Di puncak tertinggi Sembilan Ranah, Yu Fan adalah legenda—seorang Master Tingkat 9 yang menyentuh ranah kedewaan. Namun, kepercayaan adalah pedang bermata dua; ia dikhianati oleh sahabat masa kecilnya dan dibuang ke Dunia Fana dalam keadaan hancur.
Setelah 50.000 tahun tersegel dalam kegelapan yang sunyi, Yu Fan terbangun di dunia yang telah berubah total. Kekuatannya sirna, ingatannya terkikis, namun api amarah di jiwanya tetap membara. Di dunia baru ini, sang pengkhianat dipuja sebagai Dewi Kebajikan, dan sekte yang membantainya telah menjadi penguasa tunggal yang paling disegani.
Mengenakan jubah hitam dan memikul kutukan energi Yin yang dingin, Yu Fan harus memulai kembali perjalanannya dari titik terendah. Di antara kepingan ingatan yang hilang dan dunia yang penuh kebohongan, Sang Ashura akan bangkit kembali—bukan untuk menjadi pahlawan, melainkan untuk menghancurkan langit yang telah memuarakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fandy syahputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Lembah Dunia Terpisah dan Dua Penjaga Kuno
Aroma kertas tua dan seduhan teh herbal memenuhi ruangan Wakil Dekan saat Yu Fan melangkah masuk. Sinar matahari sore menerobos di antara celah jendela, memantulkan bayangan lurus di atas meja kayu ek yang dipenuhi tumpukan gulungan perkamen. Wakil Dekan, dengan janggut putihnya yang terurai rapi, tampak sedang merenungkan sesuatu yang sangat serius.
Yu Fan segera menegakkan tubuh, menangkupkan kedua tangannya di depan dada, dan membungkuk hormat. "Murid Yu Fan menghadap Wakil Dekan. Perihal apa sekiranya yang membuat Senior memanggil murid ke mari?"
Wakil Dekan mendongak, matanya yang teduh namun tajam menatap Yu Fan, lalu tersenyum tipis. "Duduklah, Yu Fan. Ada sebuah urusan penting yang mendesak, dan aku rasa hanya kau yang paling tepat untuk mendampingiku saat ini." Setelah Yu Fan mengambil tempat duduk, sang tetua melanjutkan, "Mata-mata terbaik akademi baru saja melaporkan penemuan sebuah lembah yang sangat misterius di perbatasan terjauh wilayah barat. Lembah itu tersembunyi dengan sangat baik, dilindungi oleh anomali alam, dan belum pernah sekali pun disentuh oleh kaki manusia sejak ribuan tahun lalu. Dari kejauhan, mata-mata kami merasakan aliran energi spiritual yang sangat murni berdenyut dari dalamnya, namun kami tidak tahu persis apa yang ada di balik kabut tersebut."
"Menginvestigasi tempat baru?" Yu Fan menatap Wakil Dekan dengan penuh minat. "Apakah Senior Han Fei tidak ikut serta?"
"Han Fei sedang memimpin skuadron utama untuk misi darurat lain yang tak kalah penting," jawab Wakil Dekan seraya mengelus janggutnya. "Itulah sebabnya aku memanggilmu. Selain itu, aku rasa ini akan menjadi latihan dan ujian yang sangat baik untuk memperkokoh ranah kultivasimu yang baru saja naik."
Tepat setelah Yu Fan mengangguk setuju, udara di sudut ruangan yang awalnya kosong tiba-tiba berdesir pelan. Ruang seolah terdistorsi, dan dari balik bayangan lemari buku kuno, sesosok pemuda melangkah keluar dengan sangat tenang, hampir tanpa suara. Kehadirannya begitu samar, seolah-olah ia adalah bagian dari udara itu sendiri.
Pemuda itu mengenakan pakaian gelap yang ringkas, dengan sebilah belati pendek hitam legam yang melingkar di pinggangnya. Wajahnya tenang, matanya tajam bagai elang, dan seutas senyum tipis yang misterius terukir di bibirnya. Ia adalah Xiao Feng dari Sekte Pencuri, salah satu jenius yang lulus bersama Yu Fan dalam ujian tangga akademi yang legendaris waktu itu. Sejak hari kelulusan, Xiao Feng hampir tidak pernah menampakkan dirinya di lingkungan akademi, bergerak seperti hantu di balik layar.
Xiao Feng melangkah maju, lalu memberikan salam dan hormat yang sangat minimalis kepada Wakil Dekan. Yu Fan menatapnya dengan saksama, dan seketika jantungnya berdegup kencang saat mata batinnya mencoba membaca ranah batin pemuda itu.
Bagaimana mungkin?! Yu Fan terkejut bukan main dalam hatinya. Dia... dia juga sudah menyentuh ranah Master Tingkat 4 Tahap Akhir! Orang ini benar-benar menyembunyikan kekuatannya dengan sangat luar biasa.
Xiao Feng hanya melirik Yu Fan sekilas melalui sudut matanya. Tidak ada kata, tidak ada sapaan, hanya tatapan dingin yang penuh teka-teki. Yu Fan, yang sudah terbiasa dengan keanehan para jenius akademi, memilih untuk tidak ambil pusing.
Wakil Dekan tertawa kecil melihat dinamika di antara kedua murid terbaiknya. "Yu Fan, jangan heran. Xiao Feng memang memiliki tugas khusus di bawah perintahku langsung. Dan untuk ekspedisi kali ini, Xiao Feng akan menjadi partnermu. Keahliannya dalam mendeteksi perangkap dan menyusup akan sangat berguna di lembah misterius itu."
Tanpa membuang waktu lebih lama, ketiga sosok itu melesat keluar dari gedung akademi. Mereka memacu energi spiritual mereka, terbang membelah awan menuju arah barat dengan kecepatan penuh. Angin pegunungan yang dingin menerpa wajah Yu Fan, namun pikirannya fokus pada apa yang menanti mereka di depan.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh melewati jajaran pegunungan terlarang, mereka akhirnya tiba di pinggiran lembah yang dimaksud. Di sana, di balik rimbunnya pepohonan raksasa, terdapat sebuah lubang menganga yang sangat besar dan dalam, mengarah langsung ke perut bumi. Anehnya, lubang itu tertutup oleh lapisan debu dan kabut kelabu yang sangat tebal, berputar-putar seperti pusaran awan yang tak mau pergi.
Wakil Dekan mendarat di tepi lubang, memejamkan matanya sejenak untuk meresapi udara yang keluar dari celah debu tersebut. Wajah keriputnya mendadak dipenuhi binar kegembiraan yang luar biasa. "Luar biasa... energi spiritual di bawah sana benar-benar sangat murni dan padat. Merasakan energinya saja sudah membuat pembuluh darahku terasa sangat nyaman. Ayo, kita turun!"
Wakil Dekan melompat lebih dulu, disusul dengan lincah oleh Yu Fan dan Xiao Feng. Saat tubuh mereka mulai menembus lapisan debu tebal yang berputar-putar itu, sensasi aneh langsung menyelimuti indra mereka. Udara terasa bergeser, dan tekanan ruang sempat membuat telinga mereka berdenging. Lapisan debu itu ternyata bukan sekadar fenomena alam, melainkan sebuah tirai pembatas magis, sebuah pemisah antara dunia nyata dengan alam tersembunyi di dalam lembah.
Begitu mereka berhasil menembus awan debu tersebut, pemandangan di bawah sana langsung membuat Yu Fan dan Xiao Feng terkesima.
Di dalam lembah yang luas ini, terdapat sebuah dunia tersendiri. Namun, kondisinya sudah berupa reruntuhan kuno yang megah. Pilar-pilar batu raksasa yang telah retak dan runtuh bertebaran di mana-mana, sebagian besar telah ditelan oleh lumut dan tanaman merambat. Di sekeliling reruntuhan tersebut, tumbuh ribuan pohon spiritual kuno yang usianya diperkirakan telah mencapai ratusan bahkan ribuan tahun. Daun-daun pohon itu memancarkan cahaya hijau lembut, dan buah-buah spiritual yang ranum bergelantungan di dahan-dahannya.
Secara otomatis, karena kepadatan energi spiritual yang sangat tinggi di tempat ini, pori-pori tubuh mereka terbuka, menyerap energi murni tersebut ke dalam aliran darah mereka dengan sangat cepat.
"Tempat ini... seperti makam bagi peradaban yang agung," gumam Xiao Feng, suaranya terdengar sangat rendah namun tajam.
Mereka mulai berjalan menyusuri jalan setapak berbatu kuno yang membelah reruntuhan tersebut. Namun, baru beberapa ratus langkah mereka melangkah, atmosfer di sekeliling mereka mendadak berubah drastis. Tekanan udara meningkat seratus kali lipat secara instan. Sebuah aura yang sangat mengerikan, pekat, dan kuno meluncur turun dari langit-langit lembah, mengunci pergerakan mereka.
Ugh! Yu Fan dan Xiao Feng langsung merasakan tubuh mereka menjadi sangat berat, seolah-olah ada sebuah gunung yang diletakkan di atas pundak mereka. Persendian mereka berderit, memaksa mereka untuk mengerahkan energi spiritual demi tetap berdiri tegak. Di sisi lain, Wakil Dekan tetap berdiri dengan santai, jandanya berkibar ditiup angin aura tersebut, dan sebuah tawa kecil lolos dari bibirnya.
"Siapa kalian... yang berani mengotori wilayahku dengan kaki fana kalian?!"
Sebuah suara laki-laki yang menggelegar, berat, dan penuh dengan otoritas mutlak bergema di seluruh penjuru lembah. Bersamaan dengan suara itu, gelombang tekanan kedua dihantamkan. KRAK! KRAK! Tanah pijakan di bawah kaki Yu Fan, Xiao Feng, dan Wakil Dekan seketika retak seribu, hancur menjadi debu halus.
Yu Fan mendongak dengan susah payah. Di atas sebuah pilar batu kuno yang menjulang tinggi, berdiri sesosok pria berbadan kekar. Pria itu bertelanjang dada, memperlihatkan otot-otot tubuhnya yang keras bagai baja dan dipenuhi oleh puluhan bekas luka pertempuran yang dalam. Ia hanya mengenakan celana panjang hitam yang tampak usang, dan rambut hitamnya yang panjang dibiarkan acak-acakan tertiup angin.
Pria itu menatap lurus ke arah mereka dengan pupil mata yang bersinar dengan cahaya keemasan yang murni. Aura keemasan yang membara menyelimuti seluruh tubuhnya, memancarkan fluktuasi kekuatan yang membuat ruang di sekitarnya terdistorsi.
Master Tingkat 6 Tahap Akhir! Yu Fan menahan napasnya. Tingkat kekuatan pria itu benar-benar setara dengan Wakil Dekan akademinya.
Wakil Dekan maju selangkah, senyumnya masih terkembang hangat. "Ah, ini benar-benar menarik. Saya tidak menyangka akan menemukan seorang kultivator hebat yang bersembunyi di tempat terpencil seperti ini."
Pria kekar di atas pilar itu tidak membalas keramahan Wakil Dekan. Matanya berkilat dingin. "Kalian tidak diundang di tempat ini. Pergi sekarang juga dari lembah ini, atau aku sendiri yang akan memastikan mayat kalian menjadi pupuk bagi pohon-pohon spiritual di sini!"
Wakil Dekan tidak gentar. Ia melambaikan tangannya ke belakang, memberi isyarat kepada Yu Fan dan Xiao Feng. "Kalian berdua, mundurlah sejauh mungkin. Jangan biarkan diri kalian terkena dampak dari apa yang akan terjadi setelah ini. Tetap waspada."
"Tapi, Wakil Dekan—" Yu Fan mencoba berbicara, namun Xiao Feng sudah lebih dulu menarik jubahnya dan melompat mundur dengan sangat cepat ke balik reruntuhan pilar lain. Yu Fan terpaksa mengikuti.
Wakil Dekan menghela napas, menatap pria kekar itu dengan pandangan serius. "Maksud dan tujuan kedatangan kami ke sini murni untuk melakukan investigasi dan mencari petunjuk, bukan untuk menjarah atau merusak tempat ini. Apakah kita tidak bisa membicarakan hal ini dengan kepala dingin?"
"Bicaralah dengan tinjuku!"
BOOM!
Pria kekar itu menerjang turun dari pilar dengan kecepatan yang melampaui batas penglihatan manusia. Udara di jalurnya meledak menghasilkan suara gemuruh yang dahsyat. Wakil Dekan menyambut serangan itu dengan melepaskan tebasan energi spiritual dari lengan jubahnya.
Pertarungan antar monster tingkat atas pun pecah. Itu adalah pemandangan yang benar-benar berada di dimensi yang berbeda dari pertarungan yang pernah disaksikan Yu Fan sebelumnya. Setiap kali tinju pria itu bertemu dengan telapak tangan Wakil Dekan, sebuah gelombang kejut raksasa melesat keluar, menghancurkan pilar-pilar batu di sekitar mereka menjadi puing-puing kecil. Pohon-pohon spiritual yang berusia ratusan tahun bertumbangan akibat angin kencang yang dihasilkan oleh pertempuran mereka.
Jika pertarungan ini terjadi di dunia luar, kekuatan destruktif yang mereka lepaskan sudah cukup untuk meratakan sebuah kerajaan kecil dalam hitungan jam.
Yu Fan mencengkeram erat tepi pilar tempatnya bersembunyi, matanya melebar mencoba mencerna setiap gerakan. Ia teringat akan teori kultivasi yang pernah dibacanya: Master Tingkat 6 Tahap Akhir adalah puncak tertinggi, batas absolut yang bisa dicapai oleh makhluk fana di dunia ini. Jika ada seseorang yang berani melangkah lebih jauh dan mencoba menyentuh Tingkat 7, maka langit tidak akan tinggal diam. Hukum alam akan menurunkan Hukuman Guntur Langit yang sangat mengerikan. Jika kultivator tersebut gagal menahannya, tubuh dan jiwanya akan musnah menjadi abu.
Namun, jika ia berhasil selamat dari amukan petir penghancur itu, ia akan melepaskan status fana-nya dan naik menembus batas, menjadi dewa di alam dunia ini maupun alam atas.
Melihat dua makhluk yang berada di puncak kefanaan itu saling beradu kekuatan dengan begitu mengerikan, Yu Fan merasakan kekaguman sekaligus ketakutan yang mendalam di dalam hatinya.
Ancaman Baru. Sang Wanita Rambut Putih
Saat Yu Fan dan Xiao Feng sedang terhipnotis oleh benturan energi luar biasa antara Wakil Dekan dan pria kekar tersebut, insting bertahan hidup Yu Fan tiba-tiba menjerit histeris. Bulu kuduknya berdiri tegak, dan rasa dingin yang mencekam merambat di sepanjang tulang belakangnya.
Tanpa suara, tanpa peringatan, dan tanpa adanya fluktuasi nafas batin yang terdeteksi sebelumnya, sesosok wanita telah berdiri tepat di belakang mereka.
Yu Fan dan Xiao Feng serentak membalikkan tubuh mereka dengan gerakan refleks yang sangat cepat, melompat mundur beberapa meter untuk menciptakan jarak. Di depan mereka, berdiri seorang wanita berambut putih panjang yang indah, yang terurai hingga menyentuh pinggangnya. Wajahnya sangat cantik, dengan kulit seputih salju dan mata yang memancarkan ketenangan yang mematikan. Ia mengenakan gaun kain sederhana berwarna kelabu, namun keanggunannya tidak bisa disembunyikan.
Yang membuat jantung Yu Fan seolah berhenti berdetak adalah aura yang dipancarkan oleh wanita ini.
Master Tingkat 6! Satu lagi monster tingkat puncak!
Wanita berambut putih itu menatap Yu Fan dan Xiao Feng dengan pandangan dingin yang tidak memiliki emosi. Sebelum kedua murid akademi itu sempat mengambil kuda-kuda bertarung, wanita itu dengan sangat anggun menjulurkan satu tangan kanannya ke depan. Jari telunjuknya yang lentik digerakkan ke atas, lalu dihentakkan ke bawah dengan gerakan lambat.
BUMMM!
Sebuah tekanan gravitasi dan aura yang sangat masif langsung menghantam tubuh Yu Fan dan Xiao Feng. Tekanan itu begitu mutlak hingga sendi-sendi mereka terkunci sepenuhnya. Mereka tidak bisa menggerakkan bahkan satu jari pun, tubuh mereka seolah-olah telah disemen ke dalam fondasi bumi.
"Kenapa kalian berada di sini, dan ada perlu apa di tempat terpencil seperti ini?" wanita itu bertanya, suaranya terdengar jernih namun sedingin es di puncak gunung. "Orang tua yang sedang bertarung dengan ayahku di sana pastilah guru kalian, dan kalian adalah murid-muridnya. Aku akan memberitahu kalian satu hal, jika jawaban kalian tidak jujur atau kalian mencoba bertele-tele denganku, aku akan menghancurkan meridian kalian dan membunuh kalian di tempat ini juga."
Yu Fan, dengan mengerahkan seluruh kekuatan batinnya untuk menahan tekanan yang menghimpit dadanya, membuka suara dengan susah payah. "Kami... kami tidak memiliki niat jahat, Senior. Kami dari Akademi Langit Biru, datang ke sini hanya untuk menginvestigasi lembah ini karena mata-mata kami merasakan aliran energi yang aneh. Kami hanya ingin tahu ada apa di dalam tempat kuno ini."
Wanita itu menatap mata Yu Fan selama beberapa detik, mencari kebohongan, namun ia hanya menemukan kejujuran yang murni. "Jawabanmu cukup jujur. Jika begitu, setelah guru kalian selesai bertarung, kemasi barang-barang kalian, pulanglah, dan jangan pernah menginjakkan kaki di lembah ini lagi."
Namun, Xiao Feng, sang pencuri jenius, tidak mau menyerah begitu saja pada intimidasi ini. Sebagai seorang ahli yang bergerak di dalam bayangan, ia merasa terhina karena dikunci dengan begitu mudah. Dengan menggunakan teknik rahasia sektenya, ia berhasil memaksakan aliran energinya mengalir, memecahkan belenggu tekanan aura tersebut dalam sekejap.
Syuut!
Xiao Feng melesat maju, tubuhnya berubah menjadi belasan bayangan hitam yang mengitari wanita berambut putih itu, belati pendeknya mengarah langsung ke titik-titik vital wanita tersebut dengan kecepatan yang luar biasa.
Namun, di hadapan seorang Master Tingkat 6 sejati, gerakan cepat seorang Master Tingkat 4 hanyalah seperti tarian anak kecil yang lambat. Wanita itu bahkan tidak berkedip. "Gerakan yang sia-sia," ucapnya dingin.
Dengan satu gerakan tangan yang sangat santai, wanita itu menepis bilah belati Xiao Feng dengan punggung jarinya, lalu melayangkan satu tendangan pendek ke arah dada Xiao Feng.
DUAK!
Tubuh Xiao Feng melesat mundur seperti peluru, menghantam dan menembus beberapa pohon spiritual besar hingga tumbang, sebelum akhirnya berhenti di tumpukan batu dengan darah yang keluar dari sudut bibirnya.
"Xiao Feng!" teriak Yu Fan.
Wanita berambut putih itu kini mengalihkan pandangannya sepenuhnya kepada Yu Fan. "Sekarang, giliranmu. Aku akan bermain sebentar denganmu, sebelum ayahku menyelesaikan urusannya dengan gurumu."
Wanita itu meluncur maju, melancarkan pukulan-pukulan cepat yang membabi buta ke arah Yu Fan. Yu Fan mengerahkan seluruh kemampuannya, menggunakan Pedang Yin yang baru diberikan Dekan untuk menangkis dan memblokir setiap serangan. TANG! TANG! TANG! Suara benturan logam dan tangan kosong bergema berulang kali. Namun, setiap kali Yu Fan mencoba melancarkan serangan balasan, wanita itu dengan sangat mudah membelokkan arah pedangnya dan memberikan pukulan balasan yang mendarat telak di bahu dan rusuk Yu Fan.
Yu Fan dan Xiao Feng yang baru saja merangkak bangun benar-benar kewalahan. Perbedaan dua tingkat di ranah Master adalah jurang pemisah yang terlalu besar untuk diseberangi dengan bakat biasa. Sementara itu, di ujung arena yang lain, Wakil Dekan tampaknya mulai mengungguli pertarungan melawan pria kekar itu, namun ia masih terlalu fokus dan tidak bisa melepaskan diri untuk membantu murid-muridnya.
Kebangkitan Ganas. Amukan Satu Menit
Wanita berambut putih itu terus mendesak Yu Fan, mempermainkannya seperti kucing yang sedang berburu tikus kecil. Xiao Feng mencoba merangsek maju kembali, mengumpulkan seluruh sisa energi spiritualnya untuk meluncurkan jurus terkuatnya—Tebasan Bayangan Pemutus Jiwa. Serangan itu berhasil meluncur secepat kilat dan mengenai lengan wanita itu, namun itu hanya meninggalkan goresan tipis yang mengeluarkan beberapa tetes darah.
Melihat lengannya terluka, mata wanita itu berkilat marah. "Semut tidak tahu diri!"
Ia memutar tubuhnya dan melepaskan satu pukulan telapak tangan yang dilapisi energi putih pekat tepat ke perut Xiao Feng. BUMMM! Xiao Feng terlempar sangat jauh, menabrak dinding tebing lembah hingga tertanam di dalamnya, pingsan seketika dengan luka dalam yang sangat parah.
Kini, hanya tersisa Yu Fan seorang diri di hadapan sang monster wanita.
Yu Fan menatap tubuh Xiao Feng yang tak bergerak, lalu menatap wanita di depannya yang mulai berjalan mendekatinya dengan niat membunuh yang nyata. Rasa terdesak dan amarah mulai membakar dada Yu Fan. Sial... jika ini terus berlanjut, kami berdua akan benar-benar mati di sini sebelum sempat menemukan jawaban apa pun!
“Hehehe... sudah kubilang, kan? Kau terlalu lemah lembut, Yu Fan. Biarkan aku keluar... biarkan aku menghancurkan kesombongan mereka!” Suara sosok berambut putih di dalam alam bawah sadarnya kembali bergema, tertawa gila dan penuh godaan.
Yu Fan memejamkan matanya erat-erat, menggertakkan giginya hingga berdarah. Satu menit! Hanya satu menit, dan jangan bunuh mereka! batinnya berteriak memberikan persetujuan.
“Hahaha! Pilihan yang sangat bagus, Yu Fan... mari kita mulai pestanya!”
Seketika, mata Yu Fan terbuka lebar. Pupil matanya yang hitam lenyap, digantikan oleh warna merah darah yang menyala di atas skelra yang berubah menjadi hitam legam sepenuhnya. Rambut hitamnya berubah menjadi putih salju dalam satu kedipan mata, berkibar-kibar liar meski tidak ada angin. Kabut aura merah pekat yang sangat dingin dan penuh dengan keganasan absolut meledak keluar dari tubuhnya, menyapu seluruh penjuru lembah.
Saat perubahan itu terjadi, wanita berambut putih itu mendadak menghentikan langkahnya. Jantungnya berdegup kencang, dan sebuah rasa familiar yang teramat sangat mendadak muncul di dalam benaknya. Aura ini... keganasan yang tak tertandingi ini... sangat mirip dengan sesuatu dari masa lalu yang terkubur dalam ingatanku... tapi apa?!
Ledakan aura merah pekat Yu Fan begitu dahsyat hingga pertempuran antara Wakil Dekan dan pria kekar di ujung lembah langsung terhenti. Kedua monster itu menoleh ke arah Yu Fan dengan wajah penuh keterkejutan. Wanita berambut putih itu merasakan bulu kuduknya merinding untuk pertama kali dalam seribu tahun.
Yu Fan (Asura) menyeringai lebar, menampakkan deretan gigi yang tajam, suaranya terdengar berat dan tumpang tindih saat ia memprovokasi wanita itu. "Hari ini... kau yang akan merangkak di bawah kakiku, Wanita Sombong!"
Wanita berambut putih itu mencoba menepis rasa takutnya, ia berteriak dan melayangkan pukulan terkuatnya ke arah wajah Yu Fan. Namun, pemandangan berikutnya membuat dunianya seolah runtuh.
Yu Fan tidak menghindar. Ia hanya mengangkat tangan kirinya dengan sangat santai, dan TAK! Pukulan bertenaga monster tingkat 6 itu berhasil ditangkap dengan sempurna hanya menggunakan satu telapak tangan.
Wanita itu membelalak, mencoba menarik tangannya namun cengkeraman Yu Fan seperti jepitan besi dewa. Yu Fan memberikan tatapan meremehkan yang sangat dingin, lalu melayangkan satu tendangan bertenaga Asura tepat ke pinggang wanita itu. BUM! Wanita itu terlempar, berguling-guling di tanah dengan kasar.
Pria kekar yang melihat putrinya dihajar langsung meraung marah. Memanfaatkan kelengahan Wakil Dekan yang masih terpana, pria itu menendang Wakil Dekan hingga mundur, lalu melesat secepat kilat menuju arah Yu Fan. Dari belakang, ia melepaskan tebasan energi kapak raksasa untuk membelah tubuh Yu Fan menjadi dua.
Tanpa menoleh, Yu Fan hanya menggerakkan tangan kanannya ke belakang. KRAK! Tebasan energi tingkat 6 itu dihancurkan berkeping-keping hanya dengan hantaman satu tangan kosongnya. Yu Fan berputar, mencengkeram wajah pria kekar itu dengan tangan kirinya, lalu menendang perutnya hingga pria itu terbatuk darah dan mundur belasan meter.
Namun, sebagai petarung tingkat puncak yang telah hidup seribu tahun, pria dan wanita itu tidak menyerah dengan mudah. Dalam sepersekian detik, keduanya mengoordinasikan serangan mereka dengan sempurna. Mereka menerjang kembali secara bersamaan dari sisi kiri dan kanan. Dua tinju mereka yang mengandung energi penghancur massal kini sudah berada dalam jarak 10 cm dari kedua pipi Yu Fan.
Yu Fan hanya tersenyum gila. Tubuhnya sedikit bergeser ke belakang dengan presisi yang mengerikan. Gerakan kecil itu menyebabkan tinju pria kekar dan putrinya melewati wajah Yu Fan dan justru saling menghantam pipi satu sama lain dengan telak. DUAK! Keduanya terhuyung.
Sebelum mereka sempat pulih, Yu Fan mencengkeram pergelangan tangan keduanya, melompat terbang tinggi ke atas langit lembah, lalu melemparkan tubuh mereka berdua ke bawah dengan kekuatan absolut. Tidak berhenti sampai di situ, Yu Fan melesat turun lebih cepat dari gravitasi, mengejar tubuh pria kekar itu di udara.
Ia mencengkeram rambut panjang pria itu, menghantamkan kepalanya ke tanah reruntuhan, lalu menyeretnya sepanjang puluhan meter hingga tanah terbelah. Di akhir seretan, Yu Fan duduk di atas dada pria itu dan meluncurkan ribuan pukulan beruntun yang dilapisi energi merah gelap dengan kecepatan dewa. BUM! BUM! BUM! BUM! BUM!
Pria kekar itu meraung kesakitan, zirah kulitnya hancur, dan tubuhnya dipenuhi luka lebam yang parah akibat serangan bertubi-tubi yang tak manusiawi itu.
"AYAH!!!" wanita berambut putih itu berteriak histeris. Ia menerjang maju dengan mata memerah, mencoba melepaskan pukulan bunuh diri ke arah Yu Fan, namun Yu Fan hanya menepisnya dengan satu lambaian tangan hingga ia terlempar kembali.
Di dalam hati mereka, ketakutan yang mendalam telah mengakar sepenuhnya. Mereka merasa seolah-olah sedang menghadapi seorang Dewa Perang yang turun dari alam atas. Namun, satu hal yang membuat mereka sangat heran. Jika makhluk di depan kami ini memiliki kekuatan setingkat Dewa, kenapa petir Hukuman Langit tidak menyambar dan menghancurkannya?! Apa yang sebenarnya terjadi dengan aturan dunia ini?!
Pria kekar itu, dengan sisa-sisa harga dirinya, berhasil melepaskan diri dari cengkeraman leher Yu Fan setelah putrinya mengalihkan perhatian Yu Fan sejenak. Kedua orang itu berdiri berdampingan, wajah mereka berlumuran darah, namun mata mereka memancarkan keputusan yang bulat. Mereka meledakkan seluruh esensi kehidupan mereka, melepaskan aura serius yang paling murni yang pernah mereka miliki.
Dengan sinkronisasi pertahanan dan serangan yang telah terasah selama seribu tahun, mereka bergerak dalam sebuah simfoni pertempuran yang sangat kuat. Kali ini, mereka berhasil mengimbangi kecepatan Yu Fan. Pertukaran serangan tingkat tinggi kembali terjadi di udara. Meskipun tubuh pria dan wanita itu terus menerima luka baru, mereka berhasil menemukan celah di pertahanan ganas Yu Fan.
Secara bersamaan, pria itu memukul perut Yu Fan sementara putrinya menghantam dadanya dengan kekuatan penuh.
BANGGG!
Yu Fan terlempar jauh, menabrak pilar batu hingga hancur. Namun, sebelum kedua orang itu sempat bernapas lega berpikir bahwa serangan mereka berhasil, sebuah ledakan aura merah pekat yang jauh lebih besar dan lebih pekat meledak dari reruntuhan pilar tersebut. Yu Fan bangkit berdiri tanpa ada luka berarti di tubuhnya, tawanya semakin gila.
Pria dan wanita itu saling melirik. Mengerti bahwa ini adalah pertarungan hidup mati, mereka meledakkan energi spiritual mereka hingga batas terdalam, menyebabkan pupil mata mereka berubah menjadi putih bersih sepenuhnya karena kelebihan energi. Mereka menerjang Yu Fan kembali, melepaskan badai pukulan dan tebasan energi. Yu Fan menyambut serangan itu dengan tangan kosong, membiarkan tubuhnya terkena beberapa pukulan demi bisa mendaratkan hantaman balik yang lebih mematikan.
Wakil Dekan yang baru saja selesai merawat Xiao Feng dari kejauhan, terpanah melihat pemandangan luar biasa tersebut. Meskipun Yu Fan juga menerima beberapa luka, ia terbukti mampu menahan dan bahkan mendominasi serangan gabungan dari dua Master Tingkat 6 sekaligus di wujud ganasnya itu.
Melihat situasi yang semakin tidak terkendali dan waktu satu menit Yu Fan yang hampir habis, Wakil Dekan melesat ke tengah-tengah mereka, melepaskan sebuah tebasan energi pelindung raksasa yang memisahkan kedua belah pihak.
"CUKUP!!!" Wakil Dekan berteriak, suaranya bergetar dengan wibawa tingkat puncak. "Bisakah kita menghentikan kegilaan ini dan membicarakan hal ini dengan baik-baik?!"
Mendengar suara Wakil Dekan dan menyadari waktu satu menitnya telah habis, sosok ganas di dalam diri Yu Fan mendengus kecewa lalu mundur kembali ke dalam kegelapan. Seketika, rambut putih Yu Fan kembali menjadi hitam, matanya kembali normal, dan aura merah pekat itu lenyap tanpa bekas. Yu Fan jatuh berlutut, napasnya terengah-engah karena kelelahan yang luar biasa setelah energinya terkuras habis.
Melihat Yu Fan telah kembali ke wujud aslinya dan Wakil Dekan menunjukkan niat damai tanpa ada niat membunuh, pria kekar dan putrinya perlahan menurunkan aura mereka, meskipun tubuh mereka masih gemetar karena sisa ketakutan pertarungan tadi.
Setelah ketegangan mereda, suasana di dalam reruntuhan lembah berangsur-angsur membaik. Pria kekar yang memperkenalkan dirinya sebagai Gu Zhan dan putrinya, Gu Ling, membawa Wakil Dekan dan Yu Fan (yang telah memapah Xiao Feng yang mulai sadar) ke sebuah area pondok kayu kecil yang tersembunyi di balik pohon spiritual raksasa.
Di sana, mereka duduk bersama di atas potongan batang pohon kuno. Gu Ling, dengan tangan yang masih sedikit gemetar akibat pertarungan tadi, menyeduhkan teh herbal hangat dan menyajikan beberapa buah spiritual manis untuk para tamu mereka.
"Kami meminta maaf atas penyerangan yang kami lakukan tadi," ucap Gu Zhan dengan suara yang kini terdengar lebih tenang, meskipun tubuhnya dipenuhi perban yang dipasang oleh Wakil Dekan menggunakan pil penyembuhannya. "Kami telah hidup terisolasi di dalam lembah dunia pemisah ini sejak seribu tahun yang lalu."
Yu Fan meminum tehnya, mencoba memulihkan tenaganya. "Seribu tahun? Bagaimana mungkin manusia bisa bertahan hidup selama itu di ranah Master tanpa naik ke ranah Dewa?"
Gu Ling menjelaskan, "Seribu tahun lalu, kami berdua terbangun dan keluar dari dalam pecahan-pecahan batu giok kuno yang tertimbun di bawah reruntuhan istana ini. Kami kehilangan seluruh ingatan masa lalu kami, dan akhirnya kami menamai diri kami sendiri berdasarkan nama yang tertera di puing batu. Alasan kenapa kami bisa bertahan hidup selama seribu tahun di tempat ini adalah karena di area terdalam lembah ini, terdapat sebuah pohon spiritual raksasa kuno. Akar dari pohon tersebut terus mengalirkan energi spiritual murni yang tak terbatas, dan di sekitarnya tumbuh ribuan batu giok spiritual yang mengandung esensi kehidupan. Kami mengumpulkan tanaman herbal langka yang tumbuh di sekitarnya, lalu meraciknya menjadi pil umur panjang. Pil itulah yang menambah batas usia kami sehingga kami bisa bertahan di sini hanya berdua selama seribu tahun."
Wakil Dekan yang mendengar penjelasan tentang ramuan dan pil tersebut langsung melebarkan matanya dengan gembira, janggutnya dielus dengan sangat cepat. Ini adalah penemuan luar biasa bagi penelitian akademinya!
Gu Zhan kemudian mengalihkan pandangan keemasan matanya yang kini penuh dengan rasa hormat kepada Yu Fan. Ia berdiri, lalu membungkuk kecil di depan Yu Fan. "Anak muda... aku benar-benar terkesan dan kagum dengan kekuatan yang kau tunjukkan tadi. Saat kau berubah, rasanya seperti kami sedang berhadapan dengan sekelompok dewa perang dari alam atas sekaligus. Kekuatan fisik dan intensitas auramu benar-benar tidak masuk akal untuk ukuran seorang Master Tingkat 4 Akhir."
Wakil Dekan ikut mengelus janggutnya sambil menatap Yu Fan dengan pandangan yang penuh teka-teki. Benar... anak ini benar-benar menyimpan misteri yang teramat sangat besar. Di wujud normalnya ia adalah jenius, namun di wujud itu... ia bisa mengimbangi dua Master Tingkat 6 tanpa bergeming.
Gu Ling kemudian berjalan ke sudut pondok dan mengeluarkan sebuah kotak kayu kuno. Saat dibuka, kotak itu berisi beberapa bongkah Batu Giok Spiritual Murni yang bersinar dengan cahaya merah keemasan yang sangat terang, jauh lebih murni dari yang ditemukan Yu Fan di reruntuhan sebelumnya. Ia juga menyerahkan beberapa ikat tanaman herbal kuno yang telah dikeringkan.
"Mungkin batu-batu dan tanaman ini yang kalian cari saat melakukan investigasi," ucap Gu Ling sambil menyerahkannya kepada Wakil Dekan. "Di akademi kalian, benda-benda murni dengan energi padat seperti ini pasti sangat berharga, bahkan bisa membantu para murid meningkatkan tingkatan ranah Master mereka dengan aman."
Wakil Dekan menerima kotak itu dengan tangan bergetar karena gembira. "Terima kasih banyak, Saudara Gu Zhan, Nona Gu Ling. Ini adalah kontribusi yang sangat besar bagi dunia kultivasi kami."
Mereka menghabiskan waktu beberapa jam berikutnya untuk saling bertukar informasi mengenai perkembangan dunia luar dan sejarah kuno. Gu Zhan dan Gu Ling menegaskan bahwa mereka akan tetap memilih tinggal di dalam lembah tersembunyi ini; mereka tidak memiliki ketertarikan untuk keluar dan terlibat dalam konflik dunia fana. Namun, mereka memberikan izin khusus kepada Akademi Langit Biru jika suatu hari nanti ingin kembali berkunjung untuk bertukar ilmu atau melakukan investigasi lanjutan.
Dengan membawa kotak giok murni, tanaman herbal langka, dan Xiao Feng yang sudah mulai bisa berjalan mandiri, Yu Fan dan Wakil Dekan berpamitan. Saat mereka terbang kembali menembus awan debu pembatas menuju akademi, Yu Fan menatap tangannya sendiri. Misteri tentang dirinya, tentang anak kecil bernama Chen Yang, dan kini tentang dua penjaga kuno yang juga keluar dari batu giok... semuanya seolah mengarah pada satu titik asal-usul yang sama yang masih terkunci rapat di masa lalu.