bukan novel terjemahan!!
buku ini merupakan novel dengan tema tahun 1960 dengan protagonis pria yang mungkin akan terlambat. bagi yang suka wanita kuat yang tidak pernah lemah, silahkan coba membaca.
Sinopsis:
bagaimana jika seorang ratu kiamat penguasa dunia bertransmigrasi ke tahun 1960? dengan gelar ratu iblis yang selalu melekat di dirinya karena latihan kejam milik nya. bagaimana kehidupan dia selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
menjadi gelandangan
"Pergi sana kau anak sialan!"
Brak!
Suara bentakan keras disertai hentakan pintu kayu membuat seluruh rumah bergetar.
Jinyu Tian membuka matanya. Pandangannya masih kabur, namun perlahan-lahan sebuah pemandangan asing mulai terlihat. Dinding bata bercat kapur putih, langit-langit rendah dengan balok kayu lapuk, dan sebuah sepeda tua bersandar di samping dinding. Bau kayu bakar dan abu dapur memenuhi hidungnya.
"Di mana ini?" gumamnya dalam hati.
Sebelum sempat mencerna lebih jauh, suara nyaring kembali menusuk telinga.
"Hei, tidak usah pura-pura sedih! Putri asliku sudah kembali, jadi kau harus pergi! Kembali ke asalmu!"
Jinyu Tian menoleh. Seorang wanita berusia awal 40-an berdiri di ambang pintu. Tubuhnya gemuk dengan wajah bulat yang memerah karena emosi. Matanya menyipit tajam, bibirnya mengerut penuh kebencian. Di sampingnya, seorang pria seusianya—Bapak Wang—terlihat canggung, matanya menghindar. Di belakang mereka, seorang gadis kecil berusia sekitar 4 tahun dengan dua kuncir di bahu, mengenakan gaun merah bermotif bunga, bersembunyi di balik rok ibunya.
"Ibu... kenapa tidak biarkan kakak Jinyu tinggal saja?" bisik gadis itu dengan mata berkaca-baca, namun ada sedikit senyum puas di wajahnya.
"Diam, Xiaohua!" Ibu Wang membentak, lalu menatap Jinyu lagi. "Dengar, kamu bukan darah dagingku. Anak kandungku sudah pulang, jadi kamu tidak berguna lagi di sini. Cepat ambil barangmu dan pergi!"
Jinyu Tian masih terpaku. Barang? Dia menunduk, melihat dirinya sendiri—tubuh mungil berusia 4 tahun, mengenakan gaun biru polos yang sudah lusuh. Tangan mungil itu, kaki mungil itu... Ini bukan tubuhnya. Ini tubuh anak kecil.
"Ah, jadi ini transmigrasi..." pikirnya. Sebagai mantan Ratu Kiamat yang dikenal dengan julukan Ratu Iblis, penguasa akhir zaman, ia tahu banyak tentang legenda perpindahan jiwa. Tapi tak pernah ia bayangkan akan mengalaminya sendiri, apalagi ke era yang begitu primitif.
"Kau masih melamun?!" Ibu Wang sudah kehilangan kesabaran. Ia melangkah maju, meraih lengan Jinyu dengan cengkeraman kasar. "Keluar! Aku bilang keluar!"
Tangan itu menariknya paksa. Jinyu terseret keluar kamar, melewati ruang tamu sempit, menuju pintu depan. Ia bisa mendengar Bapak Wang berseru pelan, "Bu, jangan terlalu keras... dia masih kecil..."
"Diam kau! Kau mau menanggung beban ini? Kita saja susah!" sahut Ibu Wang sambil terus menyeret.
Xiaohua menangis di belakang, "Kakak Jinyuuu... jangan pergi..."
Jinyu tak melawan. Bukan karena takut, tapi karena tubuh kecil ini tak punya kekuatan. Ditambah rasa bingung yang masih menyelimuti. Sebelum sempat berkata apa-apa, pintu kayu dibuka, dan ia terlempar keluar. Tubuhnya menghantam tanah keras di halaman, lututnya lecet, tangannya tergores kerikil.
"Jangan cuma melamun! Pergi sana! Aku tak mau menampung beban sepertimu!"
Brak! Pintu pagar kayu ditutup dengan keras. Ibu Wang membalikkan badan, masuk ke rumah, dan menutup pintu utama.
Jinyu terduduk di tanah dingin, menatap rumah itu. Dari balik jendela, ia melihat Xiaohua menangis dipeluk ibunya, namun tetap melirik Jinyu dengan senyum puas. Sementara Bapak Wang hanya menunduk. Tak ada yang keluar.
"Oh, bunga teratai putih ternyata palsu."
"Ha... sialan."
Baru saja bertransmigrasi, sudah jadi gelandangan. Bahkan tak punya baju ganti selain yang melekat di badan. Ia bangkit perlahan, membersihkan tanah dari gaun birunya. Gaun itu usang, tapi masih layak pakai—setidaknya tak ada tambalan. Itu sedikit hiburan.
Dia menatap rumah itu sekali lagi, lalu berbalik dan berjalan pergi.
Langkah kaki kecilnya menggema di jalanan desa yang sunyi. Rumah-rumah bata dengan atap genteng, cerobong asap tipis mengepul. Suara ayam berkokok dari kejauhan. Di pinggir jalan, beberapa warga sibuk dengan aktivitas masing-masing, namun tak ada yang menoleh padanya—anak kecil berjalan sendirian di musim dingin. Mungkin mereka sudah terbiasa, atau mungkin tak peduli.
Jinyu berusaha mengingat ingatan pemilik tubuh asli. Samar-samar muncul: namanya Jinyu, yatim piatu, diadopsi keluarga Wang empat tahun lalu. Kini setelah anak kandung mereka kembali, ia dibuang. Tanggal lahir? 11 Agustus 1958. Umur? 4 tahun. Rambut cokelat terang sebahu, mata cokelat keemasan—ciri yang tak biasa. Kulitnya putih bersih. Tinggi badannya? 1,2 meter, jauh di atas rata-rata anak seusianya. Pantas saja Ibu Wang bilang "tidak mirip", ternyata dia memang bukan anak kandung.
"Jadi aku di tahun 1962? 360 tahun sebelum masaku?" gumamnya.
"Grrrh... dingin sekali!"
Udara menusuk tulang. Angin musim dingin bertiup, membawa butiran salju tipis. Ia hanya mengenakan gaun tanpa lapisan. Kakinya telanjang—sandal jepit yang dipakainya tertinggal di rumah. Langkahnya mulai gemetar.
Dia terus berjalan, mencari tempat hangat. Tapi semua rumah tertutup rapat. Dari balik jendela, ia bisa melihat kalender di sebuah toko kelontong: 22 Desember 1962.
"Ini sungguh 1962. Aku benar-benar di masa lalu."
Ia memeluk tubuhnya sendiri, menggosok-gosok lengan. Napasnya membentuk uap putih.
"Sialan, aku Ratu Iblis, penguasa wilayah terluas di dunia akhir zaman, malah jadi gelandangan sekarang!" umpatnya dalam hati. "Minimal kalau transmigrasi harus ada jari emas! Ini malah dapat apes!"
Ia memasuki sebuah gang sempit di antara dua rumah, mencoba berteduh dari angin. Bersandar di dinding bata, ia meringkuk, memeluk lutut, membenamkan wajah. Dingin semakin menggigit. Kakinya mulai kebiruan.
"Lama-lama mati kedinginan," pikirnya. "Mana kekuatanku? Mana ruang dimensi? Bahkan yoyo pun tak ada. Aku sendirian..."
Ia menatap jalanan sepi. Salju mulai turun lebih lebat, menyelimuti tanah dengan putih.
"Rasanya ingin menangis... tapi terlalu dingin untuk menangis," gumamnya lirih.
Dari bibir mungilnya, lirih keluar sebuah lagu. Lagu yang dulu sering ia nyanyikan di dunia kiamat, saat ia duduk di atas puing-puing gedung pencakar langit, menyaksikan kehancuran.
Indahnya musim salju, butiran salju yang seperti bunga, keindahan itu menghilang sekejap saat disentuh...
Suaranya kecil, merdu, tapi penuh kepedihan. Ia terus bernyanyi, entah untuk menghangatkan diri, entah untuk mengusir sepi. Lagu itu berulang-ulang, sampai suatu saat...
Suara langkah kaki.
Jinyu langsung diam. Indra seorang mantan penguasa tetap tajam meski dalam tubuh anak kecil. Langkah kaki itu teratur, berat—bukan preman. Beberapa orang. Ia tetap meringkuk, tak bergerak. Langkah itu semakin dekat, lalu berhenti tepat di depannya.
Perlahan ia mengangkat kepala.
Seorang pria dewasa berdiri di hadapannya. Tinggi sekitar 1,9 meter, wajah tegas dengan garis rahang kokoh. Ia mengenakan topi militer dan mantel hijau tentara. Di belakangnya, beberapa pria berseragam sama—sedang patroli. Pria itu menunduk menatapnya, sorot matanya berubah dari tegas menjadi lembut.
"Hei, Nak. Kenapa kau di sini sendirian? Mana orang tuamu?"
Suaranya berat tapi berusaha ramah. Jinyu menatapnya dengan tatapan kosong, bibirnya bergetar kedinginan. Karena tak terlalu suka orang baru, ia bersikap dingin.
"Aku... diusir. Tak punya orang tua."
Jawaban singkat itu membuat para tentara saling pandang. Rasa kasihan terlihat di wajah mereka. Pria itu berlutut, menyamakan tinggi badan.
"Kedinginan, ya? Ini, pakai mantel ini." Ia melepas mantelnya dan menyelimuti Jinyu.
Hangat. Mantel itu besar, tapi menghangatkan. Jinyu hanya diam, tak tahu harus bereaksi bagaimana.
Pria itu tersenyum tipis. "Namaku Su Yichen, aku seorang tentara, jadi kamu bisa aman. Aku akan membawamu ke rumah sakit militer terlebih dahulu."
Tanpa menunggu jawaban, ia menggendong Jinyu. Tubuh kecil itu terangkat dengan mudah. Jinyu membiarkan saja—ia terlalu lemah dan dingin untuk menolak.
"Mungkin ini awal yang baru," pikirnya. Ia tidak menolak dan malah bersandar ke arah pria itu. Mungkin karena terlalu dingin, ia kehilangan kesadaran begitu saja.