Putra Presiden yang Salah Jatuh Cinta
Namaku Raka Ardiansyah. Seumur hidup, aku percaya bahwa nasib manusia itu seperti layang-layang: terbang tinggi atau tersangkut di kabel listrik, tergantung siapa yang memegang talinya. Ibuku meningg
0
2
Karma Itu Nyata
Di negeri bernama Aramaya, langit selalu tampak biru dari kejauhan. Istana berdiri megah di atas bukit batu pualam, berlapis emas dan kaca kristal. Dari kejauhan, orang akan mengira negeri itu makmur,
0
3
Sentuhan yang ku rindukan
Sebelum memulai ceritanya, Aku ingin bertanya pada kalian semua. Pernah kah kalian merasakan perasaan yang tidak asing ketika melihat seseorang yang bahkan kalian sendiri tidak mengenalnya? Entah s
0
0
Reinkarnasi Akibat Gerobak Bakso
Hari itu seharusnya menjadi hari biasa bagi Bima. Bangun kesiangan. Kehabisan sabun. Dan dosen mengirim pengumuman tugas tambahan. Ia berjalan keluar kos dengan wajah setengah sadar, otak masih sibu
0
0
Bayangan di Balik Senja
Langit sore itu berwarna jingga pucat ketika Arga duduk sendirian di bangku taman kampus. Suara kendaraan di kejauhan bercampur dengan desau angin yang membawa aroma tanah basah. Ia tidak benar-benar
0
0
Beri Waktu Untuk Cinta
Langit sore itu berwarna jingga pucat ketika Salma duduk di tepi ranjang pengantinnya. Gaun putihnya menjuntai seperti doa yang belum selesai diucapkan. Wajahnya cantik—terlalu cantik untuk terlihat m
0
1
Luka Tak Berdarah
Sore itu, langit Jakarta sewarna memar. Ungu kehitaman, seolah semesta pun sedang menahan rasa sakit yang luar biasa. Aku duduk di kursi kayu di teras rumah yang dulu penuh dengan aroma melati dan taw
0
1
Pesta Yang Berakhir Tragis
Malam itu, kota metropolitan Jakarta seakan tidak pernah tidur. Setidaknya bagi penghuni griya tawang di lantai 54 itu, tidur adalah konsep bagi orang-orang medioker yang harus mengejar kereta pagi. D
0
1
ART Tak Digaji Karena Dianggap Anak
Namanya Raras. Di sebuah rumah besar berlantai marmer di kawasan elit Jakarta Selatan, ia pernah berdiri di dapur sempit dekat ruang cuci, memeras kain pel dengan tangan yang pecah-pecah. Usianya bar
0
1
Aborigin Australia dan Tanah yang Dicuri
Langit Australia selalu terasa terlalu luas bagi seorang anak kecil bernama Jandamarra. Biru yang membentang tanpa ujung itu dulu membuatnya merasa bebas. Kini, ketika ia berdiri di antara padang tana
0
1
Jangan Rampas Tanah Kami Wahai Penjajah!
Angin musim semi berembus dari arah sungai, membawa aroma tanah basah dan daun pinus muda. Aponi berdiri di tepi padang, memandangi kawanan kuda liar yang berlari melintasi cakrawala. Di belakangnya,
0
1
Gejolak Gaza di Mata Thania
Thania Rosales Maravilla berdiri di balkon apartemennya di Caracas, memandangi kota yang berdenyut seperti jantung yang tak pernah berhenti. Malam itu, tirai langit roda warna merah dan oranye, lalu h
0
1
Codex Magdalena
Perpustakaan Vatikan selalu terasa seperti ruang antara dunia—bukan sekadar tempat menyimpan buku, melainkan makam sunyi bagi ide-ide yang terlalu berbahaya untuk mati dan terlalu hidup untuk diakui.
0
1
Bayang di Cermin Chao Phraya
Namanya dahulu Anurak Phanich, lelaki tulen dari distrik Nonthaburi yang tubuhnya tegap dan sorot matanya tajam seperti mata burung elang yang melintas di atas Sungai Chao Phraya. Ia anak kedua dari p
0
2
Ketika Kamboja Mekar di Kuburan Negeri Kamboja
Negeri Kamboja, 1975. Langit Phnom Penh berwarna kelabu ketika tentara berpakaian hitam memasuki kota. Mereka menyebut diri Angkar—organisasi tanpa wajah, tanpa nama, tanpa Tuhan. Rakyat dipaksa kelu
0
1
Senja di Tegalrejo
Tegalrejo, 1825. Angin sore menyapu ladang tebu dan padi yang menguning, membawa aroma tanah basah dan keringat para petani. Di kejauhan, azan Magrib mengalun lembut dari langgar kecil beratap rumbia
0
1
Antara Tahta dan Hati
Di Kekaisaran Aetherion, takdir bukan sesuatu yang bisa ditolak—ia diwariskan seperti mahkota dan pedang. Namaku Yin Ruoxi, putri bangsawan dari wilayah selatan. Sejak usia tujuh belas, aku telah dij
2
21
Saat Langit Afrika Selatan Terbelah
Soweto, 1986. Langit Afrika Selatan selalu tampak seperti kaca retak—biru yang terbelah oleh garis-garis tak terlihat, seperti negeri itu sendiri. Di satu sisi, papan bertuliskan Whites Only berdiri
1
1
Darah Di Bawah Sajadah
Bagian II – Yang Dikubur Tidak Pernah Diam Subuh itu datang dengan suara azan yang sumbang. Bukan dari masjid. Tapi dari arah hutan. Ayesha berdiri kaku di ambang kamar. Ayyash terbaring pucat. Na
0
1
Darah Di Bawah Sajadah
(Bagian I – Perempuan yang Datang Saat Magrib) Desa Karayel terletak di lereng bukit yang diselimuti kabut tipis hampir sepanjang tahun. Rumah-rumah batu berdiri rapat, seolah takut pada angin yang s
0
1