*Sinopsis*
Evelyn Mahesa bukan orang yang percaya cinta instan.
Ia hanya percaya pada satu hal: ibunya harus sembuh.
Saat tagihan rumah sakit 200 juta menumpuk dan semua jalan buntu, muncul Matthias Virel—CEO dingin, kaya, dan paling ditakuti di dunia bisnis.
Ia menawarkan jalan keluar yang mustahil ditolak:
*4,5 miliar rupiah. Syaratnya, Evelyn harus jadi istri kontraknya selama 90 hari.*
Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Hanya peran di depan publik demi menenangkan nenek Matthias yang sekarat.
Awalnya, Evelyn pikir ini cuma transaksi.
Tapi tinggal serumah dengan pria yang jago bikin jengkel sekaligus bikin jantung berdebar itu… ternyata lebih sulit dari yang ia kira.
90 hari.
Cukup untuk jatuh cinta?
Atau cukup untuk saling membenci sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriana Hanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Baby Shower dari Karyawan
Hari ke-248.
Kehamilan Evelyn masuk minggu ke-29.
Perutnya udah berat banget.
Jalan 10 menit aja udah ngos-ngosan.
Tapi wajahnya nggak pernah keliatan capek.
Selalu ada senyum kecil tiap kali Relia nendang.
Minggu ini nggak ada kontrol.
Cuma ada satu hal yang bikin heboh:
Karyawan Virel Group diam-diam nyiapin baby shower kedua.
Yang pertama dari keluarga.
Yang ini dari orang-orang yang kerja bareng Matthias 8 tahun terakhir.
---
Jumat sore, Matthias bilang mau rapat kecil di kantor cabang Jakarta.
“2 jam doang. Lo istirahat di rumah ya.”
Evelyn ngangguk.
Dia udah capek juga.
Tapi pas Matthias baru 15 menit pergi, Nyonya Alina telpon.
“Nak, kamu siap-siap ya. Pakai baju yang nyaman. 30 menit lagi mobil jemput.”
Evelyn kaget.
“Ke mana, Ma?”
“Rahasia. Pokoknya bagus.”
---
Mobil berhenti di gedung lama Virel Group.
Bukan kantor pusat.
Tapi ballroom kecil di lantai 8 yang udah nggak dipakai sejak pandemi.
Pintu dibuka.
Lampu nyala.
“Surprise!”
Satu ruangan penuh karyawan.
Ada tim legal, tim keuangan, tim lapangan, bahkan satpam dan cleaning service yang dulu pernah jaga malam pas Matthias sakit.
Balon biru krem, meja panjang penuh kue, dan banner besar: _Selamat Datang, Relia Virel!_
Evelyn nutup mulut.
Dia nggak nyangka.
Kepala tim HR, Bu Rina, maju pelan.
“Bu Evelyn, kami tahu Ibu nggak suka heboh.
Tapi kami mau bilang terima kasih.
Karena sejak Pak Matthias sama Ibu balikan, kantor rasanya hidup lagi.”
Evelyn nggak bisa ngomong.
Matanya udah berkaca-kaca.
Bu Rina lanjut:
“Kami kerja di sini bukan cuma karena gaji.
Tapi karena Pak Matthias nggak pernah ngeliat kami cuma sebagai nomor.
Dan Ibu... Ibu bikin dia jadi manusia lagi.”
Tepuk tangan pecah.
---
Matthias muncul dari belakang.
Dia juga nggak tahu.
Wajahnya kaget, terus senyum.
Dia jalan ke Evelyn, pegang pinggangnya pelan.
“Lo nggak bilang kalau ada acara gini.”
Bu Rina ketawa.
“Pak, kami sengaja nggak bilang. Biar bener-bener kejutan.”
Matthias ngangguk.
Dia liat sekeliling.
Banyak muka yang dulu cuma ketemu di rapat.
Sekarang semuanya senyum ke dia.
“Terima kasih,” kata Matthias pelan.
“Buat Relia, buat Evelyn, dan buat gue.
Gue nggak pernah ngerasa punya tim sebaik kalian.”
---
Acara jalan santai.
Nggak ada sambutan panjang.
Cuma makan, ngobrol, dan buka kado.
Evelyn dapet banyak hal lucu:
Baju bayi tulisan _Boss’s Daughter_, popok motif awan, botol susu dengan nama Relia, dan satu kotak kayu kecil dari tim lapangan.
Di dalamnya: surat tulisan tangan dari 30 orang.
Satu-satu.
Semua bilang hal yang sama:
_“Kami senang liat Bapak dan Ibu bahagia. Jaga Relia baik-baik ya.”_
Evelyn baca satu per satu.
Nangis diam-diam.
Matthias liat, langsung peluk dia.
“Nggak usah nangis. Nanti Relia ikut nangis.”
Evelyn ketawa sambil usap mata.
“Gue nggak nangis. Gue... haru.”
---
Ada sesi foto.
Evelyn di tengah, pegang perut.
Matthias di sampingnya, tangan di pundak.
Karyawan berbaris di belakang.
“1... 2... 3!”
Klik.
Foto itu nggak pernah di-upload.
Tapi Bu Rina print, masukin frame kayu, kasih ke Evelyn pas pulang.
“Buat Relia. Biar dia tahu, dia udah disayang banyak orang sejak belum lahir.”
Evelyn peluk frame itu.
“Terima kasih, Bu Rina.”
---
Jam 9 malam, acara selesai.
Karyawan pulang satu-satu.
Banyak yang pamit sambil bilang,
“Pak, jaga Ibu baik-baik ya.”
“Bu, kalau butuh apa-apa kabarin kami.”
Evelyn dan Matthias jalan keluar bareng.
Hujan gerimis.
Udara dingin.
Matthias buka payung, peluk Evelyn dari samping.
“Gimana? Capek nggak?”
Evelyn geleng.
“Capek. Tapi bahagia.”
Matthias senyum.
“Gue juga.”
Di mobil, Evelyn diem.
Terus dia bisik:
“Matthias.”
“Hmm?”
“Gue ngerti sekarang kenapa lo dulu kerja gila-gilaan buat perusahaan ini.
Karena orang-orangnya.”
Matthias ngeliat dia.
“Dan sekarang, gue kerja gila-gilaan buat kalian.”
Evelyn pegang tangannya.
“Udah cukup. Lo nggak perlu gila-gilaan lagi.”
Matthias ketawa kecil.
“Oke. Gue kerja normal aja. Mulai besok.”
---
Malam itu, mereka pulang.
Nggak langsung tidur.
Evelyn buka kotak kayu kecil, baca surat-surat itu lagi.
Matthias duduk di sampingnya, dengerin dia baca pelan-pelan.
Kadang berhenti, ketawa.
Kadang berhenti, nangis.
“Lo denger nggak?” kata Evelyn.
“Apa?”
“Mereka bilang, Relia beruntung punya papa kayak lo.”
Matthias diem.
Terus dia bisik:
“Relia juga beruntung punya mama kayak lo.”
Mereka diem.
Relia gerak pelan di dalam.
Kayak setuju.
---
Hari ke-255.
Kontrol kehamilan.
Dokter bilang semuanya bagus.
Relia beratnya 1,1 kg.
Posisinya udah turun dikit.
“Siap-siap aja ya, Bu. Minggu 32-34 biasanya udah mulai kontraksi palsu sering.”
Evelyn ngangguk.
Matthias catat semua.
Di mobil pulang, Evelyn ngeliat Matthias.
“Lo takut nggak?”
Matthias mikir.
“Takut. Tapi lebih takut kalau gue nggak ada pas lo butuh.”
Evelyn pegang tangannya.
“Lo selalu ada.”
Matthias senyum.
“Selalu.”
---
Malam itu, sebelum tidur, Evelyn nulis di diarynya:
_“Hari ini Relia dikelilingi cinta dari orang-orang yang bahkan belum pernah ketemu dia.
Mungkin itu yang namanya keluarga.
Nggak harus darah.
Cukup peduli.”_
Dia tutup buku.
Matiin lampu.
Tidur di pelukan Matthias.
Di luar, dunia masih ribut.
Tapi di dalam, mereka punya 200 alasan buat percaya:
Relia nggak akan pernah sendirian.
---
*Bersambung –