.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JALUR BARU
Kehidupan di Ibu Kota Utama setelah penganugerahan gelar 'Kaisar Pedang Pemalas Kekaisaran' berjalan persis seperti yang Ji Huang impikan. Tidak ada lagi menteri yang berani mengirim surat undangan, tidak ada pangeran yang mencoba menjebaknya dalam intrik politik, dan yang paling penting: para prajurit berbaju zirah emas ditugaskan khusus untuk berjaga di radius seratus meter dari Penginapan Awan Surgawi hanya untuk memastikan tidak ada gerobak fana atau kultivator berisik yang lewat saat sang Tuan Muda sedang menutup mata.
Namun, ketenangan hakiki itu harus sedikit terbagi pada suatu pagi yang cerah, ketika Ji Zhen melangkah masuk ke dalam paviliun yang baru selesai diperbaiki atapnya.
Ji Zhen tidak lagi mengenakan pakaian pelayan logistik yang kusam. Kini, dia memakai jubah sutra abu-abu berkualitas tinggi pemberian istana, wajahnya tampak segar dan penuh wibawa, meskipun matanya tetap berkaca-kaca saat menatap anaknya yang sedang selonjoran malas di atas kasur bulu angsa.
"Huang'er... Ayah ke sini untuk berpamitan," kata Ji Zhen dengan suara emosional, menyeka sudut matanya dengan saputangan sutra. "Kaisar telah memberikan sebidang tanah raksasa dan dana yang sangat melimpah untuk membangun kembali Mansion Utama Keluarga Ji di kota asal kita. Sebagai Kepala Keluarga, Ayah harus kembali ke sana untuk memimpin pembangunan dan mengurus perpindahan klan kita yang sekarang telah dilindungi mutlak oleh hukum kekaisaran."
Ji Huang perlahan membuka matanya, lalu mengangguk kecil dengan ekspresi watados yang datar. "Oh, baguslah kalau begitu, Ayah. Jangan lupa pastikan kamar tidurku di mansion baru nanti jaraknya minimal satu kilometer dari dapur atau kandang kuda, ya. Aku tidak mau suara ayam berkokok merusak ritme mimpi pagiku."
Ji Zhen terkekeh pasrah. Dia menepuk pundak anaknya dengan penuh rasa syukur. "Jangan cemas, Nak. Jangankan satu kilometer, Ayah akan membangun paviliun khusus untukmu yang dikelilingi taman kedap suara. Ayah tidak perlu mengkhawatirkanmu lagi sekarang. Di kekaisaran ini, siapa yang berani mencari masalah denganmu sama saja dengan mencari tiket gratis menuju akhirat."
Setelah memberikan beberapa wejangan dan membekali Ji Huang dengan satu keranjang penuh camilan manisan buah dari dapur istana, Ji Zhen akhirnya melangkah pergi dengan hati yang sangat plong. Bagi Ji Huang, kepulangan ayahnya adalah sebuah berkah besar. Setidaknya, sekarang tidak akan ada lagi orang tua yang hobinya mendobrak pintu kamarnya sambil berteriak histeris setiap kali ada musuh yang datang.
Namun, kebahagiaan kaum rebahan itu mendadak terusik ketika Xiao Cui berjalan masuk membawa secangkir teh krisan dengan wajah yang agak cemberut.
"Tuan Muda... ada kabar buruk dari kasim istana yang mengurus suplai bulanan kita," lapor Xiao Cui sambil meletakkan cangkir teh di meja kecil samping tempat tidur.
Ji Huang yang sedang mencoba memosisikan bantalnya agar pas dengan lekuk leher mendadak berhenti. Alisnya yang tampan berkerut tajam. "Kabar buruk apa? Jangan bilang kaisar itu bangkrut sehingga tidak bisa membelikan aku kasur baru?"
"Bukan begitu, Tuan Muda," Xiao Cui menghela napas. "Kasur bulu angsa salju murni setebal empat jengkal yang dijanjikan di dalam dekret... ternyata stoknya di gudang istana sudah habis total. Kasim bilang, bulu-bulu itu hanya bisa dipanen dari Angsa Salju Langit, sejenis binatang spiritual langka yang hanya hidup liar di puncak Pegunungan Es wilayah utara yang sangat dingin."
Xiao Cui melanjutkan dengan wajah polos, "Karena jalur ke utara sangat berbahaya dan bersalju, pihak istana memperkirakan mereka baru bisa mengumpulkan cukup bulu untuk membuat satu kasur dalam waktu... enam bulan ke depan."
"Enam bulan?!" Ji Huang langsung menegakkan punggungnya dengan sentakan cepat—sebuah gerakan yang sangat langka bagi seseorang yang menganggap duduk tegak sebagai pemborosan energi maskulin.
Sepasang mata sayunya melotot penuh kengerian kosmis. Bagi Ji Huang, menunggu enam bulan tanpa kasur varian terbaik yang baru adalah sebuah penyiksaan lahiriah yang tidak bisa ditoleransi oleh jiwanya. Kasur tiga jengkal yang dia pakai saat ini memang empuk, tapi setelah mendengar ada varian empat jengkal yang terbuat dari bulu angsa langit liar, punggung fananya mendadak merasa tidak puas.
"Enam bulan itu sama dengan seratus delapan puluh hari, dan seratus delapan puluh hari tanpa kualitas tidur yang maksimal bisa menurunkan tingkat ketampanan fana ini sebanyak tiga puluh persen!" Ji Huang bergumam dengan nada panik yang dibuat-buat, meskipun wajahnya tetap terlihat mengantuk.
Dia melompat turun dari kasurnya, menepuk meja dengan tekad yang mendadak berkobar—bukan demi membela kebenaran atau menghancurkan kejahatan, melainkan demi kenyamanan tulang ekornya di masa depan.
"Xiao Cui! Siapkan kereta kuda baru yang diberikan oleh kaisar kemarin! Taruh semua manisan buah dan arak manis di dalamnya!" perintah Ji Huang dengan nada kepahlawanan yang konyol.
Xiao Cui melongo. "Eh? Tuan Muda, kita mau ke mana?"
"Kita akan melakukan inspeksi fana ke wilayah utara!" Ji Huang mendeklarasikan misinya dengan wajah watados tanpa beban. "Kita akan mendatangi pegunungan es itu dan memastikan para angsa salju langit itu menyerahkan bulu-bulu terbaik mereka tanpa penundaan birokrasi istana. Perjalanan luar kota tanpa protokoler ketat... ini juga waktu yang pas untuk menikmati tidur berjalan di dalam kereta tanpa gangguan para pejabat berisik itu. Ayo berangkat!"
Maka, di saat seluruh faksi di Ibu Kota mengira sang 'Kaisar Pedang Pemalas' sedang mengurung diri untuk merapal teknik bela diri tingkat dewa yang baru di dalam kamarnya, sebuah kereta kuda mewah berlambang plakat emas kaisar diam-diam meluncur keluar dari gerbang utara Ibu Kota dengan sangat santai, memulai sebuah perjalanan baru yang didasari oleh motif paling konyol dalam sejarah dunia kultivasi: perburuan kasur yang lebih empuk.