Rayya Assyura tidak pernah menyangka, ketika menerima laporan tentang karyawan terbaik yang direkomendasikan langsung dari cabang luar negeri adalah Devan Yudistira. Pria yang paling ia benci sejak masa remaja. ketika menginjakkan kaki di rumahnya sebagai anak tukang kebun.
Rayya masih mengingat jelas bagaimana papanya begitu menyukai kepribadian Devan, cerdas, santun, pekerja keras, hingga tanpa ragu menyekolahkannya di SMA elit yang sama dengannya. Lebih dari itu, sang papa bahkan meminta Devan menjaga Rayya di sekolah.
kehidupan rayya sempat tenang ketika mendapati devan mendapat beasiswa kuliah di oxford university.
namun kharisma devan sekarang membuat rayya dipaksa berpikir ulang.
apakah kebencian masih dipertahankan atau takdir justru mempermainkan mereka berdua. bagaimana kisah selanjutnya? mari kita saksikan..
Pertemuan yang Tak Terelakkan
Rayya Assyura menatap layar tabletnya tanpa benar-benar membaca isi laporan yang terpampang di sana. Angka-angka itu menari, grafik naik turun, namun pikirannya sama sekali tidak berada di ruang kerja megah lantai dua puluh itu.
Satu nama terus berputar di kepalanya.
Devan Yudistira.
Nama yang seharusnya sudah terkubur bersama masa remajanya. Nama yang tak pernah lagi ia ucapkan sejak pria itu pergi ke Oxford bertahun-tahun lalu. Nama yang kini kembali muncul, berdiri angkuh di antara jajaran laporan eksekutif perusahaan milik papanya sendiri.
Rayya mengembuskan napas kasar, lalu menekan tombol interkom di mejanya.
“Ari,” panggilnya datar.
Tak sampai sepuluh detik, pintu ruangannya diketuk pelan. Asistennya, seorang pria muda dengan ekspresi selalu sigap, masuk sambil membawa tablet kecil.
“Iya, Mbak Rayya?”
Rayya berdiri dari kursinya, berjalan mendekati jendela kaca besar yang memperlihatkan pemandangan kota. Gedung-gedung tinggi terlihat kecil dari ketinggian itu, sama seperti orang-orang yang berlalu-lalang tanpa tahu betapa berantakannya isi kepalanya saat ini.
“Rapat pengenalan pengawas Direktur Operasional nanti,” ucap Rayya tanpa menoleh,
“kamu saja yang hadir mewakiliku.” sambungnya.
Ari terdiam sejenak. “Mbak Rayya tidak ikut?”
“Tidak.” Jawaban itu cepat dan tegas. “Sampaikan saja bahwa aku sedang ada agenda mendesak.” ucap rayya.
Ari ragu. Ia menatap punggung atasannya, mencoba membaca suasana. “Tapi… Pak Surya bilang semua direktur diminta hadir.” sahut ari
Rayya berbalik tajam. “Aku tahu apa yang Papa minta. Tapi posisinya bukan direktur, hanya pengawas. Kehadiranku tidak krusial.” balas rayya.
Kata hanya itu keluar begitu saja, meski di lubuk hati Rayya tahu betul bahwa jabatan tersebut bukan posisi sembarangan. Pengawas Direktur Operasional berarti seseorang yang diberi wewenang penuh untuk mengontrol, mengevaluasi, bahkan memberi rekomendasi perubahan besar dalam tubuh perusahaan.
Dan orang itu adalah Devan.
Rayya tidak siap.
Ia tidak siap melihat wajah itu lagi. Tidak siap menghadapi masa lalu yang selama ini ia tekan rapat-rapat. Tidak siap melihat bagaimana pria yang dulu ia anggap “tidak selevel” kini berdiri di posisi strategis di perusahaannya sendiri.
Namun sebelum Ari sempat menjawab, pintu ruang kerja Rayya terbuka tanpa diketuk.
“Rayya.”
Suara itu membuat tubuh Rayya menegang seketika.
Pak Surya Assyura, Direktur Utama sekaligus ayahnya, masuk dengan langkah mantap. Wajahnya tenang, namun sorot matanya tajam seperti biasa.
“Ari,” ujar Pak Surya singkat, “kamu bisa keluar dulu.” ucap papa rayya.
Ari menunduk hormat, lalu pergi sambil melirik Rayya dengan ekspresi canggung.
Begitu pintu tertutup, keheningan menyergap ruangan.
Rayya menarik napas panjang. “Papa kenapa tidak memberi tahu dulu sebelum masuk?” tanya rayya.
Pak Surya menatap putrinya lama. “Karena Papa tahu kamu akan menghindar.” ucap sang papa.
Rayya menoleh, berusaha mempertahankan wajah datarnya. “Menghindar dari apa?” tanya rayya berpura - pura.
“Dari Devan.” jawab sang papa. Nama itu kembali menghantam udara di antara mereka.
Rayya mengepalkan jari-jari tangannya. “Papa, aku bisa bekerja profesional. Tapi bukan berarti aku harus memaksakan diri untuk hadir di setiap agenda yang—”
“Rayya,” potong Pak Surya dengan nada lebih dalam. “Ini bukan soal perasaanmu. Ini soal perusahaan.” ucap sang papa tegas.
Rayya terdiam.
“Devan bukan karyawan biasa,” lanjut Pak Surya. “Dia adalah aset penting. Pengalamannya di luar negeri, pencapaiannya, dan rekomendasi yang dia bawa membuatnya layak berada di posisi itu. Dan kamu, sebagai direktur, wajib hadir.” ucap sang papa tegas
“Papa tahu hubungan kami tidak baik.” sahut rayya.
Pak Surya mengangguk pelan. “Justru karena itu. Kamu sudah dewasa, Rayya. Masa lalu seharusnya tidak menghalangi profesionalisme.” balas sang papa.
Rayya tertawa kecil, pahit. “Masa lalu itu Papa yang ciptakan.” ucap rayya pelan.
Wajah Pak Surya mengeras sejenak, namun ia memilih menghela napas. “Papa tidak akan berdebat soal itu sekarang. Rapat dimulai tiga puluh menit lagi. Papa ingin kamu hadir.” titah sang papa.
Tak memberi ruang untuk penolakan, Pak Surya berbalik dan keluar.
Rayya berdiri kaku. Dadanya naik turun tidak beraturan.
Takdir benar-benar sedang menertawakannya.
Ruang rapat utama dipenuhi aura formal dan dingin. Kursi-kursi kulit hitam tersusun rapi mengelilingi meja panjang dari kayu mahoni. Para direktur mulai berdatangan satu per satu, saling menyapa dengan senyum profesional.
Rayya masuk paling akhir.
Langkahnya mantap, namun hanya dia yang tahu betapa keras jantungnya berdetak. Ia duduk di kursinya tanpa menoleh ke arah pintu, seolah dengan begitu ia bisa menunda pertemuan itu.
Namun suara langkah sepatu formal terdengar.
Langkah yang tenang. Percaya diri. Tidak tergesa.
Rayya tahu… itu dia.
“Selamat pagi.” sapa devan.
Suara bariton itu membuat tubuh Rayya menegang seketika.
Ia mengangkat wajahnya perlahan.
Dan di sanalah Devan Yudistira berdiri.
Bukan lagi remaja kurus dengan seragam sekolah yang selalu rapi. Bukan lagi anak tukang kebun yang sering ia pandang sebelah mata. Pria di hadapannya kini tinggi, tegap, dengan setelan jas abu gelap yang melekat sempurna di tubuhnya.
Wajahnya matang. Rahangnya tegas. Tatapannya tenang namun penuh wibawa.
Rayya membeku.
Ini bukan Devan yang ia kenal.
“Perkenalkan,” ujar Pak Surya sambil berdiri di samping Devan, “ini Devan Yudistira, Pengawas Direktur Operasional kita yang baru. Mulai hari ini, dia akan terlibat langsung dalam pengawasan dan evaluasi kinerja operasional perusahaan.” sambungnya.
Devan menunduk sopan. “Terima kasih atas kepercayaannya.” ucap devan pelan.
Matanya menyapu ruangan, hingga akhirnya berhenti pada Rayya.
Sepersekian detik, dunia seolah berhenti.
Tidak ada senyum. Tidak ada keterkejutan yang ditunjukkan Devan. Hanya tatapan datar yang terlalu tenang… seolah pertemuan ini sudah ia prediksi sejak awal.
Sebaliknya, Rayya harus berjuang keras agar ekspresinya tetap terkendali.
pak surya memperkenalkan seluruh direksi satu persatu, tibalah giliran rayya.
“Rayya Assyura,” kata Pak Surya, “Direktur Strategi dan Pengembangan.” sambungnya.
Rayya berdiri dengan enggan. “Selamat bergabung.” ucap rayya pelan.
Suaranya terdengar profesional. Dingin. Berjarak.
Namun Devan melangkah mendekat, lalu mengulurkan tangannya.
“Senang bertemu kembali, bu Rayya.” ucap devan.
Kata kembali itu menusuk.
Rayya menatap tangan itu sejenak sebelum akhirnya menyambutnya. Sentuhan singkat, formal, namun cukup untuk membuat telapak tangannya terasa panas.
“sama sama,” jawab Rayya singkat.
Devan tersenyum tipis, senyum yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Senyum orang yang telah menang melawan hidup.
Dan di saat itulah Rayya menyadari satu hal yang membuat dadanya terasa sesak:
Pria yang dulu ia benci karena dianggap merebut perhatian papanya…
kini berdiri sebagai sosok yang tidak bisa ia remehkan lagi.
Takdir telah mempertemukan mereka kembali.
Bukan sebagai anak tukang kebun dan anak majikan. melainkan sebagai rekan kerja