Alea Winslow (22th), melanjutkan pendidikan S2-nya di salah satu kampus ternama di Belanda.
Hidupnya yang awalnya dia pikir akan bebas, malah hancur lebur karena harus berhadapan dengan Damon Alvaro. Dokter tampan 39 tahun, kadang hangat kadang dingin, yang tiba-tiba mulai terlibat dalam hidupnya.
Damon selalu menjadi saksi Alea melakukan hal-hal konyol. Bahkan mencuri di salah satu pertokoan di Belanda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketahuan mencuri
Alea berjalan santai memasuki supermarket besar yang tak jauh dari gerbang kampus. AC yang dingin langsung menyambut wajahnya, membuatnya mendengus lega.
"Nah, ini baru namanya surga. Jauh lebih enak daripada dengerin omongan dosen aneh, ganteng-ganteng aneh, cih." gumamnya sambil membenarkan posisi ransel di punggungnya.
Niat awalnya memang cuma mau beli minuman dingin dan camilan buat ngilangin stres gara-gara buku setebal batu nisan tadi. Tapi begitu mata jeli-nya menyapu deretan makanan ringan berwarna-warni di rak, ide gila yang selama ini cuma ada di daftar keinginan anehnya tiba-tiba muncul lagi.
"Daftar hal gila nomor 77: Mencuri camilan di supermarket luar negeri terus kabur. Tantangan: Seberapa cepat lari gue?"
Alea menyeringai jahil. Matanya berkeliling memastikan tidak ada kasir atau security yang melihat. Oke, aman.
Dengan gerakan lincah dan percaya diri, Alea mulai beraksi. Ia mengambil beberapa bungkus cokelat impor, keripik kentang ukuran besar, dan permen lunak. Satu per satu ia selipkan di balik jaket hoodie-nya yang agak longgar, menyelipkannya di sela pinggang atau di ketiak.
Masuk satu... masuk dua... tiga ... empat ... Hihihihi
bisiknya dalam hati sambil cekikikan sendiri. Rasanya deg-degan tapi seru banget. Ini namanya hidup! Baru saja ia mau mengambil sekaleng besar biskuit wafer favoritnya, gerakannya terhenti mendadak.
Perasaan aneh menyergapnya. Seperti ada tatapan tajam yang membakar kulit belakang kepalanya. Perlahan dan dengan rasa penasaran campur was-was, Alea menoleh ke kanan ...
Dan nyalinya langsung ciut seketika.
Di sana, berdiri tegak di lorong makanan ringan, seorang laki-laki jangkung dengan gaya santai namun intimidatif. Tangan kekarnya terlipat di depan dada, wajah tampan itu menatapnya dengan senyum miring yang sangat menyebalkan.
Damon.
Alea memutar bola matanya malas.
Ya ampun, kenapa laki-laki itu ada di mana-mana sih? Dia kan dokter, harusnya dokter itu sibuk, nggak boleh sering-sering keluar rumah sakit.
Karena itu adalah Damon, Alea tetap santai. Ia malah melanjutkan apa yang tadi terhenti.
Sementara itu di depan sana, Damon masih tidak percaya dan tidak habis pikir dengan apa yang di lakukan oleh gadis nakal itu. Dia punya janji makan siang dengan Anthony di dekat kampus, itu sebabnya dia ada di sini. Dia mampir ke supermarket ini untuk membeli sesuatu, dan ia tidak menyangka akan menjadi saksi seorang gadis setengah gila itu mencuri.
Alea Winslow, yang ayahnya memiliki segalanya, bahkan di takuti banyak petinggi negara, kini sedang asyik mengisi berbagai jenis camilan ke dalam pakaiannya.
Hufttt.
Damon benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran gadis itu. Jangan-jangan dia memilih hidup mandiri di luar negeri karena ingin menjalankan semua tindakan konyolnya itu?
Dengan langkah pelan tapi pasti, Damon berjalan ke arah Alea. Ia harus menghentikannya dari permainan gilanya itu.
"Udah, cukup," suara berat Damon terdengar tepat di sebelah telinga Alea.
Tapi gadis itu pura-pura tuli. Ia justru makin semangat memasukkan sekaleng biskuit itu ke sela pinggangnya.
"Gak liat orang lagi kerja ya?! Minggir dong om!" desisnya pelan tanpa menoleh.
Damon mendengus kesal. Tanpa basa-basi, tangan besarnya langsung menyambar pergelangan tangan Alea, lalu dengan gerakan cepat ia mencoba mengeluarkan kembali semua barang yang sudah diselipkan gadis itu.
"Keluarkan semua. Jangan main-main lagi." katanya.
"Eh, jangan! Itu milik aku!" Alea protes keras. Ia memutar tubuhnya, berusaha melindungi harta karun-nya. Dengan tubuh mungilnya, ia berusaha menahan dada bidang Damon yang kokoh.
"Ini hak temuan! Siapa yang pegang dia yang punya!" seru Alea ngawur. Tangannya mendorong-dorong perut Damon, sementara tangan pria itu terus berusaha menyelip masuk ke balik jaket gadis itu untuk mengambil kembali barang-barang itu.
"Jangan bandel Lea, keluarkan."
"Gak mau! Om ke sana aja, kita kan musuhan."
Mereka berdua terlihat seperti sedang menari aneh di lorong supermarket. Alea memutar badan, merosot ke bawah, mencoba menghindari tangkapan Damon, sementara pria itu terus mengejar dengan sabar namun tetap tegas. Tawanya dan protesan mereka bercampur jadi satu.
"Arghh! Lepasin Dong!"
"Dulu keluarin barang curiannya!"
"Gak ada! Ini belian!"
Suasana jadi sangat heboh dan lucu. Beberapa pembeli yang lewat mulai melirik ke arah mereka dengan tatapan bingung dan aneh. Melihat pasangan yang seolah sedang bergulat kecil di depan rak makanan ringan.
Damon menyadari hal itu. Wajahnya mulai terlihat tidak nyaman. Kalau sampai ada yang curiga dan memanggil security, bisa panjang urusannya. Apalagi identitas Alea yang spesial.
"Sstt! Diam!" desak Damon tiba-tiba.
Dengan satu tarikan kuat, Damon langsung menarik tubuh Alea hingga menempel sempurna ke dadanya.
Bugh!
Alea terpental masuk ke dalam pelukan pria itu. Seketika mereka berdua diam total. Tubuh mereka saling menempel rapat, dada ke dada, perut ke perut. Damon bahkan harus sedikit membungkuk dan menundukkan wajahnya tepat di dekat leher gadis itu, seolah-olah mereka sedang berpelukan mesra atau sedang membisikkan rahasia cinta.
Dari luar, mereka terlihat seperti pasangan kekasih yang sedang bermesraan, bukan orang yang sedang rebutan barang curian.
"Shhh... jangan gerak," bisik Damon parau tepat di telinga Alea. Napas panasnya menyapu kulit leher gadis itu membuat bulu kuduk Alea meremang seketika.
Alea membeku. Ia bisa merasakan detak jantung Damon yang teratur dan kuat di dadanya, serta aroma parfum mahal yang sangat maskulin menguar kuat di indra penciumannya. Tiba-tiba ciuman tadi pagi kembali muncul dalam ingatannya. Alea cepat-cepat menghilangkan pikiran memalukan itu.
"Diam," balas Damon pelan dan tajam, tapi tangannya justru melindungi pinggang Alea agar posisi mereka tetap rapat dan tidak ada barang yang jatuh.
"Ada orang yang melihat ke sini. Kalau kau ketahuan, aku tidak mau repot-repot membuat surat keterangan dan urus kepolisian. Kau mengerti?"
Alea mendengus dalam hati, tapi tidak berani bergerak lagi. Ia bisa melihat dari balik bahu Damon, beberapa orang yang tadinya melirik kini sudah berlalu pergi, mengira mereka hanya pasangan yang lagi manja-manjaan.
Setelah situasi aman, Damon tidak langsung melepaskan. Ia justru menatap wajah gadis di pelukannya itu lekat-lekat. Mata mereka bertemu. Jarak hidung mereka hanya tinggal beberapa senti.
"Apakah keluargamu tahu kau senakal ini?"
Alea membalas tatapan itu lekat-lekat.
"Aku nakal juga gak ada hubungannya sama om."
"Ada Alea, ada. Ayahmu ..." suara Damon terhenti. Ia langsung sadar. Alea tidak boleh tahu Damian memintanya menjaga gadis ini diam-diam. Bisa tantrum nanti.
"Daddy kenapa?"
Damon tidak menjawab. Tangannya kembali masuk ke dalam hoodie Alea untuk mengambil barang-barang curian itu. Tapi tiba-tiba terhenti karena ada petugas yang melihat mereka berdua. Damon tidak bisa menutupi barang curian Alea lagi.
Mampus.