Di dunia kultivasi yang dipenuhi ambisi dan pengkhianatan, Lin Feiyan terlahir tanpa emosi—sebuah “kekosongan hidup” yang seharusnya membuatnya lemah. Namun kekosongan itu berubah menjadi sumber kekuatan paling menakutkan: Dao Kehampaan, hukum yang dapat menghapus apa pun hingga tak tersisa.
Ketika Heartshatter Temple—tempat yang membesarkannya—menghancurkan tubuh dan jiwanya demi eksperimen, Feiyan bangkit kembali tanpa hati, tanpa rasa takut, dan tanpa batas.
Dengan teknik yang menelan cahaya, ingatan, dan keberadaan, ia melangkah di jalur kultivasi yang bahkan para dewa tidak berani sentuh.
Namun di balik kehampaannya, ada rahasia kelam tentang kelahirannya… rahasia yang bahkan Void sendiri tidak mampu sembunyikan.
Satu langkah demi satu pembantaian, Lin Feiyan naik melewati ranah mortal hingga immortal.
Bukan untuk balas dendam.
Bukan untuk kekuasaan.
Tapi karena kekosongan selalu lapar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bunga Pertama di Jalan Kultivasi
Pagi itu, lembah Awan Jernih diselimuti kabut putih tipis yang melayang perlahan seperti hela napas langit. Udara di sana mengandung keheningan yang bersih, seolah setiap embusan angin membawa serpih-serpih Qi murni yang belum tersentuh dunia. Di antara kabut yang lembut, sebuah gerbang batu berdiri kokoh dengan tiga ukiran besar: Awan Jernih.
Lin Feiyan berhenti tepat di depan gerbang itu.
Ia memandang tulisan itu lama, jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Tanpa sadar, ia menarik napas panjang. Udara lembah yang dingin menyentuh paru-parunya, membawa sensasi segar yang belum pernah ia rasakan di kampung kecil tempat ia dibesarkan. Angin spiritual mengusap rambut hitamnya yang halus, membuat ujung jubah lusuhnya bergoyang pelan.
Semuanya terasa baru. Terasa luas.
Seolah ia hanya titik debu kecil yang akhirnya berhadapan dengan dunia yang sebenarnya.
“Mulai hari ini… aku benar-benar akan memulai perjalanan kultivasi,” bisiknya pada dirinya sendiri.
Ia menatap kedua tangannya. Jemarinya kurus dan pucat. Tangan yang sejak kecil hanya dipakai membantu ayahnya membawa karung gandum atau menimba air di sumur desa. Tidak ada yang luar biasa darinya. Tidak ada tanda-tanda bahwa ia ditakdirkan menjadi seseorang yang hebat.
Namun, impian kecil itu tetap tumbuh.
Ia ingin menjadi lebih kuat. Tidak untuk menguasai dunia, tidak untuk meraih kemuliaan. Hanya agar ia tidak lagi menjadi beban, agar ia bisa melindungi mereka yang berharga baginya, sekalipun dunianya begitu kecil.
Feiyan melangkah masuk melewati gerbang. Cahaya pagi jatuh di pundaknya ketika ia memasuki halaman luas yang dikelilingi tebing hijau. Dari kejauhan, suara air terjun seperti irama alam. Murid-murid baru bergerak ramai—ada yang terlihat bersemangat, ada yang gugup, ada yang penuh percaya diri.
Jubahnya sederhana dan warnanya sudah memudar, membuatnya tampak berbeda dari para pemuda dari keluarga terpandang yang mengenakan kain bersih dan ikat pinggang mahal. Namun, Feiyan tetap melangkah dengan hati-hati, berusaha tidak menabrak siapa pun.
Semakin jauh ia berjalan, semakin jelas ia mendengar percakapan di sekitar.
“Katanya ada murid dari Klan Lei yang akan mendaftar tahun ini. Talenta tingkat tinggi.”
“Dan anak keluarga Yuan juga. Mereka bilang inti spiritualnya bercahaya sejak lahir.”
Feiyan hanya tersenyum kecil, meski dada kirinya terasa sedikit hangat dan cekat. Bukan iri. Lebih seperti… sadar diri.
Di tengah lapangan, para murid baru dibariskan. Formasi bergelombang dari cahaya biru melingkar di lantai batu—sebuah formasi pemeriksaan talenta. Beberapa elder berdiri di sisi formasi, jubah mereka berwarna putih dengan garis biru pucat yang melambangkan kemurnian sekte.
Salah satu elder maju selangkah. Janggutnya memutih tetapi sorot matanya tajam, seperti bisa melihat menembus hati setiap murid.
“Mulai pemeriksaan,” katanya pelan, namun suaranya bergema halus di seluruh lapangan.
Satu per satu, para murid melangkah ke tengah formasi. Cahaya biru naik, menyelimuti tubuh mereka, lalu kristal kecil di tangan elder menyala menunjukkan tingkat talenta.
“Talenta Unggul.”
“Talenta Luar Biasa.”
“Talenta Tinggi.”
Setiap kali tingkat talenta tinggi diumumkan, beberapa murid menoleh, berbisik, atau menghela napas kagum. Mereka yang mendapat hasil bagus tampak menahan senyum, sementara beberapa lainnya menunduk kecewa.
Feiyan berdiri di barisan tengah. Ia menggenggam kedua tangannya erat-erat di balik lengan jubahnya. Semakin nama-nama dipanggil, semakin ia merasa tubuhnya ringan tapi gelisah, seperti daun yang siap diterbangkan angin.
Ia mendengarkan dengan sabar.
“Yuan Zhen. Talenta Tinggi.”
“Lei Shanyu. Talenta Unggul.”
“Wu Ning. Talenta Menengah.”
Sorakan kecil terdengar. Beberapa murid saling bertukar pandang penuh rasa hormat. Mereka yang berasal dari keluarga terpandang sudah mendapat perhatian sejak sebelum pemeriksaan dimulai. Dan sekarang, hasil mereka semakin menegaskan jarak itu.
Feiyan menelan ludah. Ia memandang ujung sepatu kainnya yang sederhana.
“Aku hanya perlu tahu hasilnya,” ucapnya dalam hati. “Apa pun yang keluar… aku hanya harus bekerja lebih keras.”
Nama demi nama berlalu, hingga akhirnya—
“Lin Feiyan.”
Jantungnya berdenyut keras. Langkahnya terasa ringan namun berat pada saat yang sama saat ia maju ke tengah formasi. Cahaya biru menyelimuti tubuhnya perlahan, seperti kabut hangat yang memeriksa setiap inci dirinya.
Tak ada suara selama beberapa detik.
Kristal di tangan elder berkedip sekali. Lalu redup.
Sekejap, suasana menjadi sunyi.
Kemudian elder itu menggerakkan ujung janggutnya sedikit dan berkata dengan nada datar, hampir seperti mengucapkan sesuatu yang sudah sangat biasa ia dengar setiap tahun:
“Talenta… Kelas Biasa.”
Ada jeda pendek yang tidak berarti apa-apa, tetapi terasa cukup panjang untuk menusuk pelan dada Feiyan.
Beberapa murid di belakang menahan tawa, tidak keras, tetapi cukup jelas.
“Ah… kelas biasa.”
“Pantas saja jubahnya lusuh.”
“Desa terpencil, ya?”
Feiyan menunduk sedikit, tidak dalam, hanya sejauh yang diperlukan untuk menyembunyikan rona merah tipis di pipinya. Ia tidak marah. Tidak merasa diserang. Hanya malu. Hanya… kecil.
Elder itu mengangguk ringan padanya, tidak mengejek, tidak menghibur.
“Hasil tidak menentukan semuanya. Kerja keraslah.”
Feiyan menatap elder itu, lalu membungkuk dalam-dalam. “Terima kasih, Elder.”
Ia melangkah kembali ke barisan, merasakan beberapa pandangan yang memandanginya tidak dengan hina, tetapi dengan rasa kasihan samar. Perasaan itu lebih menusuk daripada ejekan.
Namun, saat ia berdiri kembali di barisannya, ia mengangkat wajah.
Langit di atas tebing tampak lebih biru dari biasanya.
Ia menarik napas, menenangkan dirinya. “Tidak apa,” bisiknya. “Kalau talenta tidak cukup… aku hanya perlu belajar lebih giat daripada mereka.”
Ia menyentuh dadanya, tepat di atas jantung.
Ia tidak tahu mengapa ia merasa ada sesuatu yang kecil dan hangat berdenyut perlahan di dalam sana, seakan mencoba menenangkan dirinya.
Setelah pemeriksaan selesai, para murid dipersilakan menuju ke perumahan murid tingkat awal. Keramaian perlahan bubar. Beberapa murid berbakat berkumpul bersama, saling memuji, sementara sebagian lainnya berjalan sendiri-sendiri dengan pikiran masing-masing.
Feiyan berjalan pelan melewati jembatan kayu kecil yang menghubungkan lapangan dengan area tempat tinggal. Di bawah jembatan, sungai jernih mengalir membawa aliran Qi lembut. Gemericiknya menenangkan, seolah alam sendiri menghibur hatinya.
Ia berhenti sebentar, menatap air yang memantulkan wajahnya.
Wajah itu bukan milik seorang jenius. Bukan milik seseorang yang terlahir dengan bakat besar.
Namun matanya tetap jernih. Masih memantulkan harapan yang tidak padam.
Dengan langkah yang lebih ringan, ia meneruskan perjalanan menuju pondok para murid baru.
Pondok murid tingkat awal berdiri berderet sepanjang lereng bukit kecil, dikelilingi bambu tipis yang bergoyang diterpa angin lembah. Setiap pondok terbuat dari kayu pucat, sederhana namun bersih. Dari jendela-jendelanya, cahaya emas matahari sore menembus masuk, memantulkan kilau lembut pada lantai kayu.
Lin Feiyan berjalan pelan menyusuri jalan setapak yang menghubungkan satu pondok ke pondok lainnya. Para murid lain baru saja menempati kamar masing-masing, beberapa terlihat saling menyapa, beberapa langsung mengobrol tentang rencana latihan pertama mereka.
Feiyan menemukan pondoknya di bagian paling ujung. Ukurannya tidak luas, hanya satu ruangan kecil dengan dipan kayu, meja pendek, dan rak kosong di dinding. Namun, saat ia mendorong pintu dan angin sore memasuki ruangan, ia merasa seperti diterima. Cahaya jatuh ke lantai, menyingkap debu halus yang naik perlahan, seakan ruangan itu pun ikut bernapas.
Ia meletakkan tas lusuhnya di samping dipan, lalu duduk. Punggungnya bersandar pada dinding kayu, dan dari celah-celah tipis jendela, ia bisa melihat langit lembah berubah menjadi warna keemasan.
“Ini… cukup hangat,” gumamnya.
Tidak ada kemewahan. Tidak ada perabot mahal. Namun tempat itu tenang, dan untuk pertama kalinya sejak pagi itu, ia merasa bisa bernapas lebih bebas.
Setelah beristirahat sebentar, ia duduk bersila di tengah ruangan. Ia ingin mencoba meditasi pertamanya sebagai murid Sekte Awan Jernih. Ia memejamkan mata, menarik napas lembut, mengikuti ajaran dasar kultivasi yang ia pelajari dari buku tua di desa.
Qi lembah perlahan memasuki tubuhnya.
Namun alirannya tidak mulus. Qi itu seperti benang tipis yang tersangkut di berbagai simpul. Setiap kali ia mencoba menariknya masuk lebih dalam, aliran itu berhenti di dada, terhambat seolah tubuhnya tidak sepenuhnya terbuka untuk menerima.
Ia mencoba lagi.
Pelan. Sabar.
Namun rasa berat itu tetap muncul. Seperti ada tirai halus yang menghalangi jalur Qi di tubuhnya.
Feiyan membuka mata.
Ia tidak kecewa. Hanya terdiam, mengamati telapak tangannya.
“Memang begini rasanya jika talenta biasa,” bisiknya. “Tidak apa… aku akan coba lagi nanti.”
Ia berdiri, menepuk debu halus dari lutut celananya. Ketika ia membuka pintu pondok, udara sore menerpa wajahnya. Cahaya matahari hampir turun sepenuhnya di balik tebing, menghasilkan pantulan jingga yang memandikan seluruh lembah. Angin lembut membawa aroma bunga liar yang tumbuh di hutan sekitar.
Feiyan berjalan mengikuti jalan kecil berbatu menuju bagian lembah yang lebih sepi. Ia ingin menenangkan pikirannya. Langkahnya akhirnya membawanya ke sebuah danau kecil di tengah sekte.
Danau itu dikenal sebagai Danau Embun Jernih, tempat yang sering digunakan murid untuk bermeditasi. Airnya jernih seperti kaca, dan kabut Qi tipis melayang di permukaan, membuat danau itu tampak seperti cermin langit.
Saat ia mendekat, ia melihat seseorang berdiri di tepi danau.
Seorang gadis.
Ia mengenakan gaun biru pucat yang bergerak lembut seiring angin. Rambutnya hitam panjang, tergerai tanpa hiasan apa pun, namun tampak bersih dan berkilau. Wajahnya tenang, kulitnya pucat lembut seperti kelopak bunga lotus yang baru mekar. Sorot matanya memandang danau dengan kedalaman yang sulit dijelaskan.
Ia tampak seperti bagian dari danau itu sendiri—tenang, jernih, dan tak memiliki suara.
Feiyan berhenti secara refleks. Ia merasa seperti sedang mengganggu pemandangan suci.
Namun gadis itu menoleh perlahan. Tatapannya bertemu dengan tatapan Feiyan.
Mata itu jernih, tanpa penilaian, tanpa rasa tinggi hati. Hanya kejernihan datar yang entah bagaimana membuat hati Feiyan bergetar.
“…Ah,” Feiyan menunduk sedikit, lalu tersenyum sopan. “Maaf, aku tidak bermaksud mengganggu.”
Gadis itu menggeleng pelan. “Tidak. Tempat ini bukan milikku. Kau boleh datang.”
Suaranya lembut, nyaring namun tidak menusuk, seperti aliran air. Feiyan mendekat beberapa langkah, menjaga jarak sopan. Ia berdiri di sisinya, memandang permukaan danau yang memantulkan warna langit.
Beberapa saat berlalu tanpa percakapan. Sunyi lembah tidak terasa canggung. Justru menenangkan.
Gadis itu menoleh sedikit. “Kau murid baru juga?”
“Iya.” Feiyan mengangguk cepat. “Aku Lin Feiyan.”
Ia ragu sejenak sebelum bertanya, “Bagaimana denganmu?”
“Gao Lian,” jawabnya pelan.
Nama itu terdengar lembut di telinganya. Feiyan menatapnya dengan sedikit kagum, meski ia berusaha tidak terlalu mencolok.
“Aku tadi melihat pemeriksaan talenta,” ucap Lian tiba-tiba.
Feiyan mengerjap. Ia menunduk, sedikit tersenyum malu. “Ah… ya. Talenta biasa.”
“Banyak yang tertawa.”
Feiyan menelan napas kecil. “Hm… aku memang begitu.”
“Kau tidak terlihat sedih.”
Feiyan mengangkat wajah, terkejut sekaligus bingung bagaimana menjawabnya. Ia berpikir sejenak sebelum berkata pelan, “Sedikit. Tapi… aku bisa mencoba lagi besok. Dan lusa. Dan seterusnya. Selama aku masih bisa bergerak, aku ingin tetap belajar.”
Gao Lian menatapnya lama.
Tatapannya tidak tajam. Tidak mengintimidasi. Hanya… mengamati. Seakan ia sedang mencoba memahami sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain.
“Kau… aneh,” ucapnya tanpa nada mengejek.
Feiyan tertawa kecil, meski pipinya memanas. “Iya, mungkin begitu.”
Angin lembut kembali berhembus, membuat rambut panjang Lian bergoyang pelan. Ia menatap Feiyan sekali lagi—kali ini lebih fokus. Matanya turun perlahan, berhenti tepat di area dada kiri Feiyan.
Feiyan menyadarinya. Ia berkedip bingung. “Ada yang… salah?”
Namun Gao Lian tidak menjawab.
Ia memajukan sedikit tubuhnya, mendekat sekitar satu langkah. Jarak itu tidak menyentuh batas sopan, namun cukup dekat sehingga Feiyan bisa merasakan aroma halus danau yang tercium dari pakaiannya.
Mata Gao Lian tetap terpaku pada dada Feiyan. Tatapannya tidak seperti sebelumnya. Ada kilatan kecil—kilatan heran, atau mungkin terkejut—yang muncul dan hilang secepat kabut yang tersapu angin.
Feiyan menelan ludah. “Um… Liu shijie? Apa ada… sesuatu—”
“Ada cahaya,” gumam Gao Lian lirih, seperti sedang berbicara pada dirinya sendiri. “Tapi tidak seperti cahaya Qi… lebih dalam dari itu. Seperti… sesuatu yang tertidur.”
Feiyan membeku.
Ia tidak mengerti. Ia tidak merasakan apa pun di tubuhnya selain beratnya latihan pertama tadi.
Namun Lian mengangguk pelan, seolah mengonfirmasi penglihatannya.
Ia memundurkan diri dengan langkah ringan. Wajahnya kembali datar, tetapi sorot matanya belum hilang sepenuhnya dari kebingungan.
“Maaf,” ucapnya akhirnya. “Aku hanya… melihat sesuatu.”
“Melihat apa?” Feiyan bertanya, bingung namun penasaran.
Gao Lian memalingkan wajah ke danau. “Mungkin… hanya ilusi. Aku tidak yakin.”
Ia menghela napas kecil, lalu berkata pelan, “Semoga latihanmu berjalan baik, Lin Feiyan.”
Feiyan tersenyum. “Terima kasih. Semoga latihanmu juga.”
Ia membungkuk sedikit, lalu mundur perlahan meninggalkan tepi danau. Namun sebelum ia melangkah terlalu jauh, ia mendengar suara lirih yang samar—begitu lembut sehingga angin hampir menelannya.
“…Mengapa ada sesuatu seperti itu… di jantungnya?”
Feiyan menoleh. “Hm? Kau bilang sesuatu?”
Namun Gao Lian hanya menggeleng pelan. “Tidak apa. Selamat malam.”
Feiyan tersenyum lagi, lalu berlalu.
Ia tidak mendengar gumaman gadis itu sebelumnya. Ia tidak tahu apa pun tentang cahaya aneh itu. Ia hanya merasakan semilir angin yang menepuk punggungnya, seolah dunia berkata bahwa perjalanannya baru saja dimulai.
Di dadanya, jantungnya berdetak pelan.
Satu detak.
Lalu satu lagi.
Seolah ada sesuatu yang ikut berdetak bersamanya—sesuatu yang bahkan dirinya belum menyadarinya.