NovelToon NovelToon
Vengeance Of A Killer.

Vengeance Of A Killer.

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Anak Genius / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Ilmu Kanuragan
Popularitas:192
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Lucas, pembunuh bayaran paling mematikan dari Akademi Bayangan Utara, adalah master pisau dengan elemen air yang tak tertandingi. Obsesinya untuk menjadi yang terbaik dan persaingannya dengan Diana, senior ahli pedang es, membentuk dirinya. Namun, kedamaian hancur saat akademi diserang. Master Loe dan Niama gugur, memicu amarah Lucas yang melepaskan kekuatan airnya menjadi badai penghancur. Di tengah reruntuhan, Lucas bersumpah membalas dendam atas kematian mereka. Dengan sebuah lambang spiral gelap sebagai petunjuk satu-satunya, ia memulai misi pencarian dalang di balik kehancuran ini. Akankah balas dendam mengubahnya atau ia menemukan kebenaran yang lebih dalam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akademi Bayangan Utara

Di jantung ibukota kerajaan yang megah dan kuno, tersembunyi sebuah akademi rahasia bernama Bayangan Utara.

Tempat berkumpulnya para ahli pedang dan petarung terhebat yang mengabdi kepada kerajaan.

Setiap harinya mereka ditempa dengan latihan keras. Ini menguji batas kemampuan.

Sebab hanya yang terkuat dan paling berdedikasi yang mampu bertahan dalam lingkungan penuh tekanan itu.

Seperti pemuda bernama Lucas. Ia memiliki rambut hitam belah dua tengah dan sepasang mata tajam.

Dia selalu terlihat sibuk mengasah bilah pisau di tangannya.

Lucas berkata lirih kepada rekannya di sampingnya, "Pisau ini adalah napas keduaku, tanpanya, aku bukanlah siapa-siapa dalam setiap bayangan."

Sebuah ungkapan yang memang benar adanya.

Karena dirinya selalu mengandalkan kecepatan dan ketepatan. Bergerak tak terlihat dari satu bayangan ke bayangan lain layaknya angin saat beraksi.

Menjadikan Lucas sebagai satu-satunya pembunuh bayaran paling mematikan yang pernah dihasilkan akademi itu.

Suara gesekan bilah pisau di udara menjadi melodi biasa. Di lapangan latihan rahasia yang tersembunyi di kedalaman istana.

Lucas tampak sedang mencoba gerakan baru. Gerakan yang dia pelajari semalam.

Dia meliuk-liuk di antara maneken kayu. Dengan kecepatan yang hampir tidak terlihat.

Lalu seorang instruktur berjanggut lebat, Master Loe, menghampirinya.

Master Loe mengangguk perlahan dan berkata, "Bagus Lucas, gerakanmu semakin mulus tetapi perhatikan posisi pergelangan tanganmu."

"Sedikit saja meleset bisa fatal saat di lapangan nanti," tambahnya.

Lucas membalasnya dengan napas terengah-engah, "Aku akan terus berlatih, Master."

"Aku ingin menguasai teknik ini sampai sempurna," lanjutnya. "Sehingga setiap serangan aku tidak pernah meleset."

Ini menunjukkan tekadnya yang membara untuk menjadi yang terbaik.

Kemudian Master Loe melempar sebuah pisau latih ke arahnya.

Master Loe berkata, "Mari kita lihat seberapa cepat refleksmu sekarang."

"Anggap itu rintangan tak terduga yang datang dari arah tidak terduga."

Lucas segera menangkap pisau itu dengan tangan kosong. Gerakannya sangat cepat bagai kilat.

Lalu dengan spontan ia melancarkan serangkaian tebasan cepat ke maneken di depannya.

Ini menciptakan ilusi bayangan ganda dari bilah pisaunya.

Kemudian Master Loe mengulas senyum tipis.

"Kau memang tidak pernah mengecewakan, Lucas," kata Master Loe.

"Kecepatanmu adalah aset terbesar tetapi ingat, kecepatan tanpa kecerdikan hanyalah kesia-siaan."

Setelah latihan berakhir, Lucas terlihat kelelahan. Namun wajahnya masih memancarkan semangat yang tidak padam.

Ia duduk bersandar di salah satu pilar batu berukir kuno. Di pelataran latihan itu.

Lucas menyeka keringat di dahinya. Lalu rekannya sesama assassin bernama Niama menghampirinya.

Niama bertanya, "Kau tidak pernah menyerah, ya? Padahal latihan hari ini lebih berat dari biasanya."

Lucas hanya terkekeh pelan dan menjawab, "Menyerah bukan pilihan, Niama."

"Akademi ini mengajarkanku bahwa setiap tetesan keringat adalah investasi untuk masa depan."

"Dan setiap luka adalah pelajaran berharga yang tidak bisa ditukar dengan apapun."

Niama kemudian duduk di sampingnya. Dia menatap Lucas dengan sorot mata lembut dan penuh kekaguman.

Lalu berkata pelan, "Aku selalu kagum melihat caramu berlatih."

"Kamu seperti tidak pernah kehabisan energi dan fokusmu itu selalu luar biasa."

Lucas hanya menoleh sekilas tanpa ekspresi berarti. Matanya tetap tertuju pada bilah pisau di tangannya yang sudah kembali diasah.

Dia menjawab datar, "Itu hanya bagian dari rutinitas saja."

"Lagipula setiap detail kecil itu penting jika kamu ingin bertahan di sini."

Seolah perkataan Niama tidak terlalu menarik perhatiannya.

Karena memang seluruh pikirannya saat itu hanya terpaku pada bagaimana caranya menyempurnakan setiap goresan di bilah pisaunya.

Ketika Master Loe memperlihatkan gulungan perkamen kuno. Isinya sketsa teknik baru yang rumit dari seorang master legendaris.

Itu terjadi di balai pertemuan istana yang sunyi.

Niama terlihat kebingungan dan berbisik kepada Lucas, "Gerakan itu cepat sekali, aku bahkan tidak bisa melihat celahnya."

Tetapi Lucas justru memutar ulang bagian-bagian tertentu dari sketsa itu dengan sangat teliti.

Sambil mengamati setiap detail pergerakan kaki dan tangan master itu.

Lalu dia tiba-tiba berucap, "Ada jeda sepersekian detik di sini, tepat sebelum ayunan terakhirnya, itu bisa dimanfaatkan."

Sebuah analisis yang sangat akurat padahal baru pertama kali melihatnya.

Kemudian Lucas berdiri. Mengambil pisau latihnya.

Dalam beberapa detik saja dia sudah mampu meniru gerakan master legendaris itu. Dengan presisi yang mengejutkan di tengah aula latihan.

Bahkan dia menambahkan sedikit variasi. Ini untuk menutup celah yang baru saja ditemukannya.

Membuat Master Loe yang sedang memperhatikan dari jauh tersenyum puas.

Lalu Niama menatapnya dengan kekaguman yang semakin jelas di matanya.

Dia berkata lirih, "Kau memang luar biasa, Lucas, aku tidak tahu bagaimana kamu bisa melakukannya secepat itu."

Tetapi Lucas hanya mengedikkan bahu acuh tak acuh.

Kemudian dia kembali sibuk mengamati gulungan perkamen itu. Seolah semua pujian itu tidak lebih penting daripada analisisnya terhadap sketsa tersebut.

Pagi berikutnya, sesi latihan terasa berbeda.

Karena Master Loe memulai pelajaran baru tentang pengendalian elemen.

Dia menjelaskan bahwa setiap orang di dunia ini dilahirkan dengan ikatan elemen unik.

Elemen itu harus dikuasai untuk mencapai potensi tertinggi.

Master Loe berkata, "Ingat, elemen bukan hanya kekuatan, tetapi juga cerminan jiwamu."

"Niama, kau memiliki elemen api yang membara."

"Sementara Lucas, elemenmu adalah air yang mengalir tenang."

Lucas dan Niama saling pandang. Mereka mencoba memahami kedalaman makna di balik kata-kata sang Master.

Lucas kemudian memejamkan mata. Memfokuskan pikirannya.

Dalam sekejap butiran-butiran air di bejana perunggu di depannya mulai bergerak pelan.

Membentuk gumpalan kecil yang melayang di udara. Ini mengikuti setiap gerakan tangannya.

Lalu Master Loe mengangguk melihat kontrol Lucas yang luar biasa.

Master Loe berkata, "Bagus sekali Lucas, kelenturan air itu sempurna untuk kecepatan dan adaptasi."

"Yang selalu kau gunakan dalam setiap gerakanmu," tambahnya.

Niama yang melihatnya langsung mendesah kagum.

"Kontrol airmu sangat akurat," kata Niama.

"Aku bahkan tidak bisa membuat percikan api tetap stabil seperti itu," menunjukkan kekaguman yang mendalam terhadap bakat alami Lucas.

Master Loe lalu berdiri di tengah lapangan. Atmosfer sekitarnya tiba-tiba menjadi dingin dan gelap.

Dari telapak tangannya muncul gumpalan kabut hitam pekat. Kabut itu mulai menyebar perlahan.

Memenuhi seisi ruangan.

Niama refleks berbisik kepada Lucas dengan sedikit gentar, "Kekuatan Master Loe memang selalu membuatku merinding."

Tetapi Lucas justru menatap tajam ke arah kabut itu. Matanya mencari setiap celah atau pergerakan aneh di dalamnya.

Karena instingnya berkata ada sesuatu yang lebih dari sekadar pengendalian elemen biasa.

Seolah Master Loe memperlihatkan lebih dari sekadar kegelapan, melainkan intisari dari sebuah misteri yang harus dipecahkan.

Di sisi lain lapangan, terlihat seorang senior perempuan bernama Diana.

Dia adalah sosok yang selalu dingin dan tenang.

Diana sedang berlatih dengan dua bilah pedang di tangannya. Gerakannya tajam dan mematikan.

Diiringi desiran es yang muncul setiap kali pedangnya mengayun.

Lalu Niama mendekati Lucas dan berbisik, "Kau masih saja mengawasinya."

"Padahal kamu tahu sulit sekali menandingi Diana dengan elemen es dan kecepatan pedang gandanya yang luar biasa itu."

Lucas hanya mengernyitkan dahi. Matanya tidak lepas dari setiap gerakan Diana.

Kemudian dia berkata pelan, "Setiap gerakan itu menyimpan celah, dan aku pasti akan menemukannya."

Lucas kemudian menghabiskan sisa waktu latihannya. Dengan mengamati Diana dari kejauhan.

Ia melihat bagaimana Diana mengombinasikan elemen esnya dengan serangan pedang ganda yang tak terduga.

Lalu ia bergumam kepada dirinya sendiri, "Aku harus bisa mengalahkan Diana."

"Dia adalah tantangan terbesar di akademi ini." Sebuah tekad yang tak pernah goyah.

Karena dirinya tahu bahwa mengalahkan Diana adalah langkah selanjutnya.

Ini untuk menguasai setiap aspek dari kelas assassin dan elemen airnya yang fleksibel.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!