NovelToon NovelToon
INGRID: Crisantemo Blu

INGRID: Crisantemo Blu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:368
Nilai: 5
Nama Author: I. D. R. Wardan

INGRID: Crisantemo Blu💙

Di balik nama Constanzo, Ingrid menyimpan luka dan rahasia yang bahkan dirinya tak sepenuhnya pahami. Dikhianati, dibenci, dan hampir dilenyapkan, ia datang ke jantung kegelapan-bukan untuk bertahan, tapi untuk menghancurkan. Namun, di dunia yang penuh bayangan, siapa yang benar-benar kawan, dan siapa yang hanya menunggu saat yang tepat untuk menusuk dari bayang-bayang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I. D. R. Wardan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 Casa Nouva

Seorang gadis ber zip hoodie merah lengkap dengan headphone putih bertengger di lehernya terlihat berjalan dengan menyeret koper besar beserta sebuah tas ditengah bandara. Ia menghentikan langkahnya sejenak lalu mengarahkan netra Birunya ke sekitarnya mencari seseorang.

"Di mana sebenarnya Navarro?"gerutu kesal gadis itu.

Baru saja ia ingin melanjutkan gerutuannya, tiba-tiba sebuah botol minuman dingin menempel di pipi kanannya. Ia tau siapa pelakunya, dia orang yang telah membuatnya menunggu sangat lama sendirian di bandara.

Gadis itu mengambil botol minuman dari tangan itu, kemudian berbalik, dan langsung berhadapan dengan seorang pemuda yang berpenampilan agak berantakan. Pemuda itu meringis melihat ekspresi tidak bersahabat dari gadis didepannya.

"Maaf," sesal pemuda bernama Navarro tersebut.

Hening ...

"Maaf, aku benar-benar minta maaf, Adik kecil. Ban mobilku bocor dan ponselku kehabisan daya, maaf," mohon Navarro.

Hening sesaat ...

"Kau membuatku menunggu selama 3 jam." Navarro hanya bisa tersenyum canggung mendengar penuturan adiknya ini.

Tangan gadis tersebut terangkat. "Tapi aku akan memaafkanmu karena kau memberiku minuman coklat ini." Gadis itu berbalik, berjalan pergi meninggalkan Navarro bersama barang-barangnya.

Navarro tersenyum sumringah ia lalu membawa barang-barang adiknya dan bergegas menyusul langkah sang adik.

"Ingrid, tunggu aku!" seru Navarro.

Gadis bernama Ingrid itu tidak memperdulikan panggilan Navarro, ia terus berjalan hingga ia tidak sengaja menabrak seorang laki-laki. Untung saja ia tidak terjatuh.

Navarro memandang tajam laki-laki tersebut. Ia mengenal laki-laki bermasker itu, tidak disangka dia akan berada di sini. Namun, ia segera menetralkan ekspresinya begitu suara saudarinya menginstrupsinya.

"Hei! Navarro, ayo cepat!"

"Iya, iya, baiklah. Adik cerewet, ayo!"

"Apa!? Apa katamu barusan?" Ingrid tidak mendengar terlalu jelas perkataan Navarro.

"Ah, tidak, tidak ada." Navarro tersenyum manis.

Dari kejauhan, seorang laki-laki berhodie persis seperti milik Ingrid berdiri mengamati semua kejadian itu dengan senyuman tipis. "Kenapa kau datang ..."

...•┈┈┈••✦ ♡ ✦••┈┈┈•...

Kini mereka berdua telah sampai di rumah Navarro, rumah dua lantai berpoles cat berwarna putih dan abu-abu pekad.

"Kau masuklah lebih dulu, aku akan membawa barang-barang mu," ujar Navarro.

Ingrid mengangguk, ia berjalan menuju pintu, kemudian membunyikan bel rumah tersebut. Tidak lama pintu terbuka, menampilkan seorang wanita berusia empat puluh lima tahun, yang masih terlihat awet muda.

"Ingrid akhirnya kau sampai, kenapa lama sekali? Selamat datang di rumah Bibi, sayang," tutur wanita bernama Nora, yang merupakan ibu dari Navarro.

Nora memeluk Ingrid, dia pun membalasnya. Ingrid bicara setelah melerai pelukan mereka. "Ada sedikit masalah tadi bibi, tapi sekarang sudah baik-baik saja." Ingrid tidak bilang jika Navarro terlambat menjemputnya.

Nora pun mengerti dan tidak lanjut bertanya mengapa mereka sangat terlambat. "Baiklah, Bibi mengerti. Ayo masuk, kau pasti lelah. Bibi sudah menyiapkan makanan untuk kita." Mereka masuk beriringan ke dalam rumah.

"Lupakan saja aku, tidak masalah," celetuk Navarro yang berpura-pura merajuk, membuat Ingrid dan Nora terkekeh.

...•┈┈┈••✦ ♡ ✦••┈┈┈•...

"Ini kamarmu sayang, Bibi harap kau suka. Karena mu akhirnya bibi bisa mendekorasi kamar untuk anak perempuan," ucap Nora saat menunjukkan kamar bagi keponakannya ini.

"Iya, ini sangat indah bibi, terima kasih."

"Akhirnya aku tidak perlu khawatir lagi tentang seprai kasurku yang akan berubah menjadi merah muda," lega Navarro, yang langsung dihadiahi pukulan keras di lengannya oleh sang ibu.

"Kau ini, apa tidak bisa biarkan ibu bahagia!?" kesal Nora.

"Sudah ayo! Biarkan putriku istirahat. Sayang, istirahatlah dengan nyaman. Bila ada sesuatu panggil saja bibi atau Varro." Nora membawa Navarro keluar dari kamar Ingrid agar keponakannya itu bisa istirahat.

Pintu tertutup, meninggalkan Ingrid bersama kamar barunya yang bernuansa biru bertema putri ini. Sejujurnya ia merasa seperti anak-anak lagi, tapi ia tidak mempermasalahkan itu, ia menyukainya. Namun, tetap saja, ini bukan rumah.

Ia berjalan menuju balkon lalu menikmati pemandangan perumahan sekitar. Ia tidak masih tidak percaya sudah berada di rumah bibinya, padahal kemarin ia masih tinggal di rumahnya sendiri. Kini ia akan tinggal dan menjalani kehidupan dengan lingkungan baru dan orang-orang baru.

Ingrid menengadahkan kepalanya ke arah langit malam yang dipenuhi bintang.

"Ayah aku tidak akan melupakan tujuanku datang kemari, tolong terus awasi aku dari atas sana."

Bulir-bulir air mata jatuh begitu saja tanpa permisi, ketika Ingrid mengingat sang ayah. Air mata turun menjelajahi pipinya, bibirnya merapat menahan suara isakan, tangannya menggenggam pembatas balkon dengan erat. Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam tangisan kesedihannya, karena setelah ini pasti dia akan merasa lebih baik.

Beberapa saat kemudian, tangisannya mereda, dan benar saja ia merasa lebih lega. Ia terdiam beberapa saat, lalu berlalu masuk kembali ke dalam kamar untuk membersihkan diri dan dilanjutkan dengan mengistirahatkan tubuhnya setelah perjalanan penjang hari ini.

...•┈┈┈••✦ ♡ ✦••┈┈┈•...

"Pagi, Bibi," sapa Ingrid.

"Pagi, sayang."

"Bagaimana tidurmu, sayang? Jika ada yang membuat tidak nyaman katakan saja pada Bibi."

"Tidurku nyenyak Bibi, tidak ada yang menggangguku. Bibi tidak perlu khawatir, jika ada sesuatu aku pasti akan mengatakannya."

"Bagus jika begitu, jangan sungkan pada Bibi, ini rumahmu juga sekarang. Duduklah, sarapan sudah siap." Ingrid mengangguk.

"Emm...," netra biru milik Ingrid memindai ke penjuru ruangan, "di mana Navarro?" tanyanya karena sedari tadi ia tidak melihatnya.

"Dia sedang pergi lari pagi, dia memang biasanya seperti ini, dia akan kembali sebentar lagi. Oh, lihat dia sudah kembali."

"Pagi semuanya!"

"Pagi Varro."

"Pagi sayang. Ayo sarapan."

"Baik, Ibuku sayang."

Merekapun sarapan bersama sambil sesekali berbincang dan bercanda. Setelah selesai sarapan Nora berpamitan untuk pergi bekerja.

"Varro, ajak Ingrid berkeliling kota hari ini. Dia pasti bosan jika terus di rumah, lagi pula ia akan tinggal di sini sekarang jadi dia harus tau tentang kota ini. Bagaimana Ingrid, kau maukan?"

"Ya, aku mau."

"Bagus, Varro jaga adikmu. Ibu pergi dulu, sampai jumpa."

"Tenang saja Bu, serahkan semuanya padaku." Nora pun pergi dengan menggunakan mobilnya.

"Bersiap-siaplah adik kecil, kita akan pergi sebentar lagi, aku akan pergi mandi sebentar." Varro mengacak-ngacak rambut Ingrid yang segera ditepis oleh Ingrid.

"Jangan panggil aku adik kecil, kita hanya berbeda empat bulan," keluh Ingrid, membuat Navarro tertawa.

"Tetap saja, aku empat bulan lebih dulu menghirup oksigen dibanding dirimu, adik kecil." Ia mencubit kedua pipi Ingrid dengan kencang, kemudian dengan cepat berlari menuju kamarnya sebelum sepupunya itu menghabisinya.

•┈┈┈••✦ ♡ ✦••┈┈┈•

1
minato
Terhibur banget!
I. D. R. Wardan: makasih udah mampir, semoga gak bosan ya🥹💙
total 1 replies
Yuno
Keren banget thor, aku jadi ngerasa jadi bagian dari ceritanya.
I. D. R. Wardan: Makasih ya🥹
total 1 replies
Yoh Asakura
Menggugah perasaan
I. D. R. Wardan: Makasih ya🥹 author jadi makin semangat nulisnya 💙
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!