Safa adalah gadis cantik nan penurut yang tampaknya selalu dimusuhi takdir. Sejak kecil, ia tak pernah mencecap manisnya kasih sayang keluarga, bahkan dari ibunya sendiri. Kesalahan di masa lalu yang bukan kehendaknya membuat Safa dilabeli sebagai "anak pembawa sial" dan dibenci seumur hidup. Puncaknya, ia dipaksa menikah dengan seorang kakek demi menyelamatkan bisnis keluarga yang nyaris bangkrut.
Namun, kenyataan tak seburuk dugaannya. Sang kakek ternyata hanya perantara, ia mencarikan istri untuk cucu laki-lakinya yang bertemperamen kaku, cuek, dan dingin. Di rumah barunya, Safa yang terbiasa disisihkan justru mulai merasakan hangatnya kasih sayang dari keluarga sang suami yang memperlakukannya dengan sangat baik. Sayangnya, benteng es di hati suaminya sendiri tetap tak tergoyahkan.
Mampukah Safa memenangkan hati pria yang menikahinya hanya karena amanah sang kakek? Ataukah pernikahan "titipan" ini akan hancur dan berakhir dengan perceraian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Penyelesaian Masalah Beasiswa
Safa melangkah menuju kampus seperti biasa. Namun, hatinya tetap gundah, bagaimana ia mengatasi masalah beasiswanya.
Sorot matanya memperlihatkan bagaimana ia sangat lelah. Bahkan Farah yang sudah memanggilnya beberapa kali tak ia dengar.
"Safa!" pekik Farah frustasi.
Safa yang tersentak berbalik. "Farah. Kamu selalu aja bikin aku kaget."
"Hmm ... kamu yang ngelamun dari tadi. Ada apa?"
Langkah mereka beriringan menuju bangku di tengah taman. Safa duduk lalu disusul Farah.
"Coba cerita, sebenarnya ada apa?"
Safa menghela nafas. "Beasiswaku, Fa. Mereka bilang mau mencabutnya. Kalau ingin lanjut aku harus bayar semua biaya yang sudah mereka keluarkan."
"Apa! Gila!" pekik Farah. Ia bangkit dengan kedua mata membelalak.
"Kenapa bisa begitu? Bukannya kamu dapat beasiswa penuh. Ini tinggal selangkah lagi sebelum kelulusan, mana bisa begitu!"
Dengan dada kembang kempis Farah berniat pergi ke ruang dosen. Ia melangkah lebar meninggalkan Safa.
"Tunggu, Farah!" teriak Safa yang mencoba menyusul.
Safa menarik pergelangan tangan sahabat yang wajahnya kini seperti udang rebus.
"Tolong jangan begini. Jangan marah-marah, oke," bujuknya.
Farah berhenti. "Bilang ke aku. Ini ulah Adit, iya kan?"
"Aku gak tau. Tapi Adit memang pernah mengancamku, kan?"
"Tentu, udah jelas itu dia," pekik Farah dengan mata membelalak.
Saat mereka tengah berbicara Adit tiba-tiba lewat.
"Hei muka rata!" teriak Farah sambil berjalan mendekat.
Adit celingukan. "Kau panggil apa?"
"Muka rata. Kenapa?" sahut Farah.
"Kau berani padaku!"
Farah berdecih. "Cih! Memangnya kenapa? Kau gak terima dikatai muka rata. Tapi memang kau itu mukanya rata."
"Kayaknya kau tu butuh operasi hidung, deh. Kasian aku lihat. Kau pasti kalau nafas susah karena hidungmu terlalu mini," caci Farah.
Farah sebenarnya enggan menghina fisik Adit. Tapi baginya Adit sudah keterlaluan.
Wajah Adit berubah merah. Matanya menyala dengan penuh amarah. Namun, tiba-tiba ia tersenyum licik.
"Ya, gak papa. Karena setelah ini kalian pasti akan memohon-mohon padaku," ucapnya penuh percaya diri.
"Aku dengar beasiswa Safa dicabut, ya? Dan terancam gak bisa ikut tugas akhir. Yah ... sayang banget," timpalnya lagi.
Suasana semakin tegang. Farah bahkan hampir memukul jika bukan Safa yang terus menghalangi.
"Sabar Farah. Jangan sampai kamu yang rugi karena berurusan dengannya," tutur Safa.
"Tapi, dia ..."
"Sudahlah. Kamu tidak perlu melakukan ini. Ini masalahku, aku yang akan menyelesaikannya," ujarnya sambil melangkah lebih maju.
Adit bersendekap sambil menatap sombong. "Ya kalau kau mau bersujud dan meminta maaf, aku bisa pertimbangkan."
"Adit! Kau ..."
"No ... No .... Farah lebih baik kau diam. Ini urusanku dengan Safa, ngerti?"
Adit mengangkat satu alisnya sambil melihat ke arah sepatu. "Ayo. Kau tau kan ayahku seorang Direktur di yayasan Widjaya Capital. Yayasan milik perusahaan besar yang menyokong semua beasiswa di kota ini. Sekali aku bilang ke ayah untuk depak kau. Kau pasti abis."
"Seharusnya kau sudah gak bisa kuliah sekarang. Aku tau kau datang untuk meminta maaf dan kembali padaku, kan?" ujarnya sombong.
Kedua tangan Safa mengepal kuat. Tubuhnya bergetar menahan amarah. Sungguh ia benar-benar sangat muak dengan lelaki di depannya itu.
Perlahan ia menunduk. Namun, tiba-tiba seorang mahasiswa menghampiri mereka.
"Eh, Safa. Kau dipanggil ke ruang Direktorat. Sekarang," katanya dengan terengah.
Adit menyeringai. "Masih belum terlambat, Safa. Aku masih bisa menolongmu."
"Jangan mau, Safa. Aku akan membantumu," ungkap Farah menguatkan.
Safa mengangguk dan meninggalkan tempat itu menuju ruang Direktorat di temani Farah. Sedang Adit mendengus, ia ikut menyusul, tentu, ia ingin menyaksikan Safa menyerah dengan putus asa.
Sesampainya di ruangan ia sudah di sambut dengan beberapa staf, Pak Leon kepala biro dan seorang lelaki paru baya yang tak ia kenal.
"Bapak memanggil saya?" tanya Safa dengan gugup.
Pak Leon menatapnya dengan penuh penyesalan. "Maaf Safa. Ini menyangkut beasiswa yang kamu dapatkan."
"Sebelumnya miss Ama pasti sudah memberitahumu kan? Dia adalah Tuan Danu direktur yayasan yang menyokong beasiswa di kampus ini. Beri salam Safa," perintahnya.
Safa tetap diam, hanya menatap sekilas.
Tuan Danu meradang dengan sikap tak sopan Safa. "Lihatlah. Dia berani tak menghormatiku!"
Safa kembali menatapnya tajam. "Untuk apa saya menghormati orang yang tidak kompeten seperti Anda. Bahkan demi urusan pribadi anak Anda, Anda mencabut beasiswa yang memang pantas saya dapatkan."
Semua tersentak kaget. Sementara Farah tersenyum bangga.
Farah tentu tak tinggal diam. Ia diam-diam mengirim pesan ke ibunya yang juga memiliki perusahaan besar untuk datang dan membantu Safa.
Ibunya yang salah seorang pengusaha berkuasa, tentu bisa membantu sahabatnya itu.
"Sudahlah, Safa menyerah saja," ujar Adit yang baru saja tiba.
Ia duduk bersama dengan para petinggi. Gayanya angkuh dan sombong.
"Siapa suruh kau mempermalukan aku. Kau kan tau aku ini berkuasa."
Tuan Danu hanya bersandar sambil menatap tajam. "Dia anakku satu-satunya. Tapi kau gadis kecil, berani sekali melakukan itu padanya. Bahkan dia sampai harus berobat karena pukulanmu."
"Aku punya bukti kekerasan itu. Dan bukan cuma hanya beasiswa, tapi aku bisa memidanakanmu," tambah Tuan Danu.
'Benar-benar permainan kekuasaan,' batin Safa.
Mereka terlihat seperti iblis yang tak tahu malu. Kekuasaan yang mereka punya justru menjadi ajak pamer, tanpa melihat keadaan orang lain.
Koneksi kekuasaan bagaikan rantai yang mengekang dan menjerat, tinggal menunggu kapan giliran eksekusi.
"Bukankah kalian sudah keterlaluan?" sergah Farah.
"Diamlah, Farah. Apa kau juga mau aku laporkan karena melukaiku waktu itu!" sahut Adit.
Pak Leon dan beberapa staf hanya bisa diam tak bisa membela. Mereka sebenarnya tak terima dengan apa yang menimpa Safa. Namun, mereka tak berdaya.
"Sudahlah Safa. Minta maaflah, setelah itu semua beres," tutur pak Leon.
"Kenapa saya harus minta maaf untuk hal yang saya anggap benar. Dia mencoba melecehkan dan memfitnah saya, apa saya salah membela diri?"
Semua terdiam.
"Bohong! Kau itu benar-benar wanita licik, ya. Jelas-jelas semua yang aku bilang itu benar. Kau memang simpanan kakek-kakek, wanita murahan!" sela Adit.
"Siapa yang kau bilang wanita murahan?" Seketika suara berat itu menginterupsi seluruh ruangan.
Saat kakinya melangkah masuk ke ruangan semua menoleh dengan penasaran.
"Bagaimana bisa kau mengatakan hal sekejam itu pada teman kampusmu sendiri? Apa orang tuamu tidak pernah mengajarimu tatakrama, hah?"
Safa menghela nafas lega. Seseorang yang tak pernah ia bayangkan untuk membantunya, datang.
Arlan dengan wajah mengeras, melangkah penuh wibawa.
"Siapa, kau? Jangan ikut campur!" ujar Adit.
Arlan tak peduli, ia justru langsung menghampiri Safa. Ia menangkup kedua pundak sang istri sambil mengusapnya lembut.
"Maaf aku terlambat," ucapnya lembut.