seorang istri yang selalu patuh, setia, dan berada di belakangmu, karena... aku telah mengucapkan sumpah batin itu di bawah saksi pedang kita hari itu."
Yu Fan menatap kedalaman mata Yan Er yang begitu tulus tanpa ada kepalsuan sedikit pun. Dia mengembuskan napas pendek, lalu menggenggam balik jemari halus gadis itu.
"Selama aku masih bernapas di dunia fana ini, Yan Er... aku akan terus melangkah menjadi yang terkuat," ucap Yu Fan dengan nada absolut. "Dan di dalam jalur kekuatanku itu, aku juga akan memastikan keselamatanmu. Aku akan melindungimu. Jika suatu hari nanti terjadi sesuatu yang membahayakan dirimu atau faksimu di Benua Barat, jangan pernah menyembunyikannya dari mendengarku. Segera kirimkan burung spiritual atau pesan batin kepadaku... dan aku akan langsung datang membelah ruang untuk berdiri di depanmu."
"Yu Fan..." Yan Er sangat tersentuh hingga air mata kebahagiaan kini benar-benar mengalir di pipinya.
Tanpa memedulikan apa pun lagi, dia langsung menggandeng erat tangan Yu Fan, menarik pemuda itu berjalan menuju sebuah bangku kayu panjang yang terletak di tepi danau jernih tidak jauh dari arena tua tersebut. Mereka berdua duduk berdampingan, bahu mereka saling bersentuhan dengan hangat, sementara sepasang mata mereka menatap lurus ke arah langit senja yang perlahan mulai berganti menjadi malam yang bertabur bintang.
Yan Er menyandarkan kepalanya secara perlahan di pundak tegap Yu Fan, merasakan hembusan napas pemuda itu yang menenangkan. "Yu Fan... aku benar-benar berharap agar waktu bisa berhenti berputar saat ini juga. Aku selalu ingin terus berada di sisimu, terjebak di dalam momen indah ini selamanya tanpa ada hari esok..."
Yu Fan tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya mengulas sebuah senyuman tipis yang teramat langka di bibirnya, membiarkan Yan Er bersandar di pundaknya sementara mereka berdua sama-sama menatap hamparan langit malam yang luas, menikmati detik-detik terakhir kebersamaan mereka yang sarat akan kedamaian batin.
...****************...
Keesokan harinya, di area gerbang transmisi utama Akademi Langit Biru.
Atmosfer duka dan romansa malam sebelumnya seketika pecah berkeping-keping digantikan oleh keriuhan yang sarat akan komedi. Yan Er telah berdiri di depan lingkaran sihir transmisi bersama beberapa pengawal dari Benua Barat, siap untuk melangkah masuk.
Namun, di samping Yu Fan, telah berdiri Yuexin dengan jubah kuning-merahnya yang mencolok. Sejak pagi-pagi sekali, Yuexin sudah memasang wajah cemberut maksimal dan melipat kedua tangannya di depan dada karena tahu Yu Fan menghabiskan waktu berdua saja dengan Yan Er kemarin sore.
"Ingat ya, Yan Er! Begitu kau melangkah masuk ke dalam gerbang itu, kau sudah berada di Benua Barat! Jangan berani-berani mengirimkan surat cinta rahasia yang aneh-aneh kepada Yu Fan setiap minggu! Dia harus fokus berlatih di akademi kami!" omel Yuexin dengan nada cerewetnya yang khas, membusungkan dadanya menantang Yan Er.
Yan Er yang sudah berada di ambang gerbang hanya tersenyum meremehkan, menatap Yuexin dengan pandangan superior. "Putri Yuexin, mau aku mengirim surat atau bahkan datang kembali besok, itu adalah hakku sebagai seorang istri yang sah di bawah sumpah pedang. Daripada mengomeli ku, lebih baik kau urus sifat kekanak-kanakan mu itu agar tidak merepotkan suamiku lagi."
"Apa kau bilang?! S-Suami?! Dasar wanita tidak tahu malu dari Barat!!!" pekik Yuexin, wajahnya memerah karena cemburu dan kesal setengah mati.
Sebelum Yuexin sempat melompat untuk menarik gaun Yan Er, lingkaran sihir transmisi mendadak bersinar terang. Yan Er melambaikan tangannya ke arah Yu Fan dengan tatapan mata yang teramat tulus dan penuh cinta. "Aku pergi dulu, Yu Fan... jaga dirimu baik-baik untukku!"
SHUUT!
Dalam satu kedipan cahaya, tubuh Yan Er dan para pengawalnya lenyap seketika dari atas altar transmisi, menyisakan partikel cahaya perak yang perlahan memudar di udara.
Melihat saingannya telah pergi, Jin Yuexin langsung membalikkan tubuhnya menghadap Yu Fan. Rasa cemburu yang sedari tadi dia tahan di depan orang asing kini meledak sepenuhnya. Dengan gerakan yang sangat cepat khas kultivator berelemen api, tangan halus Yuexin melesat maju dan...
TWEEK!
"Aduh... Yuexin, apa yang kau lakukan?" ucap Yu Fan, sedikit mengernyitkan alisnya saat merasakan daun telinga kanannya dijewer dengan cukup kencang oleh jari-jari lentik sang putri.
"Apa yang kulakukan?! Kau tanya apa yang kulakukan, hah?!" omel Yuexin berapi-api, wajah cantiknya mendekat ke wajah Yu Fan dengan mata yang melotot kesal, menciptakan adegan komedi yang membuat para murid di sekitar gerbang langsung pura-pura memalingkan wajah mereka. "Kau kemarin sore jalan-jalan berdua dengannya sampai malam, membelikannya begitu banyak makanan, dan sekarang kau bahkan tidak menepis panggilannya yang menyebutmu 'suami'?! Kau ini murid Akademi Langit Biru, Yu Fan! Berani sekali kau membuatku terlihat seperti orang luar di depan wanita Barat itu! Rasakan ini, dasar batu kaku tidak peka!"
"Yuexin, lepaskan... ini di depan umum," gumam Yu Fan datar, meskipun dia memiliki kekuatan fisik yang besar, dia sama sekali tidak berniat membalas atau melepaskan jeweran tersebut dengan kasar, membiarkan sang putri meluapkan kekesalannya.
Di samping kaki Yu Fan, Chen Yang kecil berdiri sambil memegangi boneka jeraminya. Bocah delapan tahun itu hanya mendongak, menatap kedua kakaknya yang sedang bertingkah konyol dengan tawa kecil yang geli. "Kakak Yuexin, jangan jewer Kakak Yu Fan terlalu kencang... telinganya nanti bisa copot seperti wortel rebus, hehehe."
Mendengar celetukan polos dari Chen Yang, Jin Yuexin mendadak tersadar dari kegilaan cemburunya. Dia langsung melepaskan jewerannya dari telinga Yu Fan dengan wajah yang memerah padam karena malu. "C-Chen Yang! Jangan ikut bicara yang aneh-aneh! Ayo kita kembali ke paviliun, mengurus pemuda kaku ini hanya membuat kulitku cepat keriput!" ketus Yuexin, langsung berbalik dan berjalan cepat sambil menghentakkan kakinya kesal, membiarkan Chen Yang berlari kecil mengejarnya sambil tertawa-tawa.
Yu Fan hanya bisa mengusap telinganya yang sedikit memerah dengan gelengan kepala pelan. Namun, saat dia hendak melangkah menyusul mereka, insting batinnya yang tajam menangkap seberkas tatapan mata dari arah menara tinggi paviliun suci yang terletak jauh di seberang lapangan.
Yu Fan menghentikan langkahnya, menolehkan pandangannya ke atas menara. Di sana, di balik jendela lantai tertinggi yang tertutup tirai tipis, berdiri sesosok gadis berpakaian sutra putih bersih dengan lambang teratai kuno di pundaknya. Lin Xueru. Gadis teratai itu hanya berdiri mematung di sana, menatap sosok Yu Fan dari kejauhan dengan tatapan mata yang dipenuhi oleh campuran rasa bersalah, ketakutan, sekaligus misteri yang mendalam sejak malam pertempuran Asura itu.
Yu Fan hanya menatapnya balik selama dua detik dengan pandangan datar tanpa emosi, sebelum akhirnya membalikkan tubuhnya dan kembali melangkah menyusul Jin Yuexin dan Chen Yang masuk ke dalam area dalam akademi.
...****************...
Waktu berjalan dengan sangat cepat di dalam dunia kultivasi fana. Hari-hari yang tenang pasca-rekonstruksi akhirnya berganti dengan atmosfer kompetisi yang sangat ketat dan menegangkan. Hari yang ditunggu-tunggu oleh seluruh murid akhirnya tiba: Hari Ujian Kelulusan Akbar Akademi Langit Biru.
Pagi itu, lapangan terbesar akademi dipenuhi oleh ribuan murid tingkat akhir yang berdiri dengan pakaian tempur lengkap mereka. Suasana riuh rendah di penuhi oleh bisik-bisik mengenai strategi dan pembentukan kelompok kerja sama. Sesuai aturan, Chen Yang kecil tidak ikut serta di dalam ujian ini karena usianya yang masih terlalu kecil dan statusnya yang bukan murid resmi tingkat akhir, sehingga bocah itu hanya bisa menonton dengan cemas dari tribun atas bersama para guru pelayan.
HUMMMMMM!
Suara dentangan lonceng perunggu raksasa bergema tiga kali, seketika membungkam seluruh keriuhan di lapangan. Dekan Akademi melangkah maju ke depan podium utama, didampingi oleh Wakil Dekan di sisi kanannya. Di atas langit di belakang panggung, sebuah gerbang dimensi raksasa berwarna biru tua yang dipenuhi riak spasial berputar dengan sangat lambat. Gerbang Dimensi Perburuan Langit.
"Para murid sekalian!" seru Dekan dengan suara energinya yang berwibawa. "Hari ini adalah pembuktian terakhir dari seluruh keringat dan darah yang telah kalian teteskan selama menimba ilmu di institusi ini! Ujian Kelulusan kali ini akan berlangsung selama satu minggu penuh di dalam Dimensi Perburuan Langit!"
Dekan melambaikan tangan kanannya ke udara. Detik berikutnya, ribuan berkas cahaya kecil melesat turun dari atas panggung, mendarat dengan tepat di depan telapak tangan setiap murid yang hadir. Cahaya itu memadat, berubah wujud menjadi sebuah bola kristal spiritual seukuran kepalan tangan yang memancarkan pendar cahaya kebiruan yang redup.
"Bola spiritual yang ada di tangan kalian saat ini adalah representasi dari nyawa dan status kalian di dalam ujian!" sambung Wakil Dekan dengan tegas. "Aturan ujian kelulusan kali ini sangat sederhana: Di dalam dimensi perburuan, kalian dibebaskan sepenuhnya untuk membentuk kelompok kerja sama dengan murid lain, atau bertarung secara mandiri! Tugas kalian adalah mengumpulkan bola spiritual sebanyak-banyaknya. Kalian bisa mendapatkannya dengan cara memburu binatang spiritual penjaga di dalam sana... atau merebutnya secara paksa dari tangan murid lain melalui pertarungan!"
Wakil Dekan mengedarkan pandangannya yang tajam. "Siapa pun yang berhasil mempertahankan bola spiritual miliknya sendiri ditambah minimal membawa tiga bola spiritual milik lawan hingga hari ketujuh, maka dia dinyatakan lulus dengan nilai standar! Semakin banyak bola spiritual yang berhasil kalian kumpulkan dan bawa keluar, maka peringkat kelulusan kalian akan semakin tinggi, dan hadiah teknik spiritual yang menanti kalian di gudang harta akan semakin luar biasa! Sebaliknya... jika bola milik kalian direbut atau pecah, kalian akan langsung tereliminasi secara otomatis dan didepak keluar dari gerbang dimensi!"
Mendengar aturan yang sangat bebas namun kejam tersebut, atmosfer di antara para murid seketika berubah menjadi sangat kompetitif. Ini bukan sekadar ujian biasa, ini adalah simulasi nyata dari hukum rimba dunia kultivasi yang sesungguhnya, di mana yang kuat akan memangsa yang lemah.
"Bentuk kelompok! Kita harus bersatu agar tidak menjadi mangsa bagi barisan murid inti!" teriak beberapa murid luar dan dalam, langsung saling mengunci lengan untuk membentuk aliansi kelompok besar berisi lima hingga sepuluh orang.
Di sudut lapangan, Jin Yuexin melangkah mendekati Yu Fan dengan Pedang Roh Api Phoenix yang sudah terikat rapi di pinggangnya. "Yu Fan, bagaimana? Apakah kau mau membentuk kelompok bersamaku? Dengan kekuatanku dan insting bertarungmu, kita pasti bisa mengumpulkan ratusan bola dengan sangat mudah!" ajak Yuexin dengan mata berbinar penuh semangat.
Yu Fan menatap bola kristal di tangan kirinya sejenak sebelum memasukkannya ke dalam kantong penyimpanan jubah hitamnya. "Tidak perlu, Yuexin. Bergerak sendiri jauh lebih efisien bagiku. Di dalam dimensi itu, kau juga harus menguji sejauh mana batas kekuatan Api Phoenix-mu tanpa perlu bergantung pada kehadiranku."
Yuexin cemberut, namun dia tahu watak keras kepala Yu Fan tidak bisa diganggu gugat. "Cih, dasar penyendiri! Awas saja ya, kalau nilaiku nanti lebih tinggi dari peringkatmu, jangan menangis di depanku!" ketus Yuexin, meskipun di dalam hatinya dia tahu hal itu sangat tidak mungkin terjadi.
WUZHUUUUU!
Gerbang dimensi raksasa di atas panggung mendadak meledak dalam pancaran cahaya biru yang sangat benderang, menciptakan pusaran hisap spasial yang sangat kuat.
"Waktu ujian telah dimulai! Masuklah ke dalam gerbang takdir kalian!" seru Dekan Akademi dengan lambaian tangan kebesaran.
"GASSS!!!"
Ribuan murid tingkat akhir berteriak lantang, melompat secara bersamaan dari atas tanah, melesat bagai hujan anak panah spiritual menembus pusaran riak Gerbang Dimensi Perburuan Langit. Yu Fan dan Jin Yuexin ikut melompat di antara kerumunan tersebut, tubuh mereka seketika tertelan oleh dinding cahaya biru tua.
Begitu tubuh mereka melewati batas ambang gerbang spasial, sebuah hukum alam ruang yang sangat kacau langsung bekerja. Hukum teleportasi acak dari dimensi kuno tersebut memecah barisan kelompok para murid secara paksa di tengah jalan udara. Tubuh Yu Fan dirundung oleh kilatan cahaya spasial yang berputar-putar dengan sangat kencang, membuang kesadarannya melintasi ruang tak tentu, memisahkan dirinya dari Jin Yuexin dan seluruh murid lainnya.
Gerbang telah ditutup, dan satu minggu perburuan berdarah di dalam dimensi kuno yang tidak menentu kini resmi dimulai bagi Yu Fan.