Ternyata, teori tentang benang merah itu memang ada. Sejauh dan selama apapun berpisah, jika ada yang belum selesai makan akan tetap bertemu dengan cara yang terkadang tak masuk dalam logika.
Siapa yang sangka, Bianca akan kembali bertemu , mantan tunangan yang dulu dijodohkan dengannya dalam keadaan Bianca yang sudah tidak seperti dulu lagi.
Tunangan yang dulunya pergi meninggalkannya karena alasan tidak mencintainya, kini justru selalu terlihat dalam hidup Bianca yang begitu pelik.
Padahal mantan tunangannya itu sudah memiliki wanita yang dicintai sejak dulu menjalin hubungan dengan Bianca.
"Bisakah kau melewatiku begitu saja saat melihatku? Jangan mendekat dan jangan ikut campur terlalu jauh ke dalam hidupku!" - Bianca -
Apa jadinya jika dua orang itu justru terikat oleh sebuah teori benang merah yang tidak pernah putus diantara mereka?
Apakah mereka akan kembali bersama meski benang merah sudah terlalu rumit mengikat mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita di masa lalu
Sretttt...
Elgard menarik seorang wanita dari ujung atap gedung sepuluh lantai.
"Apa kau gila hah?!!!" Bentak Elgard pada wanita yang sebagian wajahnya tertutup oleh rambut yang dibiarkan tergerai. Rambutnya yang panjang dan lurus itu tertiup angin hingga menutupi wajahnya.
Elgard tidak menyangka saja, niatnya menyingkir ke atap gedung rumah sakit untuk menenangkan diri setelah melakukan operasi hampir tujuh jam lamanya justru melihat seorang wanita ingin mengakhiri hidupnya dengan melompat dari atap rumah sakit.
Wanita yang tidak ia kenal, tapi ia bentak dengan suara cukup keras itu mulai mengangkat wajahnya dengan perlahan.
Mata Elgard melebar, dia jelas mengenali pemilik wajah itu meski sekarang terlihat perubahan dibandingkan dengan dulu. Walau sudah delapan tahun tidak bertemu, tapi Elgard jelas masih bisa mengenali siapa wanita yang ada di hadapannya itu.
"Bianca!" Gumam Elgard. Dirinya tak menyangka kalau akan bertemu dengan wanita yang sudah begitu lama tidak ia temui itu dengan keadaan seperti ini.
Wanita di hadapannya itu benar-benar berubah drastis. Dulu Elgard dengan jelas benar-benar mengenal Bianca, bukan hanya sekedar tau tentang wanita itu. Tapi saat ini, Bianca yang ada di hadapannya sangat jauh dari Bianca yang ia kenal dulu.
"Bee.." Elgard ingin menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya namun wanita yang ia sebut bernama Bianca itu memalingkan wajahnya lebih dulu. Telihat jelas menghindari tangan Elgard.
"Maaf Tuan, anda salah orang!" Wanita itu langsung berbalik pergi. Berjalan dengan cepat meninggalkan atap rumah sakit.
Elgard masih terkejut karena reaksi tak terduga dari Bianca malah terdiam menatap kepergian Bianca. Setelah punggung Bianca tak terlihat lagi, barulah dia sadar kalau Bianca sudah tidak ada di hadapannya lagi.
Pria tinggi dengan wajah tampan itu langsung berlari mengejar Bianca. Dia ingat apa yang baru saja Bianca kalukan. Entah apa yang masalah yang Bianca hadapi selama ini hingga ingin mengakhiri hidupnya.
Elgard menuruni tangga dengan cepat, menyusuri lorong demi lorong untuk mencari keberadaan mantan tunangannya itu.
Benar, mereka dulu memah pernah bertunangan karena perjodohan yang dilakukan oleh kedua orang tua mereka. Tapi hubungan mereka itu harus berakhir karena kasus yang melibatkan Ayah dari Bianca. Karena sejak awal hubungan mereka hanya karena hubungan bisnis dan saling menguntungkan untuk orang tua mereka, maka saat Ayah Bianca terjerat kasus korupsi, Ayah dari Elgard langsung membatalkan perjodohan itu.
Elgard tidak pernah tau lagi bagaimana kehidupan Bianca setelah itu karena Elgard langsung pergi keluar negeri untuk melanjutkan sekolahnya.
Mereka tidak pernah berhubungan lagi sampai hari ini akhirnya Elgard bertemu dengan Bianca lagi dengan keadaan Bianca yang membuat Elgard terkejut.
Dulu Bianca adalah gadis manja, semua yang dia pakai selalu barang-barang mahal dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tapi yang Elgard lihat tadi, Bianca hanya memakai celana jeans dan kemeja yang sederhana. Tidak ada lagi barang mahal yang melekat pada tubuhnya. Wajahnya pun tanpa polesan make up seperti dulu. Tubuhnya juga tampak kurus tak terawat.
"Kemana dia pergi? Kenapa secepat ini?!"
Apa yang terjadi pada Bianca tadi membuat Elgard begitu penasaran. Sebenarnya masalah apa yang dihadapi Bianca sampai ingin mengakhiri hidupnya.
Sementara, wanita yang Elgard cari dari tadi kini sudah ada di dalam kamar mayat. Air matanya tampak jatuh semakin deras melihat tubuh Ibunya yang sudah kaku.
Seharusnya Ibunya sudah dibawa ke tempat kremasi sejak tiga hari yang lalu tepat di hari Ibunya pergi untuk selama-lamanya. Tapi dia tidak bisa membawa Ibunya pergi begitu saja karena dia tidak punya biaya untuk melunasi tagihan rumah sakit dan juga biaya kremasi. Uangnya masih belum cukup untuk itu semua.
Bianca hanya bisa menangis seorang diri di dalam kamar yang begitu dingin dan menyeramkan bagi orang lain itu. Tapi setelah tiga hari selalu datang ke sana, Bianca sudah tak merasa takut sama sekali.
Dia mengusap air matanya dengan kasar. Kembali memasang wajah dingin yang selalu menjadi topeng baginya selama tujuh tahun ini.
Dia harus segera pergi ke suatu tempat untuk mencari uang tambahan. Kebetulan ada seseorang yang memberinya informasi pekerjaan.
Bianca membawa tas lusuh dibahunya. Rambutnya yang panjang itu menutup sebagian wajahnya ketika tertiup angin. Kepalanya yang selalu menunduk ketika berjalan, membuatnya begitu misterius bagi orang-orang yang sering berpapasan dengannya ataupun tetangga apartemen kumuhnya.
Tapi Bianca seolah tak peduli, saat ini dia hidup untuk dirinya sendiri, bukan untuk orang lain ataupun untuk membahagiakan orang lain.
"Cepat pakai baju itu dan masukkan ke dalam sana untuk mengantarkan minuman itu!"
Bianca memungut baju yang tadi dilemparkan ke wajahnya. Hal seperti itu sudah sangat biasa baginya, jadi walaupun itu tampak merendahkannya, tak ada rasa sakit di dalam hatinya sama sekali.
Bianca mengganti bajunya dengan kemeja biru dilapisi blazer abu-abu dan rok pendek di atas lutut berwana senada. Rambutnya yang tadi tergerai kini di gulung rapi ke belakang.
Dia tak hanya sekali dua kali bekerja di tempat seperti itu. Bianca melakukan pekerjaan apapun asalkan dia bisa mengatakan uang.
Dengan mendorong troli berisi berisi beberapa botol minuman keras, Bianca masuk ke dalam sebuah ruangan VIP. Di sana Bianca harus melayani tamu-tamu berkantong tebal dengan baik karena tak jarang mereka memberikan tip untuknya.
Dalam keadannya saat ini, rasanya tak mungkin lagi bagi Bianca mengenai pandangan orang di luaran sana tentang pekerjaannya itu.
"Silahkan Tuan!" Bianca menuangkan minuman memabukkan itu ke dalam gelas.
"Terima kalah Nona manis!"
Sebenarnya Bianca muak mendengar pujian yang sebenarnya merendahkannya itu. Tapi dia tak punya pilihan lain. Dia hanya bisa diam dan menundukkan kepalanya karena enggan menatap wajah-wajah menjijikkan mereka.
"Duduklah di sampingku Nona, aku akan memberikan banyak tip untukmu!"
Bianca hanya menurut, hanya sekedar duduk dan menemani pria-pria hidung belang seperti mereka sudah biasa baginya.
"Kau cantik juga Nona!" Tangan pria itu mengusap lutut Bianca hingga ke pahanya yang sedikit terbuka karena roknya yang cukup pendek.
"Maaf Tuan, anda terlalu lancang!" Bianca langsung berdiri menjauh dari pria itu. Dia menang ingin uang, tapi tidak dengan menjual dirinya.
"Jangan berlagak kau j*lang!" Pria itu menarik yangan Bianca.
"Lepas!" Bianca memberontak namun tenaga pria itu lebih kuat. Bianca di lampar ke sofa yang ada di ruangan itu.
Dengan sekuat tenaga Bianca ingin lari dari sana, namun pria itu kembali menahan Bianca dengan kuat.
"Lepaskan tanganmu Nick!!" Ucap seseorang yang ternyata sejak tadi memperhatikan Bianca dengan diam tanpa Bianca sadari.
lanjut....
baguslah kamu sudah menceritakan kelakuan Meriana ke Elgard dengan jujur