Di malam gerhana darah yang terkutuk, Kerajaan Aethelgard kehilangan jantungnya. Putri Aurora Lyris Valerius, sang pewaris tunggal yang baru berusia satu tahun, diculik dalam kabut sihir hitam, meninggalkan tujuh kakak angkatnya dalam penyesalan abadi. Delapan belas tahun berlalu, sang Putri tidak tumbuh di atas ranjang sutra,melainkan di bawah cambukan dingin Kerajaan Noxvallys. Dikenal hanya sebagai "Ara", ia hidup sebagai pelayan rendahan yang disiksa oleh Putri Morena Valeska yang semena-mena.
Warning!!Cerita asli dan murni dari pikiran penulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apel manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Kehangatan dari tawa sore itu seolah menguap begitu saja saat malam merayap naik menyelimuti istana. Meskipun ketujuh pangeran telah bersumpah untuk menjaga Aurora, bayang-bayang Noxvallys tidak pernah benar-benar pergi. Di tengah kemegahan kamar barunya, Aurora menemukan sebuah benda yang tidak seharusnya ada di sana.
Di atas meja riasnya, tergeletak sebuah mawar hitam yang kelopaknya mengeluarkan aroma kayu busuk—ciri khas sihir Morena. Di bawah mawar itu, terselip secarik perkamen dengan tulisan merah yang tampak seperti darah.
..."Jangan terlalu nyaman di atas ranjang sutra itu, Aurora. Kau pikir mereka mencintaimu? Mereka hanya mencintai rasa bersalah mereka sendiri. Tanyalah pada Alistair, mengapa dia begitu mudah percaya pada darah saat pertama kali? Tanyalah pada Benedict, mengapa dia membiarkanmu diseret ke penjara? Mereka tidak menginginkanmu, mereka hanya menginginkan penebusan. Segera, aku akan menjemput apa yang menjadi milikku."...
Tangan Aurora gemetar. Pesan itu adalah racun yang lebih mematikan daripada cairan apa pun. Morena tahu persis di mana titik lemah Aurora: keraguan akan kasih sayang yang baru saja ia rasakan.
Di saat yang sama, di dapur istana yang sibuk menyiapkan makan malam, sebuah gerakan mencurigakan terjadi. Seorang pelayan bernama Silas—yang diam-diam merupakan mata-mata Malakor yang telah tertanam selama sepuluh tahun—mengeluarkan bubuk putih halus dari balik lengan bajunya. Dengan gerakan secepat kilat, ia menaburkan bubuk itu ke dalam sup kental yang akan dihidangkan untuk keluarga kerajaan.
"Sup untuk Raja dan para Pangeran sudah siap!" teriak kepala pelayan tanpa menyadari maut yang baru saja ditaburkan.
Aula makan malam malam itu terasa sedikit berbeda. Ketujuh pangeran masih saling melempar lelucon tentang kejadian di taman tadi siang, namun Aurora tampak diam dan pucat. Ia menyembunyikan surat dari Morena di dalam lipatan gaunnya.
"Aurora, kau tidak menyentuh supmu," ucap Evander lembut, memerhatikan adiknya dengan saksama. "Apa kau masih merasa lelah karena latihan Alistair yang 'sempurna' itu?"
"Aku hanya... tidak lapar, Kak," jawab Aurora dengan senyum yang dipaksakan.
Alistair, yang duduk di kepala meja di samping Raja Alaric, mengerutkan kening. Insting ksatria-nya menangkap kegelisahan Aurora. Namun, sebelum ia sempat bertanya, Benedict sudah lebih dulu mengangkat sendok supnya.
"Tunggu!"
Caspian tiba-tiba berdiri. Matanya yang tajam menatap ke arah permukaan sup di mangkuk Benedict. Sebagai pangeran yang paling banyak membaca tentang racun dan alkimia, ia menyadari sesuatu yang janggal.
"Ada lapisan minyak yang tidak wajar di permukaan sup ini," ucap Caspian dingin. Ia mengeluarkan sebuah cincin perak dari jarinya dan mencelupkannya ke dalam mangkuk.
Dalam hitungan detik, cincin perak itu berubah menjadi hitam pekat.
"RACUN!" teriak Alistair sambil berdiri dan menghunus pedangnya. "Tutup semua pintu! Jangan biarkan siapapun keluar dari area dapur!"
Kekacauan pecah seketika. Para pengawal menyerbu masuk. Di tengah kegaduhan itu, Silas si pelayan mencoba melarikan diri melalui pintu belakang, namun Gideon sudah lebih dulu melompat melewati meja makan dan menjatuhkannya dengan satu tendangan telak.
"Kau ingin pergi ke mana, tikus?!" geram Gideon sambil menekan wajah Silas ke lantai.
Alistair mendekati pelayan itu, wajahnya sangat mengerikan. "Siapa yang memerintahkanmu? Malakor? Atau Morena?"
Silas hanya tertawa gila, mulutnya mengeluarkan busa hitam. "Kalian terlambat... sang putri palsu tidak butuh racun untuk menghancurkan kalian. Dia sudah mengirimkan 'pesan' yang akan merobek hati kalian dari dalam!"
Alistair teringat ekspresi Aurora sejak tadi. Ia menoleh ke arah adiknya. "Aurora... apa yang dia maksud? Apa kau menyembunyikan sesuatu dari kami?"
Dengan air mata yang mengalir, Aurora mengeluarkan surat mawar hitam itu dan meletakkannya di meja. Alistair membacanya, dan wajahnya seketika memucat. Ia melihat bagaimana surat itu mencoba mengadu domba mereka dengan menggunakan kesalahan masa lalu mereka sendiri.
"Aurora, dengarkan aku," Alistair mendekati adiknya, mengabaikan Silas yang sedang diseret keluar oleh pengawal. "Morena ingin kau merasa tidak diinginkan. Dia ingin kau meragukan kami agar kau merasa sendirian. Tapi surat ini bohong."
"Tapi memang benar, Kak," bisik Aurora sesak. "Kalian hampir membiarkanku mati di penjara bawah tanah karena kalian lebih percaya pada sebuah pulpen daripada aku."
Suasana aula makan menjadi sunyi dan menyakitkan. Kata-kata Aurora adalah kebenaran yang jujur. Keenam pangeran lainnya menundukkan kepala, merasakan tusukan rasa bersalah yang kembali muncul.
"Itu benar," ucap Benedict sambil melangkah maju. "Kami melakukan kesalahan fatal. Dan kami tidak akan pernah bisa menghapus fakta bahwa kami menyakitimu. Tapi Aurora, kami tidak menjagamu sekarang untuk menebus dosa. Kami menjagamu karena kau adalah adik kami, karena kau adalah cahaya di tengah kegelapan kami."
Alistair berlutut di depan kursi Aurora, memegang kedua tangan kecil adiknya. "Morena mencoba menyerang mentalmu karena dia tahu dia tidak bisa mengalahkan kita secara fisik. Jangan biarkan dia menang. Jika kau ingin marah pada kami, marahlah. Jika kau ingin menghukum kami, lakukanlah. Tapi jangan pernah ragukan bahwa kami akan memberikan nyawa kami untukmu."
Aurora menatap ketujuh kakaknya. ia melihat kejujuran di mata mereka. Ia menyadari bahwa Morena baru saja memulai perang psikologis untuk menghancurkan Aethelgard dari dalam hati penghuninya.
"Aku tidak akan menyerah pada Morena," ucap Aurora tegas, menghapus air matanya. "Jika dia ingin perang, maka dia akan mendapatkannya."
"Itu baru adikku!" Gideon berseru, mencoba mencairkan suasana meskipun hatinya masih panas karena pengkhianatan Silas.
"Baiklah," Alistair berdiri, suaranya kembali menjadi komandan perang. "Strategi pertama: Caspian, periksa semua pasokan makanan. Benedict, perketat penjagaan kamar Aurora. Dan sisanya... besok kita akan mulai latihan yang sesungguhnya. Tidak ada lagi lelucon di taman. Aurora harus siap menghadapi Morena."
Malam itu, mereka tidak makan sup, melainkan hanya roti kering dan air putih. Namun, rasa persatuan mereka terasa lebih kuat daripada sebelumnya. Di kejauhan, Morena mungkin sedang tersenyum, namun ia tidak tahu bahwa racun dan suratnya justru telah menyatukan hati ketujuh naga Aethelgard dengan lebih erat di sekitar putri mereka.
Keheningan malam setelah kejadian racun di meja makan terasa sangat menekan. Istana Aethelgard yang megah kini dijaga lebih ketat dari biasanya. Obor-obor di setiap lorong menyala dua kali lebih terang, dan langkah kaki para ksatria berbaju zirah terdengar berbunyi tanpa henti. Namun, di dalam ruang rahasia di bawah menara pusat, sebuah penemuan besar sedang menanti Aurora.
Alistair membawa Aurora ke sebuah ruangan yang hanya bisa dibuka oleh anggota keluarga raja atau benda pusaka kerajaan. Ruangan itu dingin, dindingnya terbuat dari kristal biru yang menyimpan sejarah ribuan tahun keluarga Valerius. Di tengah ruangan, sebuah meja batu berdiri tegak, dan di sanalah Aurora meletakkan Pulpen Cendana Emas.
"Ada alasan mengapa Malakor sangat menginginkan benda ini," ucap Alistair sambil menatap pulpen itu dengan hormat. "Ini bukan sekadar alat tulis, Aurora. Ini adalah Inti Pelindung, pusat dari kekuatan pertahanan kerajaan kita. Cerita tua mengatakan, di tangan putri yang asli, benda ini bisa berubah bentuk menjadi senjata yang mengikuti keinginan pemiliknya."
Aurora menyentuh ukiran burung phoenix pada pulpen itu. "Tapi aku tidak tahu cara menggunakannya, Kak. Aku hanyalah seorang gadis yang terbiasa memegang sapu, bukan senjata ajaib."
"Tutup matamu," bisik Alistair. "Jangan gunakan matamu untuk melihat emasnya. Gunakan perasaanmu untuk merasakan detaknya. Benda itu mengenalimu, Aurora. Ia telah menunggumu selama delapan belas tahun."
Aurora memejamkan mata. Awalnya, ia hanya merasakan dinginnya logam. Namun perlahan, sebuah denyutan hangat mulai terasa di telapak tangannya. Denyutan itu selaras dengan detak jantungnya. Tiba-tiba, cahaya biru yang menyilaukan meledak dari celah-celah pulpen tersebut. Logam emas itu seolah mencair dan memanjang, berubah bentuk di genggaman Aurora menjadi sebuah tongkat pendek yang ujungnya runcing tajam seperti belati, namun tetap memancarkan keindahan.
"Ini..." Aurora terpana melihat senjata di tangannya. Senjata itu terasa ringan seperti bulu, namun ia bisa merasakan kekuatan besar yang tersembunyi di dalamnya.
"Itu adalah Tongkat Cahaya Bintang," gumam Caspian yang masuk bersama Benedict. "Luar biasa. Dalam catatan kuno, senjata itu hanya muncul saat kerajaan berada dalam bahaya besar. Aurora, kau bukan hanya seorang putri, kau adalah penjaga cahaya kami."
Namun, momen kekaguman itu terputus saat seorang prajurit penjaga masuk dengan napas terengah-engah. Wajahnya penuh dengan debu hitam bekas kebakaran dan baju zirahnya koyak.
"Pangeran Alistair! Gawat!" teriak prajurit itu sambil berlutut. "Desa Eldervale di perbatasan utara... mereka diserang! Pasukan bayangan Noxvallys membakar rumah-rumah warga!"
"Morena," geram Benedict. Tangan besarnya mengepal kuat. "Dia benar-benar melakukannya. Dia menyerang warga desa yang tidak tahu apa-apa hanya untuk memancing kita keluar."
"Ini jebakan," sahut Alistair dengan cepat. "Dia ingin kita membagi kekuatan. Jika kita semua pergi ke utara, istana akan kosong dan dia bisa masuk untuk mengambil takhta."
Aurora melangkah maju, tongkat ajaibnya masih bersinar redup. "Aku akan ikut."
"Tidak!" jawab ketujuh pangeran secara bersamaan.
"Terlalu berbahaya, Aurora!" Gideon mendekat, wajahnya penuh kekhawatiran.
"Kau baru saja memegang senjata itu. Pasukan bayangan Malakor bukan lawan yang mudah. Mereka bisa menghilang di tengah kegelapan."
"Justru karena itu aku harus pergi," suara Aurora terdengar tegas, membuat kakak-kakaknya terdiam. "Morena membenci aku. Dia membakar desa itu karena dia ingin aku melihat betapa lemahnya aku. Jika aku terus bersembunyi di balik punggung kalian, rakyat akan terus menjadi korban. Aku adalah putri mereka, dan aku akan melindungi mereka."
Alistair menatap mata biru Aurora yang kini berkilat dengan keberanian yang sama dengan Raja Alaric. Ia tahu, ia tidak bisa lagi memperlakukan Aurora seperti barang pecah belah yang harus terus disimpan.
"Baiklah," Alistair akhirnya setuju. "Benedict, Fabian, dan Gideon akan ikut bersamaku dan Aurora menuju Eldervale. Caspian, Evander, dan Darian tetap di istana bersama Ayahanda untuk menjaga benteng. Kita berangkat sekarang!"
Perjalanan menuju Eldervale memakan waktu beberapa jam dengan kuda tercepat. Saat mereka mendekati desa tersebut, langit malam yang hitam berubah menjadi merah membara. Asap tebal membumbung tinggi, membawa bau kayu terbakar dan jeritan ketakutan.
Aurora melihat rumah-rumah kayu yang dulu indah kini hancur dimakan api. Di tengah alun-alun desa, sosok wanita dengan gaun hitam pekat berdiri sambil tertawa. Itu Morena. Di sekelilingnya, makhluk-makhluk bayangan bermata merah tanpa wajah sedang menyeret warga desa yang tersisa.
"Lihat siapa yang datang!" teriak Morena saat melihat rombongan pangeran tiba. "Si Putri Pelayan membawa pengawalnya! Apa kau datang untuk minta ampun, Aurora?"
"Lepaskan mereka, Morena!" teriak Aurora sambil melompat turun dari kudanya.
"Lepaskan? Oh, mereka hanyalah kayu bakar untuk pestaku," Morena melambaikan tangannya, dan sepuluh makhluk bayangan segera melesat menyerang.
Benedict dan Alistair segera mengeluarkan pedang mereka, menebas setiap bayangan yang mendekat dengan gerakan yang mematikan. Gideon bergerak lincah dengan belatinya, melindungi Aurora dari samping. Namun, jumlah bayangan itu seolah tidak ada habisnya; setiap kali satu dikalahkan, dua lainnya muncul dari asap.
"Gunakan senjatamu, Aurora!" teriak Fabian sambil melepaskan anak panah api.
Aurora mengangkat tongkat emasnya. Ia ingat kata-kata Alistair tentang 'merasakan detak jantung'. Ia memusatkan seluruh rasa sakitnya, rasa rindunya pada rumah, dan amarahnya atas kejahatan ini ke ujung tongkatnya.
"Hentikan kegelapan ini!" jerit Aurora.
Sebuah gelombang cahaya biru murni terpancar dari tongkatnya, menyapu seluruh area desa. Cahaya itu tidak melukai warga desa, namun bagi makhluk bayangan, itu adalah racun yang menghancurkan.
Makhluk-makhluk itu menjerit nyaring sebelum hilang menjadi abu putih. Api yang membakar rumah-rumah pun perlahan padam, seolah ditekan oleh kekuatan suci Aurora.
Morena terhuyung ke belakang, matanya melotot tidak percaya. "Bagaimana mungkin... kau bisa menggunakan kekuatan itu?!"
"Kekuatan ini bukan milikku, Morena," ucap Aurora sambil melangkah maju dengan gagah. "Ini adalah kekuatan Aethelgard yang menolak kehadiranmu!"
Morena menggertakkan gigi, wajahnya yang cantik kini benar-benar rusak oleh rasa iri. "Jangan sombong! Ini baru permulaan!"
Morena mengucapkan mantra untuk berpindah tempat, namun sebelum ia menghilang, ia sempat melemparkan sebuah pisau hitam ke arah Aurora. Benedict dengan cepat menangkisnya, namun pisau itu meledak mengeluarkan asap beracun yang membuat pandangan mereka kabur. Saat asap hilang, Morena sudah tidak ada.
Suasana desa Eldervale kini sunyi. Warga desa perlahan keluar dari tempat persembunyian mereka. Mereka melihat ke arah gadis muda yang berdiri di tengah alun-alun dengan tongkat bersinar. Salah seorang nenek tua mendekat dan berlutut di depan Aurora.
"Putri... Anda telah menyelamatkan kami," isaknya.
Satu per satu, warga desa yang selamat ikut berlutut. Mereka melihat cahaya yang sama dengan yang pernah mereka lihat pada Ratu Elara bertahun-tahun lalu. Aurora merasa hatinya penuh—bukan karena sedih, tapi karena ia akhirnya menemukan tujuan hidupnya.
Alistair mendekati Aurora dan meletakkan tangan di bahunya. "Kau melakukannya dengan sangat baik, Adikku. Rakyat mencintaimu."
Gideon, yang bajunya sedikit gosong karena api, mencoba menghibur. "Tapi Kak, lihatlah! Gaun barunya jadi kotor karena debu! Bunda pasti akan marah besar pada kita semua."
Fabian tertawa sambil menepuk pundak Gideon. "Setidaknya kita punya alasan yang bagus. Kita baru saja melihat lahirnya seorang pejuang."
Meskipun desa Eldervale berhasil diselamatkan, Aurora tahu bahwa Morena dan Malakor akan menyerang dengan kekuatan yang lebih besar. Namun malam ini, ia belajar satu hal penting: ia bukan lagi korban. Ia adalah harapan bagi kerajaannya.
"Ayo pulang," ucap Aurora sambil menatap langit yang mulai pagi. "Kita punya kerajaan yang harus dipersiapkan untuk perang."
Saat mereka naik kuda kembali ke istana, ketujuh pangeran itu menatap adik mereka dengan cara yang berbeda. Mereka tidak lagi hanya melihat adik kecil yang perlu dijaga, mereka melihat seorang pemimpin yang siap membawa Aethelgard menuju kemenangan.
apalagi ngebayangin 7 pangeran yang hebat, dan penasaran banget sama akhirnya gimana dan nasib putri jahat nya gimana.