SEQUEL ISTRI MANDUL JADI IBU ANAK CEO!
Theodore Morelli, pria cerdas dan berkharisma yang melanjutkan perusahaan teknologi keluarga, hidup dengan prinsip bersih dan profesional. Sosok yang dikenal orang sebagai pria tak kenal ampun dan ditakuti karena kesempurnaannya, harus jungkir balik ketika dia berurusan dengan seorang office girl baru di perusahaannya.
Celina Lorenzo, yang menyamar sebagai Celina Dawson, office girl sederhana, masuk ke perusahaan itu sebagai mata-mata mafia keluarganya untuk menyelidiki sesuatu di perusahaan Theo.
Awalnya mereka hanya dua orang dari dunia berbeda.
Tapi semakin dalam Celina menyelidiki Morelli Corporation, semakin ia sadar:
Theo bukan musuh yang ia cari. Dan Theo yang ditakuti justru memiliki sisi paling lembut untuk Celina.
Lalu bagaimana jadinya jika Theo yang lembut itu tahu identitas asli dari Celina yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1. SANG CEO
Tidak ada satu pun suara yang berani lahir di ruang rapat lantai dua puluh dua Morelli Corporation pagi itu.
Udara terasa berat, bukan karena pendingin ruangan yang mati, melainkan karena amarah yang menggantung di udara seperti pisau tak kasat mata. Dua puluh orang duduk mengelilingi meja oval dari kayu hitam Italia, bahu mereka kaku, punggung mereka tegang, dan mata mereka menunduk pada layar tablet atau berkas laporan yang kini terasa seperti vonis mati.
Di ujung meja, seorang pria berdiri.
Tinggi, tegap, dengan jas hitam yang dijahit sempurna mengikuti kontur tubuh atletisnya. Rambut hitam legam tersisir rapi ke belakang, rahangnya tegas seolah dipahat oleh tangan dewa yang terlalu perfeksionis. Mata biru itu terlihat dingin, tajam, dan berbahaya. Pandangannya menyapu seluruh ruangan dengan kemarahan yang tidak disembunyikan sedikit pun.
Dialah Theodore Morelli.
Atau untuk orang terdekatnya dikenal sebagai, Theo.
"Jadi," suara Theo akhirnya memecah kesunyian, rendah namun mengandung tekanan mematikan, "kalian semua duduk di sini, menghabiskan anggaran ratusan juta dolar, menguras waktu dua tahun pengembangan ... dan satu-satunya penjelasan yang bisa kalian berikan pada saya adalah-"
Theo berhenti sejenak.
Tangannya mengangkat sebuah tablet, lalu membantingnya ke atas meja dengan suara keras yang membuat beberapa orang tersentak.
"-kesalahan sistem?"
Seorang pria paruh baya di sisi kanan meja, kepala divisi pengembangan AI, menelan ludah. Dahi pria itu basah oleh keringat.
"Mr. Morelli, kami sudah melakukan audit internal. Tidak ada akses ilegal yang terdeteksi. Firewall tidak menunjukkan pelanggaran signifikan. Jadi kemungkinan besar-"
"Kemungkinan besar apa?" potong Theo tajam.
Pria itu tersentak. "E-error internal, Sir. Bug sistem. Atau mungkin-"
"MUNGKIN?" Theo membanting telapak tangannya ke meja.
"Di perusahaan Morelli ...," suara Theo meninggi, bergetar oleh amarah yang terkontrol tipis, "kata mungkin tidak pernah ada. Data AI generasi keempat kita bocor. Bocor!" Ia mencondongkan tubuh ke depan. "Dan pagi ini aku mendapat laporan bahwa Helix Dynamics, perusahaan sialan yang selalu mencari cara menjatuhkan Morelli, kini meluncurkan prototipe dengan arsitektur neural yang terlalu mirip dengan rancangan kita."
Beberapa wajah memucat.
"Jangan beri aku kebetulan," lanjut Theo dingin. "Aku tidak percaya kebetulan. Aku percaya kelalaian ... atau pengkhianatan," ujar Theo penuh penekanan di akhir kalimat.
Satu kata terakhir itu jatuh seperti palu hakim.
Tak ada yang berani menjawab.
Karena semua orang di ruangan itu tahu satu hal:
Theo Morelli tidak pernah marah tanpa alasan. Dan jika ia marah, selalu ada kepala yang menggelinding.
Theodore bukan hanya CEO muda yang mewarisi tahta perusahaan teknologi raksasa Los Angeles.
Ia adalah raja ekonomi di usia muda.
Morelli Corporation berada di puncak rantai industri; AI, pertahanan siber, data neural, dan teknologi masa depan yang bahkan belum berani diimpikan kompetitor. Dan di balik semua itu berdiri satu nama yang nyaris mitologis.
Theodore Morelli.
Tidak ada cacat dalam rekam jejaknya.
Tidak ada skandal.
Tidak ada kebiasaan buruk.
Tidak ada kesalahan publik.
Jenius sejak usia belia, lulus dari sekolah elit dengan predikat sempurna, manner sehalus bangsawan Eropa lama, dan otak setajam pisau bedah.
Jika seseorang bertanya, 'Siapa Theodore Morelli?'
Dunia akan menjawab tanpa ragu:
The Perfect Man.
Namun pagi itu, kesempurnaan itu retak.
"Jika ini kesalahan sistem," Theo berkata dengan suara berbahaya, "maka sistem itu dibuat oleh siapa?"
Tak ada jawaban.
"Jawab!" bentak Theo.
"K-Kami, Sir," jawab seorang insinyur dengan suara hampir tak terdengar.
Theo tersenyum, tanpa kehangatan.
"Berarti, masalahnya bukan sistem. Tapi orang-orang bodoh yang bersembunyi di baliknya," kata Theo tanpa ampun.
Wajah-wajah tertunduk semakin dalam.
Amarah Theo mencapai puncaknya tepat saat ....
Tok. Tok.
Suara ketukan terdengar di pintu kaca besar ruang rapat.
Semua kepala refleks menoleh.
Pintu terbuka perlahan.
Dua orang office girl masuk dengan troli kecil berisi kopi panas dan camilan rapat. Keduanya mengenakan seragam sederhana, celana hitam, seragam, dan sepatu datar.
Salah satunya menunduk sopan. Yang lain mengikuti di belakang.
"Maaf mengganggu," ujar salah satu dari mereka pelan. "Kami membawa konsumsi untuk rap-"
"Keluar," potong Theo tajam tanpa menoleh.
Namun saat itu ....
BRAKK!
Theo membanting setumpuk berkas ke meja dengan gerakan kasar.
Tanpa disengaja, atau mungkin karena ruang yang terlalu sempit, lengannya menyenggol salah satu office girl di belakang.
Gadis itu terkejut.
Troli sedikit goyah.
Dan dalam sepersekian detik yang terasa seperti gerakan lambat ...
Kopi panas tumpah.
Langsung ke jas hitam Theodore Morelli.
Waktu seolah berhenti.
Warna cokelat gelap meresap ke kain mahal itu.
Ruangan membeku.
Wajah semua orang langsung pucat pasi.
Karena semua orang tahu satu hal lagi tentang Theo:
Ia membenci kecerobohan.
"Oh, God, ma-maaf! Maaf, Sir!" office girl itu langsung panik, membungkuk dalam-dalam. Tangannya gemetar. "Saya tidak sengaja! Saya benar-benar minta maaf!"
Theo menunduk, menatap noda di jasnya.
Lalu mengangkat wajahnya.
Dan kemarahan yang tadi tertahan ... meledak.
"Apa kau buta?" suara Theo menggelegar. "Atau kau memang terlalu bodoh untuk membawa kopi tanpa menjatuhkannya?!"
Gadis itu semakin membungkuk. "Maaf, Sir. Saya akan menggantinya. Saya-_
"Kau tahu berapa harga jas ini?" Theo mendekat satu langkah. "Atau gajimu seumur hidup pun tidak cukup untuk membayar kecerobohanmu?"
"Maaf, mohon-"
"Diam!" bentak Theo.
Beberapa orang menutup mata, tak sanggup melihat.
Biasanya sampai di titik ini, karier seseorang di Morelli Corporation telah berakhir.
Namun kemudian ....
Sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Office girl itu berdiri tegak.
Ia mengangkat kepalanya.
Dan menatap Theodore Morelli lurus ke mata.
Tidak ada air mata.
Tidak ada ketakutan.
Tidak ada gemetar.
Di balik kacamata hitam besar yang menutupi sebagian wajahnya, sorot matanya dingin, tenang ... dan berani.
Theo terdiam.
Untuk pertama kalinya pagi itu ... ia terdiam.
Ada sesuatu pada gestur gadis itu.
Cara ia berdiri.
Cara bahunya tegak.
Cara dagunya terangkat sedikit, bukan menantang, tapi tidak tunduk.
Itu bukan gestur orang awam.
Bukan gestur yang bisa dilakukan oleh office girl biasa
"Itu bukan sepenuhnya kesalahan saya," suara gadis itu terdengar jelas, tenang, dan terkontrol.
Ruangan mendesah tertahan.
Theo mengerutkan kening.
"Apa?" ucap Theo dingin.
"Saya sudah meminta maaf atas kopi yang tumpah," lanjut gadis itu. "Dan saya akan bertanggung jawab. Tapi itu tidak memberi Anda hak untuk memaki saya."
Keheningan menusuk.
Theo menatapnya lekat-lekat. "Kau tahu dengan siapa kau berbicara?"
Gadis itu tidak mundur. "Saya tahu. Dengan seorang pimpinan perusahaan besar. Justru karena itu, seharusnya Anda bisa mengendalikan amarah Anda," jawabnya.
Beberapa orang menahan napas.
Theo tertawa pendek, tanpa humor.
"Berani sekali," kata Theo pelan. "Kau pikir kau siapa, huh?"
"Saya hanya office girl," jawabnya tenang. "Tapi kesalahan ini bisa dihindari jika Anda lebih memerhatikan sekitar, bukan melampiaskan amarah tanpa kontrol."
Theo melangkah mendekat. Matanya menyipit.
"Nama," tanya Theo singkat.
Gadis itu menatapnya sesaat, lalu berkata, "Celina Dawson."
Nama itu jatuh ringan, namun entah kenapa .... membekas.
"Dengar baik-baik, Celina Dawson," kata Theo dingin. "Pastikan namamu itu tidak pernah aku dengar lagi dalam laporan masalah."
Celina mengangguk tipis.
"Seharusnya," kata Celina sebelum berbalik, saran dari orang kecil seperti saya. Sebaiknya Anda lebih mengontrol emosi Anda jika tidak maka yang Anda dapatkan hanyalah kekacauan atau ada yang terluka secara fisik."
Langkah Celina berhenti sesaat di pintu.
"Seorang pemimpin," lanjutnya tanpa menoleh, "seharusnya mencari sumber masalah, bukan hanya sumber kejadian."
Lalu ... ia pergi.
Pintu tertutup pelan.
Ruang rapat tetap sunyi.
Theo berdiri mematung, menatap pintu yang baru saja dilewati gadis itu.
Matanya dingin.
Pikirannya bergerak cepat.
Gestur itu.
Nada bicara itu.
Keberanian itu.
Bukan sesuatu yang didapat dari kehidupan biasa.
"Rapat selesai," kata Theo akhirnya. "Dilanjutkan setelah jam makan siang."
Tanpa menunggu respons, Theo keluar.
Langkahnya cepat, diiringi satu orang yang mengikutinya dari belakang.
Aiden, asisten Theo selama dua tahun terakhir. Sahabat. Orang kepercayaan.
Begitu pintu ruang CEO tertutup, Theo melepaskan jasnya dengan kasar.
"Cari tahu tentang gadis itu," perintah.
Aiden mengangkat alis. "Office girl yang menumpahkan kopi?"
"Celina Dawson."
Aiden tersenyum tipis. "Sejak kapan kau tertarik pada office girl?"
Theo menoleh, sorot matanya tajam.
"Aku tidak tertarik. Aku curiga" katanya dingin.
"Curiga?"
"Gesturnya bukan gestur kelas bawah," Theo menjawab pelan. "Itu hasil pendidikan elit. Dan tidak sebentar untuk belajar itu hingga menjadi kebiasaan."
Aiden terdiam.
"Mungkin," lanjut Theo, "dia mata-mata. Atau ada hubungannya dengan kebocoran proyek AI kita."
Theo berjalan ke jendela besar, menatap cakrawala Los Angeles.
"Kebenaran," kata Theo dingin, "selalu datang dari arah yang tidak kita duga."
Dan entah mengapa.
Nama Celina Dawson terus terngiang di kepala seorang Theodore Morelli.
lo jual gw beli
maaf ye,bukan kita yg mulai, ini namanya mekanisme perlindungan diri.
kan..bukan aku yg mulai🤣🤣
mulut mu
tapi bener lah
dibully malah menikmati sensasi nya🫣
bagus
bagus
bagus
bagus thooorr...
q suka...q suka❤️❤️❤️❤️❤️