Sheila Adalah Gadis Cantik Dengan Kepribadian Bar-Bar Dan Ceria Yang Menjalani Kehidupan Remajanya Dengan Penuh Warna. Namun, Warna Itu Memudar Sejak Ia Mengenal Devano, Seorang Laki-Laki Tampan Bertangan Dingin Yang Memiliki Kendali Penuh Atas Hati Sheila. Selama Dua Tahun Menjalin Hubungan, Sheila Selalu Menjadi Pihak Yang Mengalah Dan Menuruti Segala Keinginan Liar Devano, Meskipun Cara Berpacaran Mereka Sudah Jauh Melampaui Batas Kewajaran Remaja Pada Umumnya.Selama Itu Pula, Sheila Mati-Matian Menjaga Satu Benteng Terakhir Dalam Dirinya, Yaitu Kehormatan Dan Keperawanannya. Namun, Devano Yang Manipulatif Mulai Menggunakan Senjata Janji Suci Dan Masa Depan Untuk Meruntuhkan Pertahanan Tersebut. Devano Memberikan Pilihan Sulit Menyerahkan Segalanya Sebagai Bukti Cinta Atau Kehilangan Dirinya Selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Matahari pagi mulai membakar aspal di depan gerbang megah SMA International Bima Karya School. Suara deru mesin mobil mewah para siswa mulai mereda, menandakan bel masuk akan segera berbunyi. Di tengah keheningan itu, seorang gadis cantik dengan seragam yang sedikit berantakan dan rambut terurai berlari terengah-engah menuju gerbang.
Sheila, si gadis bar-bar yang terkenal dengan kecantikannya namun memiliki kedisiplinan yang buruk, kembali melakukan kebiasaan lamanya. Langkah kakinya yang cepat menimbulkan suara berisik di sepanjang trotoar sekolah.
Di depan gerbang kayu yang kokoh, Risma berdiri dengan wajah yang sudah menekuk masam. Sahabat karib Sheila itu terus melirik jam tangan digitalnya dengan gelisah.
"Hosh... hosh... hosh..."
Sheila berhenti tepat di depan Risma, memegangi kedua lututnya sambil mencoba mengatur napas yang memburu. Keringat kecil tampak di pelipisnya, namun senyum bar-bar-nya tetap terkembang luas.
" Kebiasaan banget deh! Selalu terlambat. Kapan sih bisa tepat waktunya? "gerutu Risma dengan nada kesal, matanya menatap tajam ke arah Sheila.
" He.. he.. he.. santai dong bestinya aku. Kamu tau sendiri kan aku habis malmingan sama Devano," jawab Sheila sambil memperbaiki posisi tasnya dan tersenyum manis seolah tanpa beban. Nama Devano selalu menjadi alasan utama di balik segala kekacauan jadwalnya.
Risma menghentakkan kakinya ke lantai, semakin merasa geram. Sebagai sahabat, ia tahu betapa Sheila sangat memuja Devano, namun ia juga lelah menanggung akibat dari ketidakteraturan Sheila.
" Hari ini upacara tau! Aku gak mau yah tiap hari Senin selalu dihukum gara-gara nunggu kamu! "seru Risma sambil menunjuk ke arah lapangan yang sudah mulai dipenuhi barisan siswa.
Sheila yang tadi terlihat santai kini mulai merasa tidak enak hati. Ia melihat sahabatnya benar-benar berada di ambang kemarahan. Sifatnya yang bar-bar seketika melembut jika itu menyangkut perasaan Risma.
" Iyah deh, iyah... aku minta maaf. Jangan marah dong Ris, "kata Sheila sambil merangkul pundak Risma dengan manja.
" Ya udah, kita ke lapangan upacara sekarang sebelum Pak Bambang mengunci gerbang barisan! "ajak Risma sambil menarik lengan Sheila dengan cepat.
Sambil berjalan setengah berlari menuju lapangan, pikiran Sheila tidak benar-benar berada di sana. Bayangan pertemuannya dengan Devano semalam masih menari-nari di benaknya. Ia merasa menjadi gadis paling beruntung di dunia karena memiliki kekasih setampan dan sehebat Devano.
Sheila tidak pernah menyangka bahwa di balik seragam mewah dan lingkungan sekolah internasional ini, ia sedang melangkah menuju sebuah jeratan yang akan mengubah hidupnya selamanya. Ia hanya tahu bahwa cinta itu indah, dan Devano adalah segalanya.
Suasana lapangan upacara yang tadinya mulai tertib seketika berubah menjadi riuh rendah. Suara bisikan dan pekikan kagum mulai terdengar dari barisan siswi di barisan belakang. Sheila, yang tadi sedang berusaha merapikan topi upacaranya, langsung menoleh dengan mata yang berbinar saat mendengar nama itu disebut.
Di tengah keriuhan itu, segerombolan anak laki-laki berjalan memasuki area lapangan dengan gaya yang sangat menyilaukan. Mereka adalah Devano Narendra, sang pangeran sekolah yang tampan dan dingin, diikuti oleh dua sahabat setianya, Indra Setiawan dan Bayu Saputra.
Ketiganya berjalan dengan aura yang begitu dominan, seolah lapangan upacara itu adalah panggung pribadi milik mereka. Kulit yang bersih, postur tubuh yang tinggi atletis, dan seragam yang dikenakan dengan gaya rebel namun berkelas, membuat mereka terlihat bagai pahatan sempurna bak dewa Yunani. Tidak heran jika mereka menjadi most wanted di SMA International Bima Karya School.
Devano Narendra, sang ketua geng, melangkah paling depan dengan tatapan mata yang tajam namun datar. Langkah kakinya gagah dan tegas, mencerminkan kekuasaan yang ia miliki di sekolah ini. Setiap ayunan langkahnya membuat para siswi yang memujanya berteriak histeris tertahan, takut terkena teguran guru namun tak kuasa menahan kekaguman.
Sheila menatap Devano tanpa berkedip. Rasa bangga menyelimuti hatinya. Laki-laki yang sedang menjadi pusat perhatian seluruh sekolah itu adalah kekasihnya. Ia merasa menjadi wanita paling istimewa karena hanya ia yang bisa menyentuh sisi dingin seorang Devano.
" Lihat deh Ris, cowok aku ganteng banget kan? "bisik Sheila sambil menyenggol lengan Risma, wajahnya memerah karena gairah dan rasa bangga.
Risma hanya bisa menghela napas sambil menggelengkan kepala. " Ganteng sih ganteng Sheil, tapi liat tuh mukanya. Dingin banget kayak es kutub. aku masih gak habis pikir kenapa kamu bisa cinta mati banget sama dia, "
Saat Devano melewati barisan kelas Sheila, ia sempat memberhentikan langkahnya sejenak. Matanya yang dingin bertemu dengan tatapan antusias Sheila. Namun, bukannya memberikan senyum manis atau kedipan mata, Devano hanya menatap Sheila dengan tatapan misterius yang sulit diartikan, sebelum akhirnya melanjutkan langkah menuju barisan kelasnya.
Sheila tidak merasa kecewa, ia justru menganggap itu adalah cara keren Devano untuk menyapanya di depan umum. Ia tidak menyadari bahwa di balik tatapan dingin itu, Devano sedang merencanakan sesuatu yang akan merenggut kebahagiaan Sheila dalam waktu dekat.
" Dia tadi ngelihat aku, Ris! Dia pasti kangen karena semalam kita cuma sebentar, "racau Sheila dengan senyum yang tak pernah luntur.
Setelah upacara berakhir, Devano, Indra, dan Bayu tidak langsung menuju kelas. Mereka memilih berbelok ke arah rooftop sekolah, tempat tersembunyi di mana mereka biasa berkumpul tanpa gangguan guru. Angin sepoi-sepoi menerpa wajah tampan Devano, namun ekspresinya tetap dingin dan datar seolah tidak tersentuh oleh apapun.
Indra bersandar pada pembatas dak beton sambil menyalakan pemantik api, menatap Devano dengan senyum meremehkan. " Sudah dua tahun bos! Tapi lo gak pernah bisa sentuh dia sepenuhnya, "cibir Indra mengingatkan tentang waktu yang terbuang.
Bayu ikut melangkah maju, memberikan tekanan yang lebih berat pada sahabatnya itu.
" Tantangan kita masih berlaku sampai lo bisa check-in sama cewe bar-bar dan sok cantik itu..." Bayu terdiam beberapa saat, menatap mata Devano dengan tajam. " Atau lo bener-bener cinta sama dia? Sampai gak berani merusak mahkotanya? "
Mendengar kata cinta, Devano terkekeh sinis. Suara tawanya terdengar begitu kering dan menakutkan. Ia membuang pandangannya ke arah lapangan sekolah di mana siswa-siswi terlihat seperti semut dari ketinggian itu.
" Cinta? Jangan bercanda, "ucap Devano dengan suara rendah yang penuh manipulasi. " Sheila itu cuma gadis bodoh yang terlalu gampang disetir. Gue cuma menunggu waktu yang tepat sampai dia bener-berner berlutut dan menyerahkan segalanya tanpa gue paksa, "
Indra dan Bayu saling melirik, tersenyum puas mendengar jawaban sang ketua geng. Mereka tahu bahwa bagi Devano, wanita hanyalah sebuah piala kemenangan yang harus ditaklukkan.
"Jadi, kapan lo bakal selesaikan taruhan ini? Motor sport keluaran terbaru sudah menunggu lo di dealer kalau lo berhasil, "ucap Indra sambil menepuk bahu Devano.
Devano mematikan rokoknya di tembok, matanya berkilat penuh tekad yang gelap. " Segera. Gue udah mulai memberi kode semalam. Sedikit tekanan tentang 'jenjang serius' bakal bikin dia menyerah. Gadis seperti Sheila sangat haus akan kepastian, dan gue bakal kasih 'kepastian' itu malam ini, "
Tanpa Sheila sadari, dirinya hanyalah objek dari sebuah taruhan menjijikkan di antara tiga laki-laki yang ia anggap sebagai idola. Cinta tulus yang ia miliki kini berada di ujung tanduk, menunggu waktu untuk dihancurkan oleh sosok yang paling ia puja.
Dia pakai tangan kosong aku pakai kapak/Doge/