Setelah memergoki perselingkuhan suaminya, Kamila Andini mengalami tragedi hebat, ia terjatuh hingga kehilangan calon bayinya sekaligus harus menjalani pengangkatan rahim. Penderitaannya kian lengkap saat sang suami, Danu, menceraikannya karena dianggap tak lagi "sempurna".
Berharap mendapat perlindungan di rumah peninggalan ayahnya, Kamila justru dijadikan alat oleh ibu tirinya untuk melunasi utang kepada seorang konglomerat tua. Namun, kejutan menantinya. Bukannya dinikahi, Kamila justru dipekerjakan sebagai ibu susu bagi cucu sang konglomerat yang kehilangan ibunya saat persalinan.
Evan Anggara, ayah dari bayi tersebut, awalnya menentang keras kehadiran Kamila. Namun, melihat kedekatan tulus Kamila dengan putranya, tembok keangkuhan Evan perlahan runtuh. Di tengah luka masa lalu yang belum sembuh, akankah pengabdian Kamila menumbuhkan benih cinta baru di antara dirinya dan Evan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tragedi di tangga darurat
Lorong hotel bintang lima yang mewah itu terasa mencekam. Jantung Kamila berdegup kencang, bukan karena lelah, melainkan karena hancur. Bayangan suaminya, Danu, keluar dari kamar nomor 502 bersama dengan Maya, tetangga yang selama ini ia anggap teman baik kini terus berputar di kepalanya.
"Kamila, berhenti! Jangan lari!" teriakan Danu menggema di koridor.
Dalam kondisi hamil delapan bulan, Kamila tidak punya pilihan selain menghindar. Ia tidak sanggup berdebat, apalagi melihat wajah pengkhianat itu. Dengan sisa tenaga, ia membuka pintu besi tangga darurat. Napasnya tersengal, tangannya mencengkeram erat pegangan tangga sambil melindungi perutnya yang besar.
Lantai lima... lantai empat... lantai tiga...
"Kamila, aku bilang berhenti! Kita perlu bicara!" Suara langkah kaki Danu semakin mendekat. Pria itu tampak murka karena rahasia busuknya terbongkar.
Tepat saat menginjak anak tangga di lantai dua, kaki Kamila yang gemetar kehilangan tumpuan.
"Astagfirullah...!"
Tubuhnya kehilangan keseimbangan. Kamila terguling, menghantam anak tangga yang keras satu per satu hingga mencapai bordes lantai dasar. Keheningan seketika pecah oleh suara benturan tubuh yang jatuh. Di atas sana, di antara lantai dua dan satu, Danu terpaku. Amarahnya seketika luruh, berganti dengan rasa ngeri yang luar biasa.
Di bawah sana, Kamila tergeletak tak berdaya. Gamis putihnya perlahan mulai ternoda. Cairan merah pekat keluar dari arah jalan lahir, mengalir membasahi lantai semen yang dingin.
Danu berlari menuruni tangga dengan panik.
"Kamila! Kamila, bangun!"
Suara Kamila nyaris hilang, hanya rintihan kecil yang terdengar.
"S... sakit, Mas... Anak... anak kita..."
Danu melihat genangan darah yang semakin lebar, tangannya gemetar hebat.
"Ya Tuhan... Darah... Banyak sekali darahnya. Kamila, bertahanlah! Aku mohon, jangan tutup matamu!"
Kamila menatap Danu dengan tatapan nanar dan penuh luka.
"Kenapa... kenapa tega, Mas? Kenapa harus Maya..."
"Maafkan aku, Sayang. Maaf... Jangan bicara dulu. Kita ke rumah sakit sekarang! Bertahanlah demi bayi kita!"ucap Danu sambil mengangkat tubuh Kamila yang terasa berat dan lemas
Danu mengemudi seperti orang kesetanan, satu tangannya memegang kemudi, sementara tangan lainnya menggenggam tangan Kamila yang mulai mendingin.
"Tolong jangan tinggalkan aku, Mila! Aku salah, aku bajingan, tapi tolong tetaplah hidup!"
Napasnya Kamila mulai pendek-pendek, pandangannya mulai mengabur.
"Sakit sekali, Mas... Perutku... Aku sudah tidak kuat..."
"Tinggal sedikit lagi! Lihat aku, Mila! Jangan menyerah! Pikirkan anak kita, dia sebentar lagi akan lahir!"
Kamila berbisik lirih sebelum tak sadarkan diri.
"Kalau aku pergi... sampaikan maafku... pada dia..."
"Mila? Mila! Bangun! Jangan pingsan sekarang! Kamila!!!"
Sesampainya di depan IGD, Danu berteriak histeris memanggil perawat. Ia sadar, pengkhianatan nya hari ini mungkin akan dibayar dengan harga yang paling mahal dalam hidupnya yakni nyawa istri dan juga anaknya.
.
.
Lampu merah di atas pintu ruang operasi akhirnya padam. Danu, yang sejak tadi duduk dengan kepala tertunduk di kursi tunggu, segera berdiri saat seorang dokter keluar dengan raut wajah yang sangat berat. Kabar yang dibawa dokter itu bagaikan petir di siang bolong. Karena benturan keras dan pendarahan hebat (abruptio placentae), bayi dalam kandungan Kamila tidak dapat diselamatkan. Lebih dari itu, untuk menghentikan infeksi yang mulai menyebar dan menyelamatkan nyawa Kamila, tim medis terpaksa melakukan pengangkatan rahim (histerektomi).
Dunia Danu serasa runtuh. Ia kehilangan calon penerusnya, dan istrinya kini tak lagi bisa memberikan keturunan. Di tengah kehancuran itu, Maya datang dengan langkah tergesa, berpura-pura cemas namun dengan kilat mata yang sulit diartikan.
"Mas Danu! Bagaimana keadaan Mila? Bagaimana bayinya?"
Suaranya Danu terdengar serak, matanya memerah "Habis, May... Semuanya habis. Anakku meninggal... dan dokter harus mengangkat rahim Kamila. Dia tidak akan pernah bisa hamil lagi."
Maya terdiam sejenak. Namun, di dalam hatinya, sebuah sorak sorai kemenangan membuncah. Baginya, ini adalah jalan tol untuk memiliki Danu sepenuhnya tanpa hambatan seorang anak atau masa depan Kamila sebagai seorang ibu.
Maya mendekat dan memegang lengan Danu dengan lembut.
"Ya ampun, Mas... Aku turut berduka. Tapi... coba pikirkan lagi. Mas Danu, apakah kau masih mau hidup dengan wanita yang sudah cacat? Kamila tidak akan bisa memiliki seorang anak lagi selamanya."
Danu terdiam, mulai terpengaruh oleh kata-kata Maya.
"Tapi dia istriku, May..."
"Ingat, Mas. Bukankah Tante Inggit sangat mendambakan seorang cucu? Ibumu tidak akan pernah menerima kenyataan bahwa menantunya sudah tidak sempurna. Sebaiknya kau segera ceraikan Kamila! Aku bisa memberikan kamu banyak anak, Mas. Aku masih muda, aku sehat. Ceraikan dia sekarang sebelum dia menjadi beban hidupmu selamanya!"
Danu menatap pintu ruang operasi yang tertutup rapat. Bayangan Kamila yang dulu cantik kini berganti dengan sosok wanita yang ia anggap "rusak". Rasa bosan yang selama ini ia pendam karena melihat perubahan fisik Kamila saat hamil kini memuncak menjadi rasa jijik dan penyesalan.
Danu menghela napasnya panjang, wajahnya mengeras.
"Kamu betul, Maya...Untuk apa aku mempertahankan wanita cacat dan tidak sempurna itu? Dia hanya akan mengingatkanku pada kegagalan ini, Aku lebih baik menceraikannya dan menikah denganmu!"
Maya tersenyum penuh kemenangan, memeluk lengan Danu erat.
"Terima kasih, Mas. Akhirnya aku bisa memilikimu seutuhnya. Kita akan bangun keluarga baru yang jauh lebih bahagia tanpa dia."
Di dalam ruang pemulihan, Kamila perlahan membuka matanya. Ia belum tahu bahwa saat ia berjuang antara hidup dan mati, suaminya telah membuangnya seperti barang yang tidak lagi berharga. Sementara itu, di luar sana, Danu dan Maya sudah mulai merancang masa depan di atas penderitaan wanita yang telah mempertaruhkan nyawa demi cinta yang dikhianati.
Sangat menyedihkan melihat bagaimana Danu begitu mudah terpengaruh oleh Maya.
.
.
Aroma antiseptik yang tajam menyambut kesadaran Kamila. Kelopak matanya terasa berat, namun rasa nyeri yang hebat di bagian perut memaksanya untuk terjaga. Ingatan terakhirnya adalah dinginnya lantai tangga darurat dan rasa sakit yang luar biasa.
Dengan tangan yang gemetar dan masih terpasang jarum infus, Kamila secara naluriah meraba perutnya. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat merasakan perut yang biasanya besar dan penuh kehidupan itu kini telah rata dan terbalut kain kasa.
"Anakku...di mana anakku?" bisiknya parau, air mata mulai mengalir di sudut matanya.
Pintu kamar rawat inap pasien terbuka dengan suara derit yang dingin. Kamila menoleh, berharap melihat wajah khawatir suaminya yang akan memeluk dan menenangkannya. Namun, pemandangan di depannya jauh lebih menyakitkan daripada luka operasinya. Danu masuk, namun tidak sendirian. Di sampingnya, Maya berdiri dengan angkuh, tangannya menggelayut manja di lengan Danu, seolah tanpa rasa bersalah. Maya tersenyum puas melihat kondisi Kamila yang seperti itu, dan ia juga sudah tidak sabar mendengar Danu mengucapkan kata cerai untuk Kamila.
Bersambung...
kopi untuk mu👍