(Bagian I – Perempuan yang Datang Saat Magrib)
Desa Karayel terletak di lereng bukit yang diselimuti kabut tipis hampir sepanjang tahun. Rumah-rumah batu berdiri rapat, seolah takut pada angin yang sering membawa suara aneh dari hutan pinus.
Di desa itu tinggal pasangan yang terlihat sempurna.
Ayesha dan Ayyash.
Mereka menikah tujuh tahun. Rumahnya sederhana, tapi hangat. Ayesha dikenal lembut, religius, rajin mengaji di sore hari. Ayyash bekerja sebagai kontraktor kecil, sering keluar kota, tapi selalu pulang membawa senyum.
Mereka belum dikaruniai anak.
Itu satu-satunya celah dalam kebahagiaan mereka.
Dan celah itulah yang dimasuki oleh seseorang.
Namanya Melek.
---
## 1
Melek datang pada suatu sore menjelang magrib. Gaunnya hitam panjang, rambutnya tertutup kerudung tipis berwarna merah gelap. Wajahnya cantik—cantik yang tidak ramah. Matanya tajam, seperti menyimpan sesuatu yang tak ingin dibaca orang lain.
Ia mengaku sepupu jauh Ayyash dari kota.
Ayesha menyambutnya dengan sopan. Tak ada alasan untuk curiga.
Namun sejak langkah pertama Melek menginjak lantai rumah itu, udara berubah.
Lebih berat.
Lebih dingin.
Melek tersenyum pada Ayyash lebih lama dari yang wajar.
Dan Ayyash—untuk pertama kalinya sejak menikah—tidak langsung menundukkan pandangan.
---
## 2
Melek tinggal beberapa hari. Lalu seminggu. Lalu entah bagaimana, sebulan.
Ia membantu di dapur. Tertawa lembut saat berbicara pada Ayyash. Sering memuji masakan Ayesha, tapi dengan nada yang terasa seperti sindiran.
“Kak Ayesha pasti capek ya… belum ada anak juga,” katanya suatu malam.
Ayesha hanya tersenyum tipis.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Ayesha mendengar suara di dapur setelah semua orang tidur.
Ia bangun.
Langkah pelan menuju dapur.
Ia melihat Melek berdiri membelakanginya, berbisik sesuatu yang tak jelas. Di tangannya ada benda kecil seperti kain terikat.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Ayesha.
Melek menoleh pelan. Tersenyum.
“Hanya berdoa.”
Tapi doa itu tak terdengar seperti doa.
---
## 3
Sejak malam itu, hal-hal kecil mulai berubah.
Air wudhu Ayesha terasa berbau logam.
Sajadahnya sering bergeser sendiri.
Lampu kamar berkedip tiap kali ia membaca ayat suci.
Dan Ayyash mulai berubah.
Ia sering melamun. Tatapannya kosong. Kadang menatap Melek terlalu lama. Kadang membentak Ayesha tanpa sebab.
“Aku lelah, Ayesha! Jangan terlalu mengaturku!”
Kalimat itu seperti pisau.
Ayesha menangis dalam diam. Ia tak mengenali suaminya lagi.
Suatu pagi, ia menemukan sesuatu di bawah bantalnya.
Segumpal rambut terikat benang hitam.
Jantungnya berdebar.
Ia tahu ini bukan kebetulan.
---
## 4
Desa Karayel punya satu rahasia yang tak pernah dibicarakan terang-terangan.
Di pinggir hutan, ada rumah tua.
Orang-orang menyebutnya milik Hoca Rahman.
Seorang lelaki tua yang tak pernah terlihat di masjid.
Tapi sering didatangi orang saat malam.
Ayesha mendengar bisik-bisik tentang Melek.
Tentang kunjungan malamnya ke hutan.
Tentang sesuatu yang dibawanya dalam kantong kain hitam.
Dan suatu malam, Ayesha mengikuti.
Ia melihat Melek berjalan cepat menuju rumah tua itu.
Pintu terbuka sebelum ia mengetuk.
Seolah sudah ditunggu.
Ayesha mengintip dari balik pohon.
Ia tak mendengar jelas, tapi ia melihat.
Melek menyerahkan sesuatu pada lelaki tua itu.
Foto.
Foto Ayyash.
Dan sesuatu yang dibungkus kain putih.
Hoca Rahman tersenyum tanpa gigi.
Kabut tiba-tiba turun tebal.
Dan suara seperti bisikan banyak orang terdengar bersamaan.
Ayesha lari pulang dengan tubuh gemetar.
---
## 5
Hari berikutnya, Ayyash jatuh sakit.
Demam tinggi.
Bicara tak jelas.
Ia memanggil nama Melek dalam tidur.
Bukan nama istrinya.
Ayesha hampir kehilangan akal.
Ia mendatangi rumah Hoca Rahman siang hari.
Rumah itu kosong.
Tak ada jejak.
Tak ada pintu.
Hanya tanah rata seolah tak pernah ada bangunan.
Ia kembali dengan kepala penuh pertanyaan.
Malamnya, Melek mendekatinya.
“Kak Ayesha kelihatan capek,” katanya lembut.
“Apa maumu?” bisik Ayesha.
Melek tersenyum.
“Aku cuma ingin apa yang seharusnya jadi milikku.”
Kalimat itu menggantung.
Seharusnya miliknya?
---
## 6 – Awal Terkuak
Ayesha akhirnya menemukan kebenaran dari ibu tua di desa.
Melek pernah mencintai Ayyash.
Sebelum Ayesha masuk dalam hidupnya.
Melek ditolak.
Dan sejak itu ia menghilang dari desa.
Sampai sekarang.
Ia kembali.
Bukan hanya dengan cinta.
Tapi dengan dendam.
Dan sesuatu yang lebih gelap.
---
## 7 – Malam Darah
Malam Jumat, listrik padam.
Ayyash berdiri di tengah ruang tamu, mata terbuka tapi kosong.
“Ayyash…” suara Ayesha gemetar.
Ia tak menjawab.
Pelan-pelan, ia berjalan ke arah Melek.
Dan berlutut.
Seperti orang yang tunduk.
Ayesha menjerit.
Di sudut ruangan, muncul bayangan tinggi.
Hitam.
Tak berbentuk jelas.
Udara membeku.
Melek berbisik pelan.
“Sudah waktunya.”
Tiba-tiba Ayyash menoleh pada Ayesha.
Matanya merah.
“Pergi… sebelum terlambat.”
Lalu tubuhnya terhempas ke lantai.
Darah mengalir dari hidungnya.
Dan di dinding rumah—
Muncul retakan membentuk satu kata:
**KURBAN.**
---
## Twist Awal
Saat Ayesha mencoba menyelamatkan suaminya, ia menemukan sesuatu di laci lama milik Ayyash.
Surat.
Tertanggal setahun sebelum Melek kembali.
Isi surat itu membuat napasnya berhenti.
> “Melek, aku tidak bisa menikahimu. Tapi bukan karena aku tak cinta. Ada sesuatu yang harus kulindungi. Jika kau kembali, semuanya akan terbuka.”
Tangan Ayesha gemetar.
Jadi…
Ayyash memang pernah mencintai Melek.
Dan ada rahasia lain.
Rahasia yang bukan sekadar cinta segitiga.
Di luar, terdengar suara azan subuh.
Tapi nadanya fals.
Serak.
Seperti ditarik dari tenggorokan yang terluka.
Dan Melek berdiri di ambang pintu kamar.
Tersenyum.
“Baru mulai, Kak.”
---