NovelToon NovelToon
Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Penyesalan Suami
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Elvy Anggreny

Kesalahan di masa remajanya membuat Dewi harus menerima konsekuensi dari semua itu. Memiliki dua orang anak tanpa suami membuat Dewi menjadi bahan pembicaraan di kampungnya. Hingga suatu hari dia menerima lamaran dari saudara ayahnya yang memiliki seorang anak laki laki. Bertahun-tahun berumah tangga Dewi dan Randi belum memiliki anak. Segala cara mereka melakukan, pengobatan tradisional sampai ke dokter kandungan yang terbaik di kota mereka tidak menunjukkan tanda-tanda kehamilan.
Dewi mulai lelah menghadapi tuntutan suami dan keluarga suaminya yang menginginkan keturunan. Hingga semua keluarga besarnya berprasangka buruk pada Dewi, mereka mengatakan kalau Dewi itu mandul karena minum obat ketika belum bersuami.

Suami Dewi juga mulai terpengaruh dengan pembicaraan orang orang. Pertengkaran menjadi hal biasa. Setiap kali ada pertemuan keluarga, mereka selalu mengatakan agar Randi menikah lagi. Agar bisa memiliki anak.


Bagaimana kisah selanjut

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvy Anggreny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Plak.......

Kali ini suara tamparan itu terdengar lagi di telinga kedua anak Dewi, ini sudah keberapa kalinya mereka mendengar suara tamparan dan mereka tau kalau ayah mereka yang menampar ibu mereka.

Mereka hanya bisa diam, bukannya tidak ingin dan tidak bisa membela ibu mereka, Dewi selalu mengatakan bahwa, pertengkaran dalam rumah tangga itu wajar.

Salah paham antar suami dan istri memang ada. Jadi dia tidak mau anak anaknya ikut merasakan apa yang Dewi rasa. Dengan melarang mereka ikut campur.

"Kak..ibu pasti kesakitan " Suara bisikan dari anak kedua Dewi. Arumi sering melihat bagaimana ayahnya memukuli ibunya. Seperti saat ini, mereka baru saja pulang sekolah. Mereka terpaku di depan pintu masuk karena mendengar suara tamparan itu.

Sedangkan Yan hanya diam mengepalkan tangan.Yan bukan tidak pernah berontak, dia bahkan pernah hampir memukul ayah tirinya karena Yan melihat bagaimana ayah tirinya ingin menyiramkan air panas ke tubuh ibunya.

"Semua kemauan ibu, kakak nggak bisa melakukan apa apa dek ? Kamu tau sendiri, kalau kakak membelanya. Ibu akan marah " Yan mengajak adik duduk di bangku panjang yang berada di sebelah tembok rumah mereka.

Arumi menangis diam diam..

"Sampai kapanpun itu nggak akan terjadi, ceraikan saya saja kak" Suara lantang Dewi semakin membuat Randi marah.

Pernikahan Dewi dan Randi sudah hampir 4 tahun. Dewi belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Bahkan Dewi menjadi buah bibir di lingkungan sekitarnya.

Dan kalau ada acara kumpul-kumpul bersama keluarga lain, mereka hanya akan membicarakan Dewi. Seakan akan hanya Dewi yang tidak memiliki kesempurnaan itu.

Suara dentuman pintu di banting menandakan kalau suami Dewi sudah pergi

Setelah Randi pergi Arumi masuk ke dalam menuju kamar ibunya. Arumi membuka pintu tanpa ada suara sama sekali.

"Bu..."

Arumi gadis berusia 12 tahun itu hanya bisa melihat tubuh ibunya terbaring di atas ranjang.. Arumi segera memeluk ibunya.

"Bu.. Arumi pulang"

Bahu Dewi terguncang karena menahan tangisannya. Dewi tak berbalik melihat anaknya sama sekali. Dia tidak ingin kedua anaknya melihat dia menangis. Tapi sudah beberapa kali kedua anaknya melihat dia di pukul oleh suaminya

Dewi bukanlah wanita yang tak berani melawan, tapi sejak dia menikah dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, pada ayah dan keluarganya kalau dia akan berubah menjadi istri yang baik dan penurut.

Selain itu Dewi tidak ingin kedua anaknya melihat pertengkaran mereka. Dewi tidak mau anak anak melihat dia menderita dengan pernikahan ini.

"Bu, Ayo bangun bu... Arumi mau peluk ibu" Semakin bergetar tubuh Dewi. Ya Arumi adalah anak yang sangat manja. Dia selalu bermanja-manja pada ibu dan kakaknya. Yan sudah kelas 12. Dia tipe anak yang sangat keras. Dewi tau kalau Yan sangat tidak suka pada ayah tirinya.

Dari awal menikah Yan tidak pernah dekat dengan Randi. Dewi selalu mencoba mendekatkan mereka namun Yan lebih banyak menghindar dan berdiam diri dalam kamar.

"Ibu..."

"Dek.. Ibu pasti tidur, biarkan ibu istirahat, kamu makan duluan aja kakak keluar sebentar ya"

"Baik kak.. Bu, Arumi makan dulu ya. ibu cepet bangun. Arumi mau peluk ibu" Suara Arumi bergetar.

Dewi tetap diam dan menutup mata berpura-pura tidur. Sampai kedua anaknya keluar dan menutup pintu kamar. Dulu ia berpikir menjalani kehidupan pernikahan itu pasti sangat menyenangkan, Dewi sering melihat bagaimana teman temannya bercerita tentang kehidupan rumah tangga mereka.

Empat tahun pernikahan yang di jalani Dewi hanya di tahun tahun pertama dia merasa rumah tangganya baik baik saja, perlakuan suaminya juga baik. Keluarga suaminya pun seperti itu. Semua baik baik saja walaupun dia tetap jadi omongan keluarga suami di belakangnya . Memasuki tahun ketiga ibu mertuanya mulai bertanya kenapa belum hamil atau sengaja menyindir Dewi.

Randi memiliki 2 saudara perempuan dan dia anak kedua, dia adalah anak laki laki satu satunya di keluarga tantenya adik dari ayah Dewi.

Hal yang wajar kalau ibu mertuanya sangat menginginkan cucu kandung dari Randi. Namun Dewi bisa apa, segala cara sudah Dewi coba. Menggunakan obat tradisional. Berobat ke dokter terbaik. Bahkan mereka pernah konsultasi dan memeriksa kondisi rahim Dewi ke Bali, semua hasil pemeriksaan mengatakan rahim Dewi baik baik saja tapi hasilnya belum ada sampai saat ini.

Randi juga memeriksa kesehatannya, sampai saat ini semua baik baik saja

Orang tua Dewi dan Randi tinggal di kampung tapi beda desa. Mereka tinggal berjauhan. Dewi serta kedua anaknya dan suami mereka tinggal di kota. Karena Dewi juga bekerja di kota. Randi belum memiliki pekerjaan tetap. Dia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, jika bosan di rumah dia akan ke rumah kakaknya yang tinggal di kota yang sama dengannya.

Sudah hampir beberapa bulan Randi selalu berlaku kasar pada Dewi. Dulu Randi sering membela Dewi. Hingga permintaan Randi yang ingin menikah lagi membuat Dewi beberapa kali menerima tamparan jika ia menolak keinginan Randi. Dewi lebih baik di ceraikan dari pada harus di madu.

Namun Randi juga tidak ingin menceraikan Dewi.

Hari ini Randi datang dan mengatakan lagi akan melamar wanita yang ingin dinikahinya. Namun Dewi menolak.

Pukul 7 malam Dewi bangun, rupanya dia sampai tertidur. Ketika bangun dia melihat di meja makan sudah tertata makanan. Dewi tau ini pasti pekerjaan kedua anaknya.

Setelah selesai mandi, Dewi mencari kedua anaknya. Melihat mereka sedang duduk sambil menonton televisi. Dewi juga ikut bergabung, seakan-akan tidak terjadi apa-apa.

"Kakak yang masak ya?" Tanya Dewi, Yan menatap ibunya lama. Kemudian dia mengangguk.

"Arumi juga bantu kakak masak Bu "

"Oh ya, wah.. Anak ibu sudah besar" Sahut Dewi

"Kan udah kelas 7 bu. Arumi udah pasti bisa masak dong " Jawab Arumi.

"Iya sayang, anak anak ibu emang paling pintar dan rajin "

Arumi tertawa mendengar pujian ibunya, Yan hanya diam tak ada respon apapun. Pandangannya tertuju ke layar televisi.

"Bu.. hari Jumat Arumi ada rapat orang tua, ibu datang ya "

"Jam berapa sayang?"

"Jam 10 bu"

" Nanti ibu ke sana sayang"

"Iya.. Arumi tunggu ya Bu"

Dewi tersenyum dan mengangguk..

Setelah mereka selesai makan malam, Dewi merapikan piring yang sudah di cuci di bantu oleh Yan dan Arumi.

Arumi menyapu rumah, hal yang biasa mereka lakukan. Karena besok pagi-pagi mereka hanya siap ke sekolah.

Bunyi bel motor di depan rumah,. Dewi melihat jam sudah menunjukkan pukul 23:25 malam. Dewi tau itu suami nya yang pulang. Sudah jadi kebiasaan juga.

Menarik nafas dalam-dalam, Dewi membuka pintu. Tercium aroma minuman keras dari mulut Randi.

Dewi tidak bertanya, setelah itu Dewi segera ke kamar. Dewi juga tidak menyiapkan makanan karena Randi jarang makan malam di rumah.

Dewi merasakan gerakan di ranjang, tak lama kemudian Dewi juga merasakan pelukan di pinggangnya. Dewi tidak menepis tangan itu.

"Maaf sayang, maafkan saya" Bisik Randi di telinga Dewi.

Randi terus mendekatkan tubuhnya, Dewi bisa merasakan hembusan nafas Randi di tengkuknya.

Dewi tau, suaminya menginginkannya. Itu juga sudah jadi kebiasaan mereka. Selesai bertengkar mereka akan berbaikan lagi di ranjang. Hubungan suami istrilah yang menghilangkan marah dan rasa kesal.

Mungkin orang akan mengatakan bahwa Dewi wanita bodoh yang mau mempertahankan laki-laki pengangguran seperti Randi.

Dewi tidak bodoh, tak ada yang tau alasan Dewi terus bertahan dalam rumah tangganya. Walaupun Dewi harus menjadi sasaran empuk kedua tangan suaminya.

Dewi melayani suaminya dalam diam, dia tidak menolak ketika Randi meminta haknya sebagai suami. Pelayanan Dewi juga tidak menunjukkan kalau dia tidak ikhlas. Setelah semuanya selesai, Dewi keluar mengambil air untuk Randi.

Setelah membersihkan diri, Dewi kembali tidur membelakangi suaminya, sementara Randi juga telah membersihkan diri. Dia tidur memeluk Dewi dari belakang.

Randi mengecup kepala Dewi, sekali lagi dia membisikkan kata-kata permintaan maaf.

Ya.. Randi selalu menyesal setelah memukul istrinya.

"Maafkan saya sayang" bisik Randi lagi

Dewi mengangguk " Tidurlah "

Semua kembali seperti biasa hingga keesokan paginya, Dewi dan kedua anaknya sudah bersiap-siap ke kantor dan ke sekolah. Setelah selesai menyiapkan makanan untuk Randi, Dewi segera ke kantor.

"Makanan sudah saya siapkan, kalau kamu bangun lambat nanti panaskan lagi ya. Saya kerja dulu "

Terkirim

Dewi mengirimkan pesan pada Randi setelah tiba di kantor

Setibanya di tempat kerja Dewi duduk di meja kerjanya. Bekerja seperti biasa, sebuah tepukan di bahu Dewi mengalihkan perhatian Dewi.

"Pipi mu kenapa?"

Kening Dewi berkerut...

"Di labrak lagi sama suami kamu ?"

"Masa kelihatan? Padahal cuma sekali di tampar saja " Sahut Dewi tertawa kecil.

Deni menatap Dewi, mereka adalah teman kerja. Deni seorang duda yang tinggal pergi oleh istri karena istrinya berselingkuh dan memilih pria selingkuhannya.

Deni sudah lama menyukai Dewi, namun tidak ada yang tau karena Deni selalu menunjukkan rasa pedulinya sebagai sahabat dan teman kerja Dewi.

"Padahal dulunya jago cari masalah, kok bisa diam di gampar sama suami kamu gitu sih Wi ?"

"Huff... Anggaplah saya lagi berbakti sama suami, menjadi istri yang baik"

"Ya.. Ya.. Kamu memang istri idaman "

"Makanya, carilah istri yang seperti diriku ini"

"Nggak, Semua perempuan tu nggak beres"

"Kecuali saya ya "

Dewi bangun berdiri menghindari Deni...

Seperti itulah Dewi, di depan orang orang Dewi menganggap hal biasa ketika dia di perlukan seperti itu oleh suaminya.

*

*

*

Bersambung.....

Hai readers kesayangan ku.... sudah Up lagi ya " Aku bukan wanita mandul " semoga suka ceritanya ☺️ ☺️ 🙏🙏

1
Aliya Awina
pasti Jack yg lewat
Aliya Awina
betul2 keluarga Firaun
Aliya Awina
takut ketahuan konon tpi gak bisa klu gak deket dasar laki laki munafik kau rendi
Aliya Awina
keturunan konon macam saja kau org kaya
sudahlah miskin belagu pulak tuh
Aliya Awina
gimana ceritanya dorang bilang klau si Dewi mandul sudah jelas2 Dewi sudah perna melahirkan 2 kali malah.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!