NovelToon NovelToon
Gara-gara Kepeleset, Jadi Istri Gus Duda!

Gara-gara Kepeleset, Jadi Istri Gus Duda!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Duda / Nikahmuda
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: adelita

Delina Azzahra Gustia, gadis 21 tahun yang paling anti dengan yang namanya duda, harus menghadapi kenyataan pahit... ancaman dari ayahnya.

"Kalau kamu masih bangun siang terus, Bapak nikahkan kamu sama duda!"

Ancaman itu selalu ia anggap angin lalu.
Sampai suatu hari... semuanya berubah.

Sebuah kejadian konyol yang tak pernah ia bayangkan-kepeleset, lalu jatuh tepat di atas seorang pria asing-membuat hidupnya jungkir balik.

Lebih parahnya lagi, warga memergoki mereka dalam posisi yang... tak bisa dijelaskan.

Pria itu adalah Muhammad Agam Alfariz. Seorang gus berusia 30 tahun.

Dan sialnya... dia adalah tipe pria yang paling Delina benci. Namun karena fitnah yang terlanjur melebar, satu keputusan harus diambil.

Menikah...

Dalam semalam, Delina yang anti duda... justru sah menjadi istri seorang gus mantan duda.

Hidupnya yang dulu bebas, kini berubah total.

ig: adelgustian_

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adelita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1

Ayam-ayam berkokok bersahutan, suara motor tua sesekali melintas di jalan tanah, dan aroma tanah basah bercampur dengan segarnya daun-daun sayur yang baru disiram.

Di sebuah rumah sederhana yang berdiri di tengah hamparan kebun, kehidupan sudah berjalan sejak subuh.

"Delina! Bangun! Matahari udah di atas kepala itu!"

Suara perempuan paruh baya terdengar lantang dari dapur.

Tak ada jawaban.

"DELINA!"

Masih sama.

Di dalam kamar, seorang gadis masih tidur nyenyak, memeluk guling dengan posisi melintang tidak beraturan.

Rambutnya berantakan, selimutnya setengah jatuh, tapi wajahnya... damai sekali.

Dialah Delina Azzahra Gustia.

Anak ketiga dari tiga bersaudara.

Kakak pertamanya laki-laki , sudah menikah dan menetap di kota bersama istrinya. Kakak keduanya laki-laki, juga telah berkeluarga dan tinggal tak jauh dari desa.

Sementara Delina satu satunya anak perempuan yang masih menetap dirumah di usia nya ke 22 tahun, dengan status "anak gadis yang belum jelas masa depannya" — menurut versi ibunya.

Masih lajang.

Dan... masih hobi bangun siang.

"DELINA!"

Kali ini suara itu disertai bunyi pintu yang diketuk cukup keras.

"Astaga, Mak... ini juga baru merem bentar..." gumam Delina pelan, menarik selimut lebih tinggi.

"Baru merem katanya! Dari subuh kamu tidur lagi! Mau jadi apa kamu itu?!"

Delina meringis, matanya sedikit terbuka dan menguap panjang.

"Kan tadi udah bangun, Mak... bangun, terus mikir... capek... ya tidur lagi..."

Mamak Nurlela langsung melotot.

"Kamu itu ya! Mulutnya aja yang kerja!"

Delina akhirnya bangun duduk, rambutnya acak-acakan, tapi wajahnya tetap santai.

"Ya kan jujur, Mak..."

"Jujur kamu itu bikin emosi!"

"Bangun! Ikut ke kebun! Jangan tidur terus kayak orang ga punya kerjaan!"

Delina malah nyengir.

"Lah, siapa bilang ga kerja, Mak? Aku kan kerja juga... bantu Mamak..." jawabnya santai.

"Membantu katanya! Bangun siang tiap hari itu bantu dari mana?!"

Delina akhirnya duduk, rambutnya berantakan, tapi wajahnya tetap santai.

"Yang penting aku tetap cantik, Mak. Rezeki pasti datang sendiri," ucapnya percaya diri.

"Rezeki dari mana kalau kamu cuma bisa tidur?!" Ucap Mamak Nurlela daster sederhana berdiri dengan tangan berkacak pinggang.

Perempuan yang dulu pernah bekerja sebagai buruh di kota, sebelum akhirnya memilih pulang dan hidup sederhana bersama keluarganya di desa.

Kini, hari-harinya diisi dengan mengurus kebun sayur di samping rumah—cukup untuk kebutuhan sehari-hari, bahkan lebih.

Delina terkekeh pelan.

Sifatnya memang begitu—ceplas-ceplos, santai, dan terlalu percaya diri.

Di desa itu, semua orang sudah hafal dengan kelakuannya. Mulutnya kadang tak bisa disaring, tingkahnya suka seenaknya, dan gayanya... centil tak ada obat.

Tapi anehnya, tak ada yang benar-benar membencinya. Karena di balik semua itu, Delina tetap tahu batas.

Ia masih sopan pada orang yang lebih tua, masih mengerti aturan, dan tak pernah benar-benar melewati garis yang seharusnya.

Hanya saja...

cara dia menjalani hidup memang sedikit lebih "berisik" dari yang lain.

Sejak lulus sekolah lima tahun lalu, Delina memang memilih tetap di desa.

Bukan karena tak punya pilihan. Tapi karena dia memang tak ingin pergi.

Ia lebih suka membantu orang tuanya—berkebun, memanen sayur, lalu menjualnya ke pasar.

Meski sering dianggap santai dan pemalas, sebenarnya Delina tetap bekerja. Bahkan, ayahnya sendiri tetap memberinya upah.

"Biar kamu tau rasanya cari uang sendiri," begitu kata bapaknya suatu hari.

Namun tetap saja...

kebiasaan bangun siangnya tak pernah berubah.

Belum sempat Delina menjawab, suara langkah kaki terdengar dari luar.

"Mak, sayur yang kemarin mau dibawa ke pasar ya?"

Suara berat itu milik Roslan—ayah Delina.

Seorang pria paruh baya dengan wajah tegas tapi sorot mata hangat.

Dialah juragan kebun sawit di desa itu.

Sejak muda, ia sudah berkecimpung di dunia kebun. Kini hasilnya mulai terlihat—hidupnya berkecukupan, meski tetap sederhana.

"Ini lagi nyiapin," jawab Mamak.

Roslan melirik ke arah kamar.

"Lina belum bangun?"

Mamak langsung menunjuk ke dalam.

"Lihat sendiri tuh anak Bapak!"

Roslan masuk perlahan.

Matanya langsung tertuju pada Delina yang masih duduk dengan rambut berantakan.

"Bangun kamu," ucapnya singkat.

Berbeda dengan Mamak, suara Roslan tidak keras—tapi tegas.

Delina langsung berdiri.

"Iya, Pak..."

Ia menggaruk kepalanya, lalu tersenyum kecil.

"Hehe... kesiangan dikit..."

Roslan menatapnya datar.

"Kamu itu sudah 21 tahun, Lina."

"Iya, Pak... masih muda kan?" jawab Delina santai.

"Masih muda, tapi bukan berarti malas."

Delina langsung mengangkat kedua tangan.

"Siap, Pak! Hari ini aku rajin! Janji!"

Mamak mendengus.

"Janji terus, kerja kagak."

"Mak, jangan buka kartu dong..."

Roslan menahan senyum tipis.

Meski sering kesal dengan tingkah anak bungsunya itu, jauh di dalam hati... ia tahu Delina tidak seburuk yang terlihat.

"Delina, dengar ya... kalau kamu masih begini terus..." Mamak Nurlela menatap tajam ke arah anaknya.

"Apa, Mak?" jawab Delina santai sambil merapikan rambutnya asal.

"Bapak bakalan nikahkan kamu sama duda!"

Seketika Delina berhenti.

Lalu...

ia tertawa.

"Duda? Ih, amit-amit! Mending aku nikah sama kambing sekalian, Mak!"

"Jangan main-main kamu!"

"Ya kali, Pak. Duda itu paket lengkap masalah. Aku ogah."

Delina berdiri, berjalan santai keluar kamar sambil menguap.

Ancaman itu...

bukan pertama kali ia dengar.

Dan seperti biasanya, ia tak pernah benar-benar menganggapnya serius.

Baginya, hidup masih panjang.

Dan menikah—terlebih dengan duda—bukan sesuatu yang ada dalam rencananya.

...➰➰➰➰...

Pagi di kota itu berjalan seperti biasa—tenang, rapi, dan penuh keteraturan.

Cahaya matahari masuk perlahan dari balik tirai jendela, menyinari sosok pria yang berdiri tegak di depan cermin.

Muhammad Agam Alfariz seorang pria berusia 30 tahun dan… seorang duda.

Status yang tidak pernah ia pilih namun harus ia terima.

Tatapannya tertuju pada pantulan dirinya sendiri. Wajahnya masih tampan—tidak mencolok, tapi cukup membuat orang diam-diam memperhatikan. Garis rahangnya tegas, hidungnya mancung, dan sorot matanya dalam.

Hanya saja…

ada sesuatu yang berubah bukan hanya garis halus di dahinya tapi juga cara ia memandang hidup.

Dulu, ia masih bisa tersenyum lebih sering bisa tertawa masih punya seseorang… yang berarti dalam hidupnya.

Namun semua itu hilang dalam satu kejadian yang tidak pernah ia bayangkan.

Sebuah kecelakaan pesawat yang merenggut nyawa istrinya dan juga… calon anaknya yang masih berada dalam kandungan. Saat itu, Agam sedang menempuh pendidikan di Mesir.

Dan sejak hari itu… ada bagian dalam dirinya yang ikut mati.

Agam merapikan baju koko putih yang melekat rapi di tubuhnya. Peci hitam terpasang di kepalanya, sarungnya tersusun rapi dengan gaya sederhana.

Ia menatap dirinya beberapa detik.

Seperti biasa.

Sudah tiga tahun ia kembali ke Indonesia setelah empat tahun menuntut ilmu di Mesir.

Kini ia kembali bersama keluarganya—Ummi Jemma, Abah Ahmad dan adiknya, Azzam mereka berbeda 3 tahun saja dan kini sang adik sudah menikah.

“Mas Agam! Ayo sarapan dulu!”

Suara Ummi dari luar kamar memecah keheningan.

Agam menghela napas pelan. “Baik, Ummi.”

Ia mengambil koper di samping ranjang, lalu menyeretnya keluar kamar.

Di ruang makan, suasana sudah hangat.

Ummi Jemma duduk sambil menuangkan teh. Abah Ahmad membaca koran seperti biasa. Sementara Azzam duduk santai, memainkan sendok dengan ekspresi tidak jelas.

Begitu Agam muncul, ketiganya menoleh.

“MasyaAllah… rapi sekali,” puji Ummi lembut.

Agam mengangguk singkat.

“Biasa saja, Ummi.”

Azzam langsung menyeringai.

“Biasa dari mana, Mi? Itu aura ‘jangan-dekat-dekat-nanti-dihukum’ udah sampai ke dapur.”

Agam melirik datar. “Azzam.”

“Iya, iya… Zam diam.” jawab Azzam cepat, meski senyumnya masih tersisa.

Agam duduk dan mulai makan.

“Sudah siap berangkat?” tanya Abah.

“Sudah, Bah. InsyaAllah sebentar lagi.”

“Kamu berangkat jam berapa ke Desa Cempaka?”

“Satu jam lagi.”

Abah mengangguk pelan.

“Kamu yakin mau ke sana?”

Agam menatapnya.

“Yakin, Bah. Saya siap ditempatkan di mana pun.”

Azzam langsung menyela.

“Mas, serius deh… kenapa harus ke desa? Di kota juga banyak pesantren.”

Agam menoleh. “Memang kenapa?”

“Ya… lebih nyaman aja. Di desa kan… ya gitu…”

Abah akhirnya menjelaskan,

“Itu permintaan dari kyai di sana. Mereka kekurangan tenaga pengajar.”

Azzam mengangguk. “Oh…”

“Dan kyai meminta Agam.” lanjut Abah. “Karena ilmunya sudah cukup khatam luar dalam.”

Agam menunduk sedikit.

“InsyaAllah.”

Ummi yang sejak tadi diam, akhirnya berbicara.

“Mas… di sana kamu tinggal di rumah tante kamu. Jaga sikap, jaga lisan.”

“Iya, Ummi.”

“Dan…” Ummi menatapnya lebih dalam, “jangan terlalu keras seperti di pesantren.”

Azzam langsung tertawa kecil.

“Itu susah, Mi.”

Agam melirik tajam. “Kamu ada masalah?”

“Enggak, Mas. Cuma aku hapal kebiasaan kmu.”

“Azzam.”

“Iya, Ummi…”

“Mas…”

Agam mengangkat pandangannya. “Iya, Ummi.”

Ummi tersenyum tipis. “Sudah tiga tahun…”

Agam diam.

“Sejak kejadian itu…”

Suasana mendadak berubah. Azzam yang biasanya bercanda pun ikut diam.

“Ummi tidak pernah memaksa kamu,” lanjutnya lembut, “tapi… sampai kapan kamu mau sendiri?”

" Azzam saja sudsh punya keluarga sendiri."

Agam tidak langsung menjawab.

“Mas…”

“Belum ada yang cocok, Ummi.” Jawaban itu keluar pelan.

Azzam mencoba mencairkan suasana.

“Atau… mungkin belum ada yang berani deket, Mi.”

Ummi menahan senyum tipis. “Bisa jadi.”

Agam melirik.

“Mas,” lanjut Ummi lagi, “Ummi hanya ingin kamu bahagia lagi.”

Kalimat itu… membuat Agam terdiam lebih lama.

“Tidak ada yang salah dengan memulai lagi.”

Agam menatap Umminya ada sesuatu di sana.

“InsyaAllah, Ummi.”

Abah ikut menimpali. “Di Desa Cempaka itu… lingkungannya sederhana.”

Agam mengangguk.

“Iya.”

“Kadang… di tempat seperti itu, Allah mempertemukan kita dengan sesuatu yang tidak kita cari.”

Azzam langsung menyenggol. “Termasuk jodoh.”

Agam menghela napas kecil.

“Mas. ” kata Azzam lagi, “coba bayangin…”

“Di sana ada cewek… sederhana… terus Mas—terpesona langsung jatuh cinta.”

Agam menoleh sedikit. “Tidak mungkin.”

Azzam langsung ngakak. “Belum kejadian udah ditolak!”

Agam kembali makan. “Tidak sesuai kriteria .”

“Mas itu bukan kriteria , tapi trauma.”

Kalimat itu… membuat semua diam.

Azzam langsung sadar. “Eh… maksud ku…”

Namun Agam hanya menjawab tenang,

“Lebih baik begitu.”

Ummi menggenggam tangannya pelan.

“Mas… kamu tidak harus melupakan. Tapi kamu juga tidak boleh berhenti hidup.”

Lalu ia mengangguk pelan. “Iya, Ummi.”

Azzam kembali mencoba mencairkan suasana.

“Intinya gini deh, Mas…”

Agam melirik. “Apa lagi?”

“Kalau nanti ada perempuan yang cukup kuat mental buat hadapi Mas…”

Agam diam.

“Jangan langsung ditolak.”

Agam menjawab singkat, “Tidak akan terjadi.”

Azzam langsung tepuk jidat. “Mas ini ya…”

Abah tersenyum kecil. “Coba saja dulu, Gam.”

“Iya, Bah.” Agam Mengiyakan.

Azzam berdiri. “Aku tunggu kabar baik dari desa, Mas.”

Agam langsung berdiri sambil mengambil koper.

“Tidak ada.”

“YA ALLAH MAS AGAM!”

Tawa kecil kembali terdengar namun di balik itu—

ada doa yang diam-diam terucap agar lelaki yang terlalu lama sendiri itu akhirnya bisa membuka hati

1
Dhika Bundanya Dedeg Afnan
bagus lanjut lgi donk
Eu Angel Lie
kena omongan ortu dapat duda ya🤣
Aimee Aiko
kok lama kelanjutannya
Anime aikō-kā
p
Aimee Aiko
kok lama gak muncul" lanjutannya
Adelita0305: Malam ini mimin update ka ☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!