NovelToon NovelToon
Pak Jadikan Aku Pacarmu

Pak Jadikan Aku Pacarmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Clara Rubiana, 25 tahun, putri bungsu pemilik Darmawan Group, mulai bekerja di perusahaan ayahnya demi mencari pengalaman. Di sana, ia jatuh hati pada Tony Bagaskara, direktur operasional yang kharismatik dan selalu terlihat sempurna. Sebaliknya, Clara membenci Doni Permana, direktur pemasaran yang sering berselisih dengan Tony dan dianggap arogan. Namun seiring waktu, Clara mulai melihat sisi asli Tony yang manipulatif dan penuh ambisi gelap. Kekecewaan itu menghancurkan perasaannya. Di tengah keterpurukan, Doni justru hadir dengan ketulusan, keberanian, dan kepedulian yang tak pernah Clara sadari sebelumnya. Perlahan, kebencian berubah menjadi rasa nyaman, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 1

Pagi itu suasana lobi gedung utama Darmawan Grup sudah sibuk sejak pukul delapan. Para karyawan berlalu-lalang sambil membawa dokumen, beberapa sekretaris tampak sibuk menjawab panggilan telepon, sementara suara langkah sepatu memenuhi ruangan besar yang didominasi marmer putih dan dinding kaca itu. Perusahaan besar memang selalu terlihat seperti sarang manusia yang tidak pernah kehabisan energi. Melelahkan hanya dengan melihatnya.

Di tengah kesibukan itu, seorang wanita muda berjalan masuk sambil menggenggam tas kecil berwarna krem. Rambut hitam sebahunya bergoyang pelan mengikuti langkahnya. Wajahnya manis dan bersih, tetapi pagi itu raut mukanya terlihat murung.

Clara Rubiana menghela napas panjang begitu pintu otomatis tertutup di belakangnya.

“Aku masih tidak percaya Ayah benar-benar menyuruhku bekerja di sini…” gumamnya pelan.

Padahal baru dua minggu lalu dia lulus kuliah. Dalam bayangannya, setelah wisuda dia bisa menikmati hidup beberapa bulan. Bangun siang, pergi belanja, nongkrong bersama teman-temannya, atau setidaknya menikmati masa santai sebelum dunia kerja mulai menghancurkan ketenangan hidup manusia satu per satu.

Namun Darmawan berbeda.

Sebagai pemilik Darmawan Grup, pria itu tidak pernah percaya pada kata santai.

“Kalau kamu ingin memimpin perusahaan suatu hari nanti, kamu harus belajar dari bawah.”

Kalimat itu terus terngiang di kepala Clara sejak semalam.

Belajar dari bawah.

Masalahnya, “bawah” versi ayahnya tetap berada di perusahaan miliaran rupiah dengan ruangan dingin dan direktur-direktur galak. Bukan kehidupan rakyat biasa yang benar-benar harus berdesakan naik angkutan umum. Orang kaya memang punya definisi unik tentang penderitaan.

Clara melangkah menuju meja resepsionis sambil menghela napas lagi.

“Selamat pagi, Nona Clara,” sapa beberapa karyawan dengan sopan.

Clara hanya tersenyum kecil sambil mengangguk.

Meski belum resmi bekerja penuh, hampir semua orang di perusahaan mengenalnya. Bagaimanapun juga dia putri bungsu pemilik perusahaan.

Namun perlahan suasana hati Clara mulai membaik ketika mengingat satu hal.

Tony Bagaskara.

Nama itu langsung membuat sudut bibirnya sedikit terangkat.

Tony adalah direktur operasional Darmawan Grup yang usianya bahkan belum menyentuh tiga puluh tahun. Pria itu terkenal karena kepintaran dan ketegasannya. Banyak orang memujinya sebagai direktur muda paling berbakat di perusahaan.

Dan menurut Clara, Tony juga pria paling tampan yang pernah dia lihat.

Tubuh tinggi, wajah tegas, pembawaan tenang, suara berat, dan cara bicara yang selalu sopan. Sangat berbeda dari kebanyakan pria muda yang suka pamer kekayaan atau bicara terlalu keras demi terlihat hebat. Tony justru terlihat berkelas tanpa perlu berusaha.

Clara sudah beberapa kali berbicara dengannya saat pesta perusahaan.

Tony selalu ramah padanya.

Mereka pernah mengobrol tentang bisnis, film, bahkan kopi favorit. Hal-hal sederhana yang terus dipikirkan Clara diam-diam sebelum tidur. Tragis memang. Manusia bisa jatuh hati hanya karena diajak bicara baik-baik selama lima belas menit.

Saat Clara berjalan menuju lift khusus direksi, tiba-tiba langkahnya berhenti.

Dari kejauhan dia melihat sosok yang sangat dikenalnya.

Tony berdiri di dekat area lounge sambil memegang beberapa dokumen. Hari itu pria itu mengenakan setelan abu-abu gelap dengan dasi hitam. Penampilannya rapi seperti biasa.

Clara langsung merasa lebih semangat.

“Kak Tony…” gumamnya pelan.

Namun sebelum dia sempat menghampiri, seorang pria lain datang dengan langkah cepat.

Pria itu memiliki tubuh tinggi dengan wajah dingin dan tatapan tajam. Rambutnya sedikit berantakan, tetapi justru membuat penampilannya terlihat tegas. Dia berhenti tepat di depan Tony tanpa basa-basi.

Clara langsung mengenali pria itu.

Doni Permana.

Direktur pemasaran Darmawan Grup.

Dan orang yang paling tidak disukainya.

“Tony, saya ingin bicara soal anggaran pemasaran bulan depan,” kata Doni lugas.

Tony mengangkat pandangan dari dokumennya.

“Ada masalah?”

“Masalah besar,” jawab Doni datar. “Anggaran yang Anda setujui terlalu kecil.”

Tony terlihat tenang.

“Itu masih cukup.”

“Cukup untuk perusahaan kecil mungkin.”

Beberapa karyawan di sekitar mereka mulai melirik diam-diam. Udara mendadak terasa tegang.

Tony tetap terlihat santai.

“Bukankah tugas direktur pemasaran memang memaksimalkan hasil dengan anggaran yang ada?”

Doni menatap tajam.

“Memaksimalkan bukan berarti bekerja dengan angka yang tidak masuk akal.”

“Kalau strategi Anda bagus, seharusnya itu tidak jadi masalah.”

Clara yang mendengar percakapan itu langsung mengerutkan kening.

Menurutnya Doni benar-benar tidak tahu tempat.

Membahas masalah perusahaan di area terbuka seperti itu jelas tidak sopan. Apalagi nada bicaranya terdengar seperti sedang menantang Tony.

Clara segera berjalan mendekat.

“Permisi,” katanya sambil berdiri di samping Tony.

Doni melirik sekilas ke arah Clara lalu kembali menatap Tony tanpa ekspresi.

Clara langsung kesal melihat sikap itu.

“Pak Doni, seharusnya Anda tahu tata krama,” ucap Clara dingin. “Membahas konflik pekerjaan di luar kantor seperti ini hanya membuat karyawan tidak nyaman.”

Doni akhirnya menatap Clara penuh.

Tatapannya datar.

Tidak takut.

Tidak gugup.

Dan itu membuat Clara semakin tidak suka.

“Saya hanya sedang membicarakan pekerjaan,” jawab Doni singkat.

“Dengan nada seperti sedang bertengkar?”

“Kalau masalahnya penting, saya tidak punya waktu berbicara pelan-pelan.”

Clara langsung menahan napas kesal.

Pria ini benar-benar menyebalkan, pikirnya.

Tony mencoba menenangkan suasana.

“Sudahlah, Clara…”

Namun Clara belum selesai.

“Kalau Anda memang tidak mampu bekerja dengan anggaran itu, mungkin Anda perlu mengevaluasi kemampuan sendiri.”

Beberapa karyawan langsung saling pandang.

Udara terasa makin panas.

Doni menyipitkan mata sedikit.

“Jadi sekarang putri pemilik perusahaan ikut menilai kemampuan saya?”

“Niat saya hanya mengingatkan,” jawab Clara tajam. “Jangan mengancam direktur operasional hanya karena keinginan Anda tidak dituruti.”

Doni tertawa kecil.

Bukan tawa ramah.

Lebih seperti seseorang yang baru mendengar sesuatu yang bodoh tetapi terlalu malas untuk berdebat panjang.

“Saya tidak mengancam siapa pun,” katanya tenang. “Saya hanya mengatakan kalau anggaran ini tidak berubah, saya tidak akan melanjutkan pengembangan proyek pemasaran.”

“Itu namanya ancaman.”

“Itu namanya keputusan kerja.”

Clara makin kesal.

“Kalau begitu lebih baik Anda mundur saja kalau merasa tidak sanggup.”

Suasana langsung hening beberapa detik.

Doni menatap Clara cukup lama.

Aneh sekali karena pria itu tidak terlihat marah. Tatapannya justru seperti sedang menilai seseorang yang terlalu emosional.

Lalu dia mengalihkan pandangan ke Tony.

“Keputusan tetap sama?”

Tony menjawab singkat.

“Sementara ini, ya.”

Doni mengangguk pelan.

“Baik.”

Setelah itu dia langsung berbalik dan pergi begitu saja.

Tanpa meminta maaf.

Tanpa basa-basi.

Tanpa peduli pada suasana sekitar.

Clara memandang punggung pria itu dengan kesal.

“Sombong sekali,” gumamnya.

Tony justru tertawa kecil.

“Anda tidak perlu terlalu marah.”

“Bagaimana saya tidak marah? Dia bicara seperti sedang menantang Anda.”

Tony menatap ke arah Doni yang mulai menghilang di ujung koridor.

“Doni memang seperti itu.”

“Dan Anda membiarkannya?”

“Karena dia memang kompeten.”

Clara langsung mengerutkan dahi.

“Kompeten dari mana? Sikapnya saja buruk.”

Tony tersenyum tipis.

“Kadang orang yang paling sulit diajak bicara justru orang yang paling serius bekerja.”

Clara tetap tidak setuju.

Baginya Doni hanyalah pria dingin yang terlalu arogan.

Berbeda jauh dengan Tony yang tenang dan elegan.

Tony kemudian menatap Clara sambil tersenyum lembut.

“Terima kasih sudah membela saya tadi.”

Jantung Clara langsung berdetak lebih cepat.

“Ti-tidak perlu begitu…”

“Saya sungguh menghargainya.”

Nada suara Tony terdengar hangat.

Dan seperti biasa, Clara kembali merasa wajahnya memanas sendiri hanya karena diperhatikan pria itu. Benar-benar menyedihkan betapa mudah manusia kehilangan logika saat jatuh cinta.

Tony menutup map di tangannya.

“Ngomong-ngomong, selamat datang di Darmawan Grup.”

“Terima kasih.”

“Masih merasa dipaksa bekerja?”

Clara langsung cemberut kecil.

“Sedikit.”

Tony tertawa pelan.

“Anda akan terbiasa.”

“Saya harap begitu.”

“Kalau tidak terbiasa juga, mungkin saya bisa membantu.”

Clara menatap Tony cepat.

“Membantu?”

Tony mengangguk santai.

“Setidaknya membuat hari pertama Anda tidak terlalu membosankan.”

“Caranya?”

“Saya traktir makan siang.”

Mata Clara langsung berbinar.

“Benarkah?”

“Tentu.”

“Kak Tony serius?”

“Saya jarang bercanda soal makan.”

Clara tertawa kecil.

Perasaannya yang sejak tadi buruk langsung berubah jauh lebih baik.

“Tentu saya mau,” jawab Clara cepat.

“Bagus.”

Tony melihat jam tangannya sebentar.

“Sekarang saya harus kembali ke kantor dulu. Ada rapat yang belum selesai.”

“Baik.”

“Nanti saya hubungi Anda.”

Clara mengangguk sambil tersenyum manis.

“Terima kasih, Kak Tony.”

Tony membalas senyumnya singkat sebelum akhirnya berjalan pergi menuju lift direksi.

Clara memperhatikan pria itu sampai pintu lift tertutup.

Dan seperti biasa, dia kembali merasa tidak ada pria lain yang bisa menandingi Tony Bagaskara.

Sementara itu di sisi lain koridor, Doni ternyata masih berdiri sambil memperhatikan dari kejauhan.

Tatapannya tenang.

Dingin.

Sulit ditebak.

Dia melihat Clara yang tersenyum sendiri setelah berbicara dengan Tony, lalu menghela napas pelan.

“Anak pemilik perusahaan…” gumamnya datar.

Sesaat kemudian dia langsung berjalan pergi menuju ruangannya sendiri tanpa minat memperpanjang urusan itu.

Sementara Clara sama sekali tidak menyadari tatapan tersebut.

Dia terlalu sibuk membayangkan makan siang bersama Tony.

Dengan langkah lebih ringan, Clara akhirnya menuju lift lain untuk pergi ke ruangan ayahnya. Hari pertamanya bekerja mungkin belum benar-benar dimulai, tetapi satu hal sudah pasti.

Dia semakin yakin bahwa Tony Bagaskara adalah pria yang sempurna.

Dan dia sama sekali tidak sadar bahwa orang yang paling dia benci justru akan menjadi orang yang paling sering muncul dalam hidupnya nanti.

Manusia memang suka memilih masalahnya sendiri. Kadang bahkan sambil tersenyum bahagia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!